ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 21


__ADS_3

Ibu Siska sampai pingsan saat mendengar kabar dari Dokter. Rafael dan Alina menolongnya. Ibu Siska dibawa ke ruang perawatan. Dia berbaring di ranjang. Alina memberinya minyak kayu putih pada kaki dan tangannya lalu menyelimutinya. Tak lama Ibu Siska sadarkan diri.


"Beby hik...hik...hik...." Ibu Siska langsung menangis saat sadarkan diri.


Alina memeluk Ibu Siska yang menangis. Dia tahu Ibu Siska sedang bersedih karena anaknya.


"Bu, apa yang terjadi pada Beby?" Tanya Alina.


"Beby...Beby meninggal hik hik hik" Ucap Ibu Siska.


"Innalilahi wa inna ilaihi ra'jiun" Ucap Alina.


Alina ikut berduka atas kepergian Beby. Dia tak menyangka Beby akan pergi secepat itu. Umur manusia tidak ada yang tahu tapi setidaknya kita tetap berbuat kebaikan sebagai amal ibadah yang akan kita bawa nantinya.


Rafael dan Alina menemani Ibu Siska mengurus pemakaman Beby. Mereka ikut ke rumah Beby untuk berdoa disana. Alina duduk di samping Ibu Beby, dia ikut tahlilan bersama semua orang yang ada di ruang tamu. Sementara Rafael di luar mempersilahkan pelayat masuk ke rumah Ibu Beby. Malam itu pukul 10 malam. Beby akan di makamkan pada malam hari itu.


Pemakaman Kamboja Hitam


Rafael dan Alina ikut ke pemakaman Beby. Mereka berdiri diantara para pelayat. Ibu Siska menangis di depan nisan anaknya. Dia menyesal selama ini sibuk bekerja. Sebagai single parent setelah bercerai dari suaminya, Ibu Siska terbuai dengan kesibukannya bekerja di kantor. Dia lupa untuk memberikan kasih sayang untuk Beby. Seorang anak tidak hanya membutuhkan uang untuk memfasilitasinya tapi lebih penting dari itu mereka membutuhkan kasih sayang dan peran serta orangtua dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi anak yang sukses baik dunia dan akhirat.


Alina mendekati Ibu Siska. Dia merangkul Ibu Siska yang sedang menangis.


"Bu ikhlaskan Beby biar dia tenang disana. Maafkanlah semua kesalahannya agar meringankan siksa kuburnya. Semoga Allah memaafkan segala dosa-dosanya, meringankan siksa kuburnya dan di terima amal ibadahnya, amin" Ucap Alina pada Ibu Siska yang bersedih.


"Amin" Ucap Ibu Siska.


"Beby, Mama ikhlas nak. Maafkan Mama juga sayang selama ini jarang memperhatikanmu hik hik hik. Maafkan Mama hik hik hik"


Ibu Siska hanya bisa menyesali semua yang telah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya tak mungkin kembali. Anak adalah titipan Allah SWT yang seharusnya kita jaga dengan baik jika tidak Allah akan mengambilnya kembali, hanya penyesalan yang akan tersisa.


"Beby, aku sudah memaafkanmu. Semoga Allah juga maafkan semua kesalahanmu" Batin Alina.


"Bu ayo pulang, sudah malam." Ajak Alina Ibu Siska.


Ibu Siska mengangguk. Mereka semua meninggalkan tanah pemakaman itu. Rafael dan Alina mengantarkan Ibu Siska pulang ke rumahnya, barulah Rafael dan Alina pulang.


Rafael menggendong Alina dipunggungnya karena sudah malam, Alina sudah lelah seharian beraktifitas.


"Kakak malam ini bulannya terang sekali." Ucap Alina yang berada digendongan Rafael.

__ADS_1


"Itu karena bulan ingin menerangi jalan yang kita lewati." Ucap Rafael.


"Alina ngantuk kak." Ucap Alina yang mulai mengantuk karena lelah.


"Tidurlah dipunggung kakak, nanti kalau sampai kakak bangunkan." Ucap Rafael.


"Makasih kak, Alina sayang kakak." Ucap Alina.


Rafael hanya tersenyum mendengar ucapan adik kecilnya itu. Seketika Alina tidur dipunggung Rafael.


"Alina aku ingat saat kau masih bayi, dulu aku senang sekali memiliki adik kecil yang lucu dan cantik." Ucap Rafael pada Alina.


"Adik kecil....adik kecil...oh ternyata kau sudah tidur, kau harus tahu kakak sangat menyayangimu." Ucap Rafael.


Flash Back On


17 tahun yang lalu


Pak Chirstian, Ibu Jesica dan Rafael kecil pergi ke Panti Asuhan Mutiara Kasih. Kala itu Rafael baru berusia 5 tahun. Mereka ingin mengadopsi seorang bayi sebagai anggota baru di keluarga mereka. Ibu Sopiah mempersilahkan mereka memasuki ruangan bayi untuk melihat bayi-bayi yatim piatu yang akan diadopsi. Ibu Jesica dan Rafael memperhatikan bayi mungil yang lucu dan cantik, bayi itu putih bersih, rambutnya kemerahan, hidungnya mancung dan matanya bulat. Wajah bayi itu bercahaya sehingga yang melihatnya tertarik.


"Mama, Rafa mau dede yang ini." Ucap Rafael menunjuk ke arah bayi Alina yang sedang berbaring di tempat tidur bayi. Bayi Alina tersenyum-senyum riang, dia memegang jari tangan Rafael seolah dia tak ingin lepas dari Rafael.


Tak lama Pak Christian menghampiri Ibu Jesica dan Rafael.


"Gimana Ma, mau bayi yang mana?" Tanya Pak Christian.


"Mama dan Rafa ingin bayi yang ini Pa" Ucap Ibu Jesica menunjuk ke arah bayi Alina.


Pak Christian melihat ke bayi Alina. Dia juga melihat papan nama yang terdapat di tempat tidur bayi itu.


"Ma, dia bayi muslim dari pasangan seorang ustadz dan ustadzah" Ucap Pak Christian.


"Tapi Mama dan Rafa udah terlanjur suka bayi ini Pa." Ucap Ibu Jesica.


"Rafa maunya bayi Alina. Lihat Pa jari Rafa aja di pegang dede Alina." Ucap Rafael.


Pak Christian melihat bayi Alina sekali lagi. Dia memikirkan keputusannya matang-matang jika seandainya benar-benar mengadopsi bayi Alina.


"Ma, jika nanti kita mengadopsinya, apa Mama tidak masalah jika bayi Alina tetap membawa agama yang dianut kedua orangtuanya?" Tanya Pak Christian.

__ADS_1


"Tidak masalah Pa, bukankah agama itu hak asasi yang harus kita hormati, ingat negara kita ini negara demokrasi jadi tidak masalah ada sebuah perbedaan, justru dari perbedaanlah kita bisa merasakan nikmatnya sebuah kerukunan diantara perbedaan." Ucap Ibu Jesica.


"Pokoknya Rafa mau dede Alina." Rafael kekeh.


"Baiklah, kita akan mengadopsi bayi Alina." Ucap Pak Christian.


"Asyiiiik" Rafael kegirangan. Dia mencium pipi bayi Alina. Rafael senang sekali akan hidup bersama bayi Alina. Dia berjanji akan terus menjaga Alina.


"Mulai sekarang kakak akan memanggilmu adik kecil" Ucap Rafael sambil menatap Alina dari dekat.


Sejak saat itu Alina diadopsi menjadi anak Pak Christian dan Ibu Jesica. Mereka menyayangi Alina seperti anak mereka sendiri. Bahkan mereka mengikuti aturan agama Islam untuk merawat Alina, dari makanan, pakaian, pendidikan, tempat beribadah dan yang lainnya.


Meskipun mereka berbeda keyakinan dengan Alina tapi kasih sayang mereka tulus pada Alina dan selalu mengajarkan arti kerukunan diantara perbedaan yang baik.


Tujuh tahun kemudian


Rafael bermain bersama Alina di halaman rumah mereka. Setiap hari Rafael selalu bersama Alina. Dia takkan bermain tanpa Alina. Rafael naik sepeda membonceng Alina kecil.


"Adik kecil seneng gak membonceng kakak?" Tanya Rafael.


"Seneng kak. Tapi Alina ingin melihat kupu-kupu terbang" Ucap Alina.


"Ayo" Rafael setuju.


Rafael memegang tangan Alina menuju hamparan bunga di taman bunga di samping rumahnya.


"Alina kenapa kau tidak mau kakak tangkapkan kupu-kupunya?" Tanya Rafael.


"Mereka juga ingin hidup seperti kita kak." Ucap Alina.


"Kau benar" Ucap Rafael.


Rafael merangkul adiknya sambil menunjuk dan melihat kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga.


NB :


Kalau ada yang ingin menyampaikan keluhan atau saran silahkan chat group yang baru dibuat Author ya.


Insya Allah Author jawab secepatnya

__ADS_1


__ADS_2