
"Deena....Deena..." ucap Rehan dan Cinta.
Deena yang dari dalam kamarnya terkejut mendengar suara Papa dan Mananya.
"Om cabul cepet pergi dari sini" ucap Deena.
"Gak mau, aku kangen" ucap Barra.
"Jangan nekad, apa kata Papa dan Mama kalau mereka tahu kau ada disini" ucap Deena.
"Biarin, sekalian melamarmu" ucap Barra.
Plaaaak........
Deena menampar lengan Barra.
"Aw....sayang jangan kekerasan dalam rumah tangga begini" ucap Barra.
"Om cabul, belum saatnya kita terang-terangan, aku belum cerita apapun tentangmu pada orangtuaku, mereka bisa kaget kalau tahu aku dekat dekat Om-om tua sepertimu" ucap Deena.
"Aku tua tapi mukaku muda sayang" ucap Barra kegenitan.
"Ih...., kau memang terlihat muda. Tapi kau masih kategori sugar daddy" ucap Deena.
"Memang kenapa sayang, bukannya cewek sekarang suka yang sugar daddy" ucap Barra.
Deena langsung menutup mulut Barra dengan kertas.
"Ehm...ehm...ehm..." Barra berusaha bicara.
"Om cabul tidak mau keluarkan, jadi rasain ini" ucap Deena.
Deena memplaster mulut Barra lalu mengikat tangannya. Kemudian menyembunyikannya didalam lemari.
"Diam disini sampai semuanya selesai" ucap Deena.
"Ehm...ehm...ehm..." ucap Barra.
"Salah sendiri ngeyel, makanya jangan jalan sama Raynor, begini nasibmu sayang" ucap Deena.
Deena menutup lemari, untung lemarinya ada garis-garis celah udara jadi masih ada udara masuk ke dalam lemari. Dia mengambil kaca matanya dan berdandan cupu kembali. Dia membuka pintu kamarnya.
"Papa dan Mama membawakan susu hangat untukmu" ucap Rehan.
"Sudah lama Mama tidak mengobrol sebelum tidur bersamamu nak" ucap Cinta.
Dikeluarga Rehan, biasanya sebelum tidur membuatkan anak-anaknya susu hangat sebelum tidur lalu menemani anaknya hingga tertidur. Mereka bisa bercerita apa saja pada Rehan dan Cinta saat bercerita. Sampai mereka lelah sambil ditemani Papa dan Mamanya hingga tertidur pulas. Barulah Rehan dan Cinta keluar dari kamar mereka. Ini dilakukan agar kedekatan anak dan orangtua terjalin erat.
"Aku juga kang..en bercerita sa..ma Papa dan Mama, kema..rin kalian me..nebus waktu ber...sama Alina ya" ucap Deena.
"Iya nak" ucap Rehan dan Cinta.
Rehan dan Cinta masuk ke kamar Deena. Seperti biasa mereka duduk diranjang menemani Deena berbaring diranjang seusai minum susu hangat.
"Papa ka...lau Deena nanti me..nikah dengan le..laki yang lebih tua bo..leh tidak?" tanya Deena.
"Lelaki tua? sekitar berapa usianya?" tanya Rehan.
"Ka..lau sekitar 35 tahun gi..mana?" tanya Deena.
"Tua, jangan, dia pasti Om-om bangkotan, mata keranjang, jelalatan, pedofilia, masa maunya daun muda" ucap Rehan mengoceh.
Barra yang dari dalam lemari terkejut dengan ucapan Rehan.
__ADS_1
"Apa aku Om-om bangkotan, mata keranjang, jelalatan dan pedofilia? untung bapaknya ayang kalau gak nih bogem langsung melayang" batin Barra.
Cinta tersenyum dengan ucapan Rehan.
"Papa juga dulu bukannya Om-om" ucap Cinta.
"Mama, Papa dulu Om-om mudalah, usia Papa saja baru 25 waktu menikah sama Mama" ucap Rehan.
"Iya sih" ucap Cinta.
"Jangan mau sama Om-om, pasti mereka cabul, otak sengklek, gak ada akhlak, gila dan keburu mati" ucap Rehan.
Barra yang didalam lemari semakin gedeg dengan ucapan Rehan.
"Parah, aku disebut cabul, otak sengklek, gak ada akhlak, gila dan keburu mati" batin Barra.
"Bapaknya ayang ini bikin darahku naik, untung ayang cantik dan baik" batin Barra.
Cinta kembali tersenyum dengan ucapan Rehan.
Dia merasa suaminya sedang melawak.
"Papa belum tentu mereka seperti itu" ucap Cinta.
"Pokoknya jangan mau sama yang tua-tua, Papa khawatir kamu dipelet, dicekokin, dihipnotis dan diintimidasi kalau sampai mau sama dia" ucap Rehan.
Barra sampai geleng-geleng mendengar ucapan Rehan.
"Masa iya aku melakukan semua itu, perasaan ayang suka sama aku tuh gak pakai begituan juga" batin Barra.
Deena khawatir hubungannya akan ditentang Papanya. Sepertinya Papanya tidak suka dia berhubungan dengan lelaki yang lebih tua.
"Kalau se..andainya Deena terlanjur su..ka sama dia gi..mana Pa?" tanya Deena.
"Asyik ayang tetap cinta, yang penting itu, tinggal mengejar restu orangtuanya" batin Barra didalam lemari.
"Buset deh, aku ini kaya makhluk planet lain yang tak dianggap, secerca debu dialam semesta dan setan yang menakutkan" batin Barra didalam lemari.
"Papa, jangan begitu, kalau anak kita udah cinta. Kita tinggal menilai apa lelaki itu satu agama, baik dan bertanggungjawab atau tidak, ingat Pa itulah yang dibutuhkan Deena" ucap Cinta.
"Adem banget kalau denger ucapan Mamanya, beda dengan Papanya, disembur mulu kaya mbah dukun, sorry camer" batin Barra didalam lemari.
"Intinya selama masih bisa dihindari, hindari yang berbau tua, Papa kurang suka. Makanan aja kalau udah lama gak enak, itupun dengan mobil kalau dah lama banyak rusaknya, rumah juga kalau dah tahunan mulai keropos" ucap Rehan.
"Ampun disamain sama makanan, mobil dan rumah. Berasa barang kaku gue, kalau gitu pakai borak aja deh biar awet" batin Barra didalam lemari.
"Gimana nih, Papa pasti tidak akan merestuiku dengan Om cabul itu" batin Deena.
"Yaudah, kamu tidur ya sayang, besok libur ya" ucap Cinta.
"Iya Ma, Alina dan Haura meng...ajak aku ja..lan-ja..lan" ucap Deena.
Rehan dan Cinta menyelimuti Deena dan mencium keningnya. Kemudian mereka keluar dari kamar Deena. Setelah Rehan dan Cinta keluar, Deena mengunci pintu kamarnya lalu membuka lemari. Dia membawa Barra duduk diranjang kamarnya dan membuka plaster dan ikatan yang mengikat tangannya.
"Sayang kau tega banget melakukan ini padaku" ucap Barra.
"Om cabul maaf, apa sakit?" tanya Deena.
"Gak kok, liat wajah cantikmu ilang sakitnya" ucap Barra.
"Maafin ucapan Papaku ya, tadi kau denger ya" ucap Deena.
"Selama kau cinta sama aku, aku tidak peduli yang lainnya. Aku akan berusaha agar Papamu setuju denganku sayang" ucap Barra.
__ADS_1
"Siapa juga yang cinta sama kamu" ucap Deena.
"Yang bener? ok, aku cari cewek lain deh" ucap Barra.
Deena langsung mencubit tangan Barra.
"Aw....sayang kau galak banget, untung aku udah biasa dianiaya" ucap Barra.
Deena hanya tersenyum, melihat itu Barra juga ikut tersenyum.
"Pulang sana, keluar!! aku mengusirmu Om cabul" ucap Deena.
"Aku tidur sama kamu ya sayang malam ini" ucap Barra.
"Boleh, mau dihangatinkan" ucap Deena.
"Mau banget" ucap Barra.
Deena beranjak dari ranjang mengambil pedangnya lalu mengacungkannya ke depan Barra.
"Keluar atau mau dihangatkan sama pedang yang baru diasah ini" ucap Deena.
"Ampun...ampun sayang, aku keluar deh, tapi besok kita jalan ya" ucap Barra.
"Keluar!!!" ucap Deena.
"Oke" ucap Barra.
Barra langsung keluar dari kamar Deena lewat balkon rumahnya dari pada kena tebasan pedang yang tajam.
************
Pagi harinya Alina, Haura dan Deena bersiap untuk jalan-jalan, mereka mengajak Kaisar juga. Bahkan Kaisar membawa Bolo dan Lolo digendongannya. Mereka bertiga hanya mentertawakan Kaisar.
"Kaisar kamu mau jalan-jalan atau mau jadi baby sister?" tanya Haura
"Jalan-jalan lah, Bolo dan Lolo bisa stress kalau dirumah terus" ucap Kaisar.
"Yang ada kamu yang stress membawa mereka bikin ribet seharian" ucap Haura.
"Tenang aku bawa susu, kereta dorong, bubur balita, dan pembalut" ucap Kaisar.
"Pembalut? buat apaan Kaisar?" tanya Alina.
"Bolo masuk masa puber takutnya mensturasi" ucap Kaisar.
"Ampun deh, Bolo mensturasi segala. Gila gue kalau jadi pacarmu Kaisar" ucap Haura.
"Udah, ayo be..rangkat" ucap Deena.
Tiba-tiba Rafael datang menghampiri mereka.
Alina senang sekali saat melihat Rafael.
"Kak Rafa" ucap Alina berlari ke arah Rafael.
"Adik kecil" ucap Rafael.
Alina langsung memeluk kakaknya. Rasa rindunya begitu mendalam. Selama ini mereka selalu bersama tak terpisahkan tapi kini harus terpisah ruang dan waktu.
"Alina kangen" ucap Alina.
"Kakak juga kangen" ucap Rafael.
__ADS_1
"Hai Alina" ucap Helsa.
Alina langsung terkejut melihat Helsa. Dia langsung melepas pelukannya dari kakaknya. Entah kenapa hatinya kesal melihat Helsa kembali bersama Rafael.