ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 42


__ADS_3

"Aku ingin dekat dengan Aara," jawab Raina.


"Gimana kalau sekolah tahu tentang pernikahan kita?" tanya Axel.


"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan mendekatimu, lagi pula selama ini bukankah kita memang tak dekat?" tanya Raina.


Axel terdiam. Pernyataan Raina memang benar.


Raina berjalan meninggalkan Axel. Dia berhenti sesaat menoleh ke belakang. Kemudian berjalan kembali ke depan.


Raina berjalan di antara lorong kelas tiga. Dia tersenyum meskipun pahit rasanya. Selama ini Raina mencintai Axel tapi Axel tak pernah membalas cintanya. Tak sengaja Raina bertubrukan dengan seseorang.


Dug ...


"Maaf," ujar Raina.


"Tidak apa-apa cantik, kau tidak salah tak perlu minta maaf," ucap seorang lelaki mengenakan seragam yang berbeda.


"Kau bukan siswa di sini?" tanya Raina.


"Aku pindahan," jawabnya.


"Oh, aku juga pindahan, baru hari ini," timpal Raina.


"Sama, mungkin kita jodoh," ucapnya.


Raina terdiam. Lelaki di depannya itu begitu manis dan merayu setiap mengeluarkan ucapannya.


"Dah manis nanti kita bertemu lagi," katanya kemudian berjalan meninggalkan Raina. Dia pergi menuju ruang guru, sedangkan Raina masih berdiri sendirian, dari belakang aku menghampirinya.


"Raina," ucapku.


"Eh, Aara," ujar Raina.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tadi ada siswa baru, kita sempat berpapasan," jawab Raina.


"Ganteng ya?" tanyaku menggoda Raina.


"Ganteng," jawab Raina.


"Udah move on aja dari Axel pindah ke lain hati yang lebih menjanjikan," ujarku bercanda.


Raina tersenyum.


"Udah yuk, ke kelas," ajakku.


Raina mengangguk. Kami berdua kembali ke kelas. Bel berbunyi, pelajaran dimulai. Guru kesenian masuk ke dalam kelas bersama seorang murid baru.


"Anak-anak perkenalkan ini Patrick Alva Edison, siswa baru di sekolah kita. Dia akan belajar di kelas ini bersama kalian semua," ujar Bu Ajeng.


"Hai semuanya, aku Patrick. Senang bertemu dengan kalian semua," ucap Patrick.

__ADS_1


Beberapa menit Patrick memperkenalkan dirinya. Dia selalu tersenyum ramah. Wajahnya tampan, tinggi, berambut pirang dan putih.


"Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan lagi, silahkan Patrick duduk kembali!" pinta Bu Ajeng.


"Saya mau bertanya," ujar Ogah Semeru. Seorang murid di kelas kami yang percaya dunia lain, indigo, hantu dan ilmu sesat.


"Silahkan satu pertanyaan lagi!" perintah Bu Ajeng.


"Kenapa kau pindah ke mari?" tanya Ogah.


"Ingin bersama seseorang yang ditakdirkan untukku," jawab Patrick.


"Huh." Sorak teman-teman di kelasku.


"Sudah-sudah, pelajaran akan dimulai," ujar Bu Ajeng.


Patrick berjalan menuju bangku kosong, melewati tempat duduk Raina yang ada di samping tempat duduknya.


"Hai cantik, bertemu lagi," bisik Patrick menyapa Raina saat melewatinya. Raina hanya membalas dengan senyuman tipis. Kemudian Patrick duduk.


Pelajaran dimulai. Semua siswa mengikuti pelajaran yang diajarkan guru. Pulang sekolah aku, Raina, Dodo dan Ami berdiri di parkiran menunggu Albern menjemput kami, tak lama mobil Albern datang. Kami berempat masuk ke dalam mobil. Aku dan Raina duduk di kursi tengah sedangkan Dodo dan Ami duduk di kursi belakang. Mobil melaju menuju rumah Albern.


"Aara udah naik mobil mewah gini, makan siang kita bukan kepala ikan asinkan?" tanya Ami.


"Betul, pertanyaan bagus. Kemungkinan kepala ikan paus," jawabku.


"Ha ha ha." Dodo dan Raina tertawa.


"Berarti masih satu jenis kepala, beda ukurankan?" tanya Ami.


"Belatung ikan paus lebih gede dari belatung ikan asing, jadi kandungan proteinnya lebih besar Mi," timpal Dodo.


"Oh gitu, kaya ulet sagu kali ya belatung ikan paus?" tanya Ami serius.


"Bukan, lebih tepatnya kaya uler piton," balas Dodo.


"Gede dong, tar melilit gue gak nih? belum sempat makan daging ke luar negeri nih?" tanya Ami.


"Ya kalau almarhum, arwah lo aja tar ke luar negeri buat makan daging," ujarku.


"Tenang arwah gak dikenakan tarif pesawat kalau ke luar negeri, paling disuruh dorong pesawat kalau mogok di atas," tambah Dodo.


"Gitu ya, gampang lah," jawab Ami.


Raina tertawa sampai menutup mulutnya gara-gara obrolan konyol kami. Klau ngumpul ya gini, ada aja cerita lucunya. Menyenangkan pokoknya.


Sampai di rumah Albern, kami turun dari mobil. Dodo dan Ami melongo, belum berkedip tapi masih bernafas. Untung mereka gak kena serangan jantung mendadak, kalau gak jiwa miskin mereka bisa naik darah gara-gara melihat rumah Albern.


"Aara, ini museum atau istana fir'aun?" tanya Dodo.


"Mungkin ini rumah homo sapiens yang masih ada dalam sejarah," timpal Ami.


"Bukan ini istana kecebong dan rayap," jawabku.

__ADS_1


"Kalah dong sama kecebong dan rayap, kita aja tinggal di gubuk yang kalau musim ujan ada sower gratisnya dari genteng," ucap Ami.


"Rumah gue malah nyatu ma kandang kambing, sambil tidur sambil jagain kambing, gak perlu parfum ruangan, bau tai kambing udah jadi parfum khas rumah gue," ujar Dodo.


"Sabar ya teman-teman, semoga besar nanti kalian sukses jadi tukang cuci mobil dan tukang nyapu jalanan," candaku.


"Amin," jawab Ami.


"Jangan diaminin Mi, masa kita jadi tukang cuci mobil dan tukang nyapu jalanan? Kurang sukses. Seharusnya jadi tukang mandiin singa dan nyapuin piramida," ujar Dodo.


"Ha ha ha." Kami tertawa bersama.


"Udah yuk masuk," ujarku.


Kami masuk ke dalam. Di dalam ternyata ada Axel yang sudah ada di ruang tamu. Kami terkejut Axel ada di dalam.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Albern.


"Aku cuma mau nganterin undangan," ujar Axel.


"Undangan apa?" tanya Albern.


"Undangan Oma ulang tahun," jawab Axel sambil meletakkan undangan di meja. Kemudian berdiri melewati kami. Axel sempat berhenti sesaat, menoleh ke arah Raina. Lalu berjalan ke luar dari rumah Albern.


"Somse banget tuh si Axel," ujar Dodo.


"Itu ciri khas orang ganteng," jawab Ami.


Kami semua masuk ke ruang makan. Albern sudah menyuruh kami pelayan di rumahnya masak banyak.


"Aara ini beneran makanan atau sample dari lilin?" tanya Dodo.


"Itu cuma animasi Do, kalau dimakan cuma ngenyangin mulut doang, gak nyampe ke perut," jawabku bercanda.


"Gak masalah, asal enak dan rasanya gak kaya ikan asin," timpal Ami.


"Sorry Mi, ini terbuat dari ikan asin yang udah jamuran," balasku.


"Gak masalah, perutku udah biasa teraniaya, meskipun rasanya ikan asin yang penting bentuknya daging," ucap Ami.


"Ha ha ha." Kami tertawa.


Albern harus kembali ke kantornya. Dia pamit pada kita semua. Aku mengantarnya sampai ke teras rumah.


Cup


Satu ciuman dikening untukku dari Albern. Ku balas ciuman di pipinya. Eh Albern makah menciumku.


"Aku berangkat dulu sayang, semoga happy kumpul dan belajar bersama teman-temanmu," ujar Albern.


Aku mengangguk.


"I Love You," kata Albern.

__ADS_1


"I Love You Too," sahutku.


Albern berjalan menuju mobilnya. Dia pergi ke perusahaannya. Senangnya hidupku kini sempurna saat Albern ada di sisiku. Semua yang ku inginkan ada padanya.


__ADS_2