ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 84


__ADS_3

"Mati kau Rehan" ucap Sarah.


Alvan langsung menangkap Sarah. Sedangkan yang lainnya menghampiri Rehan. Tubuh Rehan ditangkap Aksa.


"Pa" ucap Haura dan Deena.


"Kita harus segera bawa Papa ke rumah sakit sebelum kehilangan banyak darah" ujar Barra.


"Iya, kau benar" ucap Aksa.


"Kalian pergi saja, biar wanita bermuka cacat itu aku urus" ucap Marsya.


Akhirnya Deena, Haura, Aksa dan Barra membawa Rehan pergi ke rumah sakit. Alvan dan Marsya mengurus sarah. Mereka melaporkan Sarah ke polisi. Semua orang yang terlibat ditangkap, termasuk Marsya.


Alvan pergi ke rumah sakit menyusul yang lainnya. Dirumah sakit semua anggota keluarga berkumpul. Mereka menunggu diruang tunggu operasi. Cinta terus menangis memikirkan keadaan Rehan. Alina memeluk Cinta.


"Ma, Alina yakin Papa akan baik-baik saja" ucap Alina.


"Iya nak, Papamu pasti akan baik-baik saja" ucap Cinta.


"Ayo kita semua berdoa, semoga operasinya berhasil dan Rehan baik-baik saja" ucap Leo.


Leo memimpin doa. Mereka semua berdoa untuk kesembuhan Rehan. Setelah dua jam, operasi itu selesai. Rehan dipindahkan ke ruang rawat inap. Luka tusuknya tidak dalam jadi tidak melukai organ dalamnya. Sebagian anggota keluarga didalam sebagian diruang rawat inap bergantian.


Cinta, Zara, dan ketiga putri Rehan ada didalam ruang rawat inap. Rehan juga sudah siuman.


"Alhamdulillah Papa sudah sadar, Mama dari tadi cemas" ucap Cinta.


"Iya Ma, alhamdulillah" jawab Rehan.


"Papa, Haura takut banget kalau terjadi sesuatu pada Papa" ucap Haura.


"Deena gak bisa bayangin kalau kehilangan Papa" ucap Deena.


"Alina juga, banyak waktu yang ingin Alina habiskan bersama Papa" ucap Alina.


"Kemarilah Papa ingin memeluk kalian" ucap Rehan.


Ketiga putrinya memeluk Rehan yang sedang berbaring diranjang.


"Awas jangan mepet-mepet ke bawah, nanti kena jahitan diperut Papamu" ucap Zara.


"Iya Nek" sahut ketiga putri Rehan.


Rehan begitu bahagia berada ditengah-tengah orang-orang yang dicintainya. Mereka semua yang selalu membuat hidupnya penuh warna.


Diluar mereka semua sedang membicarakan Sarah.


"Gimana dengan Sarah dan anak buahnya?" tanya Leo.

__ADS_1


"Sudah ditangkap polisi kek" ucap Alvan.


"Ditangkap polisi? berarti Marsya?" ucap Aksa.


"Marsya juga menyerahkan dirinya ke polisi" ucap Alvan.


"Aku ke kantor polisi dulu, kabari aku kalau Papa dah siuman ya" ucap Aksa.


"Iya" ucap Semuanya.


Aksa memutuskan meninggalkan rumah sakit.


"Kasihan Aksa, calon istrinya harus dipenjara" ucap Alvan.


"Paling ringan hukumannya. Diakan hanya diperalat. Asal dari pihak pelapor mencabut laporan penculikan. Tapi kasus percobaan pembunuhan pada kita semua tetap diproses agar Sarah mendekam dipenjara" ucap Barra.


"Iya, Marsya sepertinya hanya diperalat. Sarah selama bertahun-tahun ini mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam. Dan Marsya jadi salah satu alat yang dikumpulkannya" ucap Farel.


"Semoga saja Marsya segera bebas, agar pernikahan Aksa dan Marsya bisa secepatnya diselenggarakan" ucap Leo.


"Amin" ucap Semuanya.


***************


Aksa pergi ke kantor polisi. Dia tahu Marsya masih terluka karena luka cambuk. Walaupun dihatinya belum mencintai Marsya tapi dia sudah berjanji akan menikahinya. Jadi Aksa merasa Marsya adalah tanggungjawabnya kini. Sampai dikantor polisi dia menemui Marsya diruang besuk narapidana. Mereka berdua duduk bersama.


"Aksa, terimakasih. Kau mau menyempatkan datang kesini padahal Papamu sedang sakit" ucap Marsya.


"Aksa, mulai hari ini kau tidak perlu terbebani tanggunjawab itu lagi. Apa yang terjadi dihotel itu semua hanya rekayasaku. Tak luput dari perintah Bosku" ucap Marsya.


"Jadi semua itu rekayasa?" ucap Aksa memastikan.


"Iya, kau dapat mengejar orang yang kau cintai, Kiarakan? Meskipun dia kekasih Farhan tapi merekakan belum menikah, jadi kau masih punya kesempatan mengejarnya" ucap Marsya.


"Lalu kau sendiri?" tanya Aksa.


"Aku akan menjalani hukumanku dan membayar semua kesalahanku disini" ucap Marsya.


Marsya sudah merelakan kepergian Aksa. Selama ini dia hanya memperalat Aksa untuk memenuhi keinginan Bosnya. Sekarang terserah Aksa mau apa saja, Marsya tidak akan menghalangi.


"Marsya terimakasih. Aku harap kau bisa menjalani semuanya dan jadi dirimu yang lebih baik lagi" ucap Aksa.


"Iya" ucap Marsya.


Aksa berjalan meninggalkan ruang besuk itu. Dia tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Marsya hanya seorang gadis yang tiba-tiba hadir dihidupnya dan kini pergi begitu saja.


****************


Tiga hari berlalu. Rehan sudah kembali pulang bersama Cinta dan keluarganya. Farel dan Alina menginap dirumah Rehan begitupun dengan Barra dan Deena, mereka juga menginap dirumah Rehan.

__ADS_1


Mereka tidur dikamar masing-masing. Farel dan Alina tidur dikamar Alina dirumah itu. Alina duduk dipangkuan Farel.


"Kak Rafa apa kita besok pergi ke makam ayah dan ibu, sudah lama tak pergi kesana" ucap Alina.


"Boleh, sekalian melihat makam mereka pasti sudah banyak rumputnya" ucap Farel.


"Kak Rafa tidur yuk" ucap Alina.


"Gak boleh tidur sebelum kita melaksanakan yang tertunda kemarin" ucap Farel.


Alina tersenyum malu-malu. Farel langsung mencium Alina dengan ciuman mesranya. Malam ini menjadi malam indah untuk mereka berdua. Mereka merajut cinta yang sudah membara sejak beberapa hari kemarin. Malam yang dingin berubah hangat, suara indah menggema diruangan. Farel begitu pandai membuat istrinya terus meminta. Mereka lagi dan lagi hingga waktu terus berjalan.


Tidak hanya Farel dan Alina, Alvan dan Haura tidak jadi malam pertamaan dihotel. Mereka memutuskan malam pertamanya dirumah Rehan. Malam itu Haura sudah dapat wejangan dari Alina dan Deena. Dia sengaja berdandan dan memakai dress yang cantik dan pendek supaya Alvan tergoda. Tapi Alvan masih berbaring diranjang. Haura menghampiri Alvan dan meraba dadanya.


"Aw....aw....aw...." teriak Alvan pelan.


"Keenakkan ya sayang?" tanya Haura yang masih meraba dada bidang Alvan.


"Bukan itu sayang" ucap Alvan.


"Terus kenapa?" tanya Haura.


"Gigiku sakit sayang" ucap Alvan sambil memegang pipinya.


"Kirain kenapa? jadi gak usah aja ya malem pertamanya" ucap Haura bercanda.


Alvan langsung bangun, memeluk Haura. Dia mendekati wajahnya lalu mencium bibir mungil milik istrinya. Mereka berdua berciuman mesra dengan waktu yang cukup lama.


"Udah nunggu berhari-hari masa ditunda lagi" ucap Alvan seusai mencium Haura.


Haura tersenyum lebar. Dia senang dengan ucapan Alvan. Malam ini akan jadi malam pertama untuknya dan Alvan.


"Sayang boleh dimulai?" tanya Alvan.


Haura mengangguk sebagai tanda persetujuan.


Baru mau menerkam Haura, tiba-tiba suara handphonenya berdering.


Kriiing... kriiiing... kriiiing...


"Aduh ganggu aja, gak tahu apa baru mau meluncur" ucap Alvan kesal.


Haura memegang pipi Alvan dengan kedua tangannya.


"Angkat dulu sayang" ucap Haura.


"Oke deh, tapi jangan bobo ya sayang, tungguin" ucap Alvan.


"Siap Bos" jawab Haura.

__ADS_1


Alvan mengambil handphonenya yang ada dimeja. Dia heran siapa yang malam-malam begini menelpon, tanpa berpikir panjang Alvan langsung mengangkat panggilan ditelponnya.


"Hallo" ucap Alvan.


__ADS_2