ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Episode 85


__ADS_3

Tapi Natasha tidak terima. Dia mengancam akan bunuh diri. Membuat Martin terpaksa menjalani hubungan status dengan Natasha. Begitupun pada Yeni, Martin juga memutuskan hubungannya. Yeni tak bisa menolak keinginan Martin meskipun dihatinya menyimpan luka. Dia tak terima Martin membuangnya seperti sampah.


Padahal Yeni merasa Martin segalanya untuknya. Di saat kesepiaannya, Martin hadir dihidupnya tapi justru Martin malah meninggalkannya di saat dia sedang cinta-cintanya. Ternyata Martin mengenal Lina, seorang wanita cantik berhijab. Martin jatuh hati padanya dan hijrah. Martin jadi rajin sholat dan mengaji. Dia meninggalkan kehidupan lamanya. Dan ingin menikahi Lina tapi justru saat pulang larut malam mobilnya lepas kendali karena remnya blong. Martin menabrak pembatas jalan. Untungnya dia masih bisa diselamatkan, hanya saja koma.


Yeni menyiapkan makan malam untuknya dan Martin. Dia memasak banyak makanan. Dan membuat jus jeruk kesukaan Martin. Semua makanan ditata di atas meja. Begitupun dengan piring dan gelas. Semua rapi di atas meja.


Yeni duduk sebentar terdiam di kursi. Dia terlihat sedih. Menatap semua di depan matanya. Yeni hanya ingin hidup bahagia bersama Martin tapi Martin tidak mencintainya.


Tak lama bel pintu rumahnya berbunyi. Yeni berdiri. Berjalan ke luar dari ruang makan menuju ruang depan. Yeni memutar gagang pintu. Perlahan pintu terbuka. Martin berdiri di depan pintu. Dia terlihat manis dengan senyuman di bibirnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam," sahut Yeni sambil melihat Martin di depannya. Dia memberikan senyuman tipis padanya.


"Ayo masuk, aku sudah masak banyak untukmu sayang," ujar Yeni.


"Wah, pas sekali, aku laper." Martin berusaha untuk menghargai apa yang sudah dilakukan Yeni untuknya. Biar bagaimanapun Yeni sudah berusaha membuatkan masakan itu untuknya.


"Kalau gitu ayo masuk sayang," ucap Yeni. Dia mengajak Martin masuk.


Martin mengangguk. Yenny mempersilahkan Martin masuk ke dalam lebih dulu darinya. Segera Martin masuk ke dalam. Sedangkan Yeni mengekor di belakangnya. Dia tersenyum licik sambil melihat punggung Martin yang ada di depannya.


Martin masuk ke ruang makan bersama Yeni. Dia melihat begitu banyak hidangan di atas meja. Ada ayam, daging, ikan, udang dan sayuran begitupun dengan buah dan jus di atas meja. Dia duduk di kursi. Begitupun dengan Yeni. Mereka duduk berseberangan. Yeni terlihat tersenyum tapi menyimpan luka. Dia menetap Martin dengan dengan tatapan dingin.


"Kau cantik sekali malam ini Yen," ucap Martin memuji Yeni agar dia senang.


"Benarkah? Apa kau jujur atau ingin membuat hatiku senang?" tanya Yeni. dia tak percaya kalau Martin memujinya. Kepercayaannya itu sudah hilang sejak Martin memutuskan untuk menikahi Lina dan meninggalkannya.


"Tentu aku jujur," jawab Martin. Ungkapan itu sebenarnya tulus dari hati Martin.


"Bukankah Lina lebih cantik dariku, hingga kau ingin menikahinya," ujar Yeni. Dia tahu hubungan Martin dengan Lina tapi dia berharap bisa bersama Martin meskipun hanya bayangan. Tapi Martin sudah mengecewakannya.


"Maafkan aku, ku harap kita bisa menjadi sahabatku," sahut Martin. Sekarang Martin tidak bisa menganggap Yeni lebih dari seorang sahabat.


Yeni tertawa. Dia tak menyangka Martin hanya menganggapnya sebagai sahabat setelah semuanya. Dia merasa tak dianggap. Padahal jeni sudah mengorbankan banyak hal untuk Martin dan setia di sisinya.


"Aku pikir bisa jadi Nyonya di hatimu Martin, ternyata hanya tamu yang singgah sebentar lalu pergi," ujar Yeni.


"Kau bisa jadi Nyonya untuk lelaki beruntung lainnya Yeni," ujar Martin. Dia berharap Yeni bisa bersama dengan lelaki lainnya yang lebih baik dari Martin.


Yeni tertawa dengan mata yang berkaca-kaca. Seolah dia hanya berpura-pura tegar sebenarnya rapuh. Hatinya begitu sakit ketika tahu Martin selama ini hanya menganggapnya sekretaris dan sahabatnya padahal mereka cukup dekat melebihi seorang kekasih.


"Kalau begitu mari bersulam, jus jeruk kesukaanmu Martin," ujar Yeni sambil mengangkat gelas yang berisi jus jeruk.


Martin terdiam sesaat. Melihat jus jeruk di meja. dia ragu untuk meminumnya. Dari ekspresi Yeni tidak seperti biasanya. Mungkin dia merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Martin.


"Kenapa? Bukannya kau suka jus jeruk?" tanya Yeni. Dia tahu Martin sangat menyukai jus jeruk hampir setiap siang hari minta dibuatkan jus jeruk apabila cuacanya panas.


Martin tersenyum. Mengambil jus jeruk di meja. Dia masih memegang gelas berisi jus jeruk itu. Antara yakin dan tidak yakin untuk meminumnya.


"Kenapa? Kau takut aku menaruh racun?" tanya Yeni. Dia mempertanyakan keberanian Martin untuk meminum jus jeruk di depannya. Mungkin Martin takut di dalam jus jeruk itu ada racun.


"Untuk apa aku takut, bukankah aku sudah bangkit dari kematian?" ujar Martin. Kata-katanya seperti sebuah sindiran halus pada Yeni.


Yeni terdiam saat Martin mengatakan bangkit dari kematian. Kemudian tertawa kembali. Dia seolah tahu dan tidak tahu menjadi satu.


"Kalau begitu minumlah! Kenapa diam saja," ucap Yeni menantang Martin.


Martin mengangguk. Dia mulai menaikkan gelas itu. Meminumnya seteguk, tapi belum ditelan masih berada di dalam rongga mulut, didiamkan beberapa menit, jika ada racun di dalam air itu pasti bereaksi pada indra perasa yang ada di lidah. Namun setelah 1 menit tidak ada reaksi apapun terasa seperti jus pada umumnya. Dia merasa aman, lalu dia meminumnya kembali hingga habis dan meletakkan gelas itu di atas meja kembali.

__ADS_1


"Aku sudah meminum jusnya, kau senang?" tanya Martin.


"Tentu, aku senang," jawab Yeni sambil tersenyum licik melihat kearah Martin.


Martin menatap Yeni sesaat. Kemudian melihat hidangan di depannya. Dia harus lebih waspada dari sebelumnya. mungkin saja di dalam makanan itu ada racun.


"Ayo makan Martin, ini masakan terakhirku untukmu, besok kau sudah pergi dari hidupku," ujar Yeni. dia merasa hari ini hari terakhirnya bertemu Martin.


"Oke, mari kita makan bersama, satu potong ayam untukku dan satu potong ayam untukmu," ujar Martin. Memastikan kalau makanan itu aman itu sebabnya dia menantang Yeni untuk makan hal yang sama dengan Martin.


"Baik, jika ada racun kita mati bersama," ucap Yeni. Menyanggupi tantangan yang diberikan Martin padanya. Jika memang harus mati akan mati bersama.


Martin mengangguk. Mereka mengambil nasi, lauk pauk dan sayuran bergantian dengan jumlah yang sama, dan jenis yang sama. Satu bagian satu bagian yang sama. Kini di piring mereka dipenuhi makanan. Baik Yeni dan Martin masih terdiam. Belum menyentuh makanan yang mereka ambil.


"Apa kita akan tetap diam? Bukannya kita makan malam?" tanya Yeni. Dia mengajak Martin terlebih dahulu agar segera makan.


"Silahkan kau duluan!" pinta Martin. Kembali menantang Yeni untuk lebih duluan makan.


"Oke, tak masalah, aku sudah biasa memakan rasa pahit yang kau berikan Martin," sahut Yeni. Dia memakan makanannya duluan beberapa suap. mengunyah nya dengan perlahan. Sambil menatap Martin dengan tatapan yang sangat dingin.


"Aku sudah makan, kenapa kau diam? Takut?" tanya Yeni. Dia meminta Martin gantian untuk makan makanannya setelah dia memakan makanannya sendiri.


"Aku baru saja mau memulainya," sanggah Martin. Dia mulai menyendok satu suap, dimasukkan ke mulutnya. Dia mengunyah lama di mulutnya membiarkan indera perasa memeriksa kejanggalan. Belum berani menelan. Masih membiarkan mulutnya memeriksa. Hingga dirasa aman, dia menelannya.


"Rasanya enak," puji Martin. Padahal dia tidak merasakan makanan itu karena fokusnya pada aman tidaknya makanan itu masuk ke perutnya.


"Aku menambahkan paku dan pupuk di dalamnya, itu sebabnya enak," sahut Yeni.


"Ternyata aku memakan makanan debus, pantas rasanya enak," balas Martin. Dia tahu Yeni akan bersikap seperti itu padanya.


Yeni menuang teko jus ke gelasnya hingga penuh. kemudian meletakkan kembali teko di atas meja.


"Kau tidak ingin minum? Jusnya masih banyak," ujar Yeni. menawarkan Martin agar merefill jusnya kembali.


Martin menuang teko jus itu ke gelasnya sampai penuh. Kemudian letakkan teko itu di atas meja kembali.


"Aku ingin jus di gelasmu, boleh?" tanya Martin. mungkin dengan menukar gelasnya dengan gelas Yeni menjadi strategi aman untuk minum jus itu. tidak mungkin seorang pelaku menaruh racun pada gelasnya sendiri.


"Oh silahkan!" sahut Yeni. mempersilahkan Martin untuk menukar gelasnya dengan gelas milik Martin. Dia terlihat santai tidak tegang sama sekali atau terlihat seperti orang ketahuan melakukan kesalahan.


Martin menukar gelasnya dengan gelas Yeni. Mungkin dengan begitu lebih aman untuk diminum olehnya.


"Mari bersulam kembali," pinta Yeni. Mengangkat gelasnya ke atas mengajak Martin untuk bersulam kembali.


"Oke," sahut Martin. Dia juga ikut mengangkat gelas itu ke atas dan bersulam kembali dengan Yeni.


Mereka tersenyum bersama. Kemudian meminum jus itu. Yeni minum dengan menatap Martin. perlahan meneguk minuman itu hingga setengah gelas. Kemudian meletakkan gelasnya di meja. Begitupun dengan Martin yang meneguk jus di gelasnya. Baru satu teguk Martin mulai merasa aneh. Mulutnya kebas, tenggorokkannya panas. Martin merasa tercekik. Di saat seperti itu Yeni menghampirinya. Berdiri di depan Martin membiarkannya kesakitan dan tersenyum seolah dia melihat sebuah pertunjukan. Dengan santai dia menyaksikan Martin yang sedang kesakitan tanpa berbuat apapun.


"Kenapa? Kau akan mati?" tanya Yeni sambil tersenyum senang. Ekspresi di wajahnya sangat puas melihat Martin seperti itu. Seperti seseorang yang baru saja mendapatkan hadiah.


"Kau menaruh racun di gelasmu?" ujar Martin. Di sela-sela rasa sakit di tenggorokannya.


"Kau pikir aku bodoh, kau itu bukan Martin, kau ingin menjebakkukan, agar kau bisa mendapatkan bukti kalau akulah yang mencelakai Martin?" ungkap Yeni.


Dia mengira laki-laki yang ada di depannya itu bukan Martin tetapi Albern. Karena bukti yang tadi siang dia temukan menjelaskan laki-laki yang bersamanya selama ini bukan Martin melainkan Albern.


"Kau licik Yeni," ucap Martin sambil memegang lehernya.


"Tenang, racunnya tak banyak, kau takkan mati dengan cepat, aku ingin melihatmu tersiksa Martin KW," ucap Yeni.

__ADS_1


"Kau akan menyesal Yeni, telah mencelakaiku, aku sampai koma karenamu," ujar Martin. Dia mengatakan apa yang terjadi sebelumnya saat Yeni mencelakainya.


"Oh, Martin koma? Pantas kau menggantikannya, seharusnya dia mati, aku tak sia-sia menyuruh orang membunuhnya," sahut Yeni. Dia mengira Martin sudah tiada. namun tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menjadi Martin. Awalnya Yeni percaya itu Martin meskipun dia sempat curiga karena Martin tak mungkin lolos dari kecelakaan maut itu.


"Kau tega sekali membunuhku?" ucap Martin. Dia tak percaya Yeni tega menyuruh orang lain untuk menyela kakinya hingga mati. Padahal selama ini Martin sudah baik padanya.


"Aku membunuh Martin karena dia memutuskanku, aku tidak terima, seharusnya dia menikahiku, bukan Lina," ujar Yeni. Berkeluh kesah dengan apa yang terjadi padanya dan isi hatinya.


Martin tak bisa bicara lagi. Tenggorokan dan perutnya panas. Dia mulai terjatuh ke lantai. Untung tak ada busa yang keluar dari mulutnya meskipun dia terlihat tersiksa.


Bruug ...


"Matilah kau Martin KW," ucap Yeni. Dia puas melihat Martin yang dianggap palsu itu tersiksa.


Tiba-tiba muncul polisi dengan senjata api di tangannya. Mereka mengepung Yeni dengan senjata api di tangan masing-masing setiap anggota polisi.


Posisi Yeni tersudut tak bisa melarikan diri ataupun mengelak dengan apa yang sudah dilakukan pada Martin. Ibarat kata sudah terlanjur basah. Percuma kalau menghindar juga polisi tetap akan menangkapnya.


"Sebaiknya Nona menyerahkan diri, rumah sudah dikepung," ujar polisi yang memimpin operasi itu.


"Sial polisi," ucap Yeni. Dia kesal merasa semua ini sudah direncanakan sebelumnya.


Segera tim medis masuk ke ruangan. Membantu Martin naik ke tandu. Namun Martin berdiri kembali.


Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Yeni.


"Yeni aku ini Martin asli, bukan Martin KW," ucap Martin.


"Kau masih bisa bicara?" tanya Yeni. Dia mengira Martin akan mati namun masih terlihat mampu berdiri dan berbicara.


"Aku memang meneguk jus yang kau racuni tapi hanya sedikit, aku tahu kau takkan membiarkan Albern hidup," ujar Martin.


"Albern?" Yeni terkejut. dia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi yang jelas pasti orang itu yang menggantikan Martin selama ini.


Albern dan Tuan Robberto masuk ke ruang makan. Yeni sudah di kepung polisi.


"Yeni kau harus membayar semua kesalahanmu dipenjara," ujar Robberto.


"Sepertinya tugasku sudah selesai," ucap Albern.


"Kau sengaja merencanakan ini?" tanya Yeni.


"Hanya dengan ini kami menangkap basahmu," ujar Albern.


"Sial, kalian bersekongkol," ucap Yeni.


Polisi tak menunggu lama, mereka menangkap Yeni membawanya pergi. Begitupun dengan Martin yang dibawa tim medis. Dia dibawa ke rumah sakit. Tinggal Robberto dan Albern yang berdiri di luar rumah Yeni. Mereka berbincang.


"Albern terimakasih atas semuanya, Yeni dan Natasha sudah ditangkap polisi, kau sudah mengungkap kasus ini," ucap Robberto.


"Iya Bos sama-sama, saya juga berterimakasih atas bantuan anda yang telah membayar semua hutang saya dan membawa saya ke kota A," kata Albern.


"Kalau kau butuh bantuan, jangan segan menghubungiku," ujar Robberto.


"Baik Bos," ucap Albern.


"Aku pergi dulu, Martin ada di rumah sakit," ucap Robberto.


"Aku titip salam untuk Martin," ucap Albern.

__ADS_1


"Iya pasti ku sampaikan," sahut Robberto.


Akhirnya, malam itu Albern menyelesaikan pekerjaannya. Dia tersenyum bahagia. Tinggal menemuiku. Albern sangat rindu padaku setelah sekian lama kami berpisah.


__ADS_2