
Seorang remaja berdiri diatas pembatas gedung rumah sakit. Dia menangis tersedu-sedu. Hidupnya seakan tak berharga lagi dan ingin diakhiri. Dia bersiap melompat dari atap gedung rumah sakit itu.
"Bodoh, bunuh diri tak ada gunanya, rasa sakitmu hanya akan jadi bahan tertawaan" ucap Marsya.
Remaja itu terdiam, dia hanya menangis.
"Orang yang menyakitimu tak akan peduli meskipun kau mati juga" ujar Marsya.
"Hik hik hik, aku kotor, mereka telah merusak semuanya"
"Terus kau akan membiarkan mereka hidup tenang, dan kau mati gentayangan" ujar Marsya.
"Hidupku sudah hancur, apalagi alasan untukku hidup hik hik hik"
"Alasanmu hidup adalah membalas, membuat mereka jera dan hancur seperti yang kau rasakan" ucap Marsya.
"Aku sudah coba melaporkan mereka ke polisi tapi apa daya aku hanya orang miskin. Kasusku dihentikan hik hik hik"
"Kau diperkosa sahabatmu dan teman-temannya, iyakan?" tanya Marsya.
Remaja itu menoleh ke belakang. Dia terkejut, orang yang tidak dikenalnya mengetahui permasalahannya.
"Hik hik hik" remaja itu menangis. Peristiwa menyakitkan itu muncul kembali dipikirannya. Dia merasa tubuhnya kotor dan tak punya harga diri lagi.
"Menangis hanya membuatmu lemah, kini saatnya kau bangkit" ucap Marsya.
"Aku ingin mati saja, aku kotor hik hik hik"
"Merekalah yang kotor, bukan kau" ujar Marsya.
Marsya mendekati remaja yang ingin bunuh diri itu. Dia berusaha membujuknya agar tidak jadi bunuh diri tapi remaja itu malah lompat, untung satu tangannya masih dipegang Marsya.
"Kau benar-benar bodoh" ucap Marsya.
"Hik hik hik, biarkan aku mati"
"Kalau kau mau mati, ayo. Kita mati sama-sama" ujar Marsya.
"Kenapa? kenapa kau peduli padaku?"
"Aku ingin kau tersenyum melihat orang yang menyakitimu hancur" ucap Marsya.
"Untuk apa? aku hanya orang miskin, bagaimana caranya aku membalasnya?"
"Ikutlah denganku" ucap Marsya.
Remaja itu mengangguk, Marsya menolongnya, dia menarik tangannya hingga remaja itu naik kembali ke atap..
"Aku Marsya, mulai sekarang kau temanku" ucap Marsya.
"Aku Nilam, terimakasih sudah mau jadi temanku" ucap Nilam.
Marsya membawa Nilam ke sebuah markas. Markas itu disebut Markas Putih. Dimarkas itu hanya ada perempuan, tak ada laki-laki satupun. Semua perempuan didalam markas itu bisa bela diri dan pintar. Nilam heran dengan Markas Putih.
"Marsya kenapa dimarkas ini semuanya perempuan?" tanya Nilam.
__ADS_1
"Mereka semua memiliki nasib yang tak jauh berbeda denganmu" ucap Marsya.
"Lalu kenapa mereka semua ada ditempat ini?" tanya Nilam.
"Disinilah mereka diajari jadi kuat dan hebat, setelah itu mereka akan membalas" ucap Marsya.
Nilam sekarang paham kenapa dimarkas itu hanya ada lelaki. Marsya mengenalkan Nilam pada pemimpin dimarkas itu. Mereka berdua masuk ke ruangan Bos. Disana Bosnya sedang duduk disinggasananya. Seorang wanita dengan muka yang cacat.
"Bos, ini Nilam, dia seorang wanita yang tersakiti oleh laki-laki" ucap Marsya.
"Bagus, Nilam mulai hari ini kau akan tinggal disini, belajar kuat disini"
"Baik Bos" ucap Nilam.
"Ingat, patuhi semua aturan yang ada disini"
"Oke Bos" ucap Marsya dan Nilam.
Marsya mengajak Nilam ke kamarnya. Kebetulan Nilam satu kamar dengan Marsya dimarkas itu. Kamar itu cukup mewah dan luas. Ada dua ranjang dan berbagai fasilitas didalam ruangan.
"Nilam ini kamarmu, kamarku juga dimarkas ini. Ranjangmu yang kiri ya, lemarimu yang warna coklat. Semua yang kau butuhkan ada dikamar ini. Ingat besok kau sudah mulai berlatih" ucap Marsya.
"Iya kak" jawab Nilam.
Marsya duduk diranjang karena lelah. Nilam mulai merapikan semua keperluannya sambil melihat-lihat semua barang dikamar itu. Tak sengaja dia melihat sebuah foto dirak buku.
"Kak Marsya, ini fotomu?" tanya Nilam menunjukkan foto itu pada Marsya.
"Iya, itu fotoku dan keluargaku" jawab Marsya.
"Apa mereka semua masih ada?" tanya Nilam.
"Apa yang terjadi pada keluargamu?" tanya Nilam.
"Keluargaku..." Marsya mulai mengingat masa lalunya.
Flash Back On
Saat itu usia Marsya baru 18 tahun. Dia baru menginjak kelas 3 SMA. Ayahnya menikah lagi. Dia kerap menyiksa istri dan anak-anaknya, selain itu dia menjual apa saja yang ada dirumahnya demi memenuhi kebutuhan istri mudanya. Lama kelamaan semua barang habis dijual bahkan serifikat rumah jadi jaminan direntenir. Ayahnya terlilit hutang hingga rentenir datang menagihnya.
"Bowo kalau kau tidak membayar hutang, maka aku akan membuat kau cacat seumur hidupmu" ancam Rentenir itu.
"Ampun Bos Gandi, aku akan segera membayar hutangku" ucap Pak Bowo.
"Anak-anak gadismu cantik, jual mereka ke bilik merah, kau akan mendapat banyak uang" saran Rentenir itu.
Pak Bowo memikirkan saran dari rentenir itu.
"Kau akan mendapat uang banyak, hidupmu bergelimang harta" kata Rentenir itu.
Pak Bowo terdiam, wajahnya yang babak belur dihajar anak buah rentenir itu jadi tersenyum lebar.
"Bagus kalau kau paham, segera bayar hutangmu kalau kau masih mau hidup bebas dan nyaman" Rentenir itu mengingatkan Pak Bowo.
Setelah rentenir itu pergi, Pak Bowo kepikiran ucapan rentenir itu. Dirumah sudah tak ada yang dijual lagi. Dia melihat ketiga anak gadisnya. Anak pertamanya berusia 25 tahun namanya Asia Dewi. Anak keduanya berusia 20 tahun namanya Dea Rismania, dan anak ketiganya berusia 18 tahun namanya Marsya Permata. Pak Bowo mengajak Asia Dewi pergi ke bilik merah. Dia menjual putrinya demi uang. Asia menangis saat ayahnya tega menjualnya. Dia dibawa masuk ke dalam kamarnya oleh anak buah Mami Indri. Sedangkan Pak Bowo mengobrol dengan Mami Indri.
__ADS_1
"Anakmu masih fresh, harga awalnya tentu mahal. Pasti ada pengusaha atau pejabat yang akan tertarik, apalagi dia cantik" kata Mami Indri.
"Tentunya, siapa dulu ayahnya" ucap Pak Bowo.
"Ini harga awal, hasil selanjutnya 50:50 setiap kali dia menguntungkan" kata Mami Indri sambil menyodorkan amplop.
"Oke, aku suka ini, jual saja anakku sesukamu, yang penting aku dapat banyak uang" ucap Pak Bowo.
"Beres, dia cantik tentu banyak yang mau" kata Mami Indri.
Seusai menyerahkan Asia, Pak Bowo pulang kerumah. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan dia asyik menghitung uang hasil menjual anaknya sendiri. Dia memberikan uang itu pada istri mudanya. Istri tuanya bernama Ibu Sita Mutia. Sudah lama dia tidak bisa berjalan normal. Satu kakinya cacat karena terserempet mobil. Dia berusaha mencari Asia tapi suaminya bilang Asia kerja dikota.
"Kerja apa Pak?" tanya Ibu Sita.
"Yang penting dia ngasilin duit, gak usah bawel" jawab Pak Bowo.
"Kau tidak melakukan hal yang tidak benarkan Pak?" tanya Ibu Sita.
"Sudahlah, orang cacat sepertimu tidak perlu tahu. Yang penting kita gak ditagih rentenir lagi" jawab Pak Bowo.
"Pak dimana Asia, dimana hik hik hik?" tanya Ibu Sita memohon sambil duduk memegang kaki suaminya.
Pak Bowo malah menendang Ibu Sita.
Bluuug...
Ibu Sita terjatuh dilantai.
"Asia itu anakku, sudah sewajarnya dia balas budi, bukannya nganggur. Mau ku jual atau tidak itu hakku" ucap Pak Bowo.
"Apa? kau menjual anak kita? tega sekali Pak hik hik hik, apa salah anak kita? kau bapak biadap" ucap Ibu Sita marah.
"Aku tidak peduli, kita butuh uang, kalau perlu ketiga putri kita harus dijual semua biar uang kita banyak" ucap Pak Bowo.
"Jahat, biadap, kejam kau Pak. Hidup kita susah itu karena ulahmu. Kau berjudi dan menikah lagi. Istri mudamu foya-foya. Kita yang tak bersalah kena imbas hik hik hik" ujar Ibu Sita.
Pak Bowo bukannya menyadari kesalahannya tapi malah menyiksa Ibu Sita dan menguncinya dikamar. Kedua putrinya tak bisa bertemu dengan ibu mereka. Beberapa bulan kemudian putri keduanya Dea juga dijual Pak Bowo. Begitupun dengan Marsya. Hanya saja Marsya bisa meloloskan diri saat hendak melayani untuk pertama kalinya. Dia pulang ke rumah. Sampai dirumah ibunya berbaring tak berdaya diranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Ibunya dijual pada Juragan Amir. Seorang juragan sapi terkenal dikotanya. Marsya menangis saat tahu ibunya dijual ayahnya juga.
"Biadaaaap, kau jahat ayah hik hik hik" Marsya marah, kecewa dan menangis. Semua rasa campur aduk. Hatinya begitu terluka.
Satu hari setelah kejadian itu, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia tak sanggup menahan rasa sakit hati pada suaminya. Marsya sangat terluka kehilangan ibunya. Dia coba meminta tolong pamannya agar melaporkan ayahnya ke polisi, bukannya menolong tapi malah hendak memperkosanya. Marsya berhasil meloloskan diri dari pamannya dengan pakaian compang camping, dia berjalan ke rumah orang yang dicintainya berharap dia akan menolongnya. Baru sampai didepan rumahnya dia melihat orang yang dicintainya memiliki kekasih lain. Bahkan dia malah menghina Marsya didepan mukanya dihadapan kekasih barunya. Marsya merasa tak punya siapa-siapa lagi. Ibunya meninggal dan ayahnya gila uang. Dia menangis ditepi jembatan. Tiba-tiba seorang wanita berwajah cacat menghampirinya.
"Kau terluka? orang disekelilingmu menyakitimu? ikutlah bersamaku. Kau akan bisa membalas semuanya"
Marsya menengok ke samping. Dia melihat wanita berwajah cacat itu.
"Siapa kau?" tanya Marsya.
"Aku pemimpin Power Girl, sebuah tempat dimana semua wanita tersakiti berkumpul dan membalas rasa sakitnya"
Marsya berpikir untuk membalas rasa sakitnya. Sejak saat itu dia bergabung menjadi anggota Power Girl. Disana dia belajar bela diri dan ilmu lainnya. Dan berhasil membalas rasa sakitnya.
Flash Back Off.
"Ternyata nasib kakak juga menyakitkan sepertiku" ucap Nilam.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang dengan rasa sakit Nilam" ucap Marsya.
"Kau harus kuat dan membalas semua rasa sakitmu, tempat ini wadah untuk kita tumbuh kuat" ucap Marsya.