
"Sebenarnya apa lemot?" tanya Axel.
"Sebenarnya aku cinta kamu," ucapku salah tujuan. Kenapa jadi menyatakan cinta di atas bus sambil ditungguin kenek nagih ongkos.
"Udah Dek terima aja, tuh anak kalian kan? jangan pada egois anak jadi korban, apalagi kalau sampai dibuang di got, jangan, dosa! cukup dosa berzina udah gede jangan nambah dosa membunuh bayi yang tak berdosa." Kenek malah menceramahi kami kaya Pak Ustad lagi pidato keagamaan. Lah semakin didengerin kenapa ini kenek gak udahan juga ceramahnya, mungkin dulu dia bercita-cita jadi ustad tapi malah nyunsep jadi kenek.
"Pak ongkosnya berapa?" tanya Axel.
"Tunggu hadist sahihnya belum beserta arti dan contohnya dalam kehidupan," ujar kenek itu.
"Maaf Pak, kira-kira berapa menit lagi, apa juga disertai lagu dan puisi, nanti baper semua nih Pak satu bus," ucapku.
"Boleh juga, kebetulan saya dulu juara menyanyi dan baca puisi se RT," ujar kenek.
"Maaf Pak, se RT-nya ada berapa ekor?" tanyaku yang ikut dalam ketidakjelasan ini.
"Se RT tinggal dua puluh orang, sepuluh orang lansia, maklum desa tempat tinggalku sudah ditinggalkan karena gunung meletus, sedihkan?" Kenet itu mulai bercerita perkara gunung meletus dari terjadinya goncangan, gempa, hingga meletus dan banjir lahar. Tak lupa dia menceritakan sapi dan ayamnya yang hilang.
"Sedih sih Pak, tapi ngomong-ngomong bapak jadi nagih ongkos gak? kasihan yang lain pada baper sama cerita bapak," ujarku.
"Pak tolong sinopsis atau sample ceritanya saja, nanti kita gak turun-turun nih," kata Axel.
"Begitu ya, saya ringkas saja jadi cerita selama satu jam cukup ya?" Kenet itu bukannya udahan cerita lah malah nambah lagi, bilangnya sih sinopsis.
Akhirnya dia kesedak, gak bisa bercerita panjang kali lebar lagi, ini namanya teguran langsung dari atas, kalau gak kita bisa senyum gila gara-gara dengerin cerita yang gak kelar-kelar, untung gak berbayar atau digembok, repot kita.
"Nah ganguan setan dan jin udah hilang," ucapku.
"Lemot mau bicara apa tadi?" tanya Axel.
"Begini, gunung meletus biasanya ditandai dengan apa ya?" tanyaku masih terhipnotis cerita kenek tadi.
"Gunung meletus?" Axel bingung.
"Aduh ..." Aku menepuk jidatku.
"Ini pasti gara-gara kelamaan denger cerita gunung meletus jadi kaya gini," ujarku.
Tiba-tiba bus berhenti di halte, aku dan Axel turun dari bus. Kami berjalan di tepi jalan menuju rumah Axel.
"Lemot kau lapar?" tanya Axel.
"Tumben baik?" tanyaku.
"Tapi awas ya jangan bilang sama siapapun kalau gue traktir lo makan," ancam Axel.
__ADS_1
"Tenang, urusan perut bisa menutup semuanya, gratis ini," jawabku sambil tersenyum. Lumayankan ditraktir sama Axel, uang makan siang diamankan bisa buat beli popok Bobo.
Axel mengajakku makan di warteg tepi jalan. Aku pikir orang kaya seperti Axel mana mau makan di pinggir jalan, ternyata dia lahap banget makannya. Aku sampai menelan ludah berkali-kali melihat Axel makan.
"Lemot kenapa belum dimakan punyamu?" tanya Axel.
"Melihatmu makan kaya dikejar sapi gila tahu," jawabku.
Axel diam, dia kembali makan dan mengacuhkanku. Baru aku mau makan, tiba-tiba ada bapak tua ingin membeli nasi tapi dia hanya punya uang dua ribu. Dari tadi dia mengantri, tak berani bilang beli, sepertinya menunggu sepi, dia gak enak mau beli tapi cuma dua ribu. Ku lihat dia penjual permen gulali yang tadi berpapasan dengan kami saat turun dari bus. Kasihan, aku tak tega, mungkin saja dagangannya belum laku, dia hanya punya uang dua ribu untuk beli makan siangnya.
Aku berdiri membawa piring nasiku yang belum ku makan, menghampiri bapak tua itu.
"Pak ini buat bapak, kebetulan saya belum lapar, tapi sudah terlanjur dibeli," ucapku sambil memberikan piring nasiku pada bapak tua itu.
"Alhamdulillah, makasih ya nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
"Amin," sahutku.
Setelah memberikan piring nasiku pada bapak tua itu, aku kembali duduk bersama Axel. Dia melihat ke arahku.
"Lemot, lo gak makan?" tanya Axel.
"Udah kenyang," jawabku.
"Tadi lo kasih makanan lo buat bapak tukang gulali itu?" tanya Axel.
"Makan tuh!" perintah Axel.
"Asyik, makan sisa Axel, kali aja ketularan virus pinternya," ujarku dengan senang hati.
"Asal gue gak ketularan kelemotan lo aja," sanggah Axel.
"Tenang udah divaksin, anti menularkan kelemotan," jawabku.
"Dasar lo," ucap Axel.
Alhamdulillah aku bisa makan juga, lumayan setidaknya perutku tidak akan nyanyi seharian gara-gara konsernya para cacing kremi yang membabi buta.
Usai makan di warteg kami melanjutkan berjalan di tepi jalan. Otakku yang tadi tersendat gara-gara gunung meletus, top cer kembali setelah makan nasi satu piring.
"Axel gini ..., eee ..., aku mau ..., apa ya ..., gimana ya ngomongnya?" Aku bingung, Axel akan marah tidak jikalau aku tanya soal kakaknya. Dia kan tidak suka masalah keluarganya dipertanyakan. Bisa kena sembur ikan paus gak nih? ngeri juga.
"Lemot, lo mau ngomong apa sih?" tanya Axel.
"Itu loh, ka-kakmu yang tadi pagi ke-temu sama kamu," ujarku terbata-bata.
__ADS_1
"Ngapain lo ngebahas kakak gue lagi, tapi bukannya udah gue ingetin, awas jangan sampai ada yang tahu kalau itu kakak gue," ujar Axel.
"Gak ada yang tahu kok, beneran! ini hanya masalahku dengan ka-kakmu itu," jelasku.
"Lo ada masalah apa sama kakak gue, oh ..., lo mau pansos atau mau minta kakak gue buat jadi bapak anak lo?" tanya Axel dengan kesal.
Aduh, ini ceritanya kok menyimpang dari tujuan awal. Kenapa jadi aku seakan-akan minta pertanggungjawaban kakaknya Axel, mau sih, dia ganteng juga, lumayan jadi bapaknya Bobo, kali aja aku mendadak jadi nyonya besar. Udah lamunanku terjun bebas, amburadul ke sana sini, senyum sendiri punya suami orkay, mandi uang.
"Kaya ... kaya ...," ucapku yang masih melamun.
Axel menyiram kepalaku dengan air dari botol minum, basah deh mukaku.
"Axel! orang lagi enak-enak ngelamun juga," ujarku.
"Lemot, lo berkhayal jadi orang kaya, nyatanya lulus aja masih mimpi, nih otak, isi batre biar gak low batt terus," ucap Axel sambil menunjukkan jarinya dipelipisku.
"Iya sih, tapi masalah sebenarnya aku mau dikeluarin dari sekolah," jelasku.
"Apa lo mau dikeluarin darinsekolah? alhamdulillah, makhluk tak dirindukan akhirnya ke laut juga, kalau perlu ke bulan sekalian biar gak balik lagi," ujar Axel dengan senangnya.
Aku langsung duduk di kursi sambil menangis.
"Lo nangis?" tanya Axel.
"Iya, gak liat, lo sih enak orang kaya, kalau dikeluarin tinggal pindah sekolah, duit lo banyak, lah aku makan aja susah, gimana kalau dikeluarin, buat bayar biaya pindahannya dari mana?" ujarnya sambil menunduk dan berurai air mata.
Axel yang tadi mentertawakanku, langsung terdiam. Dia duduk di sampingku. Menepuk bahuku.
"Lemot, maaf ya," ucap Axel.
"Aku butuh maafmu, bagi nomor telpon dan alamat rumah abangmu dong," ucapku sambil tersenyum melihat ke arah Axel.
"Nyesel gue minta maaf, ternyata tadi cuma drama Queen," ujar Axel.
Aku tersenyum. Cerita baperku sudah meluluhkan pertahanan Axel yang tidak mau membahas keluarganya. Kini mau tidak mau dia harus memberitahuku nomor telpon dan alamat rumah lelaki tampan kejam itu.
"Nih," ucap Axel sambil memberiku kartu nama lelaki tampan kejam itu.
"Yes," ucapku dengan girang.
"Bilang apa?" ucap Axel.
"Makasih paduka raja, sekalian aku mau pamit dulu, ada misi yang harus ku sekesaikan," ucapku pada Axel sambil berdiri dan memberi penghormatan sebelum melanjutkan petualangan Dora.
"Lo mau ke mana?" tanya Axel.
__ADS_1
"Kencan dong sama kakak tampan, dadah Axel," ujarku sambil berjalan meninggalkan Axel yang masih duduk di kursi tepi jalan itu.