ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Part 24


__ADS_3

Malam itu Raynor berada diatas pohon. Dia menunggu sebuah mobil yang membawa narkoba untuk dikirim keluar kota. Dia ingin mengagalkan pengiriman barang haram itu. Saat mobil itu melintasi, Raynor turun dari atas pohon.


Bluuuuug..........


Raynor berdiri di atas jalan, dia berada tepat di tengah jalan. Raynor mengeluarkan pistol miliknya untuk menembak kedua ban depan mobil itu.


Dor....dor.....dor....dor....


Ban depan mobil itu pecah. Hingga mobil itu terpaksa berhenti. Beberapa orang keluar dari dalam mobil.


"Raynor" ucap salah satu dari orang yang turun dari mobil.


"Sepertinya pesta baru dimulai" ucap Raynor.


"Sialan Raynor lagi"


Orang-orang kesal melihat Raynor muncul lagi menghadang mereka.


"Kenapa? bukannya kita harus berpesta?" ucap Raynor.


"Sudah habisi dia" ucap salah satu dari orang-orang itu.


Mereka mengepung Raynor mengeluarkan pistol dan mengacungkan ke arah Raynor.


"Tembak" perintah salah satu dari orang-orang itu.


Raynor menendang satu per satu tangan mereka dengan gerakan berputar secara cepat. Semua pistol terjatuh. Mereka langsung melawan Raynor dengan tangan dan kaki. Mereka semua babu hantam. Meskipun satu lawan banyak tapi Raynor berhasil menumbangkan mereka semua.


"Haruskah aku mengirim kalian ke penjara?" ucap Raynor.


Raynor berdiri didepan orang-orang yang sudah babak belur. Terdengar suara tepuk tangan dari belakang.


Proook......prooook......prooook......


Seorang bertopeng dengan masker anti gas beracun, dia menggunakan kostum khusus berwarna hitam muncul dari belakang Raynor.


Seketika Raynor berbalik melihat orang itu.


"Sungguh kesempatan berharga bisa bertemu langsung dengan Raynor" ucap Lelaki bertopeng.


"Aku tak menyangka pesta ini belum selesai" ucap Raynor.

__ADS_1


"Menjadi pahlawan malam hanyalah hal yang bodoh" ucap Lelaki bertopeng.


"Aku suka menjadi orang yang bodoh tapi tidak suka jadi orang yang brengsek" ucap Raynor.


Lelaki bertopeng itu menghampiri Raynor. Dia berdiri di samping Raynor.


"Jika kau seorang lelaki bisa dipastikan aku akan membunuhmu, tapi jika kau seorang wanita akan ku jadikan pelayan ranjangku" ucap Lelaki bertopeng.


"Ha...ha...ha..., kau yakin sekali bisa mengalahkanku" ucap Raynor.


Lelaki bertopeng itu mulai melawan Raynor. Mereka berdua babu hantam. Menendang dan memukul. Keduanya berhasil menghindar dan mampu bertahan. Raynor naik ke atas pohon, lelaki bertopeng itu mengejarnya. Mereka berjalan diatas ranting pohon yang berukuran besar. Mereka berdua kembali bertarung di atas pohon. Raynor memotong ranting pohon yang dipijaki lelaki bertopeng dengan pedang miliknya.


Lelaki bertopeng itu terjatuh ke bawah.


Bluuuug.........


Setelah lelaki bertopeng itu terjatuh, Raynor turun ke bawah menghampirinya.


"Kau lihat sendiri, siapa yang kalah" ucap Raynor.


Lelaki bertopeng itu mengeluarkan sebuah bola berukuran sebesar bola kasti lalu dilempar ke arah Raynor. Bola itu meledak mengeluarkan gas beracun.


"Ugh....ugh....ugh...., gas beracun" ucap Raynor terbatuk menghirup gas beracun.


"Aku beri satu kesempatan, momohonlah ampun padaku" ucap Lelaki bertopeng itu.


"Aku lebih baik mati dari pada memohon ampun padamu" ucap Raynor.


Lelaki itu berdiri dan mengeluarkan pistol miliknya. Dia menembak Raynor, tapi Raynor berusaha berguling menghindari tembakan itu.


Dor.....dor.....dor......


Lengan Raynor terkena peluru dari pistol itu.


"Aw......, ini bukan peluru biasa" ucap Raynor.


Raynor berusaha bangun, dia berdiri.


"Untuk saat ini aku harus kabur, tidak mungkin aku melawannya sekarang" batin Raynor.


Lelaki bertopeng itu menghampiri Raynor, melihat itu Raynor langsung berlari meninggalkan tempat itu. Lelaki itu terus mengejar Raynor. Dia berusaha berlari secepat mungkin meskipun pernapasannya sudah terkena beracun dan lengannya terkena tembakan. Dia melihat motor miliknya ditepi jalan, Raynor langsung menaiki motor miliknya. Dia menyalakan motornya pergi secepat mungkin.

__ADS_1


"Raynor malam ini aku mengampunimu, tapi lain kali aku tidak akan berbelas kasih padamu" ucap Lelaki bertopeng.


***********


Raynor terjatuh di depan teras sebuah tempat berlatih pedang. Dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Seseorang keluar dari tempat berlatih pedang itu. Dia memapah Raynor masuk ke dalam. Raynor dibawa ke ruangan istirahat di tempat berlatih pedang itu. Dia berbaring di ranjang. Darah di lengannya terus mengalir. Nafasnya semakin sesak. Dia mulai kehilangan kesadarannya.


Raynor membuka matanya. Matahari sudah terbit, cahayanya memasuki ruangan itu. Dia melihat kesekeliling. Ada Azkia berada disampingnya.


"Tante" ucap Deena melihat ke arah Azkia.


"Semalam kau hampir saja tidak selamat, inilah yang tante khawatirkan" ucap Azkia sambil memegang tangan Deena.


"Seseorang menyerangku, dia menggunakan gas beracun dan pistol dengan peluru yang bisa menembus kostumku" ucap Deena menceritakan semua kejadian yang terjadi semalam.


"Dia pasti bukan orang biasa" ucap Azkia. Dia yakin orang yang menyerang Deena bukan orang biasa, itu dikarenakan luka pada Deena. Selama ini Deena selalu berhasil dalam misinya. Tapi semalam dia terluka parah, untung saja Azkia secepatnya menolong Deena. Kalau tidak keponakannya itu takkan selamat.


"Sepertinya begitu tante, dia menggunakan topeng jadi aku tidak tahu siapa dia" ucap Deena.


"Ini ancaman yang serius, bisa jadi dia akan tetap memburumu" ucap Azkia memperingatkan Deena. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Deena.


Deena berpikir, benar juga kata tantenya. Lelaki bertopeng itu akan kembali memburunya. Semalam saja jika dia tak kabur mungkin lelaki bertopeng itu sudah menangkapnya atau membunuhnya.


"Sebaiknya kau berhenti menjadi Raynor, tante tidak ingin nyawamu dalam bahaya" ucap Azkia memberi saran. Menjadi Raynor saat ini bahaya untuk Deena. Lelaki bertopeng itu tentu akan kembali memburu Deena.


"Tidak, aku tidak ingin melihat kejahatan merajalela" ucap Deena kekeh. Dia tidak bisa tinggal diam. Peristiwa di masa lalu membuatnya ingin menumpas kejahatan.


"Yasudah, kau istirahat biar kondisimu pulih" ucap Azkia.


"Tapi aku harus pulang tante, Papa dan Mama pasti mencariku" ucap Deena berusaha menolak. Dia khawatir kedua orangtuanya mencari Deena saat tak ada dikamarnya.


"Tenang, tante sudah mencari alasan yang tepat, jadi beristirahatlah" ucap Azkia.


"Terimakasih tante" ucap Deena.


Azkia mengangguk. Dia keluar dari ruangan itu.


Deena memegang luka dilengannya. Luka itu cukup dalam dan rasanya masih sakit. Deena tak mungkin beraksi dalam waktu dekat.


"Siapa orang itu?"


Deena terus bertanya-tanya. Mungkin lelaki bertopeng itu seseorang yang memang ingin berurusan dengannya atau seseorang yang berdiri dibalik kegelapan.

__ADS_1


"Haruskah aku beristirahat untuk beberapa hari kedepan, lukaku mungkin akan lama pulihnya. Orang itu sangat berbahaya" ucap Deena.


Deena bangun, dia berjalan menuju jendela ruangan itu. Matanya memperhatikan Azkia melatih murid-muridnya. Tempat berlatih pedang itu tidak hanya mengajarkan teknik berpedang tapi juga mengajarkan ilmu bela diri. Dulu Deena juga berlatih dan belajar pada Azkia hingga dia jago bertarung


__ADS_2