
"Bagaimana asal usul Aara?" tanya Farel.
"Mama dengar dari Adelina, ayah Aara sudah meninggal saat dia masih kecil dan ibunya meninggal saat dia masih SMP," jawab Alina.
"Berarti dia anak kandung dari orangtuanya?" tanya Farel.
Alina terdiam. Hal ini sulit untuk dicari informasinya, apalagi kedua orangtuanya sudah meninggal yang seharusnya jadi saksi hidup untuk Aara.
"Ma ... Ma ...," panggil Farel.
"Pa, bagaimana kalau kita tes DNA," ujar Alina.
Farel memikirkan usul dari istrinya. Tes DNA memang cara yang paling akurat. Namun Aara baru datang dikehidupan mereka, apalagi baru saja Aara mendapatkan musibah, rasanya tak etis bila harus memintanya tes DNA, terkesan buru-buru. Farel khawatir Aara akan terbebani.
"Sebaiknya kita lakukan tanpa sepengetahuan Aara," ujar Farel.
"Memangnya kenapa Pa?" tanya Alina.
"Aara baru saja terkena musibah besar, ayah ibunya sudah meninggal, akan terkesan memaksa jika kita memintanya sekarang," jawab Farel.
"Oke, jadi kita lakukan itu diam-diamkan?" tanya Alina.
Farel mengangguk. Hanya dengan cara itu dia bisa tahu siapa Aara. Apakah anak kandung mereka yang telah hilang saat tsunami melanda kota A dua puluh tahun lalu.
"Kalau gitu Mama harus mendapatkan rambut atau apapun yang bisa digunakan untuk tes DNA," sahut Alina.
"Semoga Aara memang anak kita Ma," ujar Farel.
"Iya Pa, Mama rindu sekali dengan anak kita Pa, Mama selalu berharap suatu hari nanti kita akan bertemu dengannya," ucap Alina.
"Papa juga rindu pada putri sulung kita," sahut Farel.
Alina langsung menghampiri Farel. Dia memeluknya, meskipun Aara belum terbukti anak mereka namun harapan itu kembali hadir dan menghangatkan hati mereka.
***
Axel dan Raina pindah ke kota A. Mereka mengontrak rumah yang dibayarkan pabrik tempat Axel berada. Kini Axel menjadi supervisor ditempat kerjanya. Kebetulan Axel pintar maintenance. Dia bisa memperbaiki berbagai mesin conveyor dan mesin lainnya yang digunakan untuk produksi dan proses produksi. Axel berkeliling dan memastikan pekerjaan bawahannya. Sambil melihat dan mengecek di jam beristirahat. Meskipun usianya masih muda tapi keahliannya tidak diragukan lagi. Axel cerdas dan kreatif. Dia juga pekerja keras dan selalu berusaha perpect saat mengerjakan apapun. Meskipun dia terkadang turun langsung dan memperbaikinya jika bawahannya tak bisa.
Sore itu Axel mengajak Raina jalan-jalan bersama Bobo ke Mall. Sudah lama mereka tak pernah jalan-jalan semenjak tsunami yang menggulung kota kami. Axel dan Raina mengajak Bobo yang kini hampir satu tahun ke kids zona. Bobo terlihat happy apalagi sekarang Bobo sudah pandai berdiri dan berjalan satu dua langkah. Raina dan Axel menemani Bobo bermain mandi bola.
"Bobo gak boleh dimakan, bukan makanan sayang," ujar Raina.
"Bun-da ... Bun-da ...," ucap Bobo.
"Dengerin kata Bunda, gak boleh," ujar Axel.
Bobo menggeleng dan gemas pada bola-bola warna warni. Dia melempar bola-bola itu dibalas Axel, membuat Bobo senang dan tertawa.
"Foto dulu," ujar Raina yang ingin mengabadikan foto mereka bertiga. Raina merangkul suami dan anaknya dengan background tempat bermain.
Cekrek ... cekrek ...
__ADS_1
Mereka bertiga ganti-ganti pose. Begitu bahagia. Meskipun itu sederhana. Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan mereka.
Ternyata aku, Rangga dan Sweety juga sedang ada di Mall itu. Kami tertawa sambil melihat-lihat ini itu. Maklum kita bertiga mulai bersahabat.
"Ra beli kolor yuk," ajak Sweety.
"Kok kolor, celana sot atau celana pendek kali Sweety," ujarku.
"Itu gak muat, kini aku move on dan menemukan tambatan hati baru, kolor bapak gue," ujar Sweety.
"Pantes agak bau gitu, berapa lama bapak lo gak cuci?" tanya Rangga yang sudah pakai face shild sejak berteman dengan kami.
"Sud ...," ujar Sweety terhenti saat Rangga menyemprot tubuh Sweety dengan disinfektan.
"Rangga gue ini bukan biang virus, kuman dan sebagainya," ujar Sweety.
"Kolor bapak lo gue rasa akan menginfeksi banyok orang, lihat di belakang lo jatuh korban," ujar Rangga menunjuk pada wanita cantik pingsan di belakang Sweety.
"Mungkin dia mabok kentutku, soalnya dari tadi aku buang kentut sembarangan, ujar Sweety.
Aku dan Rangga saling memandang. Ternyata teman kita yang satu ini punya jurus handal, bom atom dari bokong cantik.
"Aara back list aja dia dari geng kita, hempaskan sejauh-jauhnya," bisik Rangga.
"Aku tak kuat menghempaskannya, terakhir kau tertindih olehnya, gimana kalau itu terulang?" bisikku gantian.
"Kalau gitu kita jual si gendut ini, siapa tahu ada yang mau membelinya," bisik Rangga.
"Aara, Rangga, Sweeety pengen naik kereta itu," ujar Sweety menunjuk kereta yang dinaiki anak-anak. Kereta itu mirip bus berkeliling di lantai satu.
Aku dan Rangga mengangguk. Kami mengajak Sweety naik kereta namun dia tersangkut di pintu masuk.
"Rangga dorong!" pintaku.
"Gak sanggup, tenaga gue habis," ujar Rangga.
"Gimana nih teman-teman Sweety gak bisa gerak, apa minta tolong pemadam kebakaran lagi?" ucap Sweety.
"Pemadam kebakaran sibuk, tak menerima pelayanan untuk menyelamatkan paus langka," ujar Rangga.
"Sweety tahan sedikit perutmu, biar bisa kurusan satu senti," usulku.
"Aduh Aara mau kentut kalau nahan perut," ujar Sweety.
"Ra ampun gue, dia akan meledak," ujar Rangga.
Benar saja Rangga kena bom atom berkali-kali. Kapok deh ngajak Sweety, serba susah. Tapi lucu juga. Setidaknya ada yang bikin kita ketawa.
"Sweety dah puas naiknya?" tanya Rangga.
"Keretanya kok gak operasi lagi?" tanya Sweety balik.
__ADS_1
"Bannya kempes gara-gara lo naik, untung gue bayar banyak, setidaknya bisa buat beli ban baru," ujar Rangga.
"Makasih Rangga," ujar Sweety.
Setelah kita keliling Mall, kita memutuskan pulang. Sweety dan Rangga pulang duluan sedangkan aku masih di dalam untuk membeli sesuatu yang ku lupakan. Tak disangka aku bertemu Axel dan Raina, ada Bobo lagi. Aku langsung berlari ke arah mereka. Ku gendong Bobo, ku ciumi. Aku sangat merindukannya. Dari bayi aku yang merawatnya, meskipun Bobo bukan anakku tapi aku sangat menyayanginya.
"Axel, Raina, bagaimana kalian bisa di sini?" tanyaku.
"Kita bicara di sana sekalian makan," pinta Axel.
Aku mengangguk. Kami duduk di sebuah restoran siap saji. Memesan makanan dan minuman. Kemudian menanti sekalian mengobrol.
"Oya pertanyaanku yang tadi gimana kalian bisa di sini?" tanyaku.
"Aku naik pangkat dan dipindahkan ke sini," ujar Axel..
"Kalian pindah ke kota A?" tanyaku.
"Iya, kami tinggal di sini sekarang," jawab Raina.
"Alhamdulillah kita bisa bersama terus," jawabku.
Aku senang sekali mendengar berita bahagia ini. Aku bisa berdeketaan dengan Bobo kapanpun ku mau. Aku bisa meluapkan kerinduanku, apalagi Bobo lagi lucu-lucunya.
"Nanti kau harus bersilaturahmi ke rumah kami," ucap Raina.
"Pasti dong, aku akan main setelah pulang kerja," ujar Aara.
"Selamat ya kau sudah bekerja sekarang," ujar Axel.
"Terimakasih, aku juga sudah kuliah," ujarku.
"Alhamdulilah," ucap Axel dan Raina. Mereka ikut senang mendengar kabar bahagia. Axel dan Raina juga semakin harmonis. Bobo juga makin lucu dan pintar.
Kami terus mengobrol dan pesanan datang. Kami makan bersama. Rasanya bahagia sekali bisa kumpul begini.
***
Malam itu aku sedang duduk di ranjang. Tiba-tiba Tante Alina datang. Dia menemaniku sambil mengobrol. Kepalaku berbaring di pangkuannya. Rasanya nyaman sekali. Seperti tidur di pangkuan ibu ku. Aku jadi rindu, sudah lama aku sendirian.
"Aara kau suka dongeng?" tanya Alina.
"Suka, tapi sudah lama tak mendengarkannya, dulu ibu sering mendongengnya saat aku mau tidur," ucapku.
"Kalau begitu Tante akan mendongeng untukmu," sahut Alina.
"Terimakasih Tante," kataku.
Tante Alina mengangguk. Dia pun mulai mendongeng. Lama kelamaan mengantuk. Akhirnya aku tidur di pangkuan Tante Alina. Beliau mengelus kepalaku sambil mengucapkan doa-doa untukku.
"Aara maaf ya Nak, Tante ambil rambutnya satu," ujar Alina menarik satu rambut perlahan dari kepalaku lalu membungkusnya. Dia memasukkan bungkus itu ke sakunya. Kemudian membaringkanku di bantal. Menyelimuti tubuhku.
__ADS_1
"Selamat tidur Nak, semoga Allah menjagamu selalu," bisik Alina. Dia berjalan meninggalkanku ke luar.