ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 74


__ADS_3

Pukul 4 pagi Alina bangun. Tangan Farel memeluknya. Dia melihat suaminya sudah memeluknya semalaman. Dia merasa kasihan melihat Farel. Biar bagaimanapun Farel suaminya. Alina mendekati wajah Farel dan menciumnya. Mendapat ciuman dari Alina, Farel bangun. Dia membalas ciuman mesra dari istrinya.


"Alina jangan menantangku, aku ini lelaki normal. Jika kau belum siap aku bisa menunggu" ucap Farel seusai mencium Alina.


Alina langsung terdiam. Farel beranjak dari ranjang. Alina menyusulnya dan memeluknya dari belakang.


"Aku siap Kak Farel" ucap Alina.


Farel membalikkan badannya dan memeluk Alina.


"Alina aku tidak ingin memaksa, melakukannya tanpa cinta tidak baik untukmu" ucap Farel menjelaskan.


"Kalau begitu ajari aku untuk jatuh cinta padamu" ucap Alina.


Mendengar tantangan dari Alina, Farel membopong Alina dan membaringkannya diranjang. Dia menatap wajah cantik istrinya.


Selama bertahun-tahun terpisah dari Alina begitu menyiksa untuk Rafael. Tapi dia tak pernah patah arang. Dia yakin suatu hari nanti bisa bertemu dan bersama Alina.


"Pertama aku harus menjadikanmu milikku, karena dengan begitu kau akan teringat hal indah bersamaku" ucap Farel.


Alina mendengarkan ucapan Farel. Matanya terus memandang lelaki yang kini jadi suaminya itu. Lelaki tampan yang mulai hangat akhir-akhir ini.


Terkadang dia merasa bersama Farel membuatnya merasakan kebersamaannya dengan Rafael.


"Apa kau mau menjadi milikku?" tanya Farel.


Alina mengangguk. Farel tersenyum. Dia senang Alina mau membalas keinginannya. Kini dia tak perlu ragu lagi untuk menyentuh istrinya. Hal ini sudah lama ditunggu Farel. Dulu hanya sebuah impian dan bayangannya saja tapi kini dia akan benar-benar memiliki Alina.


"Belum saatnya kau tahu siapa aku Alina, aku ingin kau mencintaiku yang sekarang, apa adanya" batin Farel.


Farel mulai mencium Alina. Perlahan satu dua tahapan dilakukan. Dengan kelembutan dan cinta Farel melakukan tahapan itu. Alina melepas semua pikirannya tentang Rafael dan fokus pada lelaki yang kini ada didepannya. Menit demi menit membuat Alina semakin mabuk asmara. Dia tak menyangka akan seindah itu. Berlanjut ke tahapan yang lebih mendalam. Farel memberi aba-aba agar Alina bersiap. Baru memulai tahapan mendalam, Alina sudah kesakitan.


"Kak Farel sakit..." ucap Alina.


Farel membelai wajah Alina untuk menenangkannya. Perlahan-lahan hingga segel tanda kesucian itu terlepas tanpa keraguan. Alina juga begitu nyaman tanpa penolakan seperti semalam. Alina tersenyum karena malu, kini Farel mengambil haknya sebagai suami.


"Alina sekarang kau milikmu, dan hanya aku yang boleh ada dihatimu" ucap Farel.


Alina mengangguk. Benar kata Farel menjadikannya milik Farel adalah awal untuk mencintainya. Ini juga terjadi pada pasangan lainnya yang menikah tanpa cinta. Biasanya setelah malam indah dilalui, rasa cinta sedikit demi sedikit akan hadir. Bayangan indah malam bersama akan membuat sepasang suami istri saling memiliki.


Mereka berdua tak canggung lagi. Beberapa kali mereka melakukannya hingga suara adzan berkumandang.


"Alina kita mandi lalu sholat berjamaah ya" ucap Farel disela-sela istirahatnya.


"Iya kak" ucap Alina.


Farel mencium kening Alina. Kini gadis kecil itu menjadi miliknya seutuhnya. Apalagi kalau Alina tahu dia Rafael, tentunya Alina akan semakin cinta. Tapi Farel ingin Alina mencintainya apa adanya seperti ini.


Farel dan Alina mandi lalu mereka sholat subuh berjamaah bersama. Selain sholat mereka menyempatkan berdzikir dan mengaji. Sesibuk apapun dua hal itu penting. Kehidupan tidak hanya soal dunia. Ada kehidupan selanjutnya yang kekal. Dunia hanya tempat beristirahat sementara tujuan utama akhirat yang kekal. Sholat itu kewajiban sedangkan hal lainnya nilai plus untuk kita. Tak terhitung berapa dosa setiap menit yang kita buat tapi apakah kita sudah membuat pahala pembandingnya untuk menekan dosa hingga pahala menjadi jauh lebih berat.


"Alina kemarilah, duduk dipangkuanku" ucap Farel.


Alina duduk dipangkuan Farel. Dia bersandar didadanya. Farel memeluk Alina.


"Sayang gimana kalau kita bulan madu, mumpung aku bisa ambil cuti?" tanya Farel.


"Memang kita mau bulan madu kemana?" tanya Alina.


"Kemana saja asal kau suka" ucap Farel.

__ADS_1


"Gimana kalau bulan madu kita barengan sama bulan madu Deena dan Haura nanti?" tanya Alina.


Cup


Sebuah ciuman dipipi Alina mendarat.


"Asal kau bahagia, dimanapun aku setuju" ucap Farel.


Alina berbalik dan mencium Farel. Seketika Farel senang, Alina sudah mulai membuka dirinya. Kesempatan ini tak disia-siakan olehnya. Dia membalas ciuman Alina. Dan berlanjut diranjang. Mereka kembali memadu cinta. Keduanya sama-sama kecanduan. Untung Farel sudah meminta Beni mengosongkan jadwalnya. Jadi tidak masalah seharian merajut indahnya cinta berdua.


Farel terbangun dari tidurnya. Matahari mulai terbit dan cahayanya masuk ke dalam rumah melalui sela-sela ventilasi udara. Suara burung-burung mulai bersiul. Langkah kaki didepan pintu kamar mulai terdengar. Para pelayan rumah itu bersih-bersih rumah. Farel menengok ke samping, istrinya masih tertidur setelah malam dan pagi yang indah dilewati mereka bersama.


Farel mencium kening Alina. Ciuman itu embos untuk Farel. Baginya Alina hidupnya apalagi kini Alina miliknya, apapun akan dia lakukan untuk membahagiakannya.


Farel mengenakan boxer miliknya beranjak dari ranjang. Alina yang tadi tertidur perlahan bangun. Dia membuka matanya, Farel sedang berdiri didepan ranjang. Alina melihat punggung Farel, ada luka goresan dipunggungnya. Melihat itu Alina beranjak dari ranjang dan berdiri dibelakang Farel. Dia meraba luka dibelakang punggung Farel.


"Kak Farel ini kenapa?" tanya Alina.


Farel berbalik menatap Alina yang penasaran.


"Itu terkena besi saat memantau proyek pembangunan apartemen" ucap Farel beralasan.


"Luka yang sama dengan yang dimiliki Kak Axel. Kenapa bisa sama-sama memiliki luka dipunggung" batin Alina.


Farel memeluk Alina yang sedang kebingungan.


"Sayang mau sarapan? pasti kau lapar" ucap Farel.


"Iya kak" ucap Alina.


Farel dan Alina mandi dan berganti pakaian. Barulah mereka sarapan diruang makan. Pelayan melayani mereka selama sarapan pagi. Farel duduk disamping Alina Semua makanan yang ingin dimakan Alina ada dimeja. Tapi ada satu makanan yang membuat Alina bertanya.


"Dimakan ya sayang, aku sengaja minta koki masak bubur kacang hijau biar kau subur" ucap Farel.


"Begitu ya, baiklah aku makan" ucap Alina.


Farel mengelus perut datar Alina sambil berbisik pada Alina.


"Semoga ada buah cinta kita didalam sini, semalam kitakan sudah berusaha" bisik Farel.


"Kak Farel aku malu" bisik Alina.


"Pelayan tolong tinggalkan tempat ini" perintah Farel pada pelayannya.


"Baik Tuan"


Pelayan itu pergi meninggalkan ruang makan. Tinggal Alina dan Farel diruang makan. Farel tak ragu lagi mencium Alina.


"Alina maukah kau mengandung buah cinta kita?" tanya Farel seusai mencium Alina.


Alina mengangguk. Dia memegang kedua pipi Farel. Senyuman lebar diwajah Farel karena anggukan Alina. Lelaki tampan itu turun dari kursi dia mencium perut datar Alina.


"Semoga kita segera punya bayi, ini salah satu cara agar kau semakin mencintaiku" ucap Farel.


Alina mengangguk. Seketika Farel memeluk perut Alina.


"Alina aku mencintaimu dari dulu tak pernah berubah" ucap Farel.


Tak lama handphone Farel berdering. Sebuah panggilan dari perusahaannya. Farel mengangkat

__ADS_1


telpon kemudian berbincang sebentar disudut ruang makan. Setelah selesai, Farel menghampiri Alina.


"Sayang, aku harus kembali ke kantor sebentar" ucap Farel.


"Iya kak" ucap Alina.


"Nanti aku pulang cepet, pekerjaan menganggu sekali. Gak tahu apa sedang berduaan ma istri tercinta" ucap Farel.


Alina tersenyum dengan perkataan suaminya itu.


Farel pun keluar dari rumah mengendarai mobilnya menuju perusahaan. Alina masih penasaran dengan luka dipunggung Farel. Dia mengambil handphone miliknya lalu menghubungi Axel.


"Hallo kak" ucap Alina.


"Hallo adik kecil" ucap Axel.


"Bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Alina.


"Aku...aku sedang bekerja" ucap Axel.


"Kerja dimana?" tanya Alina.


"Kerja di..., nanti dulu ya, sebentar lagi aku menemuimu dikosan tunggu aku" ucap Axel.


"Iya, aku akan menunggu mu dikosan" ucap Alina.


Alina menutup telponnya. Dia bergegas keluar dari rumahnya. Alina diantar supir pergi ke kosan. Dia menunggu Axel dikamar kosan miliknya sembari berbaring santai. Tak lama Alina tertidur.


Cup


Seseorang mencium pipinya. Alina yang tadi sudah tertidur pulas jadi terbangun karena ciuman dipipinya. Perlahan Alina membuka mata.


Axel sudah duduk diranjang. Dia menatap Alina.


"Kak Rafa udah pulang?" tanya Alina.


"Iya" ucap Axel.


Alina hendak bangun tapi Axel menghentikannya. Dia memeluk Alina yang sedang berbaring, menciumnya dengan mesra. Tahap demi tahap berlanjut. Alina langsung mendorong Axel.


"Kenapa Alina?" tanya Axel.


"Aku sudah bersuami kak, dan aku sudah berjanji akan mulai mencintainya" ucap Alina.


"Bukan kemarin kau bilang mencintaiku?" tanya Axel sambil meraba pipi Alina.


Alina melepas tangan Axel yang berada dipipinya.


"Aku ingin jadi istri yang baik kak, aku tidak ingin menyakiti hati suamiku. Dia sangat baik. Dan aku mulai mencintai" ucap Alina.


"Apa kau sudah...?" tanya Axel.


"Iya, aku sudah bersama Kak Farel, itu memang haruskan? kami suami istri" ucap Alina.


Axel memeluk Alina dengan erat. Alina kembali mendorong tubuh Axel dari tubuhnya.


"Ku mohon kak, hubungan kita ini saudarakan? aku tidak ingin lebih dari itu" ucap Alina.


Proook...proook...proook...

__ADS_1


Axel bertepuk tangan. Dia melepas wig yang dikenakannya dan topeng plastik yang dikenakannya. Alina terkejut melihat wajah Axel.


__ADS_2