ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Episode 99


__ADS_3

Semenjak Tina kembali ke desa, Albern yang lainnya sibuk membantu mengurus panti sosial. Dari memasak, mencuci, mengaji, membuat berbagai kerajinan dan bercocok tanam. Albern dan Rangga mengajari mereka semua bersama para pembina yang ada di panti sosial.


Setelah setengah tahun lamanya. Akhirnya beberapa wanita malam ke luar dari panti. Mereka kembali ke masyarakat. Albern dan Rangga ikut dalam acara pelepasan mereka.


Acara itu cukup meriah. Rangga dan Albern memberikan sendiri sertifikat untuk para wanita malam yang sudah diperbolehkan ke luar dari panti sosial.


"Setelah di luar nanti carilah uang dengan cara yang halal yang sudah diajarkan di sini," ujar Albern.


"Iya Bang."


"Jangan mengulangi kesalahan yang sudah kau lakukan sebelumnya," tambah Rangga.


"Iya Bang."


Mereka semua melakukan perpisahan dengan berfoto bersama. Bagi Albern yang selama setahun itu tinggal di panti sosial, mereka sudah menjadi keluarganya sendiri. Sekarang mereka satu persatu ke luar dari panti sosial.


Setelah acara selesai, Albern dan Rangga berjalan di lorong panti sosial. Dari belakang seseorang memanggil mereka.


"Albern, Rangga," panggil Farel.


Keduanya menengok ke belakang. Menatap Farel yang berdiri di belakang mereka.


"Papa," sahut Albern dan Rangga.


"Kalian lulus," ucap Farel.


"Alhamdulillah," sahut Albern dan Rangga tersenyum.


Di samping Farel ada Riffai yang berdiri tersenyum pada mereka. Keduanya menghampiri Farel dan Riffai. Albern dan Rangga bergantian menyalami Farel dan mencium tangannya.


"Kalian sudah bisa kembali ke Kota A," ujar Farel.


"Iya Pa, aku rindu sekali sama Aara," ujar Albern.


"Aku juga rindu Adel Pa," sahut Rangga.


"Kalian berhasil menyelesaikan misi, sudah seharusnya Papa ucapkan selamat," ujar Farel.


"Makasih Pa," sahut Albern dan Rangga.


Mereka berempat juga menemui Pak Abdul dan Ibu Maryam untuk berpamitan. Duduk bersama di dalam ruangan pengurus panti sosial.


"Jadi kalian akan kembali ke Kota A?" tanya Pak Abdul.


"Iya Pa," sahut semuanya.


"Terimakasih atas semua bantuannya Nak Albern, Nak Rangga, dan Nak Riffai, semoga kalian bahagia di Kota A dan tetap berbuat kebaikan di mana pun kalian berada," ujar Pak Abdul.


"Amin," ucap semuanya.

__ADS_1


"Saya juga berterimakasih atas semua kebaikan bapak dan ibu yang sudah mengajarkan banyak hal kepada kami selama di sini," ucap Albern.


Pak Abdul dan Ibu Mariyam mengangguk.


"Selama di sini saya belajar banyak bersyukur dan menerima takdir saya," ucap Rangga.


"Saya juga menemukan hidup dan jodoh saya di sini," ujar Riffai.


Pak Abdul dan Ibu Maryam mengangguk.


"Saya selaku ayah mereka berterima kasih sudah mendidik mereka dengan baik di sini," ucap Farel.


"Sama-sama Pak, justru kami senang merasa ada yang ikut membantu pekerjaan kami," ujar Pak Abdul.


Mereka semua tersenyum.


Setelah pamitan pada Pak Abdul dan Ibu Maryam mereka naik ke dalam mobil. Albern satu mobil dengan Farel. Sedangkan Riffai dan Sella ikut naik mobil Rangga. Mereka meninggalkan pelataran panti sosial itu.


Semua penghuni panti sosial melambaikan tangan tanda perpisahan. Mereka tersenyum membiarkan mereka pergi dari panti sosial itu.


Sore hari mereka sampai di kediaman Keluarga Ariendra. Mama, aku, dan Adelina menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Albern langsung berlari dari mobil ke arahku. Dia memelukku sudah setahun ini terpisah. Begitupun dengan Rangga yang membawa sekuntum bunga mawar untuk Adelina. Dia menghampiri gadis pujaan hatinya.


"Kak Rangga sengaja metik mawar merah ini dari panti sosial, tadi Kak Rangga rendem pakai air batangnya biar tetep seger di tangan Adel," ucap Rangga.


Adelina menerima bunga mawar itu dengan malu-malu sambil tersenyum.


"Makasih Kak Rangga, Adel kangen," ujar Adelina.


Rangga ingin memeluk Adelina tapi malah Farel yang dipeluk.


"Papa, kirain Adel," ujar Rangga malu.


"Enak aja main peluk, belum mahrom, besok kalian baru nikah, sabar dulu," ujar Farel.


"Iya Pa," sahut Rangga.


"Makanya nikah kaya kita, bebas nih pelukan juga," sindir Albern.


"Aku juga Bang, sepuasnya nyium, kalau halal mah," sindir Riffai.


"Kalian ya, lihat besok aku dah halal juga," ujar Rangga.


Semuanya tersenyum. Mereka bahagia dengan pertemuaan yang sudah lama dirindukan.


Aku dan Albern berjalan ke dalam rumah begitu pun yang lainnya. Kami masuk ke kamar kami di lantai atas. Albern langsung memelukku saat masuk ke dalam, kami berpelukan sepuasnya. Melepas rindu.


"Suamiku aku rindu banget," ucapku.


"Aku juga rindu sayang, akhirnya setelah sekian lama kita bisa bersama lagi," ujar Albern.

__ADS_1


Albern menciumku. Kami memadu cinta di sore hari itu. Meluapkan kerinduaan dalam indahannya kenikmatan duniawi. Merajut serpihan demi serpihan cinta dalam perpaduan dua gelombang elektromagnetik yang tak bisa terpisahkan. Menjadi satu bagian yang terus bersama. Dalam indahnya gelora cinta yang memuncak.


Setelah lelah kami berbaring di ranjang. Albern memelukku dengan hangat dalam dekapannya.


"Besok kita akan menikah sayang," ucap Albern.


"Iya, pernikahan kita akan bersamaan dengan pernikahan Rangga dan Adelina," ujarku.


"Gak sabar ingin menyandang pangkat jadi suamimu secara resmi di depan semua orang," ujar Albern.


"Aku juga suamiku, setelah semua yang kita lewati, akhirnya sampai di titik ini," ucapku.


"Semua berkat cinta kita yang terus teguh dan tumbuh," ucap Albern.


"Iya, meski jarak dan waktu sempat memisah berkali-kali tapi cinta tak pernah lekang," jawabku.


Albern mencium keningku. Rasanya begitu bahagia. Akhirnya kami bisa bersama lagi. Kebahagiaan yang dulu kami impikan kini menjadi kenyataan.


Di luar Rangga dan Riffai duduk mengobrol dengan Papa.


"Om akan memberi pekerjaan untukmu jadi asisten Rangga," ujar Farel.


"Alhamdulillah, saya bisa bekerja dan menafkahi istri saya," sahut Riffai.


Rangga menepuk bahu Riffai.


"Iya dong bro, jadi lelaki memang harus begitu, kerja demi istri dan anakmu nantinya," ujar Rangga.


"Iya, makasih ya Bang, Om," ucap Riffai.


"Sama-sama," sahut keduanya.


"Kau dan istrimu bisa tinggal di sini," ujar Farel.


"Tidak Om, kami ingin menyewa sebuah rumah kecil, biar kami mandiri," ujar Riffai. Dia ingin membina keluarga kecilnya. Apalagi sekarang Sella sedang hamil. Riffai ingin tinggal di rumah kecil mereka hasil jirih payahnya. Dengan begitu dia bangga sebagai seorang kepala keluarga di keluarga kecilnya.


"Baik terserah kau aja, yang penting kau harus giat bekerja, menemani Rangga bekerja," ucap Farel.


"Iya Om," sahut Riffai.


"Aku dengar istrimu sedang hamil?" tanya Farel.


"Iya Om, Alhamdulillah top cer," jawab Riffai.


"Ini baru cowok sejati, bukan sekong," ledek Rangga.


"Cowok sejati dong, buktinya blendung langsung," balas Riffai.


"Bagus, lelaki memang harus begitu, menerima takdirnya sebagai lelaki, wanita cantik dan memuaskan, Allah sudah menciptakan mereka sebagai pasangan kita," ujar Farel.

__ADS_1


"Iya Om," sahut Riffai.


Hari itu semua orang di Keluarga Ariendra bahagia. Mimpi-mimpi mulai terwujud. Orang yang dicintai sudah kembali. Tinggal pernikahan kami yang akan dilaksanakan di esok hari.


__ADS_2