ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 40


__ADS_3

"Menikah dengan Axel," ujar Raina.


Aku terkejut. Mataku terbuka lebar, rasanya panas dingin mendengarnya.


"Axel?" tanyaku ulang.


"Iya dengan Axel," jawab Raina.


Aku terdiam. Tak percaya, Axel suami Raina. Pantas saja saat aku datang ke rumahnya ada Raina dan Axel marah saat aku tanya soal Raina. Kenapa aku tak peka, bahkan hampir saja jadian dengan Axel. Untung saja saat itu aku memilih suamiku Albern kalau tidak aku akan disebut pelakor dan peselingkuh yang kejam.


"Aara kenapa?" tanya Raina.


"Raina kenapa Axel dan kau merahasiakan hal ini dariku?" tanyaku. Sebenarnya wajar kalau Raina menyembunyikan hal ini dariku tapi aku ingin tahu semuanya.


"Itu karena kau orang lain, baik aku dan Axel tak mengenalmu akrab, kami masih sekolah kalau ada yang tahu bagaimana nasib sekolah kami. Masa depan kami. Axel menikahiku demi menolongku, kasihan kalau dia harus kehilangan sekolah demi aku," ujar Raina.


Benar juga kata Raina. Sekolah itu penting. Mau jadi apa kalau kita tak sekolah. Kemana pun kita melamar kerja syarat utama pasti lulusan yang ditanyakan. Lulusan apa? di sini butuh lulusan ..., standar untuk pekerjaan ini lulusan ..., yang dibutuhkan lulusan ..., semua itu pasti ada disetiap lowongan kerja. Alhamdulillah meski bodoh aku tetap sekolah, bukan soal pekerjaan saja tapi aku mendapatkan banyak ilmu karena sekolah. Aku bangga bisa sekolah, apalagi dengan hasil jirih payahku jualan keripik.


"Tapi kenapa Axel justru mengejar cintaku? apa ...?" batinku dalam hati.


"Raina apa Axel mencintaimu?" tanyaku spontan yang ada diotakku saat ini.


Raina langsung terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ekspresi di wajahnya berubah. Tadinya hangat kini sendu. Sepertinya tanpa Raina menjawab aku sudah tahu.


"Raina maafkan pertanyaanku, kau tak perlu menjawab," ujarku. Tak perlu ku pertanyakan semua sudah jelas. Mereka menikah karena Axel ingin menolong Raina, sedangkan Raina mau dinikahi Axel karena keadaan. Namun kasihan Raina, apa mungkin dia mencintai Axel?


"Axel tidak mencintaiku, sepertinya ada orang lain yang dicintainya," jawab Raina. Terlihat berat mengatakan itu padaku. Aku jadi merasa bersalah, selama ini jalan dengan Axel tanpa sepengetahuan Raina. Walaupun mereka tak saling mencintai tapi mereka sudah menikah. Pernikahan bukan permainan game online ketika kau bosan bisa tinggal, berhenti atau hapus dari dowload-an. Pernikahan sebuah ikatan yang akan terus mengikat kita sebagai sepasang suami istri yang harus mengikuti peraturan dan batasan sebuah pernikahan. Jika kau tak siap atau hatimu masih ingin berkelana lebih baik jangan menikah dulu. Jangan sampai kedua belah pihak tersakiti, anak jadi korban dan keluarga malu.

__ADS_1


"Orang itu aku, kasihan Raina," batinku.


"Raina kau mencintai Axel?" tanyaku.


Raina meneteskan air mata saat pertanyaanku terlontar tajam. Ada hati yang meronta, tak bisa ditutupi. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.


"Iya," jawab Raina singkat. Kemudian menunduk menyeka air matanya yang terus menetes tak mampu dibendungnya.


Aku memeluk Raina. Dia butuh itu saat ini dari pada sebuah kata-kata motivasi atau penyemangat, apalagi ucapan duka, baju hitam, amplop di atas beras, emangnya mau layatan, ini soal hati bukan pocong 12 jam ke atas, bikin tukan ojeg takut gara-gara minta di anterin ke Mall buat beli kain kafan yang udah usang. Semua juga tahu Mall tutup malam hari, kasihan nasib si pocong harus menerima kenyataan, terpaksa berdiri di depan tukang laundry buat cuci baju, bukannya tukang laundry paham kalau si pocong mau minta dicuciin kain kafannya tapi malah pingsan.


"Aara maafkan aku, aku sangat memalukannya ya? cinta bertepuk sebelah tangan," ujar Raina.


Kenapa juga Raina memakai peribahasa bertepuk sebelah tangan, aku kan gak paham, udah pakai cara orang gak ngerti bahasa Inggris, jawaban teraman, yes or no.


"Iya, kau tak perlu minta maaf, mungkin butuh waktu untuk Axel agar mencintaimu," jawabku.


Cerai? jangan. Bercerai itu hal yang dibenci Allah. Kecuali pernikahanmu memang membuatmu menderita dan mengalami penyiksaan total, kesengsaraan karena pasanganmu atau pasanganmu berkhianat dengan para pelakor yang sekarang jauh lebih berani dari pada janda kembang. Paha mampang, dada naik daun, wajah full kolor, semua itu udah biasa digunakan sebagai tutorial pertama untuk menggait calon korban, gak perlu ke mbah Dukun, yang penting modal nekad dan tak tahu malu. Tak punya hati dan nalar yang penting untung.


"Jangan bercerai Raina, kau harus membuat Axel mencintaimu, pepet terus kalau perlu, pantengin," saranku.


Raina melepas pelukanku. Senyumannya merekah, sepertinya suasana hatinya sudah membaik. Tak perlu daftar ke Pengadilan Agama, apapun harus diperjuangan, jangan menyerah. Tak ada yang tak mungkin kalau kita usaha. Orang jualan barang yang dibuang di tempat sampah aja laku padahal tak berguna lagi, kotor dan sudah usang. Berarti kita juga bisa, yang penting usaha dan doa.


"Membuat Axel jatuh cinta?" tanya Raina lagi.


"Iya, hati seseorang bisa berubah, yang marah jadi senyum, yang sedih jadi senang, yang tidak suka jadi suka, yang tidak bisa jadi bisa begitupun dengan cinta," jawabku.


"Kau benar, aku harus berusaha," ujar Raina.

__ADS_1


"Semangat Raina! Kau harus perjuangan cintamu! Semangat!" ucapku. Ini baru benar memberikan motivasi dan semangat. Di saat seseorang down kita harus ada, sebagai pendengar ataupun sandaran, saat rasa percaya dirinya mulai kembali, berikan motivasi dan semangat.


"Mulai hari ini aku akan membantumu, mengejar cinta Axel," kataku.


"Makasih Aara," ucap Raina.


Aku mengangguk. Senangnya masalah di antara kami clear juga. Tinggal bagaimana membuat Axel jatuh hati pada Raina.


"Kalau begitu ayo makan, aku laper," ajakku.


"Ayo, aku juga laper," sahut Raina.


Aku mengamankan Bobo dulu, membatasinya dengan bantal dan guling memutari tempatnya tidur, biar Bobo tak kemana-mana walaupun belum bisa merangkak tapi jaga-jaga itu perlu.


Kami ke luar ke lantai bawah masuk ke ruang makan. Sudah ada Albern menunggu kami makan bersama.


"Sayang kau lama banget, laper dari tadi," ujar Albern.


"Iya Tuan Bos, maaf," sahutku.


"Ayo duduk makan, aku sudah masak untuk kalian," ucap Albern.


"Asyik, makan enak," sahutku.


Aku langsung duduk di samping Albern sedangkan Raina duduk di seberang kami. Suasana makan terasa hangat. Antara Albern dan Raina sudah berdamai meskipun Raina butuh waktu untuk benar-benar memaafkan Albern. Aku bisa mengerti, tak mudah memaafkan orang yang sudah menghancurkan masa depan kita.


"

__ADS_1


"


__ADS_2