
Aku masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Aduh suasana horor sudah tampak, dingin kaya masuk ke kuburan jeruk purut. Bulu kudukku berdiri, jantungku berdebar, panas dingin, kira-kira aku akan dikeluarkan dari sekolah? masih misteri.
Aku duduk di kursi, Pak Hasan terlihat galau, kaya bingung membagi jatah bulanan gara-gara bininya dua, malah katanya mau nambah satu lagi tapi gak jadi gara-gara calon istrinya ternyata tak secantik di foto, hasil editan, pas ketemuan kagetlah Pak Hasan, mukanya jerawatan, tangannya budukan, rambut kutuan, inilah yang dinamakan rahasia Ilahi.
"Aara ada yang ingin bapak sampaikan padamu," ujar Pak Hasan.
"Iya Pak," sahutku.
"Sebenarnya bapak berat menyampaikan ini padamu, tapi ini sudah menjadi keputusan pemilik sekolah ini, bapak selaku kepala sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menolak," ujar Pak Hasan.
Pembicaraan ini merupakan pembukaan dalam cerita, belum ke intinya, biasa diawal-awal jangan langsung baper, baru di tengah konflik menyakitkan yang bikin semua nangis bawang.
"Iya Pak," sahutku.
"Aara bapak tahu selama ini kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk bisa lulus, tapi ternyata takdir berkata lain, Allah punya rencananya sendiri," ujar Pak Hasan.
Aku terus mendengarkan ucapan Pak Hasan, berasa lagi dengerin sambutan di hari senin saat cuaca tidak hujan apalagi ada petir, upacara bendera pasti dilaksanan dengan sambutan Pak Hasan yang bikin peserta upacara hanyut dalam sambutannya sampai pada tertidur lupa kalau lagi upacara.
"Maaf Pak, kira-kira berapa bait lagi, sebenarnya saya akan dipidana berapa tahun atau bisa ajukan kasasi ya?" tanyaku.
"Kamu diponis hukuman 2 tahun penjara, tapi apakah kamu sudah menyewa pengacara handal? kalau belum, cari endorsement yang gratisan biar kasusmu cepat selesai," jawab Pak Hasan.
Lah kok malah kasus pidana gini, apa aku pelaku mutilasi atau kanibalisme, Pak Hasan bisa aja, tahu aja kalau abis ini aku akan dihempaskan ke ujung dunia atau ke kutub utara biar gak balik lagi.
"Pak jadi intinya saya akan diapakan?" tanyaku.
"Aara maaf kamu tidak lolos, semoga tahun depan kamu bisa ikut audisi berikutnya," jawab Pak Hasan.
"Pak ini ajang pencarian bakat ya? pantes dari tadi gerah," ujarku.
"Benar Aara, anggap saja ini sebuah ajang pencarian bakat, kamu sebagai peserta, bapak juri dan seseorang sebagai produser yang berhak memutuskan kontrakmu, dan ternyata kamu tidak lolos, artinya kamu harus dikeluarkan dari sekolah," ungkap Pak Hasan.
__ADS_1
"Jadi dengan kata lain, saya dikeluarkan ya Pak? padahal saya sudah betah di sini, banyak kenangan dan kebahagiaan yang terukir di sekolah ini," ucap Aara.
Pak Hasan ikut merasakan kesedihan yang ku rasakan.
"Bapak paham, berat rasanya meninggalkan sekolah yang sudah tujuh tahun kamu tempati untuk tempatmu menuntut ilmu, tapi semua ini sudah menjadi keputusan pemilik sekolah," ujar Pak Hasan.
"Pak apa saya tidak bisa diberi kesempatan? saya akan berusaha dengan baik, belajar lebih keras lagi," ucap Aara.
"Bapak tadinya berpikir sama sepertimu, ingin memberimu kesempatan untuk belajar lebih keras lagi, agar tahun ini lulus, tapi semua ini diputuskan oleh pemilik sekolah ini," ungkap Pak Hasan.
"Pemilik sekolah ini ingin saya dikeluarkan, tapi semuanya tak semudah itu, jika saya pindah sekolah, saya harus memiliki uang untuk uang gedung dimuka, SPP, dan biaya lainnya, itupun kalau saya diterima, tapi track record saya di sekolah ini saja nunggak kelas dua kali, itu pasti mempersulit saya untuk diterima di sekolah baru," ujarku.
Pak Hasan terdiam memikirkan ucapanku. Sebenarnya dia tidak tega kalau aku dikeluarkan dari sekolah tapi hidup ini harus realistis, beliau terpaksa harus mengeluarkanku.
"Begini saja, gimana kalau kamu sendiri yang meminta kesempatan itu pada pemilik sekolah ini, mungkin beliau akan berempati dan memberimu kesempatan untuk tetap sekolah di sini," saran Pak Hasan.
Aku mengangguk, saran Pak Hasan ada benarnya. Mungkin aku harus mendatangi lelaki tampan itu untuk menyuarakan isi hatiku yang ketar-ketir gara-gara dompet kanker di saat aku akan dikeluarkan secara sepihak dan tragis. Kalau perlu aku akan mengadakan demo dan orasi, menagih janji-janji yang tak sesuai realita, ujung-ujungnya rakyat kecil sepertiku tertindas.
"Terus aku harus menemuinya di mana Pak?" tanyaku.
"Ha ha ha, Pak Hasan lucu juga, oke deh nanti saya tanya mbah google lewat telpon umum," jawabku.
"Ha ha ha." Pak Hasan tertawa juga. Mana ada telpon umum buat nanyain mbah google, paling juga nanyain mbah dukun minta dijampi-jampi secara online biar gak ketemu mantan yang belum tuntas, alias belum move on.
Aku berjalan keluar penuh dengan kebingungan. Bagaimana caranya aku bisa bertemu lelaki tampan itu?
"Axel, lelaki tampan itukan kakaknya Axel, pasti dia tahu di mana aku bisa bertemu dengannya," ujarku.
Aku harus bertemu Axel. Hanya dia harapanku satu-satunya agar aku bertemu lelaki tampan yang seenak jidatnya mau mengeluarkanku.
Sepulang sekolah aku menggendong Bobo di depan soalnya Bobo tidak tidur, dia mulai bisa melihat apapun, lucu deh. Terkadang Bobo menggerakkan tangannya dan tersenyum padaku. Rasanya aku Momy yang paling bahagia meski hidupku sulit.
__ADS_1
"Bobo doain ya Momy gak jadi dikeluarkan sekolah, biar Momy bisa fokus jualan keripik buat beli susu Bobo," ujarku sambil mengajak Bobo bicara.
Aku berjalan ke parkiran mobil, sayangnya mobil Axel sudah tak ada. Jalan satu-satunya aku harus ke rumahnya, mana jauh lagi.
"Semangat Aara!" ucapku menyemangati diriku sendiri.
Aku berjalan keluar sekolah, menunggu bus lewat di halte, maklum uangku tak banyak, kalau naik bus aku bisa sekalian menjual keripikku. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampui. Tak lama bus datang, aku naik ke dalam bus. Berjalan di lorong bus lalu berhenti di tengah.
"Assalamu'alaikum, bapak-bapak, ibu-ibu, dari pada bengong mikirin harga cabe yang lagi mahal atau harga sabun colek yang melonjak, lebih baik beli keripik viral. Ada keripik satu selimut dua pelakor, mantan istri kawin sama mbah dukun, tetangga kok ghibah, pacar tukang tempe mendoan, diselingkuhin di tol ngawi, dan masih banyak lagi, yang jelas sekali makan akan terus terbayang, ingin mengigit dan mengunyah lagi, dibeli sebelum masuk kandang sapi," ujarku.
Aku mempromosikan keripik viralku. Siapa tahu di bus ada recehan tersisa untukku. Ternyata benar pembeliku cukup banyak, alhamduliah rejeki gak kemana, asal usaha dan niat yang ikhlas.
"Neng kasihan banget masih pakai seragam gendong bayi, jualan keripik lagi, semoga laris, ibu beli 10 bungkus deh."
"Alhamdulillah, makasih Bu," sahutku.
Rejeki Bobo ini, mereka pada kasihan, padahal aku gak minta sumbangan atau belas kasihan orang. Beberapa orang memvideokanku yang sedang berjualan keripik sambil menggendong bayi, mereka salut padaku, tetap semangat meski hidup sulit dan tidak mengharap belas kasih orang.
Aku duduk di kursi setelah lelah berjualan sambil menunggu bus sampai tempat tujuan. Seorang lelaki duduk di sampingku. Dia menutup wajahnya dengan topi. Celananya mengenakan seragam abu sepertiku, aku jadi penasaran. Siapa lelaki yang duduk di sampingku, jangan-jangan penggemar rahasiaku, ingin minta tanda tangan dan berfoto denganku. Atau jangan-jangan psikopat boy, misterius boy, secret boy, dan lain-lain.
Udah lupakan semua tebakkanku, lebih baik aku buka saja topinya, siapa tahu aku kenal dia. Saat aku membuka topi itu, ternyata panjang umur juga.
"Axel!" panggilku.
Axel membuka matanya, melihatku yang ada di sampingnya.
"Lemot, ngapain kau naik bus? punya duit buat bayarnya?" tanya Axel.
"Gak, makanya aku jualan keripik dulu," ujarku.
"Lo ngapain bangunin gue?" tanya Axel.
__ADS_1
Saatnya aku katakan tujuanku, jangan kelamaan tak keburu expired, Axelkan susah diajak ngomong kalau menyangkut keluarganya.
"Axel, sebenarnya ...," ucapku ragu.