ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Episode 90


__ADS_3

"Rangga, Adel, Papa ingin kalian membuktikan keseriusan hubungan kalian," ucap Papa. Dia ingin tahu seberapa serius Rangga pada Adelina. Karena sebuah pernikahan bukan permainan.


"Dengan apa kami harus menunjukkan keseriusan kami?" tanya Rangga. Pemasaran dengan apa dia akan menunjukkan keseriusannya pada Adelina.


"Mengubah seorang banci menjadi lelaki sejati, bawa dia padaku," ujar Papa.


"Apa?" Rangga dan Adel terkejut. Mereka tak menyangka Papanya akan memberi tantang yang sulit. Tak mudah membawa seorang banci menjadi lelaki sejati.


"Kenapa? Menyerah?" tanya Papa. Dia ingin mereka benar-benar membuktikan kesungguhan cinta keduanya. Cinta harus diuji untuk seberapa besar kesungguhannya. Apalagi mereka sebelumnya kakak adik. Mereka harus bisa membedakan mana cinta dan mana sebuah hubungan cinta.


"Kalau kau berhasil, Papa akan menikahkan kalian, bersamaan dengan pernikahan Albern dan Aara," ujar Papa.


Keduanya terdiam sesaat. Memikirkan syarat dari Papanya yang tak mudah itu. Mereka harus bisa jika ingin hubungan mereka direstui.


"Iya Pa, aku sanggup," ucap Rangga dengan tegas. Tak ada keraguan. Dia ingin hidup bersama Adelina. Tak ada yang bisa membuat keyakinannya goyah. Adelina cinta pertamanya. Rangga tak mungkin melepasnya. Apapun akan dilakukan demi cintanya.


"Aku juga," tambah Adelina. Jika Rangga saja tak gentar kenapa Adelina harus gentar. Cinta memang harus diperjuangkan. Masalah nanti berlabuh atau tidak itu kehendak Allah SWT. Tapi setidaknya dia dan Rangga sudah berusaha dan berdoa.


"Baik lakukan tugas kalian dari sekarang," ujar Papa.


"Iya Pa," sahut Rangga dan Adelina.


Mereka sepakat menyetujui syarat dari Papa. Hanya dengan begitu mereka bisa bersama.


Rangga dan Adelina ke luar dari rumah. Mereka naik mobil menuju kampus. Di perjalanan mereka berbincang.


"Kak Rangga, di mana kita dapat menemukan seorang banci?" tanya Adelina.


"Gak tahu, tapi biasanya banyak di pinggir jalan kalau malam," sahut Rangga.


"Apa kita bisa membuat banci itu jadi lelaki sejati?" ujar Adelina.


Rangga terdiam. Dia saja saat jadi pinky boy sangat sulit untuk menjadi lelaki maco. Apalagi banci jadi lelaki sejati. Apa mungkin bisa? Pasti harus susah payah untuk merubahnya.


"Tidak mungkin ya Kak?" tanya Adelina.


"Mungkin saja, kalau kita berusaha Del, Allah akan memudahkan jalan kita asal tujuan kita benar," jawab Rangga.


"Apa tanya Sweety atau Joko Raharjo, siapa tahu mereka punya kenalan banci," usul Adelina.


"Bisa, mumpung hari ini mereka kelas pagi," jawab Rangga.


Adelina mengangguk. Mobil pun melaju ke kampus. Mereka yakin ada jalan di saat sulit.


Sampai di kampus, Adelina dan Rangga berjalan di lorong. Mereka terlihat murung. Ada beban di pikiran mereka yang harus diselesaikan. Mereka sama-sama memikirkan jalan ke luarnya. Tiba-tiba Sweety dan Joko Raharjo datang menghampiri keduanya.


"Adel, Rangga," sapa Sweety.


"Pagi semua," sapa Joko Raharjo.


"Kalian paket hemat ya, tiap hari dempetan kaya nasi sama ayam," ledek Rangga.

__ADS_1


"Iya dong, kita ini cinta sejati dari jaman purba ke jaman milineal," sahut Sweety.


"Betul, dari lo masih jadi mamut sampai jadi ikan paus, masih romantis ya kalian," ledek Rangga.


"Iya dong, seksi begini, Mas Joko klepek-klepek," sahut Sweety.


"Sayang, aku hampir mati nih," ucap Joko Raharjo. Tak bisa bergerak kakinya diinjak Sweety.


Rangga dan Adelina tertawa melihat kedua makhluk berbeda volume dan alam ini.


"Sweety, Mas Joko sebentar lagi pindah alam, singgkirkan kakimu!" perintah Rangga.


"Iya, jangan sampai cinta sejati terpisahkan," tambah Adelina.


"Emang ya, Mas Joko kau masih oke kan?" tanya Sweety.


"Kelamaan sayang, kakiku penyet," ujar Joko Raharjo.


Sweety baru melihat ke bawah. Benar saja kaki Mas Joko terinjak olehnya.


"Sorry Mas Joko, gak sakitkan? Belum gepengkan?" tanya Sweety.


"Buruan! Jadi peyek tuh kaki Mas Joko," ujar Rangga.


"Aku telpon ambulan ya atau pemadam kebakaran?" tanya Adelina.


"Gak usah, singkirkan kaki Sweety aja," ujar Joko Raharjo.


"Ada sih tetanggaku yang banci, mau yang gemuk atau kurus?" tanya Sweety.


"Aku juga ada yang berkulit putih apa hitam?" tanya Joko Raharjo.


"Kita bukan mau beli barang, butuh satu orang banci untuk dirubah jadi lelaki sejati," ujar Rangga.


"Sulit loh, mereka punya prinsip," sahut Sweety.


Rangga dan Adelina terdiam. Benar kata Sweety tak mudah membuat banci berubah, mereka punya prinsip.


"Tapi gak ada salahnya dicoba, kali aja dengan tujuan baik kita semua akan merubah yang tak mungkin jadi mungkin," kata Joko Raharjo.


Ketiganya terkejut Mas Joko tumben bijak.


"Oke, satu persatu banci yang kalian kenal kita temui, mana tahu salah satu dari mereka ada yang mau," ujar Rangga.


Semuanya mengangguk.


***


Albern di antar ke sebuah panti sosial. Panti itu cukup besar dan luas. Terlihat banyak wanita dari pelatarannya. Mereka melakukan banyak kegiatan. Ada yang menyapu, mengepel, menyiram bunga, mencabut rumput, menanam tanaman, mengepel, berolahraga dan kegiatan lainnya. Albern di temani pengurus panti sosial yang bernama Maryam Ramadani. Beliau seorang ibu paruh baya. Mengenakan gamis syar'i. Bersama suami yang berwarna Abdul Zafar mengelola panti sosial itu bersama para anak asuhnya yang merupakan anak yatim piatu.


Panti sosial itu didirikan Pak Abdul secara pribadi yang sudah diresmikan pemerintah. Mendapatkan bantuan dari donatur, pemerintah dan hasil pribadi panti sosial itu.

__ADS_1


Albern diajak berkeliling melihat ruangan dan fasilitas yang ada di panti sosial itu. Ada masjid, ruang kamar, ruang makan, dapur umum, ruang tamu, aula, ruang kerajinan, laboratorium, perpustakaan, gudang, sekolah kepribadian, dan ruangan lainnya.


Albern berjalan di lorong bersama Ibu Maryam.


Mereka berjalan sambil berbincang.


"Semua orang yang ada di sini selain pengurus dan pembina adalah mantan wanita malam," ucap Ibu Maryam.


Albern diam mendengarkan ucapan Ibu Maryam.


"Kami membantu mereka kembali ke jalan yang benar dan membekali mereka dengan bakat yang sudah digali di sini, agar saat ke luar dari panti, mereka bisa mencari nafkah dengan cara yang halal," ujar Ibu Maryam.


"Masya Allah, tempat ini benar-benar sangat bermanfaat untuk mereka dan semoga membawa berkah untuk semuanya," ucap Albern.


"Amin," sahut Ibu Maryam.


"Saya senang bisa dikirim ke sini, mungkin bisa membantu bapak Abdul dan Ibu Maryam," ujar Albern.


"Terimakasih sebelumnya, semoga apa yang lakukan di sini jadi amal ibadah untuk Nak Albern," sahut Ibu Maryam.


"Amin," sahut Albern.


Ibu Maryam dan Albern terus berjalan. Mata-mata genit itu melihat ke arah Albern yang tampan, keren dan maco. Kedatangan Albern seakan pemandangan untuk cuci mata.


"Ganteng ya."


"Apa dia pembina kita?"


"Betah deh kalau pembinanya ganteng.


"Mau gak ya diservis?"


"Ih ngeres."


Mantan-mantan wanita malam itu membicarakan Albern yang baru datang di panti sosial itu.


Albern diantar Ibu Maryam sampai kamarnya.


"Nah Nak Albern ini kamarmu selama di sini," ujar Ibu Maryam.


"Iya Bu,makasih," sahut Albern.


"Anak-anak di sini agak genit, belum semuanya kembali ke jalan yang benar, bersabarlah menghadapi mereka," pesan Ibu Maryam.


"Iya Bu," sahut Albern.


"Ibu pamit dulu, kalau sudah selesai membereskan pakaian, datanglah ke kantor Pak Abdul, di sana ada tugas untukmu," ujar Ibu Maryam.


"Iya Bu," sahut Albern.


Ibu Maryam meninggalkan Albern. Tinggal Albern yang berdiri di depan pintu. Dia berbalik. Membuka pintu kamarnya. Albern masuk ke dalam. Saat masuk terkejut melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


__ADS_2