ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Episode 75


__ADS_3

Aku pergi ke ulang tahun Bobo. Membawa sebuah kado untuknya. Di rumah Axel dan Raina sudah banyak tamu yang datang. Bobo yang sudah terbiasa dengan keramaian sejak ku bawa sekolah, senang melihat banyak tamu yang datang. Dia berjalan ke sana ke mari pelan-pelan. Terkadang jatuh karena belum lama ini baru bisa jalan.


Aku dan Raina duduk bersama. Sedangkal Axel mengikuti Bobo. Kami masih menunggu semua tamu undangan datang. Tak lama Rangga dan Sweety datang. Mereka memang tim hula-hula. Anak-anak mengira Sweety dan Rangga badut yang akan menghibur. Mereka bertepuk tangan gembira dengan kedatangan mereka.


"Itu badutnya ya."


"Gempal juga, pasti lucu kalau nari."


"Manisnya pinky boy."


"Sadar Mba suami di rumah. Mungkin dia masih belum jelas alamnya."


Rangga dan Sweety senang sekali dapet sambutan. Padahal mereka dikira badutnya.


"Rangga kue basah tuh," ujar Sweety.


"Makan berarti pulang sendiri!" ancam Rangga.


"Gak ada bus yang mau ketumpangan Sweety, angkot aja pada kabur, apalagi tukang ojek, menghilang begitu saja saat aku baru nongol," sahut Sweety.


"Diet, jangan malu-maluin di acara orang, tar gak bisa bangun kasihan pasukannya kecil-kecil gak sanggup narik kamu," ungkap Rangga.


"Iya," sahut Sweety.


Rangga dan Sweety gabung bersama kami. Memulai acara ulang tahun Bobo. Kami mulai bernyanyi, menari dan memberi hiburan anak-anak. Bobo dan anak-anak kecil lainnya senang. Mereka begitu senang.


"Sweety, berhenti! Gempa bumi nih!" ujar Rangga.


"Ampun Sweety lantai yang kau pijaki patah," ujarku.


"Eh iya, maaf, padahal belum juga lompat," sahut Sweety.


"Seharusnya kau di luar sebagai pantung pancoran, paling cocok," ucap Rangga.


"Jangan dong, ini pertama kalinya Sweety ikut ke acara ulang tahun, biasanya langsung tutup pintu kalau Sweety datang," ucap Sweety.


Aku langsung memeluk Sweety. Kasihan juga. Tak mudah jadi orang gendut. Pasti insecure terus. Mungkin kalau aku menjadi seperti Sweety aku belum tentu sekuat dan seceria Sweety.


"Mulai hari ini kau akan ku ajak kalau ada yang ulang tahun," ujarku pada Sweety.


"Makasih Aara, sudah menerimaku sebagai temanmu," sahut Sweety.

__ADS_1


"Gendut, kau tak berterimakasih padaku, aku susah payah menyambung mobil sportku dengan gerobak," ujar Rangga.


"Makasih Rangga," ujar Sweety sambil melepas pelukannya dariku mau memeluk Rangga. Namun Rangga menghindar. Justru Sweety memeluk cowok cungkring yang datang menemani adiknya. Mereka saling bertautan.


"Apa kita berjodoh?" tanya Sweety.


"Kau seksi sekali, idaman," ucap si cungkring.


"Oh, Allah sudah mempertemukan kita, jodoh yang terpisah karena sejarah," ujar Sweety.


Mereka saling memuji dan terkesima satu sama lain. Sedangkan aku dan yang lainnya tercengang dengan kedua pasangan jomplang ini.


"Perasaan drakornya kok diperankan sama oger dan belalang ya," ujar Rangga.


"Gak boleh bilang gitu Rangga, ini drakor teromantis, antara ikan paus dan ikan sarden," ujarku.


Semuanya tertawa. Akhirnya Sweety bertemu belahan jiwanya. Meskipun belahan jiwanya tak sanggup kalau gendong Sweety, apalagi narik Sweety kalau terjatuh ke bawah. Yang paling setia dan kuat tetaplah pemadam kebakaran.


Setelah pertemuan tak disengaja itu tak sengaja personil kami bertambah. Namanya Joko Raharjo Hadiningrat. Namanya klasik, se klasik orangnya yang unik dan beda dari yang lain. Joko mengenakan kaca mata hitam dan blangkon.


"Joko sayang kok pakai kaca mata terus," ujar Sweety kasmaran.


"Mataku yang satu katarak," jawab Joko.


Aku dan Rangga geleng-geleng. Perasaan acara ulang tahun Bobo kenapa jadi ajang pede kate mereka. Serasa dua milik berdua. Udah tahu tempatnya sempit. Sweety duduk ngabisin tempat.


Axel dan Raina berfoto di depan kue bersama Bobo begitupun denganku bersama Bobo. Tak lupa Rangga dan Sweety plus anggota baru Joko Raharjo juga. Acara itu meriah. Bobo sangat bahagia. Ku ciumi pipinya. Tak terasa Bobo sudah satu tahun. Waktu berlalu begitu cepat. Aku rindu masa lalu tapi masa sekarang jauh lebih indah. Aku bisa berkumpul dengan keluarga kandungku. Yang ternyata keluarga terpandang.


Usai acara kami membersihkan rumah Axel dan Raina. Banyak sampah dan barang yang berserakan. Aku dan Raina menyapu. Rangga menyemprot dengan disinfektan dan pewangi, Axel membuang sampah, Sweety dan Joko asyik menata botol air mineral bekas.


"Sweety kau seperti botol bekas ini," ujar Joko.


"Kok aku kaya botol bekas?" tanya Sweety.


"Meskipun dunia membuangmu, kau tetap berguna untukku," ujar Joko.


"Ha ha ha." Aku dan yang lainnya tertawa. Lumayan hiburan dikala boring dan gabut. Duo sejoli beda dunia ini bersama. Bagai gajah dan semut mereka tetap bersama meski mustahil. Bisa sajakan semut kegencet sama gajah.


Saat kami tekah menyelesaikan pekerjaan. Tiba-tiba ada kurir yang mengantarkan sebuah kado untuk Bobo. Axel dan Raina terkejut mendapat kado itu.


"Mas salah orang kali," ujar Axel.

__ADS_1


"Bener kok alamatnya, di sini tertera nama penerimanya sesuai dengan nama anak bapak dan ibu," ujar kurir.


"Iya sih ini benar, tapi kami tak memesan paket apapun," sahut Raina.


Aku segera menghampiri mereka yang berdiri di depan pintu. Aku tahu mungkin itu kado dari Albern untuk Bobo.


"Aku yang pesan," sahutku.


"Loh bukannya kau tadi sudah bawa kado," ujar Raina.


"Iya, itu dari Albern, aku yang mewakilinya," ucapku.


"Oh, terimakasih Aara," sahut Raina.


Sebenarnya Albern masih hidup. Belum saatnya aku bisa berbagi kebahagiaan ini. Yang penting sekarang dia baik-baik saja. Di mana pun dia berada. Aku yakin dia akan kembali. Kami akan bersama lagi.


***


Roberto berdiri di depan lelaki yang berbaring di ranjang pasien. Berbagai alat penopang hidup terpasang ditubuhnya. Lelaki itu terlihat tertidur. Dia begitu mirip dengan Albern hanya kulitnya hitam dan hidungnya pesek. Ada tompel di pipinya. Reberto memegang tangannya. Matanya berkaca-kaca dengan kondisi lelaki itu.


"Martin cepatlah sadar!" ujar Roberto.


Sudah satu bulan Martin koma semenjak kecelakaan yang terjadi. Dia belum sadarkan diri. Roberto yakin ada yang sengaja mencelakai cucunya.


"Kakek akan mencari orang yang telah mencelakaimu," ujar Roberto.


Tak lama Albern masuk ke dalam menghampiri Roberto. Dia berdiri di belakangnya.


"Gimana? Sudah ada informasi yang kau dapatkan dari Natasha?" tanya Roberto.


"Belum," jawab Albern.


"Kau harus bisa mendekatinya, aku yakin ada informasi yang bisa kau dapatkan darinya," ucap Roberto.


"Baik," sahut Albern.


"Aku akan menjebloskan ke penjara orang yang sudah menyakiti cucuku," ujar Roberto.


Albern hanya menundukkan kepalanya. Dia hanya menunggu perintah dari lelaki paruh baya itu.


***

__ADS_1


Malam itu aku tidak bisa tidur. Rasa rindu membuatku teringat Albern. Biasanya dia memelukku saat tidur. Aku jadi teringat masa-masa indah itu. Aku bangun membuka pintu yang menuju balkon. Terkejut saat ku dapati seseorang berdiri membelakangi pintu. Dia mengenakan pakaian hitam dan penutup kepala.


"Siapa kau?" tanyaku.


__ADS_2