
"Apa? itu bukannya lelaki yang ku siram es kopi tadi. Mati aku" batin Wanita itu.
"Ayo kita menghampirinya, mungkin dia tidak tahu kita disini" ucap Dion.
"Baik Bos" ucap wanita itu terpaksa mengikuti Bosnya.
Dion dan wanita itu menghampiri Aksa yang sedang duduk sendirian. Aksa sedang memandang handphone ditangannya mengalihkan pandangannya ke atas. Dua orang berdiri tepat didepan mejanya. Salah satu dari dua orang itu adalah wanita yang menuang es kopi dikepalanya. Wanita itu terlihat malu melihat Aksa. Dia seperti merasa bersalah telah menuang es kopi dikepalanya.
"Selamat siang Bos Aksa" ucap Dion.
"Siang" ucap Aksa.
"Perkenalkan ini Kiara Cantika, sekretaris pribadi saya" ucap Dion.
"Selamat siang Bos Aksa, saya Kiara. Senang bertemu dengan Anda" ucap Kiara.
"Silahkan duduk Bos Dion" ucap Aksa.
"Sialan, dia tak menjawab ucapanku, nyebelin" batin Kiara.
Dion dan Kiara duduk satu meja dengan Aksa. Dion melihat rambut dan pakaian Aksa kotor.
"Bos Aksa kenapa rambut dan pakaian Anda kotor?" tanya Dion.
"Tadi ada orang gila yang membawa es kopi, dia menuang es kopi itu dikepala saya" ucap Aksa.
"Apa orang gila? dia menyamakanku dengan orang gila. Kenapa aku harus bertemu makhluk tuhan yang satu ini, tenggelamkan!" batin Kiara.
"Orang gila memang begitu Bos Aksa. Gak punya akal, seenaknya sendiri. Hati-hati bila bertemu lagi dengan orang gila" ucap Dion.
Dion tidak tahu siapa yang dimaksud orang gila oleh Aksa.
"Anda sangat betul, orang gila memang gak punya akal, orang bilang tidak waras" ucap Aksa.
"Hiiih....." batin Kiara kesal.
"Mari kita pindah ke ruang VIP biar lebih nyaman" ucap Dion.
"Oke" ucap Aksa.
Mereka bertiga masuk ke ruang VIP. Dion dan Aksa terus berbincang soal bisnis, sedangkan Kiara hanya cemberut melihat Aksa dari tadi.
"Bos Aksa saya ke toilet sebentar" ucap Dion.
"Silahkan" ucap Aksa.
Dion pergi ke toilet. Tinggal Aksa dan Kiara yang berada diruangan itu. Manda memanfaatkan situasi, dia langsung bicara pada lelaki yang menyebalkan itu.
"Kau tadi bilang aku orang gila, iyakan?" tanya Kiara.
"Aku tidak menyebut kau orang gila, atau kau sendiri yang merasa" ucap Aksa.
"Kau itu punya tata krama gak sih, masa aku kau samakan dengan orang gila yang gak punya akal. Kau lihat aku ini seorang sekretaris mana mungkin gila" ucap Kiara.
Aksa beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri Kiara. Dia mendekati Kiara.
"Aduh..., nih cowok mau ngapain? jangan-jangan mau nyium aku kaya difilm-film romantis" batin Kiara.
"Dibajumu ada ulet bulunya" ucap Aksa.
"Haaah..." Kiara terkejut dengan ucapan Aksa. Dia coba melihat baju yang dikenakannya. Ternyata benar, ulat bulu ada dibahunya.
"Iiiiih..." Kiara ketakutan sampai lompat-lompat ketakutan. Kakinya terkilir hingga menjatuhi tubuh Aksa. Dengan reflek Aksa menangkapnya.
Cup
Sebuah ciuman mendarat dibibir Aksa tanpa disengaja. Mereka diam seketika tanpa kata. Kedua mata saling memandang.
"Tampannya" batin Kiara.
Aksa mengangkat tubuh Kiara yang jatuh ditubuhnya.
"Kau sengaja menciumku?" tanya Aksa.
"Apa? mana mungkin aku mau menciummu. Udah kaya es, kaku, mirip patung lagi. Asal kau tahu itu ciuman pertamaku jadi seharusnya kau untung ya" ucap Kiara.
__ADS_1
"Kau bukan tipeku" ucap Aksa.
"Hei..., aku ini cantik, pinter, dan humoris jadi kau akan beruntung punya pasangan sepertiku. Tapi aku juga gak sudi tuh sama kamu" ucap Kiara.
"Aku tidak tertarik, apapun tentangmu" ucap Aksa.
"Gedeg, semoga aku tak bertemu lagi makhluk tuhan yang menyebalkan sepertimu" ucap Kiara.
Kiara berjalan keluar dari ruangan itu. Tahu-tahu dia bertemu kekasihnya yang sedang masuk ke dalam restoran itu.
"Sayang" ucap Farhan.
"Sayang" ucap Kiara.
Farhan menghampiri Kiara. Mereka bertatapan dan tersenyum sumringah.
"Sayang kau sedang apa disini?" tanya Farhan.
"Nemenin Bosku ketemu kliennya" ucap Kiara
"Tapi kenapa wajahmu seperti tak suka seperti itu?" tanya Farhan.
"Kliennya Bosku itu nyebelin banget, sok, jutek, judes, gak punya otak, kaku, ketus...." ucap Kiara memberi tahu Farhan tentang Aksa.
"Aksa" ucap Farhan melambai ke arah Aksa yang keluar dari ruang VIP direstoran itu.
Kiara terkejut saat kekasihnya memannggil Aksa.
Dia menoleh ke belakang, Aksa berjalan menghampirinya. Dia bahkan berdiri tepat disamping Farhan.
"Sayang kenalin, ini sepupuku Aksa" ucap Farhan.
"Apa? tadi dia klien Bosku dan sekarang dia sepupu Farhan? apa aku sedang bermimpi atau dunia ini sempit" batin Kiara.
"Sayang...sayang...jangan bengong" ucap Farhan.
"Ee...iya. Kiara senang sekali bisa bertemu denganmu" ucap Kiara seakan baru bertemu.
"Aku pulang dulu" ucap Aksa.
"Nyebelin, aku bicara gak disautin, tobat" batin Kiara.
Aksa berjalan beberapa langkah dari tempat Farhan dan Kiara berada, dia menoleh ke belakang, melihat Farhan begitu dekat dengan Kiara, mereka terlihat serasi sebagai sepasang kekasih. Dihatinya ada rasa tak senang melihat gadis yang baru dikenalnya itu bersama Farhan. Aksa kembali melangkah keluar dari restoran itu.
Sementara Farhan masih berduaan dengan Kiara.
"Sayang itu sepupumu kok nyebelin ya" ucap Kiara.
"Jangan-jangan orang yang kau maksud itu, Aksa?" tanya Farhan.
"Iya, nyebelinkan" ujar Kiara.
"Dia memang begitu, udah gak usah dipikirin" ucap Farhan.
**********
Hari ini Farel sengaja cuti supaya bisa berduaan dengan Alina. Dia menemani Alina yang sedang menanam bunga ditaman. Alina terlihat senang bisa menanam bunga. Farel duduk disampingnya memperhatikan Alina.
"Kak ada apa? ada kotoran diwajahku?" tanya Alina.
"Ada, biar ku bersihkan" ucap Farel.
Farel memegang pipi Alina dengan satu tangannya lalu mengoleskan tanah liat diwajah Alina.
"Kak Farel iseng ya" ucap Alina.
"Kau cantik sekali Alina, biar ku tambahin ya" ucap Farel.
"Kakak juga mau maskeran, biar kulit kakak sehat" ucap Alina mengambil tanah liat itu.
"Jangan Alina, ampun...." ucap Farel.
Alina meraih pipi Farel lalu mengoleskannya tanah liat dipipinya. Farel kembali membalasnya. Dia juga mengoleskan tanah liat dipipi Farel.
"Nah kalau beginikan ganteng" ucap Alina.
__ADS_1
Farel menarik tubuh Alina dalam pelukannya. Dia mencium Alina.
"Kak Farel" ucap Alina melepas pelukannya.
"Alina aku ini..." ucap Farel mau mengatakan kalau dia Rafael tapi ada pelayan yang datang menghampiri mereka.
"Nona ada telpon dari Nona Haura"
"Iya" ucap Alina.
"Kak Farel aku kesana dulu, mungkin ada yang mau dibicarakan Haura padaku" ucap Alina.
"Iya sayang" ucap Farel.
Alina berjalan meninggalkan taman bunga masuk ke rumah besar itu. Dia mengangkat telpon dari Haura.
"Hallo Alina" ucap Haura.
"Hallo Haura" ucap Alina.
"Aku sudah dilamar Alvan" ucap Haura.
"Alhamdulillah, selamat ya Haura" ucap Alina.
"Iya makasih, ingat kau harus pulang, aku mau nikah nih" ucap Haura.
"Iya, Insya Allah" ucap Alina.
Alina menutup telponnya setelah bicara dengan Haura. Dia senang sekali Haura akan menikah dengan Alvan.
***********
Semenjak menikah dengan Deena, Barra tak pernah mau jauh dari istrinya. Setiap hari berusaha pulang cepat. Barra seperti anak muda yang baru mengenal cinta, hari-harinya penuh cinta. Bahkan Deena susah beranjak dari ranjang. Suaminya itu benar-benar sugar daddy yang penuh cinta.
"Sayang aku mau masak dulu" ucap Deena.
"Gak perlu masak beli aja" ucap Barra.
"Iya sih, tapi kamu nempel terus kaya gini gak bosan?" tanya Deena.
"Enggak, lagi yuk yang" ucap Barra.
"Apa? aku mau masak dulu ya sayang" ucap Deena mulai beranjak dari ranjang tapi Barra menariknya hingga Deena terjatuh diranjang. Barra memeluk Deena dengan mesra.
"Sayang disini aja ya" ucap Barra.
"Kau manja sekali akhir-akhir ini, dan sering mual sayang?" tanya Deena.
"Iya, gak tahu kenapa? rasanya pengen berduaan sama kamu terus" ucap Barra.
Deena memegang dahi Barra. Dia memeriksa suaminya. Memastikan dirinya baik-baik saja.
"Kau tidak demam, tapi kenapa sering mual? apa kita ke rumah sakit aja ya" ucap Deena.
"Gak perlu ke rumah sakit, obatnya ya kamu sayang" ucap Barra.
Baru Barra mau mencium Deena. Pelayan rumahnya mengetuk pintu kamar itu.
Tuk....tuk....tuk....
"Tuan...Tuan..."
Deena menahan mulut Barra yang mendekatinya.
"Sayang ada yang manggil" ucap Deena.
"Ganggu aja" ucap Barra.
Barra beranjak dari ranjang. Dia membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Barra.
"Tuan ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda"
"Wanita? siapa?" tanya Barra.
__ADS_1
"Dia bilang Tuan pasti kenal"
"