
Ku buka kertas hasil laporan UTS milikku. Aku terkejut melihat angka-angka di kertas putih di depanku. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang. Apa ini semua bohong. Atau salah ketik.
"Aara nilaimu," ujar Ami tercengang melihat nilaiku.
"Iya nilaimu," ucap Dodo.
Bukan hanya Dodo dan Ami yang terkejut dengan nilaiku, tapi aku sendiri juga terkejut dengan nilaiku. Seperti mimpi di siang bolong. Apakah ini nyata atau aku rabun.
"Nilaiku?" ujarku.
"Kau tidak menyuap guru atau menemukan Pak guru bersama pelakor lagi beli daster bersamakan?" tanya Ami.
"Ini pasti Pak guru lagi tidur di teras, digigit banyak nyamuk jadi salah ngisi nilainya," timpal Dodo.
"Memangnya ada yang salah dengan nilai Aara?" tanya Axel penasaran. Dia juga ingin tahu nilaiku.
"Ini nilainya Aara tiba-tiba bertelor padahal belum dikawinin sama ayam jago," jawab Dodo.
"Nilai Aara bukan bertelor tapi berbunga gara-gara nabung di Bang Amin," ucap Ami.
"Kalian ini ada-ada aja, mungkin nilaiku salah gara-gara Pak guru belum punya dua istri," jawabku.
"Ha ha ha." Kami bertiga tertawa.
"Aara tidak salah nilaimu delapan dan sembilan?" tanya Axel tak percaya aku mendapatkan nilai bagus. Dia berkali-kali mengecek nilaiku.
Aku terdiam. Selama ini aku belum pernah mendapatkan nilai delapan dan sembilan. Apalagi untuk pelajaran sesulit fisika, kimia, bahasa Inggris dan matematika.
"Alhamdulillah, ini benar," jawabku. Mungkin saja semua ini hasil jirih payahku belajar dan bergadang. Sampai mataku panda dan mabuk tulisan.
"Beneran nilaimu bagus?" tanya Ami, Dodo dan Axel.
Aku mengangguk.
Ami dan Dodo memegang dahiku dan mengecek seluruh bajuku. Mereka mau memastikan aku tidak kemasukan roh halus atau bisa saja aku ini robot yang asli ditawan alien disuruh bikin semur jengkol.
"Masih normal kok, otaknya kosong," ujar Ami. Dia tahu sekali posisi dan getaran otak kosongku yang males kalau disuruh mikir.
"Tidak ada bom atau pun racun, dompetnya juga bokek," ujar Dodo.
__ADS_1
"Berarti otak Aara turun gunung nih, udah lulus ujian jadi pendekar," ucap Ami.
"Aku rasa otak Aara sudah menemukan tambatan hati," ujar Dodo.
Mereka berdua terus berspekulisi. Maklum agak sedikit mustahil mendapatkan nilai yang bagus. Apalagi di saat seperti ini, godaan mengosongkan otak lebih tinggi.
"Aara selamat ya, aku senang kau sudah bekerja keras untuk sampai tahap ini," ujar Axel. Dia ikut senang aku mendapatkan nilai yang bagus. Selama ini Axel juga ikut serta dalam membantuku untuk bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih baik.
"Iya Aara kita juga ikut seneng, semoga tahun ini lulus gak jadi siswa abadi," kata Ami. Sebagai salah satu sahabatku Ami sangat memahamiku. Dia tahu betapa sulitnya aku saat harus nunggak kelas terus.
"Kalau tahun ini lulus, kita bisa kuliah bersama," ucap Dodo.
"Makasih ya teman-teman, berkat support dan dukungan kalian aku bisa seperti ini," ujarku.
Mereka bertiga mengangguk. Semua ini karena Albern dan Gerry yang sering mengajari. Aku jadi rindu Albern. Walaupun hatiku kesal karena dia tak gentleman menikahi Raina.
Siang itu aku mengambil Bobo dari Bi Siti. Biasa jam istirahat Bi Siti repot. Aku menggendong Bobo membawanya ke taman sekolah. Aku menggelar tikar kecil, membaringkan Bobo di tikar. Bobo mulai mengoceh dan belajar tengkurep. Bobo mulai menarik apapun dan memegang apa saja barang di dekatnya lalu digigit. Mungkin giginya gatal.
"Ca ... ca ... Bua ... bua ...." Bobo mengoceh.
"Lucunya, Mamy makin sayang Bobo," ucapku.
Bodo mulai miring-miring meskipun tubuhnya montok. Dia tak pantang menyerah. Sampai akhirnya bisa tengkurep meskipun satu tangannya tertindih. Aku membantu tangannya yang tertindih.
Ketika aku asyik bermain bersama Bobo, Axel menghampiriku dan langsung duduk di sampingku. Dia membawa dua jus semangka dan dua roti coklat keju. Dia meletakkannya di tikar dan mengajak Bobo bicara.
"Bobo udah pinter kaya Momy-nya," puji Axel.
"Iya dong kakak Axel, Bobo udah belajar tiap hari jadi mahir tengkurap sendiri," ucapku sebagai Bobo.
Axel tersenyum.
"Aara ayo makan bareng, gak asyik sendirian," ujar Axel.
"Ini untukku?" tanyaku menunjuk ke jus dan roti.
"Iyalah, memangnya buat siapa lagi?" tanya Axel.
"Makasih ya Axel," ujarku..
__ADS_1
Axel mengangguk. Segera ku ambil jus dan roti yang diberikan Axel. Kami makan bersama dan main sama Bobo. Axel pinter bikin Bobo tertawa bahkan menggendong Bobo sampai tidur.
"Aara apa hubunganmu dengan abangku?" tanya Axel.
"Hubungan?" Aku terkejut Axel bertanya seperti itu. Tak bisa dipungkiri Axel akan bertanya hal seperti itu padaku.
"Apa dia sugar daddy-mu?" tanya Axel.
"Bukan," jawabku.
"Terus kenapa dia ada di rumahku bersamamu?" tanya Axel.
"Aku dan dia ...," jawabku ragu.
"Aara dia bukan orang yang baik, dia brengsek. Pada Raina saja dia tega, jangan hancurkan masa depanmu menjalin hubungan dengan lelaki sepertinya," ujar Axel.
Aku terdiam. Meskipun benar kata Axel tapi perasaanku tak bisa berbohong. Aku mulai jatuh hati padanya.
"Aara abangku bukan orang sesederhana dirimu, dia sudah tidur dengan banyak wanita. Baginya wanita hanya baju yang bisa berganti kapan pun. Aku tidak ingin kau diperlakukan seperti itu olehnya," kata Axel.
Air mataku tak sengaja menetes di pipi. Kenapa aku harus mencintai lelaki yang brengsek dan buaya. Aku tak bisa mengontrol perasaanku. Aku rindu padanya.
"Aara aku ingin membahagiakanmu, jadilah orang yang spesial untukku," ujar Axel.
"Spesial?" tanyaku.
Axel meletakkan Bobo di tikar. Dia menatap mataku.
"Aara selama ini aku belum pernah jatuh hati pada siapapun tapi saat mengenalmu, aku merasakan perasaan yang berbeda. Perasaan di mana aku rindu, aku bahagia, aku nyaman saat bersamamu," ujar Axel.
Gimana ini? Apa Axel menyatakan cintanya padaku? Harus menjawab apa? aku bingung.
"Aku mencintaimu Aara, mau kah jadi kekasihku?" tanya Axel.
Aku terkejut. Axel benar-benar menyatakan cintanya padaku.
Axel berlutut di depanku. Aku tak menyangka dia seperti itu.
"Axel aku ... aku belum tahu seperti apa perasaanku, aku ...," ucapku ragu.
__ADS_1
"Apa kau mencintai lelaki brengsek itu?" tanya Axel.
Aku terdiam. Apa benar aku mencintai Albern? Aku takut mendalami perasaanku, mencari arti Albern untukku. Aku takut kecewa dan hanya memiliki perasaan ini sepihak. Apa Albern juga mencintaiku? Atau aku ini hanya mainan seperti wanita-wanita yang pernah tidur dengannya. Apa yang harus ku jawab untuk Axel.