
Tiba-tiba Natasha datang melihat Albern berduaan dengan Yeni disudut ruangan.
"Sayang!" teriak Natasha menghampiri mereka berdua.
Yeni yang melihat Natasha langsung memegang lengan Albern. Menempel padanya. Dia sengaja ingin menunjukkan kalau Martin miliknya. Mungkin saja Natasha akan mundur dan menjauh dari Martin.
"Kau lepaskan tanganmu dari Martin!" perintah Natasha. Dia tak terima lengan Martin dipegang oleh Yeni. Baginya Martin hanya miliknya dan Yeni perebut kekasih orang.
"Gak akan, kami saling mencintai," ujar Yeni. Dia merasa dirinya dan Martin sudah saling mencintai. Tak ada yang bisa memisahkan mereka.
"Enak aja, Martin itu calon suamiku," bantah Natasha balik. Dia tak terima Yeni mengatakan hal itu. Karena Martin adalah calon suaminya bagi Natasha. Yeni hanya dianggap terlalu genit dan kegeeran.
"Martin kekasihku, dia tidak mencintaimu," elak Yeni. Dia yakin Martin hanya mencintainya tidak mencintai Natasha.
Natasha tak terima, dia berusaha melepas tangan Yeni dari lengan Albern. Namun Yeni tak tinggal diam. Dia melawan Natasha. Mereka saling melawan dan bergelut memperebutkan Albern. Perdebatan dan perlawanan tak terelakkan. Mereka tak sungkan saling beradu apa saja di depan umum. Pengunjung bukan memisah justru memberi dukungan pada masing-masing kandidat.
"Ayo-ayo, lawan-lawan."
"Jangan mau kalah."
"Hajar."
"Sikat."
Suara riuh terdengar kencang. Mereka jadi tontonan mengaasyikkan di sela-sela ramainya klub itu. Seakan pertunjukan baru. Mereka gembira melihat keduanya bertarung sengit.
"Martin milikku," ujar Natasha.
"Enak aja dia milikku," sahut Yeni.
"Aku lebih dulu bersama Martin," ujar Natasha.
"Aku yang selalu ada untuk Martin," sahut Yeni.
Mereka terus beradu. Tak gentar untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat, lebih baik dan lebih segalanya dari keduanya.
"Kau hanya memanfaatkan Martin karena kekayaannya," ucap Yeni.
"Kau juga, hanya ingin bersama Martin karena kau insecure selama ini," ucap Natasha.
"Kau tak tulus mencintai Martin," kata Yeni
"Kau apalagi, cuma uang dan uang," sahut Yeni.
Mereka berdua jambak-jambakan. Tarik menarik. Cakar mencakar. Pukul memukul hingga tendang menendang. Albern hanya diam membiarkan kedua wanita itu kelelahan saling melawan. Hingga sekuriti datang memisahkan keduanya.
Akhirnya Yeni dibawa ke luar. Sedangkan Natasha masih di dalam. Dia menghampiri Albern.
__ADS_1
"Sayang aku lebih kuat dari Yeni kan?" tanya Natasha.
"Iya, kau lebih kuat darinya," sahut Albern. Sepertinya dia harus pro ke Natasha dulu. Untuk mencari informasi darinya.
"Sayang mukaku lebam, sakit," ujar Natasha mengeluh manja.
"Ayo duduk di sana aku obati lukamu," ajak Albern.
Natasha mengangguk. Dia mengikuti Albern duduk di sofa. Albern mengambil kotak P3K yang disediakan pihak klub. Dia mengobati lebam di wajah Natasha. Habis pertarungannya dengan Yeni.
"Sakit sayang," ucap Natasha.
"Sabar ya, sedikit lagi," sahut Albern yang sebenarnya senang melihat Natasha babak belur. Keduanya di mata Albern sama-sama wanita penjilat. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dan memanfaatkan Martin.
"Iya, tapi pelan-pelan," ucap Natasha manja.
Albern sebal dengan tingkah manja wanita ular yang hanya bisa memanfaatkan lelaki. Dia sengaja memberi obat luka dengan menekan kuat.
"Aw ..., sakit sayang," ujar Natasha.
"Sakit ya? Maaf, gak sengaja," sahut Albern yang sebenarnya senang melihat Natasha kesakitan. Dia sengaja menekan kembali dan berkali-kali.
"Aw ... aw ..., sakit, perih sayang," keluh Natasha.
"Maaf sayang, kekencengan ya?" tanya Albern.
"Yaudah pelan ya," ucap Albern.
Natasha mengangguk.
Albern kembali mengoleskan obat luka sampai selesai. Kemudian menemani Natasha mabuk di bar. Albern tidak minum. Dia memesan lemon tea. Semenjak bersama Aara, Albern meninggalkan kehidupan lamanya. Dia ingin jadi imam yang baik untuk Aara.
Setelah satu jam Natasha mabuk berat. Albern membawanya ke luar dari klub. Dia memapah Natasha ke dalam mobilnya. Kemudian mengendarai mobilnya menuju hotel.
Sampai di Hotel Francisca. Albern membawa Natasha naik ke atas. Masuk ke dalam hotel yang dipesannya. Natasha sudah mabuk dan bicara ngawur. Dia masih terlihat kesal pada Yeni.
"Aku benci Yeni, kenapa Martin selingkuh dengannya," ucap Natasha sambil berjalan dipapah Albern dari pintu menuju ranjang.
"Dia itu cuma manfaatin Martin karena cuma Martin yang bisa bikin dia gak cupu lagi," ucap Natasha.
Albern terus mendengarkan ucapan Natasha. Mungkin saja ada info penting untuknya.
"Aku sayang Martin, tapi Martin sayang pada Yeni juga," ujar Natasha.
"Aku benci Martin, kau sudah menyakiti hatiku," ucap Natasha.
Albern mendudukkan Natasha di ranjang. Agar masih sadar. Dia menyandarkan tubuh Natasha ke headboard ranjang. Albern duduk di depannya. Menemaninya demi sebuah informasi.
__ADS_1
"Kau coba membunuhku Natasha?" tanya Albern.
"Heh, aku memang ingin membunuhmu, lebih baik kau mati dari pada aku tak bisa memilikimu," ucap Natasha.
"Dia mabuk, ucapannya tak bisa sepenuhnya jadi bukti, aku harus cari bukti penguat lainnya," batin Albern.
"Saat kejadian kecelakaan kau yang sengaja melakukan itu padaku, iyakan?" tanya Albern..
"Iya, aku memang membayar orang untuk membunuhmu, kau harus mati, Yeni juga dan dia," ucap Natasha.
"Dia siapa?" tanya Albern.
Natasha hanya tersenyum.
"Kau harus mati Martin, mati bersamaku," ucap Natasha.
"Bagus sekarang jelas, Natasha lah dalang dibalik kecelakaan Martin," batin Albern senang. Sudah ada titik terangnya. Tinggal cari bukti lain.
"Aku memang ingin kau mati tapi aku sayang jadi ...," ucap Natasha.
"Jadi? Jadi apa?" tanya Albern.
"Jadi aku ...." Natasha keburu tidur. Dia menutup matanya. Belum sempat mengetahui semua kebenarannya.
"Sial Natasha tidur lagi, gimana aku klarifikasi padanya, tadi dia bilang jadi, jadi apa?" batin Albern bingung.
Akhirnya Albern harus mencari bukti lain. Munmpung Natasha tertidur Albern mencari handphone miliknya. Dia mengambil tas milik Natasha. Mengeluarkan handphone-nya.
"Untung kemarin aku sempat melihat password handphone Natasha," batin Albern.
Segera Albern memasukan paswwordnya. Kemudian layar terbuka. Albern memeriksa semua chat antara Martin dan Natasha.
"Mereka memang sempat bertengkar hebat. Sepertinya Martin juga memiliki hubungan dengan Yeni, tapi siapa Lina Mariana?" batin Albern. Ada nama Lina Mariana dalam chat mereka.
"Martin bertemu Lina Mariana, dan memutuskan untuk menikahinya, jadi ada wanita lain selain Yeni dan Natasha, apa maksudnya ini?" Batin Albern.
Albern terus membaca chat keduanya.
"Martin meminta putus dari Natasha, namun Natasha menolak. Martin sudah mencintai Lina Mariana." Alex membaca pesan Martin yang mengatakan dia akan menikahi Lina dalam waktu dekat. Dan mengenalkannya pada ayahnya.
"Lalu kenapa Martin memiliki hubungan dengan Yeni?" Albern penasaran.
Albern kembali mencari informasi di handphone milik Natasha. Untung saja masih ada pesan yang tertinggal dari pembunuh bayaran yang disewanya.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan pembunuh bayaran itu, dan mengulik informasi darinya," ucap Albern.
Albern menutup kembali handphone Natasha. Menyimpan nomor pembunuh bayaran itu. Albern menyelimuti Natasha. Kemudian duduk di sofa. Dia memejamkan matanya yang sudah mengantuk dari tadi. Paling tidak sudah ada titik terang dari masalahnya.
__ADS_1