ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Part 86


__ADS_3

Cinta hendak berangkat sekolah. Dia turun dari lantai atas ke lantai bawah. Dia menuju ke ruang tamu. Disana sudah ada Rehan yang menjadi Reni. Cinta langsung sumringah melihat Rehan. Hatinya berbunga-bunga melihat suaminya sudah datang ke rumahnya pagi-pagi. Cinta langsung berlari ke arah Rehan. Rehan berdiri dan Cinta langsung memeluknya.


"Kak Rehan aku kangen"ucap Cinta.


"Aku juga kangen gadis kecil"ucap Rehan.


"Semalam kau tak pulang kesini, aku kangen" ucap Cinta.


"Kau kangen kita itu ya...."ucap Rehan.


"Kak Rehan jangan berpikir yang aneh-aneh masih pagi"ucap Cinta.


"Gadis kecil wajarkan kalau kita sering bermesraan, kitakan suami istri"ucap Rehan.


"Iya Kak Rehan"ucap Cinta.


"Nanti malam aku pulang kesini, kita bisa kangen-kangenan lagi"ucap Rehan.


"Kak Rehan"ucap Cinta manja.


"Aku mau nyium kangen soalnya"ucap Rehan.


"Jangan disini, ke naik ke kamarku aja"ucap Cinta.


"Oke sayang"ucap Rehan.


Cinta langsung membawa Rehan ke kamarnya.


Didalam kamar Rehan langsung mencium Cinta.


"Gadis kecil boleh yang lain gak?"tanya Rehan pada Cinta seusai menciumnya.


Cinta hanya mengangguk, mumpung baru jam 6 pagi mereka masih bisa merajut jalinan asmara yang membara apalagi gudang kerinduan sudah menumpuk. Rehan membaca doa terlebih dahulu sebelum jalinan itu dimulai kemudian dia langsung meluapkan keinginannya pada Cinta. Baju seragam itu terpaksa diungsikan sementara. Jalinan asmara dipagi hari dengan sinar matahari yang hangat dan udara yang sejuk membuat mereka betah berlama-lama tapi harus tetap mengingat jam beker sudah mengoceh beberapa kali.


"Kak Rehan nanti kesiangan"ucap Cinta.


"Yaudah kita mandi"ucap Rehan.


Rehan dan Cinta pun mandi dan kembali memakai seragam mereka. Rehan sesekali mencubit pinggang Cinta karena gemas dan masih teringat keindahan cinta yang baru dirajutnya tadi.


"Geli Kak Rehan"ucap Cinta.


"Gemes, masih kangen"ucap Rehan.


"Kak Rehan pagi inikan ada gerak jalan memperingati ulang tahun sekolah kita"ucap Cinta.


"Bisa berduaan dong, kita jalannya barengan ya gadis kecil"ucap Rehan.


"Iya, nanti setelah sudah jalan beberapa meter keluar dari sekolah cari aku ya Kak Rehan"ucap Cinta.


"Pasti dong, aku akan mencari istriku tercinta" ucap Rehan.


"Kak Rehan"ucap Cinta memeluk Rehan.


"Gadis kecil setelah lulus nanti kita daftarkan pernikahan kita secara resmi, lalu aku ingin mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran biar semua orang tahu gadis kecil yang cantik ini istri Rehan Darien"ucap Rehan.


"Iya Kak Rehan, tapi gimana dengan Papamu?" tanya Cinta.


"Aku sudah punya cara agar tidak lagi terikat padanya"ucap Rehan.


"Kau akan meninggalkan Papamu?"tanya Cinta.


"Ya, aku tidak ingin kita dipisahkan lagi, dendam yang dibawa Papaku sudah tidak masuk akal" ucap Rehan.


"Kak Rehan aku takut"ucap Cinta.


"Gadis kecil tidak usah takut, aku akan selalu melindungimu, kita akan selalu bersama"ucap Rehan.


"Kak Rehan aku takut terjadi sesuatu padamu" ucap Cinta.


"Gadis kecil aku akan baik-baik saja, doakan aku selalu, agar Allah senantiasa melindungiku"ucap Rehan.


"Doaku selalu menyertaimu suamiku"ucap Cinta.


Setelah itu Rehan dan Cinta berangkat sekolah.


Rehan membonceng Cinta naik sepeda. Cinta terus memeluk pinggang Rehan.


"Kak Rehan apa tadi kau ke asrama mengambil sepedaku?"tanya Cinta.


"Iya dong sayang, sepeda ini penuh kenangan cinta diantara kita, dari sepeda inilah awal kedekatan kita"ucap Rehan.


"Kak Rehan memang paling pinter romantisnya" ucap Cinta.


"Seorang suami harus pandai membuat momen romantis biar tiap hari istri cantiknya ini tersenyum bahagia"ucap Rehan.

__ADS_1


Cinta semakin memeluk erat Rehan dalam pelukannya seakan tak ingin jauh-jauh darinya.


************


Pagi itu Pak Theo naik mobilnya menuju pemakaman. Sampai di Pemakaman Mawar Hitam, Pak Theo turun dari mobilnya membawa seikat bunga mawar merah untuk istrinya tercinta. Dia berjalan menuju pemakaman itu. Pak Theo meletakkan seikat bunga mawar merah itu dibatu nisan istrinya. Disampingnya ada seorang wanita yang sedang berziarah juga. Dia terlihat menangis. Pak Theo menghampirinya karena rasa penasarannya.


"Wanita kenapa kau menangis?"tanya Pak Theo.


"Aku tidak menangis, hanya meneteskan air mata saat berdoa"ucap Kartika.


"Berdoa? apa arti sebuah doa jika tidak dikabulkan, sia-sia saja"ucap Pak Theo.


"Tidak ada yang sia-sia dengan doa, soal dikabulkan atau tidak kita sudah berusaha. Lagi pula Allah Maha Mengetahui, mungkin menurut kita itu baik tapi menurut Allah itu tidak baik karena Allah lebih mengetahui dari pandangan kita yang sempit ini"ucap Kartika.


"Allah? sudah lama aku meninggalkannya. Tapi orang bodoh sepertimu masih menyembahNya" ucap Pak Theo.


"Meskipun kita meninggalkan Allah, tapi Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dia akan kembali membimbing kita ke jalannya, karena sesungguhnya Allah menyayangi hambaNya" ucap Ibu Kartika.


"Wanita sholeha, terdengar membosankan"ucap Pak Theo.


"Apa Anda sedang berziarah juga?"tanya Ibu Kartika.


"Aku sedang mengunjungi makam istriku, kau sendiri?"tanya Pak Theo.


"Aku sedang berziarah dimakam suamiku"ucap Ibu Kartika.


"Suamimu mati karena apa?"tanya Pak Theo.


"Ditabrak orang saat sedang menyeberang jalan" ucap Ibu Kartika.


"Kau harus membalas perbuatan orang yang sudah menabrak suamimu, mereka harus mendapat balasan yang setimpal"ucap Pak Theo.


"Ikhlas"ucap Ibu Kartika.


"Apa? ikhlas? kau gila?"ucap Pak Theo.


"Ikhlas kata yang yang paling tepat dan mengobati hati karena kehilangan. Setiap manusia pernah khilaf dan melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak. Takdir kematian sudah digariskan, kita hanya bisa menerimanya, dengan ikhlas baik yang meninggalkan dan yang ditinggalkan akan mendapatkan kebahagiaannya masing-masing. Berbeda jika ikhlas tak hadir dihati kita. Hidup dipenuhi dendam, tak ada ketenangan batin dan tak ada kedamaian. Hidup hanya sementara, sulit untuk menempatkan kata ikhlas itu hingga kembali padaNya"ucap Ibu Kartika.


"............"Pak Theo hanya terdiam.


"Semoga istrimu ditempatkan ditempat yang terbaik, diampuni segala dosa-dosanya dan diringankan siksa kuburnya"ucap Ibu Kartika.


"............."Pak Theo masih terdiam.


"Assalamu'alaikum"ucap Ibu Kartika.


"Bagaimana caramu bisa ikhlas?"tanya Pak Theo.


"Merelakan dan memulai hidup baru"ucap Ibu Kartika sambil menengok ke belakang.


Ibu Kartika meninggalkan Pak Theo setelah bicara padanya. Pak Theo terdiam ditempat itu. Dia memikirkan ucapan wanita yang baru ditemuinya itu.


***********


Cinta dan Raka keluar dari kelas menuju halaman sekolah. Semua siswa berbaris dengan tertib untuk mengikuti gerak jalan santai dijalan raya.


Rehan terus memandang istri tercintanya hingga membuat Cinta senyum-senyum sendiri.


"Cinta, kau senyum kenapa?"tanya Raka.


"Gak kok Kak cuma senyum aja"ucap Cinta.


Raka memperhatikan pandangan Cinta ke arah Rehan disebelah kanan terhalang satu siswa dari Raka.


"Oh....Reni berkelaian itu"ucap Raka.


"Kak Raka dia sahabatku, kau tidak boleh bilang dia berkelaian"ucap Cinta.


"Jangan dekat-dekat dengannya, dia itu aneh dan bisa jadi menyukaimu, kau mau jeruk makan jeruk"ucap Raka.


"Kak Raka tidak boleh suudzon dulu, Reni baik loh" ucap Cinta.


"Jaga jarakmu dengan Reni itu, nanti suamimu  orang asing itu akan cemburu padamu"ucap Raka.


"Reni itu ya suamiku Kak Raka"batin Cinta.


"Iya Kak Raka"ucap Cinta.


Gerak jalan itu dimulai semua siswa turun ke jalan raya dengan tertib dan mematuhi aturan dari sekolah. Raka tak sengaja bepapasan dengan Azkia.


"Kura-kura kenapa kau lelet sekali, mana kesombongan yang biasa kau pamerkan, tumben kau jadi pendiam"ucap Raka.


"Ayam jago kau memang biang mengoceh ya, aku belum menyembur kau sudah menyiramku duluan"ucap Azkia.


"Pasti kau belum sarapankan jadi lelet dan pucat seperti itu"ucap Raka.

__ADS_1


"Bawel sekali ayam jago ini, setiap bertemu kena kokokkannya"ucap Azkia.


"Ayo lomba lari denganku, biar kesombonganmu itu turun kasta"ucap Raka.


"Siapa takut, aku masih bisa menyelamatkan harga diriku"ucap Azkia.


"Oke, kita belok ke kanan memisahkan diri dari barisan, lalu bertemu digaris finish kembali ke barisan"ucap Raka.


"Ayam jago lihat kura-kura ini sudah menyewa roket jadi tak mungkin kalah darimu"ucap Azkia.


"Paling roketmu KW, dijalan mogok"ucap Raka.


"Buktikan, jangan berkokok terus"ucap Azkia.


Azkia dan Raka berlari belok ke kanan meninggalkan barisan. Mereka balapan lari satu sama lain kejar mengejar.


"Ayam jago udah habis bensinnya, wuuuuu......." ucap Azkia meledek Raka dibelakangnya.


"Kura-kura handphonemu jatuh"ucap Raka.


"Mana-mana?"ucap Azkia mencari handphonenya kebawah jalan.


Raka melewati Azkia yang sibuk mencari habdphone miliknya.


"Kura-kura bodoh"ucap Raka mendahului Azkia.


Azkia baru sadar dia dikerjai Raka.


"Hei ayam jago kau curang"ucap Azkia.


"Kejar aku kalau bisa, kura-kura lelet"ucap Raka.


"Aku akan membalasnya lihat saja nanti"ucap Azkia.


Raka tersenyum sepanjang berlari, dia senang bisa berlari jauh didepan Azkia.


"Mana Si kura-kura kok belum nongol juga"ucap Raka.


Raka menghentikan langkah kakinya, dia menengok ke belakang. Dia melihat Azkia duduk dibawah pohon tepi jalan.


"Kura-kura benar-benar mau mengerjaiku"ucap Raka.


Raka akhirnya menghampiri Azkia yang duduk dibawah pohon tepi jalan itu.


"Kura-kura trikmu ini bisa ku tebak, kau mau menangkan, ayo lari. Gak usah pura-pura sakit" ucap Raka.


"Diamlah ayam jago, dadaku sakit tahu"ucap Azkia.


"Apalagi yang sakit kura-kura, biar Dokter Raka yang mengobati"ucap Raka meledek Azkia.


"Ugh....ugh...ugh...."Azkia batuk berdarah lagi.


Melihat itu Raka langsung mendekati Azkia.


"Kura-kura kau bisa sakit beneran?"tanya Raka.


"Kau pikir aku hantu yang gak perlu sakit"ucap Azkia.


"Kura-kura kau pucat sekali, naiklah kepunggungku aku akan menggendongmu"ucap Raka.


"Aku takut dengan niat baikmu ayam jago, pasti kau mau menjatuhkanku digot"ucap Azkia.


"Naiklah ke punggungku, aku serius"ucap Raka dengan nada yang serius.


Raka membalikkan badannya lalu berjongkok.


"Aku berat ayam jago"ucap Azkia.


"Nanti kau harus mentraktirku makan dan minum setelahnya"ucap Raka.


"Itu hal yang mudah"ucap Azkia.


Azkia naik ke punggung Raka kemudian Raka menggendongnya sambil berjalan menuju sekolah.


"Kura-kura kau berat juga"ucap Raka.


"Oya, tadi aku sudah mengingatkanmu ayam jago"ucap Azkia.


"Aroma tubuhnya harum, walaupun dia garang tapi manis juga kalau lagi sakit"batin Raka.


"Ayam jago jangan berpikir jorok, awas ya, pedangku akan menebasmu hingga potongan terkecil"ucap Azkia.


"Kura-kura bukannya pedangmu disita Pak guru ya"ucap Raka.


"Aku masih punya yang dirumah, awas saja kalau kau macam-macam"ucap Azkia.

__ADS_1


"Kau ini memang kura-kura ganas dan kejam" ucap Raka.


__ADS_2