
"Kedua putri kesayangan Papa?" ucap Haura.
Haura terkejut dengan ucapan Rehan. Dia juga merasa aneh Papanya memeluk dirinya dan Alina.
"Haura, Alina saudara kandungmu" ucap Rehan.
"Saudara kandungku?" ucap Haura semakin terkejut.
"Iya nak, Alina adalah Alea, kakak kembarmu" ucap Rehan.
"Jadi aku anak Papa?" tanya Alina.
"Iya nak, kau anak Papa. Alea nama aslimu" ucap Rehan.
"Alina kau kakak kembarku" ucap Haura.
"Iya Haura, ternyata kita bersaudara" ucap Alina.
"Papa" ucap Alina dan Haura memeluk Rehan dengan erat.
Rehan begitu senang bisa memeluk kedua putri cantiknya. Kini dia bisa berkumpul dengan semua anggota keluarganya. Setelah mereka puas berpelukan. Rehan duduk dilantai dengan kedua putrinya. Dia mulai memperkenalkan Haura pada Rafael.
"Nak Rafael ini Haura adik kembar Alina" ucap Rehan.
"Haura, jangan panggil aku Hau atau Ura. Tapi panggil aku Haura" ucap Haura memperkenalkan diri.
"Rafael, senang bertemu denganmu" ucap Rafael.
Mereka berbincang-bincang dengan segala hal. Malam itu Rehan bicara empat mata dengan Alina. Sedangkan Rafael keluar dari kontrakkan itu.
"Alina besok Papa akan kembali ke kota A. Papa harap kau mau ikut Papa pulang ke kota A bersama Haura juga" ucap Rehan.
"Bagaimana ya Pa?" ucap Alina bingung.
"Mamamu pasti sangat senang bisa bertemu denganmu" ucap Rehan.
Alina bingung tapi dia ingin bertemu Mamanya juga termasuk anggota keluarganya yang lain.
"Baiklah Pa, Alina ikut Papa" ucap Alina.
__ADS_1
Air mata dipipinya pun menetes tanpa sadar. Dia harus meninggalkan kota B tempat kelahirannya, tempat dia tumbuh kembang dan tempat tinggal Rafael.
"Pa apa aku boleh mengajak Kak Rafa ikut bersama kita?" tanya Alina.
"Bukannya Papa tidak setuju, tapi Rafael sudah bicara dengan Papa sebelumnya kalau dia tidak akan ikut ke kota A. Dia ingin kau ikut Papa, nanti dia akan mengunjunginmu sesekali" ucap Rehan.
Alina berurai air mata. Dia tak menyangka harus berpisah dengan Rafael. Tapi hidup adalah pilihan dan Alina sudah memilihnya. Selesai bicara dengan Rehan, Alina keluar dari kontrakkannya. Dia bicara dengan Rafael diteras kontrakkannya. Alina duduk disamping Rafael dengan menyandarkan kepalanya dibahu Rafael.
"Kak besok aku akan ke kota A, apa kakak benar-benar tidak akan ikut?" tanya Alina.
"Tidak, ada sesuatu hal ditempat ini yang masih belum selesai, kakak harus tinggal disini. Tapi kakak janjinakan mengunjungimu sesekali" ucap Rafael.
"Aku pasti sangat merindukanmu kak" ucap Alina sambil menangis.
Rafael melepas sandaran kepala Alina lalu memeluknya erat.
"Alina kau tahu sakit rasanya harus berpisah denganmu, biasanya kita selalu bersama tapi kita harus terpisah. Kakak yakin semua ini demi kebaikkanmu" ucap Rafael.
"Kakak, Alina sayang kakak" ucap Alina.
"I Love You Alina" ucap Rafael.
Alina terkejut dengan ucapan cinta dari Rafael.
"Kak, kita saudara, itu tak pantas kau katakan dan lakukan padaku" ucap Alina dengan tatapan dingin dan ucapan yang menegaskan.
"Alina, aku benar-benar mencintaimu bukan sebagai adik tapi seorang yang ku cintai" ucap Rafael.
"Lupakan ucapan itu, kita kakak adik, bukan begitu. Aku sayang kakak sebagai kakakku dan aku tidak ingin perasaan ini berubah menjadi hal lain, aku tidak bisa hik hik hik" ucap Alina.
"Kau benar, akulah yang memiliki perasaan yang salah. Seharusnya aku ini kakakmu" ucap Rafael.
Alina masih belum bisa jika diantara Rafael dan dirinya ada perasaan cinta. Karena selama ini mereka berhubungan sebagai kakak dan adik. Perasaan cinta justru membuatnya canggung bersama Rafael.
"Sepertinya aku memang harus ikut bersama Papa, aku tidak bisa tinggal lagi denganmu karena kakak bukan kakak yang dulu lagi" ucap Alina.
Rafael memegang tangan Alina. Dia begitu takut kehilangan Alina.
"Alina, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat hubungan kita menjadi canggung, maafkan kakak" ucap Rafael meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Terimakasih selama ini sudah merawat dan menjagaku kak. Aku pasti akan merindukan masa saat kita bersama. Tapi maaf aku tidak bisa jadi kekasihmu. Rasanya aneh jika kakak berubah jadi orang lain. Aku sayang kakak tapi aku tidak ingin hubungan ini berubah jadi canggung" ucap Alina.
Disisi lain Rafael lega sudah mengungkapkan perasaannya pada Alina tapi disisi lain dia bersedih karena hubungannya kini terasa canggung karena ungkapan cintanya.
"Aku masuk dulu kak, besok aku ikut Papa ke kota A" ucap Alina.
Alina berjalan masuk ke dalam kontrakkannya. Dis tidur disamping Haura disebelah kanan gorden. Sementara Rehan tidur disebelan kiri gorden. Alina berurai air mata. Perasaannya kacau. Dia tidak tahu rasanya semuanya terlalu tiba-tiba.
"Kak Rafa, haruskan kita seperti ini? rasanya semuanya jadi canggung, aku tidak ingin semuanya berubah. Ini terlalu tiba-tiba. Aku bingung" batin Alina.
Alina menangis. Dia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Begitupun dengan Rafael yang juga menangis diluar kontrakkan. Dia terlihat menyesali tindakkannya ucapan dan tindakkannya pada Alina. Walaupun hatinya tak bisa dibohongi, ada rasa cinta untuk Alina. Tapi mungkin semua ini terlalu tiba-tiba jadi semuanya menjadi canggung.
Pagi harinya Rehan dan kedua putrinya bersiap menunggu mobil pribadi yang menjemputnya. Rafael terlihat terdiam. Dia tak berani bicara apapun pada Alina. Matanya hanya melihat Alina yang berusaha memalingkan wajahnya dari Rafael. Semuanya berubah menjadi berjarak dan kaku. Rafael dan Alina sama-sama bingung dan tidak berani bicara satu sama lain. Hingga mobil pribadi yang menjemput Rehan datang.
"Nak Rafael, Om pamit dulu ya. Terimakasih atas semuanya" ucap Rehan.
"Iya Pak, aku titip Alina" ucap Rafael.
"Pasti, Om akan menjaga Alina dengan baik" ucap Rehan.
"Kak Rafael, Haura pergi dulu. Mampir loh ke rumah" ucap Haura.
Rehan dan Haura masuk ke mobil. Mereka membiarkan Alina bicara dulu pada Rafael. Alina terlihat terdiam, Rafael menghampirinya. Dia berdiri tepat disamping Alina.
"Maafkan ucapan dan perbuatan kakak semalam. Lupakan semua itu, anggap saja semuanya tak pernah terjadi. Kakak masih sama seperti kakakmu yang dulu Alina. Selamat tinggal, semoga kau bahagia disana. Kakak pasti merindukanmu" ucap Rafael.
Alina meneteskan air matanya. Ucapan Rafael membuatnya menangis. Sakit rasanya dengan perpisahan ini.
"Kak aku pergi dulu" ucap Alina singkat.
"Ya" ucap Rafael.
Alina melangkah berjalan menuju mobil. Air matanya semakin berjatuhan dipipinya tak terhitung. Langkahnya semakin berat dan menyakitkan. Alina berhenti melangkah dan menangis.
"Hik hik hik"
Alina terus menangis. Rasanya berat berpisah dengan Rafael. Alina berbalik dan berlari ke arah Rafael, dia memeluk Rafael erat. Begitupun Rafael juga memeluknya erat.
"Kak aku akan merindukanmu hik hik hik" ucap Alina.
__ADS_1
"Aku juga akan merindukanmu adik kecil" ucap Rafael.
Mereka berpelukan melepas kesedihan diantara keduanya. Lalu Rafael mengantar Alina hingga naik ke dalam mobil. Dia melambai saat mobil itu meninggalkan tempat Rafael berpijak. Alina terus menangis sepanjang mobil itu meninggalkan tempat Rafael berpijak. Tubuh Rafael mulai menghilang dari kejauhan dan benar-benar menghilang bersama laju mobil yang semakin menjauh.