
Albern terpaksa turun dari mobil. Dia kesal melihatku bersama orang lain. Saat dia hendak mendekat, matanya tercengang ketika melihat Axel yang sedang duduk bersamaku sambil mengajak Bobo berbicara.
"Axel? apa hubungannya Axel dengan Aara? apa Bobo anak mereka?" Albern menduga-duga.
Albern berdiri dekat tukang ketoprak di samping tukang sate. Dia terus melihat ke arah kami. Perasaannya tak menentu. Campur aduk.
"Baru kali ini aku melihat Axel terlihat happy bersama orang lain," ungkap Albern. Dia hanya bisa mengamati kami. Tak berani mendekat.
Aku dan Axel makan sate kambing. Tak ku sangka Axel suka makan apapun. Ternyata dia tak seperti penampilannya yang sok keren dan cool. Makan di pinggiran begini tidak membuatnya gengsi. Selesai makan kami berbincang sebentar.
"Lemot kau sudah mengerjakan tugas bahasa Inggris?" tanya Axel.
"Belum, aku gak ngerti, tanya Dodo dan Ami, jawabannya cuma yes or no doang," jawabku.
"Kapan otakmu sedikit nyambung dari arus positif ke negatif?" ujar Axel.
"Makanya ajari aku," pintaku.
"Bukannya sudah diajarkan Bu Yuyun?" tanya Axel.
"Iya sih, tapi kadang aku bingung, maklum bahasa Inggris dasar saja aku tak paham," ungkapku.
Axel mengusap kepalaku perlahan karena gemas melihatku yang tak mengerti ini itu.
"Oke aku akan menyalurkan sedikit kepintaranku padamu," ujar Axel.
Aku tersenyum. Akhirnya sensei akan menyalurkan jurus pintarnya padaku. Semoga dapat pencerahan langsung. Dari kejauhan Albern sangat kesal sampai menendang gerobak tukang ketoprak.
Dug ...
"Eh Mas, jangan seenaknya nendang gerobak saya." Tukang ketoprak memarahi Albern.
"Diam! aku kesal," ujar Albern.
"Kesel sih kesel, jangan ketoprak saya jadi korban juga."
Albern diam. Tatapan kesalnya ke arah kami. Melihat itu tukang ketoprak tertawa.
"Makanya Mas, kalau suka sama cewek gercep dong, kalah star jadi milik orang."
Albern melihat ke arah tukang ketoprak.
"Cewek mah simple, kasih perhatian tiap hari juga luluh."
Pluuk ...
Albern melempar beberapa uang kertas di atas gerobak tukang ketoprak.
"Alhamdulillah, bisa buat mudik, makasih Mas." Tukang ketoprak kesenengan dapat duit dari Albern. Dengan perasaan yang masih kesal Albern pergi meninggalkan tempat itu.
Aku dan Axel pulang ke rumah. Kami belajar sebentar di teras rumah. Axel mengajari beberapa pelajaran untuk besok.
"Lemot kau udah ngerti?" tanya Axel.
"Paham, semoga menetap gak ngekos doang ilmunya," ucapku.
__ADS_1
"Makanya rajin membaca, jangan sekali doang," ujar Axel.
"Oke, mulai hari ini aku akan rajin membaca," jawabku.
Tak lama Axel pulang. Dia kembali ke rumahnya. Baru sampai kamarnya, Raina memeluknya dari belakang.
"Axel kemana saja?" tanya Raina.
"Aku pergi sebentar," jawab Axel.
Axel memegang tangan Raina yang berada di perutnya.
"Kenapa tanganmu kasar? apa Mami menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah lagi?" tanya Axel.
"Nggak, tapi aku ...," jawab Raina.
Axel berbalik, melihat Raina menundukkan kepalanya.
"Kau kerja di luar sana?" tanya Axel.
Raina mengangguk.
Axel langsung memeluk Raina. Pelukan itu cukup membuat Raina bahagia.
"Kau tak perlu bekerja, kalau butuh uang tinggal bilang," ujar Axel.
"Aku hanya ingin mandiri," ungkap Raina.
"Baiklah, tapi jangan memaksakan diri," kata Axel.
Raina menatap wajah Axel. Mendekati wajahnya, hendak menciumnya tapi Axel memalingkan wajahnya.
"Raina aku mau mandi," ujar Axel.
"Axel kita suami istri, aku mulai mencintaimu, bisakah kita seperti selayaknya suami istri?" tanya Raina.
Axel memegang pipi Raina.
"Beri aku waktu untuk bisa mencintaimu," ucap Axel.
"Apa karena pernikahan ini hanya caramu menolongku? jadi kau tidak bisa mencintaiku?" tanya Raina.
"Bukan, mencintai seseorang tak semudah menikahinya, aku membutuhkan waktu untuk itu," ujar Axel.
"Aku akan menunggu," ucap Raina.
Axel mengangguk. Dia melepas tangannya dan berjalan masuk ke toilet. Sementara Raina masih terdiam, berdiri mematung. Teringat saat bertemu Axel di jembatan satu tahun lalu.
Flash Back
Malam itu Raina berdiri di atas jembatan. Keluarganya, tetangga, teman sekolahnya sudah mengolok-oloknya. Parahnya ibu tirinya mengusir Raina dari rumah. Perutnya sudah besar, kehamilannya sudah menginjak 8 bulan. Tak bisa ditutupi lagi. Raina hanya bisa menangis dan tak tahu harus mengadukan nasibnya pada siapa. Di saat seperti itu Axel yang kebetulan melewati jembatan itu melihat Raina. Dia segera menghampirinya.
"Hei kau gila," ucap Axel.
Raina tetap terpaku dan menangis. Dia tak peduli dengan ucapan Axel.
__ADS_1
"Lihat perutmu, pikirkan keselamatanmu dan bayimu, semua pasti ada jalan keluarnya, bunuh diri bukan solusi," ungkap Axel.
"Solusi? masa depanku sudah hancur, solusi apa yang bisa merubah semuanya? aku hanya mendapat hinaan, cibiran dan diusir dari rumahku," ujar Raina.
"Tapi bunuh diri juga bukan solusi yang terbaik, kau hanya menambah penderitaanmu, bukan menguranginya," ucap Axel.
"Aku sudah tidak punya siapapun yang mau menerima kehadiranku dan bayi di perutku, untuk apa aku hidup lagi," kata Raina.
Axel berdiri di samping Raina.
"Kalau begitu ayo melompat bersama," ajak Axel.
"Kau gila? untuk apa kau melakukan ini? kau ingin mati sia-sia?" tanya Raina.
"Lalu apa kau tak mati sia-sia?" tanya Axel.
Raina terdiam. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya.
"Ayo turun, aku akan membantu mencari solusinya," ajak Axel
Axel turun ke bawah, berdiri di bawah Raina.
"Turun!" perintah Axel.
Raina menatap Axel yang ada di depannya.
"Ayo turun!" pinta Axel.
Raina mengangguk, dia turun dibantu Axel yang menangkap tubuhnya, kemudian mereka duduk di kursi tak jauh dari jembatan itu. Raina menceritakan semua yang menimpanya pada Axel.
"Aku akan menikahimu," ucap Axel.
"Tapi kau bukan ayah bayi ini, kenapa kau harus ikut menanggung beban ini," ujar Raina.
"Ayo ikut bersamaku, pulang ke rumahku," ujar Axel.
"Axel ...," ucap Raina.
"Sudah malam, kau pasti lelah," ucap Axel.
Axel mengajak Raina pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, Axel mendapatkan kemarahan ibunya.
"Axel kau membawa wanita murahan ini ke dalam rumah? kau membuatku jijik, kau seperti ayahmu yang membawa wanita murahan itu," ujarnya.
Ayah Axel bernama Hans Prawira, anak semata wayang dari Keluarga Prawira. Ibu Axel bernama Jonita Tiana, istri pertama Hans, karena Jonita tak kunjung hamil, Hans terpaksa menikahi Kirana Larasati. Dengan pernikahannya dengan Kirana, mereka dikaruniai anak lelaki. Albern merupakan anak semata wayang dari pernikahan keduanya Hans. Selang belasan tahun, Jonita akhirnya hamil. Namun kehamilannya tak mudah. Dia memiliki masalah dengan kandungannya. Selama 9 bulan, dia harus bed rest. Selama itu Hans menemaninya. Kirana tinggal bersama Keluarga Prawira, sedangkan Jonita tinggal di rumah besar yang milik Hans. Setelah sembilan bulan Jonita akhirnya melahirkan Axel. Albern dan Axel saudara seayah beda ibu. Mereka tak pernah akrab dikarenakan tempat tinggal dan kedekatan yang tak pernah dijalin keduanya. Apalagi masalah ibu mereka yang tak pernah akur membuat keduanya jarang bertemu ataupun berbicara satu sama lain.
"Bu jangan samakan aku dan ayah, wanita ini Raina namanya, dia calon istriku," ujar Axel.
"Apa? wanita ini calon istrimu? kau gila?" tanya Jonita.
"Ibu setuju atau tidak, aku akan menikahinya!" tegas Axel.
"Axel!" pekik Jonita.
Sejak saat itu Axel bersikeras menikahi Raina. Dia tak peduli kemarahan ibunya. Dia menikahi Raina tanpa persetujuan ibunya. Sampai terpaksa keluar dari rumah. Axel menikahi Raina usai Raina melahirkan. Mereka hidup bersama di kontrakkan. Axel sampai kerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, untung saja Hans bisa menyakinkan Jonita, dan membawa Axel dan Raina kembali bersama anak yang dilahirkan Raina.
__ADS_1