ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 48


__ADS_3

Raina duduk di kelas. Dia berangkat lebih pagi dari teman-teman sekelasnya. Tiba-tiba Patrick datang dan duduk di samping Raina. Dia mengeluarkan sebuah kartu undangan dari tas miliknya. Memberikan pada Raina.


"Ini apa?" tanya Raina sambil memegang undangan itu. Dia tidak tahu kenapa Patrick memberinya undangan.


"Undangan ulang tahunku," jawab Patrick sambil tersenyum padanya.


"Kau ulang tahun?" tanya Raina yang masih memperhatikan undangan di tangannya.


"Iya, tapi hanya kau yang ku undang di kelas ini," ujar Patrick.


"Kenapa hanya aku, teman-teman lain tak diundang?" tanya Raina. Rasa penasaran membuatnya ingin tahu alasan Patrick yang hanya mengundangnya. Padahal biasanya ulang tahun dihadiri semua teman sekelasnya.


Patrick menggeleng.


"Hanya kau yang paling istimewa dari semuanya," ujar Patrick.


Raina terdiam. Dia heran kenapa Patrick hanya mengundangnya. Tidak teman-teman sekelasnya.


Padahal dia dan Patrick baru kenal, kenapa Patrick mau mengundangnya.


"Harus datang! jangan bilang tidak!" Patrick langsung berdiri, berjalan meninggalkan Raina usai berbicara.


"Patrick ...," panggil Raina. Dia harus tahu alasannya.


Patrick tak menggubris panggilan Raina berlalu meninggalkan kelas. Raina hanya diam terpaku, melihat undangan di atas meja untuknya. Masih bingung belum terpikir olehnya untuk membaca isinya. Tak lama aku, Dodo, Ami baru datang ke kelas. Kami meletakkan ransel lalu duduk bersama Raina. Melihat ada undangan di tangan Raina. Undangan berwarna biru tua. Terlihat elegan. Mengusik rasa penasaran kami berempat.


"Undangan apa itu?" tanyaku penasaran.


"Undangan dari Patrick," jawab Raina.


"Undangan makan gratis ya?" tanya Ami antusias. Soal makan apalagi gratis dia akan berdiri di urutan pertama meski harus mengantri berjam-jam. Yang penting kenyang. Sisaan orang juga masih lumayan dari pada kepala ikan asin.


"Ya Ami-Ami, soal makan langsung konek, jiwa misqueenmu itu bisa gak dibendung dulu," ujar Dodo. Dia sangat mengenal Ami. Hanya makanan dan makanan di otaknya itu.


"Ya siapa tahu Ami bisa numpang makan gratis, tinggal bawa kado jamur langka yang ada di kebon Ami beres," ujar Ami. Maklum Ami tak punya uang, tiap hari saja tak pernah jajan. Paling nebeng sana sini ikut makan sebagai gantinya dia jadi seksi kebersihan dan kenyamanan setempat.


"Tenang lo diundang Mi, bagian membersihkan sisa-sisa makanan yang tak habis di piring lalu cuci piring sekalian," ucap Dodo. Sudah jadi kebiasaan Ami jadi tukang cuci piring dihajatan. Dapet sisaan makanan plus dapet bayaran dikala gabut.


"Parah lo Do, gue emang biasa makan makanan sisa di piring kalau kondangan, hebat lo tahu aja," ucap Ami.


"Ha ha ha." Aku dan Raina tertawa. Kedua teman absurd-ku ini memang beda dari yang lain.


"Berarti kita semua dapet undangan itu juga tar ya?" tanyaku pada Raina.


"Gak, kata Patrick cuma aku yang dapet undangan ini," jawab Raina.


"Kok bisa, kita gak diundang, padahal masih spesies manusia di kelas ini, kecuali Dodo," ujar Ami.


"Enak aja, aku memang serumpun dengan kambing tapi masih spesies manusia purba," ujar Dodo.

__ADS_1


"Iya ya kok bisa kita tidak diundang, kamu diundang?" tanyaku mulai penasaran.


"Gak tahu," ucap Raina.


Aku terdiam. Merasa aneh Patrick hanya mengundang Raina tidak dengan kami semua. Apalagi dia terhitung baru di kelas kami.


***


Malam itu Raina berdandan. Dia hendak pergi ke rumah Patrick. Aku duduk di ranjang memperhatikan Raina berdandan. Sebenarnya aku cemas padanya. Namun Raina tidak enak jika harus menolak datang ke ulang tahun Patrick.


"Raina, kau yakin datang?" tanyaku.


"Iya," jawab Raina.


"Mau aku temani?" tanyaku.


"Tidak usah, kau kan harus menjaga Bobo," jawab Raina.


"Iya sih, tapi aku merasa aneh aja Patrick mengundangmu tidak dengan yang lainnya," ujarku.


Raina terdiam sesaat. Memegang bedaknya, sambil menatap cermin di depannya.


"Mungkin karena saat itu, aku bertemu Patrick duluan sebelum ke kelas," jawab Raina.


"Bisa jadi, semoga aja benar, kau harus tetap berhati-hati," ujarku.


Tak lama Raina berangkat. Aku sedikit cemas melihatnya pergi. Dia naik taksi lalu pergi begitu saja.


Aku menunggu Raina hingga larut malam tapi Raina tak kunjung pulang. Aku turun ke lantai bawah, menunggu Raina hingga ketiduran di sofa. Seseorang membelai pipiku, ku kira Raina, saat terbangun, ternyata Albern.


"Suamiku," ujarku.


"Kenapa sayang tidur di sini?" tanya Albern. Dia masih mengenakan setelan jas. Berarti Albern baru saja pulang dari kantor. Ku peluk langsung suamiku yang baru pulang.


"Kangen ya?" tanya Albern.


"Iya, habis suamiku pulang larut malam akhir-akhir ini," jawabku.


"Di kantor lagi audit jadi pulangnya larut malam," ujar Albern.


Ku peluk semakin erat. Hangat tubuhnya membuatku nyaman. Rasanya bebanku hilang. Bersamanya aku merasa aman.


"Sayang kau belum jawab pertanyaanku, kenapa tidur di sini?" tanya Albern.


Aku melepas pelukanku, menatap wajah suamiku.


"Menunggu Raina, tadi pamitnya dia pergi ke ulang tahun Patrick teman sekelas kami," jawabku.


"Ini sudah jam 2 malam, tak mungkin belum pulang juga," ujar Albern.

__ADS_1


"Iya sih, masa ulang tahun sampai larut malam," ucapku.


"Tadi pergi naik apa?" tanya Albern.


"Taksi," jawabku.


Albern langsung mengeluarkan handphone-nya. Dia memintaku memberi tahu taksi yang dipesan tadi, kemudian Albern menelpon customer servis taksi tersebut. Beberapa saat kemudian Albern berbicara denganku.


"Raina turun di Jalan Maribar, apa itu jalan rumah Patrick?" tanya Albern.


"Tunggu," jawabku.


Aku naik ke lantai atas. Mengambil buku kesiswaan yang ada nama dan alamat kita satu kelas. Kebetulan kemarin aku pinjam untuk pembagian kelompok praktek fisika. Aku turun kembali ke lantai bawah menghampiri Albern.


"Ini daftar nama dan alamat satu kelasku," ujarku sambil meletakkan buku itu di atas meja. Segera Albern membuka buku itu. Dia mencari nama Patrick dan mencocokkan dengan alamat yang tadi di dapatnya.


"Ini bukan alamat rumah Patrick, lalu kenapa Raina turun di jalan itu? bukannya dia mau pergi ke rumah Patrick?" tanya Albern.


"Iya ya, kenapa Raina malah turun di jalan yang bukan ke rumah Patrick?" ujarku penuh tanya.


"Aku coba telpon Patrick dulu," ujar Albern.


Aku mengangguk.


Albern langsung menelpon Patrick dari no telpon yang tertera di buku, hanya aku, Dodo, Ami, dan Raina yang tidak mencantumkan nomor telpon karena kami tidak punya handphone.


"Hallo," ucap Albern.


"Ya hallo," jawab Patrick.


"Ini Patrick?" tanya Albern.


"Iya, siapa ya?" tanya Patrick.


"Albern, kakaknya Raina, tadi katanya Raina pergi ke ulang tahunmu, apa dia datang?" tanya Albern.


"Tidak Kak, justru dari tadi aku menunggu Raina datang, tapi tak kunjung datang, aku mau telpon ke Raina tapi diakan gak punya handphone, aku pikir Raina gak jadi datang," jawab Patrick.


"Oh gitu, kabarin kalau kamu tahu di mana Raina, mungkin saja dia terlambat datang," ujar Albern.


"Pasti Kak," jawab Patrick.


Albern menutup telponnya. Dia menghampiriku yang cemas memikirkan Raina.


"Raina tidak datang ke ulang tahun Patrick, justru katanya Patrick juga menunggu kedatangan Raina, dia mengira Raina tak jadi datang," ujar Albern.


"Terus Raina ke mana?" tanyaku.


Albern terdiam. Dia memikirkan sesuatu

__ADS_1


__ADS_2