
Pagi ini hari Sabtu. Aku pergi membawa Bobo ke Posyandu di Balai Desa. Untung Ami sahabatku mau menemaniku. Banyak ibu-ibu berkumpul membawa anak-anak mereka untuk di imunisasi, ditimbang dan diberi vitamin. Ini kali pertama aku mengantar Bobo imunisasi. Ternyata ramai sekali. Semua orang melihat ke arahku, mungkin mereka berpikir anak kecil sepertiku sudah punya anak. Mana Bobo montok dan lucu, mereka gemas melihatnya. Colekkan tak terelakkan, Bobo yang lucu jadi tontonan. Aku dan Ami duduk di teras bersama ibu-ibu yang sedang mengobrol.
"Neng itu anakmu?"
"Iya Bu," jawabku.
"Lucu ya."
"Bapaknya gak nganter?"
Aku hanya menggeleng. Rasa-rasanya ini sering dilontarkan dalam perbincangan di acara gosip. Pertanyaan-pertanyaan netizen yang familiar.
"Cowok gitu kalau diajak imunisasi suka males, malu katanya, banyak ibu-ibunya."
"Kalau kaya gini aja malu, coba suruh ke acara cewek-cewek semok lagi berenang, pasti rajin deh."
"Iya, suamiku kalau ku ajak ngomong sibuk main game, eh kalau temen kantornya ngajak ngomong didengerin banget."
"Apalagi suamiku, temen ceweknya dijajanin, eh aku minta martabak aja perhitungan."
Loh kok ini imunisasi jadi berubah acara curhat dong Mama. Semakin lama mengantri semakin asyik gosipnya. Dari membahas harga cabe naik sampai tuyul lagi nyolong duit, kebablasan sampai ngomongin cara membasmi tikus secara alami.
Aku hanya senyum-senyum. Tiap mau jawab dipotong mulu. Mereka niat gak sih tanya. Mulutku mangap terus, mau bilang A eh dipotong lagi. Lalet sampai minta izin masuk bolak-balik gara-gara mulutku ke buka.
Ami sibuk mengantri, aku tidak tahu dia mengantri apa. Sepertinya mengantri untuk mendapatkan bubuk kacang ijo dan sembako yang berisi susu, makanan pendamping ASI dan biskuit bayi.
"Neng tolong jaga jarak, rambutmu ada kutunya." Lelaki di belakang Ami ngilu melihat kutu yang lagi jalan di baju Ami.
"Bang namanya juga ngantri pasti mepet, soal kutu, dia juga makhluk yang merasa bosan ingin jalan-jalan, gak kasihan apa Bang," sahut Ami.
"Iya sih, tapi jangan jalan-jalan ke tempat saya juga, gatel tar kepala nih."
"Yah Abang, kutu mana mau tinggal di kepala botak, gersang, bisa kena pemanasan global dia kalau di kepala Abang, paling juga si ketek Abang," ujar Ami.
Lelaki kepala botak tambah ngilu. Dia mundur ke belakang, membiarkan nenek omong yang berdiri di belakang Ami.
"Neng gak pakai popok ya?"
Ami menengok ke belakang. Dia heran nenek-nenek bicara soal popok padanya.
"Ya enggaklah Nek, saya dah remaja, lulus SMA mau nikah," sahut Ami.
"Berarti itu di kakimu kotoran siapa?"
Segera Ami melihat ke bawah. Dia langsung meringis saat tahu kakinya menginjak kotoran.
"Ampun deh, siapa yang buang kotoran di sini?" ujar Ami.
__ADS_1
Ami membersihkan sandalnya kemudian mengantri kembali sampai mendapatkan apa yang dimau. Setelah itu dia kembali menemaniku lagi duduk di teras.
"Aara lama juga antri, gabut nih," ujar Ami.
"Gabut gimana? dari tadi kamu gak mau diem," ucapku.
"Habis kalau duduk terus, laper, lihat noh bocah itu bawa camilan banyak gak mau bagi," ungkap Ami.
Aku hanya geleng-geleng. Ami memang gak bisa kalau melihat makanan banyak, apalagi nganggur.
"Aara Camelia." Namaku dipanggil. Segera aku menggendong Bobo bersama Ami masuk ke dalam. Bobo diukur suhu dan berat badannya oleh petugas Posyandu.
"Dede Aara." Petugas Posyandu mengira Bobo namanya Aara.
"Bukan Kak, namanya Bobo." Aku coba menjelaskan.
"Loh kok daftarnya dengan nama Aara Camelia?"
"Iya, soalnya saya belum tahu Kak," ujarku.
"Oh gitu."
Aku tidak tahu prosesi untuk imunisasi seperti apa. Yang jelas intinya ngantri. Di posyandu suara bayi nangis tak terhitung. Belum lagi bocah ribut minta beli umanglah, balonlah, sama boneka barbie, semua itu rejeki untuk para pedagang. Di saat banyak orang berkumpul begini, penjual apapun laku kecuali pedagang yang jualan perabot rumah tangga. Sorry bang ini tidak lagi di pasar mohon dikondisikan wajan sama pancinya. Bisa repot kalau ibu-ibu yang lagi terharu karena anaknya disuntik suruh nawar, emosinya bisa tingkat tinggi.
"Kamu masih muda dah punya anak, udah pernah KB belum?"
"Itu Aara yang biasa buat membasmi panu, kudis, kurap," jawab Ami sok tahu.
"Saya gak pernah panuan Kak, kudisan sekali, kurap jangan deh, perih," jawabku.
Petugas tertawa.
"Aara ku rasa KB itu obat pelancar kentut atau obat untuk meningkatkan gairah lelaki dewasa," bisik Ami semakin ngawur. Otaknya mulai memikirkan hal yang aneh.
"KB itu untuk mencegah kehamilan, biar gak punya bayi lagi dalam waktu dekat. Kamukan masih kecil jangan hamil lagi, repot loh ngurus banyak anak kalau masih bayi semua."
Petugas salah faham. Dia mengira aku ibunya Bobo.
Aku dan Ami terdiam. Mulai paham KB itu apa. Di sekolah mungkin pernah diajarkan tapi aku dan Ami lupa atau otak kami sulit mengsave data baru yang kami dengar. Sambil mengajakku mengobrol petugas mulai menyiapkan jarum suntik. Ku lihat Ami di seberang tempat Bobo mau disuntik. Di sana ada anak kecil mau disuntik juga. Ami sok akrab mengajak anak yang mau disuntik bercanda. Pas waktunya disuntik rambut Ami ditarik.
"Aw ..., sakit nih rambutku, lepas ya dek," pinta Ami.
"Sabar ya Kak biarkan anak saya narik rambut kakak, anteng tuh pas disuntik, biasa nangis." Ibu anak itu meminta pada Ami.
"Iya sih Bu, tapi sakit nih, bisa rontok rambut kribo saya, besok mau ikutan kontes kribo bisa gagal nih kalau ada yang rontok," ujar Ami.
Lagian Ami SKSD banget, siapa suruh juga deketin yang mau disuntik. Sabar Mi, sebentar lagi selesai.
__ADS_1
Aku kembali melihat Bobo yang mau disuntik. Bobo terlihat tersenyum padaku sambil menggerakkan tangannya, lucu banget. Petugas mulai menyuntikkan jarum di tangan Bobo. Bukannya Bobo yang menangis kesakitan justru aku yang menangis.
"Aara, Bobo yang disuntik kenapa kamu yang nangis?" tanya Ami.
"Abis kasihan, pasti dia kesakitan," jawabku.
"Gak tuh, lihat Bobo senyum-senyum aja," ujar Ami.
Benar kata Ami, Bobo tidak menangis saat disuntik malah senyum-senyum. Setelah selesai disuntik kami pulang. Begitupun Ami.
***
Malam harinya Bobo mulai rewel terus. Badannya juga demam. Aku panik, ini pertama kalinya Bobo sakit. Aku sampai menggendong Bobo semalaman. Pundakku pegal tapi Bobo terus menangis, gak mau minum susu. Ku bawa Bobo keluar kamar menuju dapur. Aku mengambil es batu, ku kompresskan ke kepala Bobo tapi Bobo malah tambah nangis dan kaget saat es batu ku letakkan dikeningnya.
"Bodoh, gak ngerti cara merawat anak," ejek Albern yang berdiri di depan pintu dapur.
"Memangnya Tuan bisa merawat bayi, paling juga sibuk merawat wanita-wanita cantik kesepian," balasku.
"Bocah kau ini mulai berani ya sama aku?" ujar Albern.
"Iya, habis Tuan muncul kaya hantu judes," ucapku.
Albern mendekatiku. Dia menatap mataku. Menyudutkanku ke dinding.
"Tuan kita damai saja, gak baik perang di masa sulit, kasihanilah aku sedang dalam posisi menyedihkan," ungkapku.
"Bocah bayimu sakit karena imunisasikan?" tanya Albern.
Aku mengangguk. Dia benar juga Bobo sakit karena efek imunisasinya.
"Beri dia obat penurun panas, ada di laci P3K," ujar Albern.
"Gratiskan?" tanyaku. Jangan sampai buaya darat ini memanfaatkan situasi.
"Di dunia ini tak ada yang gratis, aku lapar masakkan aku mie rebus setelah Bobo tidur," ujarnya.
Sudah ku bilang makhluk dari air ini tak mungkin tiba-tiba baik, paling ujung-ujungnya merintah ini itu.
"Baik Tuan," jawabku.
Albern pergi meninggalkanku. Segera ku ambil obat untuk Bobo. Tak ku sangka banyak obat bayi di kotak P3K, buaya itu sengaja kali menaruhnya. Mana mungkin dia sudah menyediakan obat itu sejak lama.
"Sudahlah, jangan berpikir dia baik, makhluk buaya itu kejam, kancil aja takut, lebih baik aku selalu waspada," ucapku.
Ku berikan Bobo obat penurun panas. Masih agak rewel, mungkin obatnya nunggu dicerna oleh tubuh dulu. Aku menggendong Bobo ke sana ke mari mengelilingi lantai atas sampai kakiku pegal, mengantuk, dan lelah. Tiba-tiba makhluk buaya mengambil Bobo dari tanganku.
"Buatkan aku mie rebus, biar bayimu ku gendong," ujar Albern.
__ADS_1