
"Kenapa kau ada di kamarku?" tanya Albern pada seorang wanita yang sedang berbaring di ranjang.
Wanita yang sedang mengenakan masker wajah dan menutup mukanya dengan majalah itu terkejut mendengar suara Albern. Dia membuka wajahnya. Rambut panjang indahnya tergerai. Tubuhnya terekspose saat dia bangun.
"Astagfirullah," ucap Albern melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat olehnya. Matanya langsung menutup mata.
"Abang, udah buka aja mata abang. Eke ini setengah jadi-jadian, tenang aja abang gak dosa kok liat body eke."
Mendengar suara wanita itu. Kok rasanya setengah jadi-jadian. Dia tak benar-benar wanita. Alias ngondek. Albern membuka matanya melihat wanita di depannya. Benar saja dadanya six page.
"Kau amphibi ya? Ada di daratan dan di airkan?" tanya Albren.
"Ah ..., Eke ada di mana aja masuk, sama Abang juga hayu cus."
"Astagfirullah, kenapa katak ini ada di kamarku," ucap Albern.
"Apa? Katak? Eke Hindun Abang, H-I-N-D-U-N, Hindun, seksikan namanya?"
Albern menelan ludahnya berkali-kali. Seingatnya dari tadi melihat cewek-cewek cantik nan bohai. Ini kenapa makhluk belum jadi seratus persen ada di sini. Seharusnya dia tenang di alamnya.
"Iya, Hindun. Ngomong-ngomong kamu ngapain di kamarku?" tanya Albern.
"Kamar Abang? Ini kamar Eke, sudah 3 hari ini Eke mendiami kamar ini, udah kaya ulet di dalam kepompong deh."
"Oke, tapi ini kamarku, tadi Bu Maryam memberiku kamar ini," jawab Albern. Dia tak tahu kenapa Hindun juga ada di kamarnya padahal jelas-jelas tadi kamar ini diberikan untuknya selama di panti sosial.
"Kalau gitu ini kamar kita berdua Abang, Hindun siap berbagi cinta dan kasih sayang sama Abang." Hindun genit. Mengedipkan matanya dan tersenyum manis manja padahal basi.
"Tunggu, Hindun, Abang udah bersertifikat, dipatenkan memiliki istri yang cantik, jadi Hindun cari yang lain aja, atau perjelas alamnya di mana dulu," sahut Albern.
"Oalah udah ada yang punya toh, Hindun jomblo lagi, padahal dah ngebet kawin lari," ucap Hindun.
"Yang ada pada lari maraton kalau diajak kawin sama kamu," batin Albern. Kok bisa ketemu ini begini. Boro-boro seger mata. Yang ada belekan terus.
"Abang jadi berdiri terus, sini Hindun bantu beberes, lagi off nih, biasa juga pijat plus-plus," ucap Hindu.
"Astagfirullah, kayanya nyebut terus nih deket makhluk satu ini," batin Albern meriang berdekatan dengan Hindun. Mending disuruh bersihin WC se-RT dari pada sekamar sama Hindun makhluk dua alam. Daratan boleh, di air boleh.
"Makasih, tapi aku bisa sendiri," sahut Albern.
"Yaudah, lemari Abang yang warna coklat, yang pink cute itu punya Hindun ya, secute orangnya," jawab Hindun sambil menunjuk dua lemari di sudut ruangan.
Albern melihat kedua lemari itu. Dia mengangguk. Kemudian berjalan menuju lemari berwarna coklat. Meletakkan tas baju yang dibawanya. Membuka lemari.
"Astagfirullah," ucap Albern terkejut melihat BH dan CD pinky ada di dalamnya.
"Ada apa Abang?" tanya Hindun.
Albern mengambil salah satu BH dan CD itu, menunjukkan pada Hindun.
"Ini punyamu Hindun?" tanya Albern.
"Eh iya, belum sempat nyuci jadi dikumpulin dulu di lemari itu, sorry ah Abang," jawab Hindun.
__ADS_1
"Apa? Belum sempat nyuci?" Albern terkejut. Pantas saja bau banget. Asem-asem kecut gimana gitu.
"Tiga hari ini Hindu sibuk perawatan, jadi ditumpuk dulu," sahut Hindun.
Albern terkejut kembali. Melempar CD dan BH itu sembarangan hingga jatuh di muka Hindun.
"Ha ha ha." Albern tertawa puas. Setidaknya barang bau itu kembali pada si empunya.
Hindu langsung mengambil BH dan CD itu dari mukanya.
"Abang, tega banget ah sama Eke, padahal tadinya ini bisa buat kenang-kenangan untuk Abang biar inget Hindun terus," ucap Hindun.
"Oke, aku minta maaf, tapi mulai sekarang jangan ada pakaianmu ada di lemariku, oke?" tanya Albern.
"Oce, hih," sahut Hindun. Dia kembali berbaring dan membaca majalah. Sedangkan Albern merapikan pakaiannya masuk ke dalam lemari. Meletakkan fotoku di atas laci. Foto yang akan membuatnya semangat setiap hari. Albern tersenyum melihat fotoku.
"Abang foto siapa? Cantik ey," ucap Hindun kepo. Meskipun dua alam. Dia tahu bedanya cewek cantik dan tidak.
"Istriku," jawab Albern.
"Oh, pantes gak mau sama Hindun, ternyata istrinya cantik," sahut Hindun.
"Bukan cuma cantik, baik dan humoris," kata Albern.
"Aduh paket lengkap, Hindun tersisih Abang," sahut Hindun.
Albern tertawa. Meskipun harus satu kamar dengan Hindun tapi gak masalah. Lumayanlah hiburan dikala gabut dan bosan.
"Aduh, eke juga bingung kenapa ditangkap dan dibawa ke sini, mungkin karena eke cantik dikira peceka," sahut Hindun.
Albern tertawa kembali.
"Gak papalah, paling gak Hindun ketemu pangeran tampan kaya Abang, gak boring jadinya, kalau malam ada yang ngekepin," ujar Hindun.
"Amit-amit, aku masih tahu gua yang asli ma KW, jadi jangan berharap ya, cukup teman kamar aja," bantah Albern.
"Yaelah Abang ngekepin doang apa ruginya?" ujar Hindun.
Albern merinding. Bener-bener terdampar di pulau menakutkan. Bersama katak yang satu ini.
"Rugilah, gini-gini mantan buaya, masa mainnya ma katak," ujar Albern.
"Oh mantan buaya, pantes digoda Hindun gak mempan, keeanakan gua ya Abang, jadi udah betah, gak mau berpaling sama rasa lain," ujar Hindun.
"Astagfirullah, nyebut terus aku deket sama kamu," ujar Albern.
"Ah ..., Abang bisa aja," sahut Hindun.
"Hindun, aku mau ke Pak Abdul, ikut gak?" tanya Albern.
"Ngapain Abang, paling disuruh nemenin jablay masak, nyuci piring, sama apa gitu," ucap Hindun.
Albern mulai mengerti. Panti sosial ini memang tempat sekolah dan mendidik untuk para wanita malam. Agar mereka tobat dan punya keahlian. Setelah ke luar dari panti sosial, mereka bisa membuka usaha.
__ADS_1
"Beneran gak mau ikut? Dari pada di kamar terus boring," ujar Albern.
Hindun berpikir. Benar juga. Tiga hari ini dia cuma rebahan dan perawatan. Bosen juga di kamar.
"Oke deh, Eke ikut cus," ucap Hindu.
"Pakai baju, mau dipinjemin bajuku?" tanya Albern.
"Gak ah, Hindun bajunya beda sama Abang," sahut Hindun.
"Yaudah, buruan. Ku tunggu di luar," ujar Albern.
"Oke Abang," sahut Hindun.
Albern ke luar dari kamar. Berdiri di depan pintu. Dia melihat halaman. Beberapa wanita menggoda dan menghampirinya. Mereka mendekati Albern. Mengelus tangan, dada dan pipinya.
"Kakak ganteng banget, mau check in gak sama aku, gratis, memuaskan."
"Sama aku aja, atas bawah hot."
"Aku bisa apa aja, yang penting kakak enak."
Albern melepas tangan-tangan wanita malam itu. Berusaha menolaknya dengan sopan. Memang sih mereka cantik. Body-nya apalagi, jangan diragukan lagi. Gitar spanyol. Ditambah mulus.
"Maaf, Nona-nona, kakak dah punya istri, cukup satu gua aja," jawab Albern.
"Ah ..., Kakak, istri boleh satu, cadangan dan simpenan bolehlah buat manasin biar jalannya lancar."
"Iya kakak, istri di rumah, kita di mana aja boleh, asal enak."
"Istri cukup untuk formalitas, kita bisa untuk variasi."
Albern berusaha menghindar dan menolak,meski terus dipepet dan digoda. Untung Hindun datang menyembur mereka. Menyemprotkan air dari selang kran ke wanita-wanita malam penggoda.
"Eh ..."
"Aw ..."
"Hindun ... Lo ya."
"Gak tahu diri, udah tahu Abang nolak juga masih aja genit, rasain nih."
"Ampun Hindun." Akhirnya mereka lari. Menjauh dari Albern. Hindun berhasil menghempaskan mereka.
"Hindu makasih ya," ucap Albern.
"Abang meskipun Hindu cinta sama Abang, tapi Hindu tau diri, Abangkan dah punya istri," ujar Hindun.
"Yaudah, kita ke Pak Abdul," sahut Albern.
"Cus ah, tar ada dedemit lagi," ucap Hindun.
Albern dan Hindun berjalan menuju ke ruangan Pak Abdul.
__ADS_1