ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 81


__ADS_3

"Aku istri pertama suamimu" ucap Dinda.


"Istri pertama?" Deena terkejut mendengar ucapan Dinda.


"Iya, akulah orang yang sangat dicintai Barra, jadi kau hanya pelariannya saja" ujar Dina.


Deena hanya diam mendengar pengakuan Dinda.


"Aku memang sangat mencintaimu Dinda. Tapi itu dulu. Cintaku sudah terkubur bersama kematianmu dan sekarang orang yang sangat ku cintai hanya Deena" ucap Barra sambil memegang tangan Deena.


"Mas, akulah orang yang kau cintai"ucap Dinda.


"Cinta katamu? kau meninggalkanku dengan membakar perusahaanku dan seolah kau mati. Bertahun-tahun aku menangisi kematianmu, tapi ini semua rekayasamu" ujar Barra.


"Tapi Mas aku ini istrimu" ucap Dinda.


"Dinda, mulai hari ini aku menceraikanmu" tegas Barra.


"Gak, aku gak mau cerai sama kamu Mas" kekeh Dinda.


"Ayo sayang kita pulang, kamu harus istirahat" ajak Barra pada Deena.


"Tunggu Om" ucap Deena.


Deena berdiri, berjalan menghampiri Dinda.


"Kalau kau memang istrinya Om, seharusnya kau tidak meninggalkannya. Dan jika dia sekarang mencintai aku itu salahmu sendiri" ucap Deena pada Dinda.


Dinda hanya diam mendengarkan ucapan Deena.


"Ayo Om sayangku kita pulang" ajak Deena sambil menggandeng lengan Barra.


"Iya sayangku" sahut Barra.


Barra dan Deena meninggalkan restoran. Tinggal Dinda yang masih berdiri didepan meja.


"Sialan, rencanaku gagal, tapi kenapa aku merasa sakit hati saat Mas Barra mencintai wanita itu" ucap Dinda.


Barra dan Deena naik mobil menuju rumah mereka. Diperjalanan Deena menelpon Rehan.


"Hallo Pa" ucap Deena.


"Hallo nak" ucap Rehan.


"Pa, Haura gimana? udah ditemukan belum?" tanya Deena.


"Belum nak, tapi kamu pulang aja. Istirahat, kamukan pagi hamil" ujar Rehan.


"Iya Pa, besok Insya Allah Deena dan Om nyari Haura lagi" ucap Deena.


"Iya nak, tidur yang nyenyak. Jangan lupa minum susu ibu hamil. Jaga kesehatanmu" ucap Rehan.


"Oke Pa" ucap Deena.


Deena menutup telponnya. Dia mengkhawatirkan Haura yang belum juga ditemukan.


"Sayang, kau mengkhawatirkan Haura ya?" tanya Barra.


"Iya Om, yang memculik Haura pasti bukan orang sembarangan atau penculik untuk tujuan uang. Aku merasa mereka punya tujuan tertentu" ujar Deena.


"Aku juga berpikir seperti itu sayang" ucap Barra.


Sampai dirumah Barra membopong Deena dari parkiran sampai ke kamar. Dia membaringkan Deena diranjang. Matanya menatap mata istri kecilnya. Tangannya meraba pipinya.

__ADS_1


"Sayang aku sangat mencintaimu" ucap Barra.


"Aku juga mencintai Om" ucap Deena.


Barra mencium Deena. Malam itu Deena membiarkan suaminya menghabiskan malam dengannya. Malam yang begitu indah dan hangat. Barra membuktikan rasa cintanya disetiap kelembutan cinta yang diberikannya pada Deena. Setelah selesai Barra memeluk Deena dari belakang tubuhnya sambil mengelus perut Deena.


"Aku senang sekali sayangku tak terpengaruh ucapan Dinda" ucap Barra.


"Iya dong Om, selama ini Om sudah membuktikan cinta Om padaku, jadi untuk apa ragu" ujar Deena.


Barra mencium pipi Deena beberapa kali.


"Om, ceritakan masa lalu dengan Dinda" ucap Deena.


"Dulu aku dan Dinda saling mencintai. Kami menikah muda. Aku merintis usahaku dari bawah hingga maju. Tapi pada suatu hari perusahaanku terbakar dan Dinda ikut terbakar didalamnya. Aku sampai menangis, terpuruk dan kehilangan semangat hidupku karena kematian Dinda. Bertahun-tahun hidup menjadi duda hingga aku bertemu denganmu sayang. Empat tahun yang lalu aku menyelidiki kembali kebakaran diperusahaanku. Ternyata Dinda sendiri yang sengaja membakar perusahaanku dan merekayasa kematiannya sendiri" ujar Barra.


Deena memegang pipi suaminya.


"Untuk tujuan apa dia melakukan semua itu Om?" tanya Deena.


Barra membalikkan tubuh Deena dan menciumnya. Karena Barra terus menciumnya Deena mendorong dadanya.


"Om jawab dulu" ucap Deena.


"Aku belum tahu untuk tujuan apa sayang, tapi yang jelas dia melakukan semua itu sendirian" ucap Barra.


Deena berharap tidak ada pihak lainnya yang terlibat.


"Apa mungkin Dinda melakukan semua itu untuk tujuan pribadinya? bukannya dia dulu mencintai Om. Lalu kenapa dia harus membakar perusahaan milik Om dan pura-pura mati" batin Deena.


Melihat Deena yang sedang melamun, Barra memegang dagu istrinya.


"Wanita hamil tidak boleh banyak pikiran, mending sayang-sayangan ma Om" ucap Barra.


"Mau iya" ucap Barra jujur.


"Ayo" ajak Deena.


"Kamu lagi hamil sayang, beristirahatlah, aku bikinin susu ya" ucap Barra.


Deena mengangguk. Barra memakai pakaian lalu membuatkan Deena susu ibu hamil. Dia menemani Deena meminum susu ibu hamil itu sampai habis. Tak lupa dia mencium perut Deena. Barra sangat menantikan kelahiran buah cintanya dengan Deena.


************


Farel dan Alina ikut mencari Haura. Mereka mencari berbagai tempat. Meraka terus mencari hingga malam. Sampai berjalan kaki ditepi jalan. Farel menggendong Alina dipunggungnya.


"Dingin gak sayang?" tanya Farel.


"Dingin kak" ucap Alina.


"Mampir hotel yuk" Farel menggoda Alina.


"Kak Rafa mulai genit nih" ucap Alina.


"Bukan genit sayang, tapi mabuk cinta" sahut Farel.


Alina memeluk erat Farel. Dia merasakan kehangatan tubuh suaminya.


"Ayo" ucap Alina.


"Ayo kemana?" tanya Farel.


"Kakak..." ucap Alina manja.

__ADS_1


"Iya sayang" ucap Farel.


Saat mereka sedang asyik bersenda gurau, terdengar suara orang minta tolong.


"Tolong...tolong..."


Farel dan Alina yang mendengar orang minta tolong langsung pergi mencari sumber suara itu.


Mereka menghampiri seorang wanita yang berdiri dibawah tiang listrik.


"Ada apa Nona? kami dengar Nona meminta tolong" ucap Farel.


"Iya Nona ada apa?" Alina mrnambahkan.


"Tolong...tolong...saya dijambret....tolong..."


Beberapa orang warga menghampiri wanita itu yang berdiri bersama Farel dan Alina.


"Ada apa neng?"


"Mereka berdua mau menjabretku hik hik hik"


"Apa? kami justru mau menolongmu" bantah Farel.


Warga kesal dengan Farel dan Alina. Mereka menangkap Farel dan menghajarnya. Karena warga semakin banyak yang berdatangan dan ikut menghajar Farel.


Dug...dug...dug...


Farel bukan tak mau melawan tapi mereka semua warga sipil. Dia tidak mau melukai warga sipil karena tidak sanggup mengendalikan emosinya.


Wanita yang minta tolong meninggalkan tempat itu.


"Jangan...hentikan....Kak Farel gak salah" teriak Alina melihat suaminya dihajar warga.


Alina menghampiri Farel, walaupun dia harus melewati kerumuhan dan berkali-kali terjatuh karena terjepit warga. Dia terus berusaha untuk bisa masuk ke tengah. Sampai pada akhirnya dia berada ditengah bersama Farel. Alina memeluk Farel.


"Sudah hentikan! suami saya tidak salah. Wanita itu menjebak kami" ujar Alina.


"Maling mana ada yang ngaku sih?"


"Kalau pada ngaku, penjara penuh"


"Alina pergilah, mereka akan semakin anarkis" ucap Farel.


"Tidak, aku ingin disini bersama kakak" tegas Alina.


Alina akan tetap bersama Farel apapun yang terjadi. Dia tidak ingin terpisah lagi dengan Farel seperti dulu. Melihat sikap Alina yang keras kepala, Farel terpaksa melawan warga. Dia tak punya pilihan. Alina bisa dalam bahaya kalau diam saja. Farel melawan warga. Tak lama semua warga tumbang. Tubuh Farel penuh bekas tonjokan, Alina langsung berlari ke arahnya. Dia memeluk Farel, tiba-tiba Farel pingsan.


***********


"Apa kau sudah menjalankan perintahku?" tanya wanita bermuka cacat.


"Sudah Bos, saya pastikan dia babak belur dihajar masa"


"Bagus, aku suka sekali mendengarnya" ucap wanita bermuka cacat.


"Ada tugas untukku lagi Bos?"


"Untuk saat ini cukup, kembalilah berlatih!" ucap wanita bermuka cacat.


Anak buah wanita bermuka cacat pergi meninggalkannya dari ruangan itu.


"Rehan, semua anakmu akan merasakan rasanya sakit yang kurasakan karenamu" ucap wanita bermuka cacat.

__ADS_1


__ADS_2