ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 73


__ADS_3

Axel meraih pipi Alina. Dia hendak mencium bibir cantik yang sendari tadi membuatnya ingin menciumnya. Dia mendekati wajah Alina. Wajah yang seperti rembulan dimalam hari dan sejuk seperti angin dipagi hari. Axel mendekati bibir itu tapi Alina menahannya dengan tangannya.


"Kenapa Alina?" ujar Axel sambil menatap mata Alina. Mata yang membuatnya luluh lantah.


"Sekarang aku sudah memiliki suami kak" Alina harus menjelaskan posisinya saat ini. Walaupun Farel tak melihat tapi Alina sadar betul kini dia sudah bersuami.


"Kau sudah menikah?" tanya Axel memastikan kembali ucapan Alina.


Alina hanya mengangguk. Dia menatap ke bawah, tak berani menatap kakaknya. Takdir sudah menuliskan suratan yang berbeda dari yang diinginkannya.


Axel meraih dagu Alina dan menaikkan pandangan Alina padanya.


"Adik kecil apa kau mencintainya?" tanya Axel berusaha memastikan perasaan Alina.


"Aku...aku...aku mencintaimu kak" ucap Alina memandang wajah Axel sambil berurai air mata.


Axel menyeka air mata dipipi Alina. Air mata itu terus jatuh dari mata adik kecilnya, menggambar perasaan yang kini sedang dirasakannya.


"Adik kecil aku juga mencintaimu. Aku akan berusaha memperjuangkan hubungan kita" ucap Axel.


Axel memeluk Alina dalam dekapannya. Alina bersandar dibahu Axel. Dia ingin bersama kakaknya tapi takdir sudah menuliskan hal yang lain. Dia sekarang istri Farel.


Sampai dirumah Alina menata sayuran dikulkas. Kemudian dia memasak untuk Farel, katanya dia akan pulang cepat. Saat Alina asyik dengan alat masaknya, Farel memeluknya dari belakang. Dia mencium pipi Alina.


Cup


Sontak Alina terkejut bukan main. Dia sampai menjatuhkan sendok sayurnya hingga terjatuh ke lantai. Dia melepas pelukan Farel dan menatapnya. Lelaki didepannya adalah suaminya kini, suka tidak suka. Meskipun hatinya untuk Rafael tapi kenyataannya dia sudah bersuami.


"Sayang maaf mengejutkanmu" Farel merasa bersalah.


"Iya...aku tidak tahu Kak Farel sudah datang" ucap Alina.


Farel mendekati Alina membelai rambut panjangnya yang terurai.


"Aku rindu, jadi pulang siang" ujar Farel.


"Kau lapar kak?" tanya Alina sambil menjauhi Farel. Dia berusaha menghindarinya, dengan kembali mengambil sendok sayur yang baru. Dia menyibukkan dirinya dengan menuang sop kedalam mangkuk. Farel menggengam tangan Alina yang sibuk mengambil sayur untuknya.


"Alina kenapa?" tanya Farel.


"Tidak, aku siapkan makanannya dimeja" ucap Alina.


"Oke sayang" Farel menyolek dagunya Alina kemudian pergi ke ruang makan.


Alina menyajikan semua makanan dimeja. Dia menemani Farel makan. Sesekali dia memperhatikan suaminya. Lelaki itu terlihat tampan dan keren.


"Jangan terus memandang, nanti jatuh cinta" ujar Farel menatap istrinya yang duduk diseberangnya.

__ADS_1


Alina membuang mukanya. Dia takut Farel kembali meledeknya.


Malam harinya Alina berbaring diranjang. Farel menghampirinya dan memeluknya. Dia mencium kening Alina kemudian mencium bibir cantiknya.


Alina hanyut dalam ciuman itu. Dia membiarkan Farel melakukan hal lainnya. Alina merasa nyaman dengan setiap hal yang dilakukan Farel padanya.


"Alina bolehkah?" tanya Farel.


Alina tak menjawab. Dia hanya menatap Farel. Kehangatan Farel membuatnya merasakan saat-saat bersama Rafael.


Farel menganggap diamnya Alina tanda persetujuan. Dia berlanjut tahap demi tahap. Alina juga terlihat menikmatinya tapi saat Farel hendak ke tahap lebih dalam. Alina teringat Rafael. Lelaki yang dianggapnya kakaknya. Segera Alina menghentikan itu.


"Kak aku lelah, bolehkah aku tidur?" tanya Alina yang mencari alasan.


"Baiklah, kau lelah ya sayang" ucap Farel..


Alina mengangguk. Farel berbaring disamping Alina, dia memeluknya. Penolakan halus Alina disadari Farel. Dia harus sabar menunggu sampai Alina benar-benar mencintainya sebagai Farel.


"Sayang besok kita bulan madu ya" ucap Farel.


Alina yang tadi hendak menutup matanya untuk tidur langsung segar. Alina menatap Farel.


"Kak Farel , aku bertemu dengan..." Alina ragu untuk mengatakan semuanya. Dia takut Farel marah padanya.


"Bertemu siapa Alina?" tanya Farel.


Alina menundukkan mukanya. Farel bisa membaca isi hati Alina. Istrinya mencintai orang lain yang tak lebih adalah dirinya dimasa lalu.


"Kak Farel, aku mencintai Kak Rafa, tadi kami bertemu" ucap Alina berterus terang.


Farel membalikkan tubuhnya kebelakang kemudian tidur. Dia kecewa pada Alina. Diam memurutnya jalan terbaik saat ini. Dia tidur membelakanginya. Alina merasa bersalah, dia memeluk Farel dari belakang.


"Maafkan aku kak" ucap Alina.


Farel diam saja, Alina semakin erat memeluknya hingga Farel kesakitan.


"Aw..." ucap Farel kesakitan saat Alina memeluknya erat.


Alina melepas pelukannya saat Farel terlihat kesakitan.


"Kak Farel kenapa?" tanya Alina.


"Tidak apa-apa" ucap Farel.


Farel melanjutkan tidur. Dia tetap membelakangi Alina. Sikap Farel membuat Alina merasa bersalah. Apa yang sudah dikatakannya memang tak pantas untuk seorang istri. Alina tertidur beberapa jam kemudian. Farel membalikkan tubuhnya, dia mencium Alina dan memeluknya.


"Aku ingin kau mencintai diriku yang sekarang, maafkan aku Alina" batin Farel.

__ADS_1


***********


Aksa turun dari mobil bersama Sekretaris Tari. Dia hendak menghadiri seminar dihotel itu. Aksa berjalan memasuki lobi hotel. Baru berjalan meninggalkan lobi menuju lift. Tiba-tiba ada seorang wanita bergelayut manja ditangannnya.


"Sayang kau ganteng banget, aku mau jadi pacarmu, sayang" ucap Marsya menggoda Aksa.


Aksa berusaha melepas tangan wanita genit itu. Tapi dia malah mencium pipinya.


Cup


"Sayang nikahin aku" ujar Marsya.


"Gila, baru bertemu udah nyosor agresif gini" batin Aksa.


Wanita itu menempel manja ditubuh Aksa. Dia tak punya malu. Seenaknya bermesraan ditempat umum. Sekretaris Tari berusaha melepas tangan Marsya.


"Nona lepaskan tangan Anda" ucap Tari.


"Gadis centil, lepaskan tanganmu" ucap Aksa.


"Ayank makin ganteng deh kalau marah, uuuuh...ayank...ayank..." ucap Marsya.


"Saya panggil sekuriti saja Bos, sepertinya gadis ini rabies" ucap Tari.


Marsya tak peduli dengan ucapan Tari. Dia tetap menempel ditangan Aksa. Sekuat apapun Aksa menghempaskannya, dia semakin menempel. Dia meraba pipi Aksa.


"Nona, ini tempat umum. Kau tak liat orang-orang melihatmu" ucap Aksa kesal dengan ulah gadis yang dijuluki rabies oleh sekretarisnya.


"Biarin, aku suka ayank" ucap Marsya.


Tari gedeg melihat wanita yang tak tahu malu ini. Dia terpaksa memanggil sekuriti. Melihat Tari membawa sekuriti. Marsya menarik Aksa, mengajaknya berlari masuk ke dalam lift.


"Lepas" bentak Aksa saat didalam lift.


Marsya mendekati Aksa lalu mencium bibirnya.


Ciuman yang cukup mahir, membuat siapapun yang menerimanya terlena. Tapi tidak dengan Aksa, dia justru mendorong wanita rabies itu.


"Ayank belum selesai nih" ucap Marsya.


"Kau itu bebek ya, seenaknya nyosor"ucap Aksa.


"Ayank...ayank...lucu kalau marah" ucap Marsya.


Aksa benar-benar kesal. Percuma baginya bicara dengan wanita aneh itu. Dia memencet tombol lift, keluar dari lift itu meninggalkan Marsya.


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, ini baru awal. Lihat saja nanti" ucap Marsya dengan tatapan licik.

__ADS_1


Suara telpon berdering dari handphonennya. Marsya segera mengambil handphone ditas miliknya kemudian mengangkat telpon itu.


"Aku sudah bertemu dengan orang yang kau maksud" ucap Marsya.


__ADS_2