ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Part 14


__ADS_3

"Hal penting apa Bu?"tanya Kirana.


"Kita kena tipu orang Kirana, tabungan kita ludes, rumah terpaksa dijual dan kita jatuh miskin Kirana hik...hik...."ucap Ibu Meta.


"Apa?.......kok bisa Bu, gimana ceritanya?"tanya Kirana.


"Awalnya Ayah dan Ibu ingin punya bisnis biar gak terus bergantung sama kamu nak, kami tidak ingin kau kelelahan terus karena bekerja keras siang malam. Kami ikut menanam saham disalah satu perusahaan temen ayahmu, bahkan kita sudah menggadaikan rumah juga dan seluruh tabungan untuk menanam saham diperusahaannya, eh ternyata perusahaannya bodong nak, uang kita dibawa kabur"ucap Pak Irwan.


"Maafkan kami nak hik....hik......ini semua salah kami hik......hik......."ucap Ibu Meta.


"Ayah menyesal sudah percaya dengan akal bulusnya, dia benar-benar menipu kami"ucap Pak Irwan.


"Bagus Pak, aktingmu natural"batin Ibu Meta.


"Ayah, Ibu, semuanya sudah terjadi mau gimana lagi, lebih baik kita ikhlaskan saja, kedepannya ayah dan ibu harus lebih hati-hati"ucap Kirana.


"Makasih nak, Ibu pikir kau akan marah hik...hik..." ucap Ibu Meta.


"Dasar anak bodoh, percaya aja dengan cerita bohongan ini, sebentar lagi kau akan jadi tiket kami untuk menggali tambang emas"batin Ibu Meta.


"Kau memang anak yang baik nak"ucap Pak Irwan.


"Kirana ayo pulang, tadi kami sudah bicara dengan Dokter yang menanganimu, katanya kau boleh pulang hari ini"ucap Ibu Meta.


"Iya Bu"ucap Kirana.


Ibu Meta membereskan semua barang Kirana yang ada dilemari ruangan rawat inap itu. Setelah itu Ibu Meta dan Pak Irwan membawa Kirana pulang.


***********


Yuni mengirimkan foto sensualnya ke WA pribadi milik Leo. Dia berharap Leo akan melihatnya dan tergoda padanya.


"Semoga Papanya Marwa suka dengan foto sensualku, dimana-mana lelakikan suka yang seperti itu"ucap Yuni.


Yuni segera memakai pakaiannya setelah memfoto dirinya tadi dengan pose sensual itu.


Dia keluar dari kamarnya, kemudian ibunya menawarinya makan.


"Yun, ayo makan nak, ibu sudah masak"ucap Ibu Susi.


"Memangnya ibu masak apa? paling ikan asin atau tempe, Yuni bosan Bu, lebih baik nahan lapar dari pada makan itu mulu, masak yang enak dong Bu"ucap Yuni.


"Yun, Ibu gak punya uang untuk beli makanan yang enak, apalagi bapakmu masih sakit, biaya untuk membeli obatnya juga ibu belum punya"ucap Ibu Susi.

__ADS_1


"Yuni capek hidup miskin terus, malu sama temen-temen disekolah. Mereka sering ke Mall, punya handphone, kalau istirahat bisa jajan, tas mereka bagus. Yuni minder Bu, malu, gak tau mau cerita apa. Bahkan televisi aja kita gak punya, kita miskin banget sih Bu, ini semua salah Bapak dan Ibu yang gak mau kerja keras biar kaya, lihat Papa dan Mamanya Marwa mereka kaya jadi hidup Marwa enak, gak susah kaya aku" ucap Yuni.


"Maafkan Bapak dan Ibu Nak, kami belum bisa membahagiakanmu"ucap Ibu Susi.


"Lama-lama aku malas tinggal disini, kalau aku sudah dapat tempat tinggal lebih baik, aku akan meninggalkan tempat kumuh ini"ucap Yuni lalu keluar rumah kecilnya itu.


"Hik......hik....hik.....Yuni, Ibu sebenarnya ingin sekali membahagaikanmu, tapi rejeki ibu memang segini, Ibu sudah bekerja keras nak hik.....hik...."ucap Ibu Susi sambil menangis.


Ibu Susi sampai menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Yuni.


***********


Marwa berjalan menuju ke ruang keluarga menghampiri Papa dan Mamanya. Dia dudukĀ  disamping Leo. Sementara Zara duduk disofa yang berbeda sambil menyulam taplak meja untuk mengisi kesibukan disaat bersantai.


"Pa, Ma, Kak Raka belum pulang ya?"tanya Marwa.


"Tadi Raka nelpon Mama, katanya mau nengokin temennya yang sakit"ucap Zara.


"Tumben kakakku yang es batu itu mau nengokin temennya, biasanya juga dia gak peduli tuh. Jangan-jangan pacarnya Ma"ucap Marwa.


"Wah Papa mau punya mantu dong"ucap Leo.


"Raka masih kecil Pa, baru juga kelas 2 SMA" ucap Zara.


"Iya Marwa, dulu Papa dan Mama nikah waktu kelas 2 SMA, tapi kami menikah karena terpaksa awalnya, Papa dan Mama terjebak di kamar hotel yang sama, kami salahfaham dan berujung pada pernikahan dini"ucap Leo.


"Berarti Papa dan Mama hebat dong, menikah dini tapi bisa sukses, dan sekarang Kak Raka dan Marwa bisa hidup nyaman karena kerjakeras kalian dimasa lalu, terimakasih ya Pa, Ma"ucap Marwa sambil memeluk Leo yang ada disampingnya.


"Iya sayang"ucap Leo sambil membalas pelukan Marwa.


"Mama juga mau meluk Marwa"ucap Zara.


Zara menghampiri Leo dan Marwa yang sedang berpelukan, dia duduk disamping Marwa dan memeluknya.


"Papa, Mama...."ucap Marwa memeluk kedua orangtuanya.


Setelah berpelukan Marwa menonton pertandingan sepak bola bersama Leo.


"Pa, kalau aku nikah muda kaya Papa dan Mama boleh gak?"tanya Marwa.


"Memangnya mau nikah sama siapa?"tanya Leo.


"Belum ada sih Pa, tapi mungkin nanti Marwa bertemu seseorang gitu saat SMA nanti dan jatuh cinta"ucap Marwa.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah dengan cinta nak, itu perasaan yang tidak bisa kita hentikan ataupun kita tolak kehadirannya, setiap remaja pasti mengalami masa itu. Dulu Papa juga begitu, Papa jatuh cinta pada seseorang hanya saja bagaimana cara kita mengontrol rasa cinta itu agar tidak mengganggu pikiran dan hidup kita. Jangan karena cinta kita melupakan semuanya dan merusak masa depanmu. Soal menikah muda memang kau sudah siap atas konsekuensi dari semuanya?"ucap Leo.


"Konsekuensi apa Pa?"tanya Marwa.


"Untuk menikah muda itu tidak mudah, banyak rintangan dan tantangan yang kau hadapi nantinya, apa kau bisa jadi seorang istri sekaligus ibu dari anakmu disaat usiamu yang seharusnya masih bermain bersama teman-temanmu, bersekolah dan mengejar mimpimu tapi kau harus memikul tanggungjawab yang besar. Dulu Papa sangat kesulitan melewati segala rintangan dan tantangan yang datang dalam pernikahan, untung Papa punya Mamamu yang selalu ada disisi Papa dalam suka dan duka"ucap Leo.


"Benar juga ya Pa, Marwa masih ingin jalan-jalan, nongkrong, bercandaan bareng sama temen-teman, pergi ke berbagai tempat yang seru dan menyenangkan, dan sekolah ditempat yang Marwa impikan. Kalau masih kecil menikah nanti semua itu jadi sulit dilakukan ya Pa"ucap Marwa.


"Seorang istri punya tanggungjawab pada suami dan keluarganya, kebabasanmu yang dulu saat remaja akan berubah saat kau sudah memiliki suami. Kau tak bisa seenaknya jalan-jalan atau kumpul dengan temanmu tanpa izin dan keridoan suamimu nak, maka dari itu jika kau masih belum bisa meninggalkan masa remajamu yang penuh kebebasan sebaiknya jangan menikah muda dulu, pikirkan konsekuensinya"ucap Leo.


"Iya ya Pa, Marwakan juga masih apa-apa minta sama Papa, masih cengeng dan manja masa mau nikah muda, yang ada Marwa nangis terus karena gak sanggup menjalani tanggungjawabnya sebagai istri"ucap Marwa.


"Nah, ini baru anak Papa"ucap Leo.


"Pa, boleh pinjem handphone Papa, mau lihat foto Papa dan Mama jalan-jalan kemarin dipuncak"ucap Marwa.


"Ada dimeja kerja Papa"ucap Leo.


"Yaudah, Marwa ke atas dulu ya Pa"ucap Marwa.


"Iya sayang"ucap Leo.


"Sayang Papa"ucap Marwa lalu mencium pipi Leo.


Cup


Marwa naik ke lantai atas setelah mengobrol dengan Leo. Dia masuk ke ruangan kerja Leo dan mengambil handphonenya.


"Lihat foto Papa dan Mama waktu jalan-jalan kemarin ke puncak ah"ucap Marwa.


Saat dia membuka handphone Papanya, Marwa melihat ada pesan dari no telpon yang dikenal olehnya.


"Ini kok kaya nomor telponnya Yuni yah, bener gak sih? coba ku lihat apa pesannya"ucap Marwa.


Marwa membuka pesan yang dikirim Yuni.


"Astagfirullah, Yuni.....dia gak tahu malu banget ngirim ginian ke Papaku"ucap Marwa.


Marwa langsung menghapus foto-foto sensual Yuni dan memblokir nomor telponnya.


"Untung Papa belum ngelihat, Yuni keterlaluan. Besok aku harus menegurnya, dia gak tahu diri, masa mau mengincar Papaku kaya gak ada lelaki lain aja"ucap Marwa.


Marwa sangat marah dengan gambar dan tulisan yang dikirim Yuni pada Papanya. Dia berencana untuk menegur Yuni besok disekolah.

__ADS_1


__ADS_2