
Farhan meraba handphone-nya yang ada disaku celananya tapi tangan Kiara menarik tangannya.
Kiara memberi kode agar Farhan segera merajut cinta dengannya. Mata Farhan tertuju pada wajah Kiara yang menggoda.
"Sayang ayolah," ajak Kiara.
"Tunggu sebentar ya sayang, ada telpon," ucap Farhan.
"Nanti saja diangkatnya sayang," ucap Kiara.
"Aku liat bentar ya, mungkin dari Mama," kata Farhan.
Kiara mengangguk meskipun dia sedikit kecewa. Padahal tinggal sedikit lagi Farhan jatuh kepelukannya harus terkendala lagi. Sekarang hanya Farhan yang bisa mewujudkan mimpinya masuk keluarga besar Ariendra.
Farhan beranjak dari ranjang, berdiri didepan jendela kaca. Dia mengangkat panggilan dari Azkia.
"Hallo Ma," ucap Farhan.
"Hallo nak," ucap Azkia.
"Ada apa Ma?" tanya Farhan.
"Pulang Farhan, ada hal penting," ucap Azkia.
"Hal penting apa Ma?" tanya Farhan.
"Pokoknya pulang dulu," ucap Azkia.
"Iya Ma," ucap Farhan.
Farhan menutup telpon. Dia memasukkan kembali handphone ke saku celananya. Berjalan kembali ke ranjang dan duduk ditepi ranjang. Dia menatap wajah kekasihnya.
"Kiara, aku harus pulang," ucap Farhan.
"Tapi sayang, kita baru juga mau bermesraan," ucap Kiara. Dia tidak ingin Fathan keluar dari perangkapnya. Tidak mudah mendapatkan moment seperti itu.
Farhan tersenyum pada Kiara dan menggodanya.
"Secepatnya aku akan menikahimu, jadi kau harus percaya itu," ucap Farhan menyakinkan kekasihnya. Di tidak ingin kekasihnya kecewa dan menangis karenanya.
"Janji," ucap Kiara.
"Janji," jawab Farhan.
"Oke, kau boleh pulang sayang," ucap Kiara. Dia terpaksa memperbolehkan Farhan pulang.
Farhan mengusap kepala Kiara. Lalu berjalan keluar kamarnya, meninggalkan rumah Kiara. Dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah orangtuanya.
************
Barra, Deena, Farel, Alina, Alvan, Haura dan Kaisar sedang nobar bareng diruang tengah penginapan mereka. Kebetulan para istri dan suami nonton sepak bola sama-sama. Para istri menyuapi suami mereka camilan sambil duduk dipangkuannya. Hanya Kaisar yang duduk memangku boneka.
"Enak banget ya punya bini, nonton aja mangku bini, makan disuapin," ujar Kaisar.
"Makanya punya bini dong," ucap Alvan.
"Iya sih, gak mangku boneka gini," ucap Kaisar.
Farel mengusapkan hidungnya dipipi Alina.
"Kak Rafa," ucap Alina.
"Sayang, laper gak?" tanya Farel.
"Laper," ucap Alina.
__ADS_1
"Mau mie rebus spesial buatanku?" tanya Farel.
"Mau kak," ucap Alina.
"Oke sayang, aku akan masak untukmu," ujar Farel.
"Farel, kakak dan bini kakak sekalian ya," ucap Barra.
"Gue juga kakak ipar plus bini gue," ucap Alvan.
"Kak Farel aku ju...," ucap Kaisar.
"Kaisar kamu masak sendiri," ucap Farel.
"Yah..." Kaisar langsung lemes denger kata masak.
Farel dan Kaisar pergi ke dapur untuk memasak. Farel membuatkan mie rebus untuk semuanya.
Sedangkan Kaisar membuat untuk sendiri.
"Kaisar airnya jangan kebanyakan tar mienya membesar," ucap Farel.
"Tenang, kuah lebih banyak lebih enak," ucap Kaisar.
"Yaudahlah, kalau itu kemauanmu," ucap Farel.
Mereka berdua kembali memasak.
"Kaisar kok kamu dikasih garemnya banyak gitu, gak keasinan?" tanya Farel.
"Mie lebih enak kalau lebih gurih," jawab Kaisar.
"Itu bukan gurih tapi asin," ucap Farel.
Kaisar menambahkan saus tiram, kecap asin, lada, kunyit bubuk, ketumbar bubuk, saos tomat, cabe instan, mayonase, cuka, dan madu.
"Ini inovasi kak, lihat saja dunia akan tahu masakan Kaisar yang fenomenal ini," ucap Kaisar.
"Oke, yang penting kamu bahagia," ucap Farel.
"Paling juga sakit perut nih bocah kalau makan mie bikinannya yang aneh itu, semoga saja masih idup," batin Farel.
Setelah proses panjang memasak dengan berbagai cara dan teknik, pada akhirnya selesai juga. Kaisar sudah cemong. Badannya kotor semua bak pelukis yang terkena tinta.
"Kaisar kamu mandi dulu atau ganti baju, kotor tuh," ucap Farel.
"Ini baru seniman sejati," ucap Kaisar.
"Benar juga, seniman sejati," ucap Farel.
Farel menahan tawa saat melihat penampilan Kaisar. Saatnya mereka membawa hasil masakannya ke ruang tengah. Farel membagikan hasil masakannya pada semua orang lalu dia duduk disamping Alina. Kaisar juga duduk diantara teman-temannya. Mereka semua mulai menyantap mie rebusnya.
"Kak Rafa memang juara kalau masak," ucap Alina.
Cup
Farel mencium kening Alina.
"Iya dong sayang," ucap Farel.
"Em... enak Farel, jago juga masaknya," puji Barra.
"Heeh enak Kak Farel," tambah Deena.
"The best deh," sahut Alvan.
__ADS_1
"Ini baru mie rebus yang paling enak," kata Haura.
"Hik hik hik, enaknya mie rebus bikinanku hik hik hik," ucap Kaisar sambil nangis.
Semua orang melihat Kaisar yang memakan mie rebus bikinannya sampai nangis.
"Kaisar enak atau lo tersiksa sih memakannya?" tanya Alvan.
"Penuh penderitaan dan penindasaan memakan mie ini," jawab Kaisar.
"Wah itu namanya mie tanam paksa, good job," ucap Barra.
"Gimana rasanya?" tanya Deena.
"Rasanya ekstrim banget, kaya terjun dari pesawat terbang," ucap Kaisar.
"Itu berarti inovasi yang sukses, selamat Anda sudah membuatnya," ucap Farel.
"Kaisar mau ditambah saus biar enak?" tanya Alina.
"Ini udah penuh saus Alina, sampai merah banget, asemnya kaya makan sekilo jeruk nipis," ucap Kaisar.
"Wah varian baru tuh Kaisar, jarang loh ada mie rasa sekilo jeruk nipis, good idea," puji Deena.
"Hik hik hik," Kaisar hanya menangis dan meringis saat memakan mie bikinannya.
Mie rebus sudah dihabiskan. Semua orang duduk santai sambil mengobrol tapi tidak dengan Kaisar yang terus mengeluh perutnya sakit. Dia sampai guling-guling, aduk-adukan, gak karuan.
"Aduh sakit... sakit... perutku sakit," ucap Kaisar.
Semuanya menghampiri Kaisar dan memberinya obat salep dan obat minum.
"Gimana Kaisar? dah enakkan?" tanya Barra.
"Masih sakit," ucap Kaisar sambil memegang perutnya.
"Ini pasti gara-gara makan mie tanam paksa rasa ekstrim nih," ucap Alvan.
"Yoi," ucap Deena dan Haura.
"Kasih koyo cabe aja ya?" tanya Farel.
"Gak mau, udah panas makin panas," ucap Kaisar.
"Mau dikompres pakai es batu?" tanya Alina.
"Boleh, panas rasanya Alina," ucap Kaisar.
"Aku ambil dulu didapur," ucap Alina.
Alina pergi ke dapur. Dia membuka kulkas tapi tak ada es batu. Kebetulan kulkasnya masih yang model jadul jadi lambat membuat es batunya.
"Yang ini masih air," ucap Alina.
"Nona lagi ngapain?" tanya Mbok Inem, tukang bersih-bersih dipenginapan itu.
"Ini Mbok lagi nyari es batu," ucap Alina.
"Buat apa?" tanya Mbok Inem.
"Buat ngompres perut Kaisar, dia lagi sakit perut," ucap Alina.
Mbok Inem langsung menutup pintu, dan jendela.
Dia juga mengajak Alina masuk ke tepi dapur, jauh dari pintu dan jendela.
__ADS_1
"Nona jangan sampai sakit disini," ucap Mbok Inem.
"Memangnya kenapa Mbok?" tanya Alina penasaran.