ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 13


__ADS_3

"Tunggu, bapak-bapak salah faham, saya baru bertemu dengan gadis ini," ujar Albern.


"Alasan klasik Pak RT."


"Semua juga gitu bilangnya, gak mau tanggungjawab."


"Udah Pak RT kita gemes nih dari tadi."


Pak RT segera bertindak sebelum warga mengadili sendiri, itu sangat berbahaya. Mereka sudah resah dengan apa yang dilakukan Albern selama ini.


"Sabar bapak-bapak, kita akan selesaikan semua ini secara kekeluargaan," ujar Pak RT.


"Gak bisa sabar Pak RT, Tuan Albern ini sudah terlalu sering membawa banyak wanita masuk ke rumahnya, tuh sekarang jatuh korbankan Pak RT."


"Kasihan masih kecil udah punya anak, ini pasti akibat perbuatan Tuan Albern."


"Kalau Pak RT gak mau nikahin, biar kita aja."


Warga makin ricuh. Aku tak bisa bicara apapun karena Bobo mulai rewel. Akhirnya kami di bawa ke masjid setempat. Albern tidak bisa mengelak, semua tuduhan mengarah padanya karena kebiasaannya yang gemar gonta ganti wanita. Semua penjelasannya tidak diterima warga. Kami duduk di depan penghulu. Baju yang ku kenakan masih seragam SMA, bahkan aku memangku Bobo di tanganku. Albern terpaksa mengikuti ijab kabul yang dituntun penghulu.


"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Albern Victor dengan Aara Camelia dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aara Camelia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Gimana para saksi?"


"Sah."


"Alhamdulillah."


Aku menghembuskan nafas panjang. Kenapa jadi berakhir seperti ini. Mana Tuan yang kejam ini memandangku dengan tatapan tajamnya. Padahalkan yang dirugikan itu aku. Sudah mau dikeluarkan, jadi istri lelaki buaya darat, belum lagi nasib yang tak menentu di depan sana. Bisa ajakan dia diktator, atau Bossy.


"Kalian sudah resmi jadi suami istri, jaga anak kalian berdua, rawat dan didiklah dengan benar." Penghulu menasehati kami berdua.


"Iya," ucap Albern terpaksa.


Setelah acara itu selesai, aku berjalan sambil menggendong Bobo mengikuti Albern. Dia hanya diam tak bicara satu katapun.


"Tuan, kau lapar tidak? aku bisa masak," ujarku cari aman. Kali aja dia mau baik terus aku gak jadi dikeluarin.


Dia tak menjawab tawaranku. Tetap jalan, benar-benar menyebalkan. Siapa juga yang mau baik pada lelaki yang kejam dan buaya darat.


Aku terus berjalan ikut masuk ke dalam area rumahnya. Ketika sampai di depan pintu, dia menyetopku, tidak memperbolehkanku masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Albern.


"Aku kan tamu, urusan di antara Tuan dan aku belum selesai," jawabku.


"Pulanglah! jangan pernah temui aku lagi!" perintah Albern.


"Aku gak akan pulang, izinkan aku bicara dengan Tuan sebentar saja," ujarku.


Albern tak membalas ucapanku, justru menutup pintu rumahnya. Aku coba mengetuk beberapa kali tapi pintunya tetap tertutup. Dia benar-benar kejam dan menyebalkan, tahu gitu aku ajak Dodo biar disembur mulut baunya, kali aja dia warasan.


"Udah dari tadi siang nungguinnya, eh mau bicara sebentar aja susah. Huh ..., sabar Aara masih ada hari esok," jawabku.


Aku berjalan menuju gerbang. Ternyata dikunci juga. Aku menghampiri sekuriti di pos, mereka mengacuhkanku, tidak mau mendengarkan permintaanku untuk membuka gerbang.


"Dia benar-benar kejam, gila, sadis, psikopat, menyebalkan, apalagi ya ...," ucapku kesal.


"Aku lelah, lapar," ucapku.


Aku duduk di teras. Untung saja tadi aku sudah isi ulang termos, persediaan popoknya juga cukup. Setidaknya Bobo tidak akan kelaparan. Dia masih kecil, ku perkirakan usianya baru 4 bulan.

__ADS_1


"Bobo maafin Momy, seharusnya Momy tidak mengajakmu," ujarku sambil memeluk Bobo.


Udara malam semakin dingin. Aku kasihan sama Bobo, selimut yang ku bawa tidak terlalu tebal. Aku khawatir dia kedinginan. Terpaksa ku lepas baju SMA ku, ku selimutkan ke tubuh Bobo. Aku bersandar di dinding sambil memangku Bobo.


Hari semakin malam. Ku pegang pipi Bobo yang dingin. Aku makin khawatir, ku lepas hijabku, ku selimutkan ke tubuhnya. Kini rambutku terurai panjang. Semua kain ditubuhku ku lepas untuk menyelimuti Bobo biar hangat.


"Gimana ini, lelaki itu kejam," ucapku.


Aku memberi Bobo susu sambil menghiburnya. Untung Bobo terlihat ceria meskipun kami berada di tempat yang tidak nyaman untuknya.


"Bobo ... Bobo ..., sayang ..., Bobo udah kenyang ya," ucapku.


Lama-lama Bobo kembali tidur. Aku juga mulai kelelahan. Mataku mulai menutup, semuanya gelap.


Tiba-tiba rasanya nyaman, hangat, lembut. Apa aku sedang di surga atau berada di ranjang raja.


"Nyamannya," ucapku.


Perlahan aku membuka mata. Ku lihat sekeliling, kemudian duduk, Albern sedang duduk di sofa hanya mengenakan handuk.


"Aaaa ...," teriakku kencang.


Aku langsung menutup mataku tapi saat ku tutup mataku, selimutku turun rasanya tubuhku kedinginan terkena AC ruangan kamar itu. Aku coba membuka mataku, melihat tubuhku.


"Aaaa ...," teriakku kembali.


"Sudah selesai berteriak?" tanya Albern.


"Kemana bajuku? kau cabul ya padaku tadi?" tanyaku. Aku lupa kalau semalam aku sendiri yang membuka baju untuk menyelimuti Bobo.


"Cabul? bukankah kau istriku sekarang, aku mau apa juga bolehkan?" ujar Albern.


"Istri?" Aku mulai ingat, semalam aku menikah dengan buaya darat ini. Tidak, jangan-jangan dia melakukan sesuatu padaku.


"Mandi sana! tubuhmu kotor, atau kau mau lagi?" tanya Albern.


Aku kesal, sekarang bukan jamannya istri tersakiti, saatnya melakukan perlawanan, kibarkan bendera perang. Aku mengambil bantal dan ku lempar ke arahnya.


Pluuuk ...


Kena wajah tampannya. Dia terlihat kesal gara-gara bantal mengenai wajahnya.


"Aku mau mandi dulu," ujarku buruan kabur sebelum lelaki itu menggila dan membalasku tapi saat turun dari ranjang, kedua kakiku pegal sekali,


sakit di bagian bawah juga.


"Aaa ... sakit," keluhku.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyaku.


"Kau salah datang padaku bocah kecil, aku seorang lelaki yang suka gadis perawan, saat melihatnya menganggur, tentu kau tau apa yang ku lakukan," ujar Albern.


"Brengsek! kau jahat! aku ke sini hanya minta agar aku tidak dikeluarkan dari sekolah, tapi kau malah mengambil hal yang berharga dariku hik hik hik," ucapku sambil menangis.


"Makanya jangan berani masuk kandang singa kalau kau tak ingin diterkam," ujar Albern lalu keluar dari kamar.


Aku menangis. Walaupun dia suamiku sekarang, kehilangan kesucianku secara paksa dan tidak sadar sangat menakutkan untukku. Apalagi dia lelaki buaya, gimana nasibku ke depan.


"Bobo ..., eh iya, aku harus mencari Bobo," ujarku.


Aku segera mandi membasuh seluruh tubuhku. Untung saja tak ada bekas apapun di tubuhku, hanya perih dibagian bawah.


Selesai mandi aku mencari pakaianku tapi tak ada. Ku coba membuka lemari, ternyata banyak sekali baju wanita. Benar-benar buaya, dia sudah mempersiapkan ini untuk wanita-wanitanya.

__ADS_1


"Huh ..., nasibku sial bertemu buaya darat nyata seperti dia," ucapku.


Lupakan semuanya. Mengeluh dan menangis takkan menyelesaikan masalah. Aku segera sholat lalu keluar dari kamar, mencari Bobo. Ternyata Bobo sedang digendong seorang ibu di dalam sebuah kamar.


"Bobo ...," ucapku sambil mengambil Bobo dari tangan ibu itu.


"Nona perkenalkan saya Bi Tuti, pembantu rumah tangga di sini, tadi malam Tuan menyuruhku menjaga dan mengurus bayi anda," ujar Bi Tuti.


"Makasih Bi," sahutku.


"Iya, oya nama Nona siapa?" tanya Bi Tuti.


"Aara Camelia," jawabku.


"Nama yang cantik seperti orangnya, semalam Tuan yang menggendong Nona masuk ke dalam kamar, katanya Nona istrinya Tuan," ucap Bi Tuti.


"Ee ... i-ya," jawabku malas.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nona," ucap Bi Tuti.


Aku mengangguk. Bi Tuti keluar dari kamar. Aku segera membereskan perlengkapan milik Bobo, lebih baik aku pergi sebelum semakin menderita.


Aku turun ke bawah. Berjalan menuju ruang tamu tapi Albern sudah ada di ruang tamu, dia duduk sambil membaca koran. Aku pura-pura tak melihatnya.


"Bocah kecil kau mau ke mana?" tanya Albern.


Ujung-ujungnya diintrogasi juga. Aku berbalik menghadapnya.


"Aku mau pulang," jawabku.


"Kau punya hutang padaku, menyewa kamar untuk tidur semalaman itu seharga 5 juta, belum biaya merawat bayi selama satu malam itu 5 ratus ribu, dan biaya pelayananku semalam 5 juta, jadi bayar," ujar Albern.


"Kapitalis dan penjajah sekali, kenapa ya aku bertemu dengan makhluk sepertimu," ucapku.


Sudah ku duga lelaki kejam ini tak mungkin sebaik itu. Dia pasti akan melakukan hal yang merugikanku.


"Tuan bebaskan aku, aku harus sekolah," ucapku.


"Mulai hari ini, kau harus tinggal di sini jadi pembantu di rumah ini," ucap Albern.


"Mirip sinetron apa ya? familiar sekali kata-kata ini, kalau gak salah happy ending deh," ujarku.


"Itu hanya sinetron, kalau di sini sad ending karena kau selamanya jadi babuku," ucap Albern.


"Huh ..., kejam!" ujarku.


Tunggu, mumpung momennya pas sebaiknya aku bicara pada makhluk kejam ini.


"Kitakan sudah menikah, jadi aku ini istrimu, kau pasti tak inginkan aku dikeluarkan dari sekolah, soalnya susah senang suami istri harus bersama, he ... he ...," bujukku.


"Aku tidak peduli, kau akan tetap dikeluarkan!" tegas Albern.


Aku langsung menaruh Bobo di sofa, ku hampiri Albern dan duduk bersimpuh di bawah kakinya.


"Tuan ku mohon, jangan keluarkan aku dari sekolah, aku ingin sekolah, aku akan belajar dengan lebih giat lagi, aku janji akan lulus tahun ini," ujarku.


Albern terdiam. Aku terus memohon, agar dia berbaik hati padaku.


"Oke, aku tidak akan mengeluarkanmu dari sekolah tapi ikuti semua peraturanku, pertama kau harus mengurus semua keperluanku, kedua jangan bilang pada siapapun kalau kau istriku, ketiga nilaimu di ujian tengah semester ini harus delapan, keempat jangan berani mengganggu urusan pribadiku, kelima aku tidak mau tau urusanmu dan bayimu," ucap Albern.


Aku terdiam. Peraturannya berat juga. Mengurus Bobo dan sekolahku saja sudah melelahkan ditambah lagi harus mengurus lelaki buaya darat ini, berasa hidup dijaman penjajahan. Nasib bertemu makhluk kejam ini.


"Iya," jawabku.

__ADS_1


__ADS_2