ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 57


__ADS_3

Setelah mengunjungi Deril, aku dan Albern pulang ke rumah. Albern begitu manja, memelukku terus tak ingin jauh dariku. Buaya sudah jinak, sepertinya aku akan pensiun jadi pawang buaya. Beralih jadi peternak anak buaya biar tak punah.


"Sayang, sebentar lagi kau lulus, mau kuliah di mana?" tanya Albern.


"Aku ingin kuliah di luar kota, ada universitas yang ku impikan sejak lama," jawab Aara.


"Universitas terbaik ada di kota A, kau ingin kuliah di sana?" tanya Albern.


"Iya," jawab Aara.


"Berarti kita LDR-an," ucap Albern.


"LDR? Lama jadi Duda nggak bisa Romantisan ya?" tanya Aara.


"Sok tahu, arti dari mana? Kau ambil dari kamus Dodo dan Ami yang agak aneh itu?" tanya Albern.


"Aku bagian dari mereka, sedikit agak gimana?" ujarku.


Albern semakin memelukku kencang.


"Kau itu menggemaskan. Membuatku tak ingin jauh darimu," ujar Albern.


"Aku juga tidak ingin jauh dari suamiku," sahut Aara.


Cup


Albern mencium pipiku.


"I Love You," ucap Albern.


"I Love You Too," jawabku.


Tiba-tiba suara Bobo menangis. Aku segera melepas pelukan Albern. Menuju ke ranjang bayi di kamar kami. Saat melihatku Bobo langsung diam.


"Ternyata Bobo rindu sama Momy ya?" ucapku.


Bobo mulai mengoceh dan tertawa riang.


"Bobo lucunya, Momy gemes deh," ucapku.


Albern merangkulku dari belakang dan mengajak Bobo bicara. Setiap Albern mengajaknya bicara, Bobo antusias dan membalasnya dengan ocehan yang lucu.


"Suamiku, ngomong-ngomong Raina ke mana?" tanyaku.


"Kemarin sih Axel chat aku, dia bilang Raina ikut pulang bersamanya," jawab Albern.


"Syukurlah, semoga mereka kembali harmonis seperti kita," ujarku.


Albern tiba-tiba memelukku.


"Iya, biar Axel tidak lagi mengejarmu, bikin aku cemburu aja," ucap Albern.

__ADS_1


"Suamiku cemburu?" tanya Aara.


"Iyalah, apalagi dia adikku, gak rela harus bersaing dengannya. Karena kau itu milikku sayang," ucap Albern.


"Iya aku memang milikmu," sahutku.


Senengnya dicintai. Sekarang ada tempat untukku bernaung. Aku tak sendirian lagi. Hidupku terasa lengkap dan bahagia sekarang.


***


Axel dan Raina akhirnya tinggal di kosan. Semua fasilitas yang dimiliki Axel sudah dikembalikan pada orangtuanya. Kini Axel harus memulai semuanya dari nol bersama Raina.


"Raina maaf hanya ini tempat yang bisa kita tempati saat ini," ujar Axel.


"Asal bersamamu, di manapun aku mau," ucap Raina.


Axel langsung mencium Raina. Sesaat mereka berciuman.


"Aku mencintaimu Raina," ucap Axel.


"Aku juga mencintaimu Axel," kata Raina.


"Ayo tidur kau pasti lelah," ujar Axel.


Raina mengangguk. Mereka berbaring di ranjang. Axel memeluk Raina erat, seolah tak ingin jauh dari istrinya.


"Raina saat kita dewasa nanti, apa kau mau punya anak bersamaku?" tanya Axel.


"Mau, aku mau punya banyak anak, mereka mirip denganmu," ucap Raina.


"Harus ada yang secantik dirimu," ujar Axel.


Raina tersenyum. Senang sekali mendengar perkataan Axel.


"Geli, kau harus mencukur jenggotmu, sudah mulai panjang," ujar Raina.


"Tapi enakkan buat mainanmu?" tanya Axel.


"Iya, ada mainan tiap aku menyentuh dagumu," ujar Raina.


Axel memegang tangan Raina dan menciumnya.


Kini Axel memiliki wanita yang dicintainya dan sudah menjadi istrinya. Tak perlu bersaing atau patah hati karena Raina sangat mencintainya.


***


Pagi itu aku berangkat sekolah di antar sopir pribadi. Ku lihat Axel dan Raina jalan di tepi jalan. Aku memint supir menepi, aku turun dari mobil menghampiri keduanya.


"Axel, Raina," sapaku.


"Aara," sahut Axel dan Raina bersamaan.

__ADS_1


"Kalian kok jalan?" tanyaku.


"Kami memang jalan sekarang," jawab Raina.


"Kalau begitu ayo bareng," ucapku.


Raina melihat ke arah Axel. Dia tidak ingin melukai hatinya, apapun kondisinya Raina ingin bersamanya.


"Thanks Aara, tahu aja aku gak terbiasa jalan," ucap Axel tengil.


Raina langsung tersenyum.


"Beda ya kalau sultan jalan, bikin macet, mending naik ke mobil gak bikin jalanan gerah," candaku.


"Oke," sahut Axel sambil memegang tangan Raina.


"Huh, bikin iri aja, pagi gini dah dempetan," candaku.


"Ini enaknya sama yang seumuran, romantisan terus, beda sama Om-Om," sindir Axel.


Raina hanya tersenyum melihatku disindir Axel.


"Om-Om udah jelas dong masa depannya, selamat meniti ya," ucapku.


"Terimakasih atas sindiriannya, eh doa ya atau penyemangat?" ujar Axel.


"Ha ha ha." Kami tertawa bersama. Eh tiba-tiba Dodo dan Ami muncul mana kotor semua. Mereka terlihat ngenes.


"Kenapa Do, Mi, kalian habis mandiin kuda nil?" tanya Axel.


"Iya, gaya kalian merakyat banget, jangan pencitraan di depanku yang mulai kaya ini," ucapku bercanda.


"Kalian habis mengemis buat beli sarapan biar gak sama kepala ikan asin ya?" ujar Raina yang mulai bisa bercanda.


"Kita habis nyemplung ke got gara-gara ngantri sarapan gratis," sahut Ami.


"Udah ngantri panjang, dapet enggak, kotor iya," tambah Dodo.


"Ya ampun ngenes terus ya nasib kalian, coba ku terawang jangan-jangan nasib ke depan ngenes juga," canda Axel.


"Gak perlu diterawang, takdir mereka dah jelas ngenes," sahutku.


"Kalian, bukannya menolong kita," ujar Ami.


"Bercanda Mi, biar gak keriput tar tua lagi," ucapku.


"Ami mah udah tua dari sekarang, gizinya cuma kepala ikan asin gimana mau regenerasi kulit," ujar Dodo.


"Yaelah kita satu server kali Do, sama-sama tua sebelum waktunya," ucap Ami.


"Ha ha ha." Kami tertawa bersama.

__ADS_1


Hidup memang terkadang sulit, tapi kita jangan menyerah. Tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi esok atau lusa. Berusaha dulu baru tahu hasilnya.


__ADS_2