ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 104


__ADS_3

Farel dan Alina kembali ke rumah mereka setelah sekian lama bulan madu dan tinggal di rumah orangtuanya. Farel menemani Alina yang sedang menyiram bunga di taman samping rumah mereka. Dia memandang adik kecil yang kini sudah menjadi istrinya.


"Kak Rafa jangan melihat begitu, aku malu."


"Habis istriku cantik dan baik."


"Kak ..."


Farel memetik bunga mawar dan memberikannya pada Alina. Dengan senang hati Alina menerima bunga mawar itu, dia senang sekali mendapatkan bunga mawar dari suami tercinta, tapi tiba-tiba Alina mual mencium bau bunga mawarnya. Alina muntah-muntah, Farel memijat lehernya.


"Sayang kau masuk angin."


"Mungkin, tapi eneg nyium bau bunga mawar itu."


"Bukannya kau suka bunga mawar?"


"Iya, tapi akhir-akhir ini aku tidak suka bau harum."


"Jadi kau suka bau asam ya kan?"


Farel ingat betul Alina suka sekali mencium bau ketiak suaminya akhir-akhir ini, bahkan terkadang dia melarang Farel mandi, dia suka aroma bau keringat suaminya. Aneh, tapi Alina begitu bahagia dengan bau keringat yang diciumnya.


"Jangan bilang aku harus gak mandi lagi, mau ketemu klien sore ini sayang."


"Mandi pakai air saja ya Kak Rafa, jangan wangi, aku gak suka."


"Yah asem dong."


Alina memeluk suaminya, sambil tersenyum bahagia.


"Biarin, aku suka."


"Kamu aneh sayang, jangan-jangan hidungmu gak waras, kita ajak ke rumah sakit jiwa biar bener dulu." Farel bercanda.


"Kak Rafa bisa aja."


"Kak Rafa, aku mau makan pete sama jengkol, kayangya yang bau enak tuh."


"Jangan sayang, bau mulut dari atas sampai pembuangan!"


"Justru Alina suka kalau toiletnya bau."

__ADS_1


Farel tersenyum, dia tak kuasa menahan geli. Apalagi Alina beberapa hari ini menaruh pete dan jengkol sebagai pengharum ruangan kamar.


"Oke, tapi apa tidak ada yang lebih bau, kotoran hewan lebih bau."


"Boleh sayang, beliin aroma terapi dari kotoran sapi dong."


"Astaga sayang, tadi aku bercanda. Masa pengharum ruangan kotoran sapi?"


"Tapi aku suka."


Farel merasa ada yang aneh dengan Alina. Kebiasaannya agak berubah. Alina juga lebih sering bermalas-malasan. Tidak suka mandi, suka berantakan dan kotor.


Tak lama handphone Farel berdering. Dia mengambil handphone disaku bajunya, ternyata panggilan dari kliennya.


"Sayang aku angkat dulu telpon dari klien."


"Iya Kak Rafa."


Farel mengangkat telpon dari kliennya, sedangkan Alina kembali ke dalam rumah. Dia duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Farel selesai menelpon. Tak lama Farel datang menghampirinya.


"Sayang, aku harus bertemu klien dulu ya."


"Iya Kak Rafa."


"Perkenalkan saya Anna Fanisa, senang bertemu dengan anda."


"Saya Muhammad Farel, senang juga bertemu dengan anda."


Mereka mulai berbincang masalah bisnis, tapi disela-sela pembicaraan itu, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke dalam. Dia menghampiri Farel dan Anna. Lekaki itu menarik lengan Anna dan menamparnya.


Plaaak ...


"Ternyata kau selingkuh ya Anna."


"Mas aku tidak selingkuh."


"Tidak selingkuh, lalu siapa lelaki yang duduk berdua denganmu?"


Farel merasa ini salah faham, dia berdiri dan coba menjelaskan semuanya.


"Perkenalkan saya Muhammmad Farel, Nona Anna ini klien saya."

__ADS_1


"Jangan bohong, kalian berkencan dengan mengatas namakan bisniskan?"


"Tidak Mas, Tuan ini memang klienku."


"Maaf Mas, Nona Anna benar, kami hanya bertemu untuk bisnis."


Lelaki itu menarik lengan Anna keluar dari ruang VIP, sepanjang jalan dia memarahi istrinya seolah istrinya berselingkuh, Farel yang kasihan pada Anna berusaha menyusul keduanya, karena lelaki itu melihat Farel mengikutinya, dia melepas tangan Anna dan memukul Farel.


Dug ...


Satu pukulan mendarat di pipi Farel. Lelaki itu masih emosi, dia kembali hendak memukul Farel tapi sekarang Farel berusaha melawan, terjadi babu hantam di dalam kafe, itu disaksikan banyak orang hingga beberapa orang memvideokan perkelahiaan itu. Mereka bahkan memberi judul perkelahian dua lelaki, suami dan pebinor. Video itu diupload di media sosial.


Anna segera memeluk suaminya dan memohon agar suaminya berhenti.


"Mas sudah Mas, malu."


Anna menangis, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan suaminya, melihat Anna menangis, suaminya berhenti.


"Kali ini aku membiarkanmu, awas saja kalau kau berkencan dengan istriku lagi."


"Anda salah faham Tuan, saya ini rekan bisnis istri anda."


"Aku tidak peduli dengan alibimu, yang jelas aku tidak akan membiarkanmu menggoda istriku."


Lelaki itu menarik lengan istrinya keluar dari kafe. Farel masih mematung di tengah kafe. Dia tak menyangka pertemuaannya dengan klien berujung seperti itu. Dia malah dituduh pebinor. Padahal mereka hanya bicara soal bisnis.


***


Kiara berpakaian rapi. Dia ingin melamar kerja di hotel milik Raka. Dia sengaja berdandan cantik agar bisa memikat ayah Farhan dengak kecantikannya lalu Kiara pergi ke Hotel Razkia. Dia mengikuti interview. Kecantikannya membuat HRD luluh lantah dibuatnya, Kiara mampu membuat orang yang menginterviewnya terkesan. Dia yakin akan diterima jadi sekretaris Raka.


Selesai interview, Kiara keluar dari ruangan. Dia berjalan menuju lift. Tak sengaja melihat Raka yang juga hendak menuju lift. Dia sengaja memilih lift yang sama. Di dalam lift hanya ada Raka dan Kiara.


"Ini kesempatanku menggoda Om kesayanganku," batin Kiara.


Kiara pura-pura pingsan. Segera Raka menolongnya. Dia meraih tubuh Kiara dan membopongnya keluar lift.


"Om Raka sudah jatuh kepelukanku," batin Kiara.


Raka membawa Kiara ke ruangan yang biasanya digunakan untuk karyawan yang sedang sakit, di sana ada perawat yang bekerja. Raka membaringkan Kiara di ranjang. Kiara masih pura-pura pingsan. Dia senang tangannya dipegang Raka, perutnya dan dadanya diraba.


Pikiran joroknya menjalar di otaknya. Dia membayangkan Raka melakukan itu. Tak lama dia perlahan membuka matanya, melihat ke depan.

__ADS_1


"Tidaaak!" Kiara berteriak. Terkejut melihat yang ada di depannya.


"


__ADS_2