ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 68


__ADS_3

Air mata Alina menetes melihat Axel. Kenangan bersama Rafael tergambar dimata Alina. Seakan semuanya diulang dengan jelas. Alina menatap mata Axel tapi dia sadar Axel bukan Rafael. Dia langsung tersadar dari lamunannya.


"Gimana aktingku sudah mirip artis terkenal?" tanya Axel.


"Gak lucu" ucap Alina.


Alina melepas tangan Axel yang memegang lengannya. Dia berjalan meninggalkan Axel sambil menghapus air matanya.


"Alina...Alina..." teriak Axel memanggil Alina sambil mengejarnya.


Alina berjalan keluar dari perusahaan. Dia berjalan ditepi jalan. Alina terus menangis. Rasa rindunya pada Rafael begitu dalam. Alina naik bus, dia duduk dikursi bagian tengah.


"Kak Rafa, kau ada dimana aku rindu padamu, biarpun kita tak bersama tapi paling tidak, kita bisa bertemu" ucap Alina.


Alina kembali ke kamar kosannya. Dia berbaring diranjang kamarnya sambil memeluk foto Rafael yang disimpannya selama ini.


"Kak Rafa, aku baru sadar kau sangat tampan. Selama ini aku melihatmu sebagai kakakku. Tak terlintas dipikiranku kau adalah kekasihku saat itu. Tapi saat kau jauh aku bisa merasakan rasa cinta ini" ucap Alina.


Lama-lama Alina tertidur dengan pulas. Seseorang masuk ke kamar kosan Alina. Dia duduk disamping Alina lalu mengelus kepalanya.


"Alina aku juga rindu padamu, ingin rasanya bersamamu seperti dulu. Tapi kau akan terkejut saat bertemu denganku. Pada saatnya kita akan bersama lagi" ucap Orang itu.


Orang itu keluar dari kamar kosan Alina. Dia meletakkan setangkai bunga mawar disamping Alina.


Suara adzan ashar membangunkan Alina. Matanya mulai terbuka. Dia melihat setangkai bunga mawar ada disampingnya.


"Bunga mawar ini kok ada diranjangku?" ucap Alina yang merasa aneh dengan bunga mawar yang ada diranjangnya.


Alina memegang bunga mawar itu. Dia melihat bunga mawar itu begitu harum dan seperti baru dipetik. Meskipun tak tahu siapa yang memberinya bunga mawar itu tapi hati Alina merasa senang


************


Seorang lelaki sedang menelpon didepan jendela kaca apartemennya. Dia melihat keramaian kota dimalam hari sambil berbincang dengan orang ditelpon.


"Gimana kabarmu?" (kayf halukum?)


"Baik Abi" (tayib' Abi")


"Bagaimana perkembangan perusahaanmu?"


(kayf tatatawar sharikatuka?")


"Maju pesat" (taqdim sarie).


"Bagus, apa kau sudah bertemu gadis yang kau cintai?" (madha, hal qabalat alfatat alati tuhibuha?").


"Sudah" (bialfiel").


Setelah berbincang dengan seseorang ditelpon. Lelaki itu melihat ke arah keramaian kota. Ada seseorang yang dirindukan olehnya.


***************


Pagi harinya Alina bergegas berangkat bekerja. Dia sudah berpakaian rapi. Alina segera naik bus. Dia duduk disamping seorang lelaki yang menutup wajahnya dengan jaket miliknya. Lelaki itu membuka jaket yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Ratu kegelapan kita bertemu lagi, berarti kita jodoh" ucap Axel.


"Aku gak mau ya berjodoh denganmu, titik" ucap Alina.


"Kau tak tanya kenapa aku naik bus?" ucap Axel.


"Gak penting" ucap Alina.


"Aku bawa sarapan, kau mau?" tanya Axel.


"Aku kenyang" ucap Alina.


Axel menyodorkan kotak bekal itu pada Alina. Dia meletakkannya dipangkuan Alina.


"Mau dimakan atau tidak, itu urusanmu, aku sudah niat memberi. Itu masakanku sendiri" ucap Axel.


Axel turun dari bus meninggalkan Alina. Tak lama Alina sampai diperusahaan. Dia mulai bekerja sebagai OB. Alina membuat teh dan kopi. Dia mengantarkan ke setiap divisi. Alina mengetuk pintu ruangan Farel.


Tuk...tuk...tuk...


"Masuk" ucap Farel dari dalam.


Alina masuk ke ruangan kerja CEO. Dia terkejut yang ada diruangan CEO adalah Farel. Alina terdiam sesaat.


"Dia CEO disini" batin Alina.


Farel tetap fokus melihat laptop didepannya. Tanpa melirik Alina yang masuk keruangannya.


"Selamat pagi Bos" ucap Alina.


"Ini kopinya Bos" ucap Alina.


Karena Farel tak menjawab, Alina meletakkannya dimeja.


Alina meletakkan kopinya dimeja Farel. Dia masih berdiri didepan meja melihat ruangan kerja Farel yang ada kaligrafi indah didalam ruangan itu. Juga foto kabbah dan masjid terpampang diruangan itu. Bahkan ada mushola kecil diruangan kerjanya.


"Keluar! sudah selesaikan" ucap Farel.


"Iya Bos" ucap Alina.


Alina keluar dari ruangan itu. Dia mulai mengerjakan pekerjaan lainnya. Menbersihkan jendela kaca bagian dalam ruangan. Setiap ruangan Alina membersihkan jendela kacanya. Sampai disebuah ruangan tunggu. Alina membersihkan jendela kaca yang begitu tinggi. Alina naik ke stager. Dia membersihkan kaca didepannya. Alina lupa sedang berdiri diatas stager, dia menginjakkan kakinya ke samping bagian yang tidak ada stagernya.


"Aaaaa..." Alina terjatuh.


Bluuuuug...


Farel menangkap Alina. Dia membopong Alina ditangannya. Alina terus menatap Farel yang sedang membopongnya.


"Lelaki ini matanya mirip Kak Rafael, dia sedikit mirip dengan..." batin Alina.


Belum menatap dengan jelas, lelaki itu sudah memanggil Alina.


"Turun" ucap Farel.

__ADS_1


"Baik Bos" ucap Alina.


Alina turun, dia berdiri didepan Farel.


"Terimakasih ya Bos" ucap Alina


Farel langsung pergi meninggalkan Alina, seperti biasa dia tidak menjawab ucapan terimakasih dari Alina.


"Pelit menjawab" ucap Alina pelan.


Alina masuk ke ruangan pantri. Dia duduk dan membuka bekal dari Axel. Sebuah bento spesial yang terlihat enak dan harum.


"Kelihatannya enak, dulu Kak Rafa selalu membuatkanku bento spesial seperti ini" ucap Alina.


Alina memakan bento spesial. Suapan pertama sudah membuatnya terkejut bukan main.


"Rasanya mirip buatan Kak Rafa" batin Alina.


"Iya, ini bento spesial buatan tangan Kak Rafa" batin Alina.


Alina segera menghabiskan bento spesial itu sampai habis tak tersisa.


"Rasa rinduku sedikit terobati memakan bento ini" batin Alina.


Malam itu Alina lembur menggantikan temannya yang tidak bisa lembur. Alina bekerja sampai jam 10 malam. Setelah jam 11 malam, Alina pulang.


Alina berjalan menunggu bus. Tapi tak kunjung datang. Akhirnya Alina berjalan. Jalanan mulai sepi. Alina terus berjalan, tiba-tiba ada dua orang preman mengepung Alina.


"Cantiknya, masih seger lagi"


"Daun muda ya seger dong"


Alina berusaha menghindar dan terus berjalan.


Tapi salah seorang preman memegang lengannya.


"Lepas" ucap Alina.


"Mau kemana kok buru-buru"


"Kita butuh kehangatan"


Alina berusaha melepas lengannya dari tangan preman itu. Tapi preman itu malah menarik Alina, Alina berusaha melawan dan teriak tapi tak ada yang datang menolongnya. Preman-preman itu membawanya ke bangunan yang sudah tak terpakai. Mereka menyudutkan Alina dan merobek pakaiaannya.


"Cantik dan mulus" Preman itu memperhatikan tubuh Alina.


"Tolong....tolong....lepaskan aku...." ucap Alina berteriak meminta tolong.


Tangan Alina diikat, salah satu preman duduk dibelakang Alina memegang kakinya. Sedangkan preman satunya ada didepan Alina.


"Setelah selesai kami akan melepaskanmu"


"Buruan bro"

__ADS_1


Alina menangis ketakutan, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Segala usahanya sudah dilakukan tapi tak satupun orang datang menolongnya. Alina g


hanya berserah diri pada pertolongan Allah.


__ADS_2