ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 103


__ADS_3

"Papa ... Papa ...." Leo mendengar suara yang terus memanggilnya dari tadi. Suara itu semakin jelas. Leo berusaha untuk sadar. Saat matanya perlahan terbuka, di depannya anak dan menantunya mengelilinginya. Dia berada di ruangan rawat inap.


Leo bangun, duduk. Dia mengingat semuanya.


"Bukannya tadi kita di pemakaman?" tanya Leo.


"Pemakaman?" Cinta heran kenapa Papanya bicara soal pemakaman.


"Papa tadi sedang di pemakaman ibumu," jawab Leo.


"Pa, sabar ya. Aku tahu ini berat untuk Papa," sahut Raka.


"Aku ada sudah ada di sini Pa," ujar Marwa.


Ketiga anak Leo menyemangatinya. Mereka tahu beban yang dirasakan ayahnya.


"Papa sudah ikhlas," ujar Leo.


"Semua ini ujian Pa, Allah ingin hambanya lebih dekat lagi," sahut Raka.


"Biar aku yang menemani Papa," ucap Cinta.


"Aku juga akan di sini nemenin Papa," ucap Marwa.


"Papa tidak apa-apa, semua sudah menjadi takdir, ini yang terbaik untuk Mamamu," ujar Leo.


Leo terlihat sedih. Baginya Zara itu matahari yang menyinari gelapnya hidup Leo. Kehilangannya membuat hidup Leo sunyi dan sepi, penuh kehampaan. Hanya doa dan keyakinan bahwa semua ini takdir yang sudah digariskan. Hidup dan mati manusia sudah diatur Allah SWT.


Cinta mengambil teh manis dan memberikannya. Leo meminum teh manis buatan putrinya. Teh itu menjadi penyemangat dan penghangat hatinya yang sedang berduka. Leo jadi teringat Zara yang sering membuatnya teh. Hidupnya memang tak bisa tanpa ada Zara di sisinya. Dalam segala hal mereka selalu bersama.


"Pa, mau makan, biar Marwa suapin?" tanya Marwa.


"Atau Papa mau Raka pijetin, pasti Papa lelah beberapa hari ini menjaga Mama," tambah Raka.


"Makasih nak, Papa senang kalian ada di sini, itu sudah cukup," tutur Leo.


Mata Leo berkaca-kaca saat teringat kembali Zara. Rasanya sangat menyakitkan, bertahun-tahun lamanya bersama, dia harus menerima kenyataan tanpa Zara.


"Pa, jangan sedih, Mama baik-baik saja," ucap Cinta.


"Semua pasti akan baik-baik saja Pa," ucap Marwa.


"Nanti aku akan melihat Mama, Papa istirahat aja," ucap Raka.


"Papa ingin berziarah ke makam Mamamu, antarkan Papa ke sana," tutur Leo.


"Ziarah?" Raka terkejut.

__ADS_1


"Iya, tadi Papa belum sempat berdoa dan merapikan makam Mamamu," sahut Leo.


"Makam Mama?" Cinta juga terkejut.


"Ziarah, Makam, memang ada apa Pa?" tanya Marwa.


"Bukannya tadi Papa ada di makam bersama kalian," ujar Leo.


"Papa pasti mimpi nih, tadi Papa pingsan, perawat memindahkan Papa ke ruang rawat inap," ucap Cinta.


"Iya Pa, tadi Papa jatuh pingsan," tambah Marwa.


"Perasaan tadi Papa ada di makam," sahut Leo.


"Mungkin mimpi Pa," ucap Raka.


Leo coba mengingat kejadian sebelumnya. Dia menelpon anak-anaknya lalu jatuh pingsan.


"Iya, Papa ingat, tadi setelah menelpon kalian Papa pingsan," ujar Leo.


"Papa mau nengok Mama? Mama sudah sadar," ucap Cinta.


"Mamamu sudah sadar?" Leo antusias.


"Iya Pa, tadi Mama mau ke sini, tapi kami melarang, Mama butuh istirahat," ucap Marwa.


"Alhamdulillah," ucap Leo.


"Papa mau nengok Mama," ucap Leo.


"Ya udah, Cinta antar ya Pa," ucap Cinta.


Leo mengangguk. Dia beranjak dari ranjang keluar dari ruangannya, menuju ruang rawat inap tempat Zara berada. Leo diantar Cinta. Sampai di dalam ruangan, Leo memeluk Zara. Dia senang sekali bisa bersamanya lagi. Leo sampai menangis karena bahagia. Cinta yang melihat momen mengharukan itu, keluar untuk membiarkan kedua orang tuanya bersama.


"Papa, jangan nangis, aku jadi ikut nangis," ujar Zara.


"Papa benar-benar bahagia Ma, Allah masih memberi kesempatan bersama denganmu," ucap Leo.


"Iya Pa, alhamdulillah kita masih bisa bersama, Mama juga tadi sempat takut, bukan karena tidak mau menerima takdir Allah tapi berat rasanya meninggalkan Papa," ucap Zara.


"Jika seandainya Allah menginzinkan, Papa ingin dipanggil bersama Mama," ujar Leo.


Zara mengangguk. Mereka ingin sehidup semati bersama. Terlalu banyak yang sudah dilewati bersama, Leo dan Zara ingin selalu melalu apapun berdua.


Leo mencium Zara, semua rasa cintanya dicurahkan. Tiada yang lebih berharga selain Zara. Wanita yang selalu ada dan mendampinginya dalam suka dan duka.


Di tempat yang berbeda Farhan, dan yang lainnya duduk di ruang tunggu. Mereka sudah lega saat mendapat kabar kalau kakek dan neneknya baik-baik saja.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kamu rapi banget Farhan, mau kemana?" tanya Aksa.


"Lamaran dong, guekan mau nikah juga kaya lo," jawab Farhan.


"Move on nih, kirain masih terpuruk," ledek Aksa.


"Dunia ini luas, cewek cantik bukan Kiara doang," ucap Farhan.


"Baguslah, kau tidak dibutakan cinta," ucap Aksa.


"Gayanya, padahal semalaman nangis, gara-gara patah hati," ledek Kania.


"Jangan ember ya Kania," ucap Farhan.


"Idih yang patah hati, udah tancap gas aja," ledek Haura.


"Gak mau kalah, mau belah duren juga kaya Kak Aksa," ledek Deena.


"Iyalah, masa jadi perjaka tua, kasihan junior butuh kandang," ucap Farhan.


Semua tertawa dengan candaan ringan diantara mereka. Rasa sedih berubah bahagia. Meskipun Farhan terpaksa menunda acara lamarannya, tapi mendengar kakek dan neneknya sehat, mereka semua ikut bahagia.


***


Kiara memandangi foto Raka yang sedang mengenakan jas. Dia memang tergila-gila dengan Raka. Sudah lama ingin bisa dekat dengannya. Semua ini membuatnya berambisi untuk mendapatkannya. Ibu Yesi menghampiri Kiara yang duduk di sofa sambil tersenyum-senyum sendiri melihat foto Raka.


"Lagi mikirin apa nak?"


"Ini Ma, sugar daddy ku."


"Oh Raka ayahnya Farhankan?"


"Iya Ma, kira-kira gimana ya supaya deket dengannya?"


Ibu Yesi mulai memikirkan keinginan anaknya.


"Bukannya ayahnya Farhan itu mengurus sebuah hotel ya sekarang? kenapa kau tak melamar jadi sekretarisnya saja?"


"Benar juga Bu, dengan begitu aku akan dekat dengannya."


"Nah gitu, baru pinter."


Kiara tersenyum memikirkan ide gilanya. Dia akan melakukan apapun untuk dekat dengan Raka.


"Jadi pelakor itu lebih menyenangkan, biasanya lelaki suka daun muda."


"Mereka makhluk yang tak bisa menolak kenikmatan."

__ADS_1


"Kau benar, rebut secara manis itu caranya."


Kiara mengangguk. Kedua anak dan ibu itu benar-benar tak punya harga diri, rela melakukan apapun tanpa peduli orang lain akan terluka.


__ADS_2