ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 11


__ADS_3

Alina berjalan menuju toilet di sekolahnya. Ada tiga toilet umum di sekolahnya. Toilet yang terletak diantara kelas satu dan dua, toilet yang terletak diantara kelas tiga dan kantin, dan toilet khusus guru dan kepala sekolah. Alina masuk ke toilet yang terletak diantara kelas tiga dan kantin.


Dia masuk ke toilet itu, tak sengaja dia bertubrukan dengan Beby.


Dug........


Pluuuk......


Sesuatu terjatuh dari tangan Beby, benda putih panjang terbuat dari bahan atom plastik terjatuh di lantai. Alina mengambil benda putih itu. Dia terkejut saat mendapati itu test pack kehamilan elektrik. Bahkan terdapat dua garis dalam test pack itu. Alina belum pernah melihat langsung benda itu sebelumnya, ini pertama kalinya melihat test pack.


"Dua garis berarti". Alina menduga. Belum sempat melanjutkan ucapannya, Beby mengambil test pack itu dari tangan Alina.


"Gak usah sok tahu". Beby memarahi Alina. Matanya terlihat sembab bahkan pipinya memar.


"Beby, kamu kenapa?". Alina bertanya.


"Bukan urusanmu".


Beby berjalan keluar dari toilet itu. Sedangkan Alina masuk ke toilet. Dia memikirkan test pack itu. Dan mengingat kejadian digudang sekolah. Mungkinkah Beby sering melakukan hal itu bersama Jordi dalam pikiran Alina.


"Apa mungkin Beby hamil? lalu memar dipipinya?". Pertanyaan memenuhi pikiran Alina. Dia tidak habis pikir Beby akan hamil di usianya yang masih muda. Lalu bagaimana dengan masa depannya begitupun dengan bayi yang dikandungnya. Selain itu memar di pipi Beby, Alina berpikir itu bekas tamparan. Dia bertanya dan bertanya.


Alina keluar dari toilet, tiba-tiba Alvan sudah ada di lorong jalan keluar dari area toilet itu. Kaki kanannya diangkat ke tembok depannya memblokir jalan untuk Alina lewat.


"Aku mau lewat, bisakah kakimu turun?". Alina bertanya. Dia sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan sikap Alvan yang semena-mena padanya.


"Memohonlah". Alvan memerintah. Dia ingin melihat Alina memohon padanya. Lelaki itu benar-benar menganggap Alina mainannya.


"Alvan baik, ku mohon turunkan kakimu" Alina tidak ingin ambil pusing, apa salahnya mengalah pada lelaki itu. Percuma berdebat, Alvan hanya akan terus semena-mena padanya.


Kaki Alvan turun, Alina melewatinya tapi bagian jilbab belakangnya malah ditarik Alvan. Kaki Alina kembali mundur sejajar dengan Alvan. "Alvan lepas". Alina kesal. Dia merasa masih saja dikerjai Alvan.


"Kerjakan PR ku Alina". Alvan meminta. Terdengar memerintah tapi nadanya lebih pelan dari yang tadi. "Lepas dulu tanganmu dari hijabku" Alina tidak mau memberi jawaban sebelum Alvan melepas tangannya dari hijab Alina. Tangan Alvan melepas hijab Alina.


"Ikut aku". Alvan menarik lengan Alina. "Alvan lepas, aku harus kembali ke kelas". Alina berusaha melepas tangannya dari Alvan tapi Alvan malah mendorongnya hingga Alina terjatuh.


Bruuuuuug..........


"Aw". Alina terjatuh dilantai. "Alina jangan berani membantah". Alvan menegaskan. Lelaki itu kasar dan tidak suka dibantah. Alina hanya bisa menuruti kemauannya. Alvan meraih lengan Alina, dia memaksa Alina bangun dan menariknya berjalan menguikutinya. Alvan mengajaknya ke kantin sekolah. Alvan mendudukkan Alina di kursi kantin. Di meja terdapat beberapa buku yang berserakan.


"Itu semua PR ku, aku belum boleh masuk sebelum mengerjakan semuanya" Alvan menceritakan kenapa buku itu ada di meja.

__ADS_1


"Banyak sekali tugasmu". Alina memeriksa satu persatu buku di meja. "Jangan cerewet, kerjakan baru kau boleh kembali". Alvan memerintah. Dia tidak akan melepas Alina sebelum semua tugasnya dikerjakan.


"Tapi aku harus kembali, ada ulangan matematika". Alina berusaha memberi tahu keadaan di kelasnya pada Alvan.


"Gurunya sakit, dia tidak akan hadir". Alvan memberitahu. Dia lebih tahu dari Alina karena dia biasa keluyuran dimana-mana saat jam belajar.


"Tapi pasti ada tugas". Alina berusaha menepis ucapan Alvan. Alvan mengambil buku di meja lalu melempar ke arah Alina.


Pluuuuuk..........


Buku itu berjatuhan ditubuh Alina yang sedang duduk di kursi. "Alvan bukumu rusak nanti". Alina mengambil buku-buku yang jatuh tak beraturan.


Alvan meraih lengan Alina menahannya mengambil buku yang berserakan di lantai.


"Alina apa sakit?" Alvan bertanya. "Apa?". Alina bertanya ulang. "Lupakan, itu pantas untuk pembangkang sepertimu". Alvan dengan nada yang kesal.


Alina tetap mengambil buku-buku itu dikembalikan ke atas meja. "Baiklah, aku akan membantumu mengerjakannya, kemarilah". Alina mengajak Alvan mengerjakannya bersama. Alvan duduk di kursi dekat Alina. Dia melihat Alina menjelaskan setiap soal itu padanya.


"Alvan, apa kau mengerti?". Alina bertanya. Alvan hanya memandang Alina. "Kerjakan semuanya Alina". Alvan memerintah. Dia tidak mau harus menulis dan mengerjakan PR itu.


"Jadi percuma saja dari tadi aku menjelaskan, kau masih saja menyuruhku". Alina bicara dengan ringan, dia tidak takut Alvan akan marah padanya.


"Alina kau". Alvan marah. Tangannya terangkat menuju ke pipi Alina, tapi tangannya turun ke bawah mengambil buku yang dipegang Alina.


Alina melihat Alvan menulis di buku tugasnya. Tulisannya rapi, bahkan dia bisa mengerjakannya dengan mudah dan cepat. Entah kenapa dia tidak mengerjakan PR padahal dia bisa mengerjakannya sendiri.


"Wah, sudah selesai, kau hebat". Alina memuji dengan senyuman manis dibibirnya. Dia tahu satu hal tentang Alvan. Dia pandai tapi malas.


"Bantu bereskan bukuku". Alvan kembali memerintah. "Siap". Alina menjawab singkat dengan senyuman. Alina membereskan buku di meja itu lalu memberikannya pada Alvan. "Nih". Alvan menerima buku yang diberikan Alina.


Alvan mengantar Alina sampai ke kelasnya walaupun dia sempat kasar dengan mendorong Alina masuk ke pintu kelasnya. Tapi Alina sudah terbiasa dengan sikap kasar Alvan itu.


************


Pulang sekolah Alina berjalan di tepi jalan menawarkan jasa. Dia ingin membantu kakaknya mencari uang. Alina tak sengaja bertemu seorang Ibu yang sedang duduk ditepi jalan. Dia terlihat kesakitan dengan kakinya. Alina menghampiri ibu itu.


"Bu apa kakinya sakit?". Alina bertanya.


"Ibu baru saja terjatuh dari bus saat turun tadi". Ibu itu menjelaskan pada Alina kejadian sebelumnya.


"Sepertinya kaki Ibu terkilir ya". Alina memeriksa kaki Ibu itu. "Apa Ibu mau diantar ke rumah sakit?". Tanya Alina. Dia tidak tega melihat ibu itu kesakitan. Dia ingin membantu Ibu itu sebisanya.

__ADS_1


"Boleh bantu antar Ibu pulang?". Ibu itu bertanya.


"Boleh, dengan senang hati". Alina mengantar ibu itu pulang ke rumahnya. Rumahnya cukup besar. Tertata rapi dan tampak indah bila dilihat dari luar. Rumah yang di penuhi tanaman bunga, apotik hidup dan sayuran di halaman rumah itu. Sepertinya si empunya rumah rajin bercocok tanam.


Alina masuk ke dalam rumah itu memapah Ibu itu. Dia membantu Ibu itu duduk di sofa. Alina duduk disampingnya.


"Ibu tinggal sendirian?". Alina bertanya. Dia melihat rumah itu sepi. Hanya seorang pembantu tua yang tadi membukakan pintu rumah itu. Alina tak sengaja melihat ke dinding, ada foto Alvan di dinding itu.


"Bu maaf, itu foto siapa?". Alina bertanya.


"Foto Alvan putra Ibu". Ibu itu menjawab. Alina terkejut, ternyata Alvan masih punya seorang Ibu.


Tapi kemarin saat dia datang ke rumah Alvan, tak satupun orang ada di rumah kosong itu.


"Apa kau mengenalnya?". Ibu itu bertanya. "Aku hanya mengenalnya sekilas". Alina menjawab.


Dia memang tidak mengenal Alvan secara dekat. Mereka beda kelas, bahkan Alvan sering semena-mena padanya. Alvan terkenal menakutkan di sekolahnya. Bahkan banyak siswa bilang dia itu psikopat.


"Namamu siapa?". Ibu itu bertanya.


"Alina". Alina menjawab.


"Nama Ibu siapa?. Alina ganti bertanya.


"Namaku Lesti, kau bisa panggil aku Ibu Lesti". Jawab Ibu Lesti. Dia seorang desainer yang memiliki butik diberbagai tempat. Dia baru saja jalan-jalan dengan naik bus ke taman bunga. Tapi saat dia hendak pulang, dia terjatuh saat turun dari bus. Bukannya dia tak punya mobil tapi demi menikmati transfortasi umum, dia naik bus.


"Kau masih mengenakan seragam sekolah?". Ibu Lesti bertanya. Dia memperhatikan gadis muda yang duduk di sampingnya.


"Tadi sepulang sekolah, aku mencari kerja sampingan". Alina menjawab. Dia memang sedang mencari pekerjaan sampingan agar bisa membantu meringankan beban kakaknya.


"Memang kau bisa kerja apa saja Alina?". Ibu Lesti bertanya.


"Apa saja yang penting halal dan tidak mengganggu waktu sekolah". Alina menjelaskan semuanya.


"Kebetulan aku membutuhkan seorang asisten rumah tangga yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah, apa kau bersedia Alina?". Ibu Lesti bertanya.


"Bersedia Bu". Alina menjawab dengan riang.


"Baiklah, mulai besok sepulang sekolah kau bisa langsung bekerja di rumahku". Ibu Lesti mengatakan kabar gembira untuk Alina. Dia percaya Alina mampu mengerjakan pekerjaannya nanti.


Langkah kaki memasuki ruang tamu itu. Sesosok lelaki tampan menghampiri Ibu Lesti dan Alina yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Alvan kemarilah".


__ADS_2