
Saat melihat Haura masuk, tangan Barra langsung mengambil topeng diatas lemari kecil dekat ranjang. Dia memberikannya pada Deena. Dengan cepat Deena memakai topeng itu. Lalu dia langsung beranjak dari ranjang. Dia berdiri tepat disamping ranjang.
"Haura" batin Deena saat melihat Haura melangkah mendekat.
"Selamat sore Om, Haura sudah masak. Om mau makan?" tanya Haura.
"Apa? Haura masak? yang benar saja?" batin Deena.
"Aku akan turun sebentar lagi setelah mandi" ucap Barra.
Haura melihat seseorang mengenakan topeng berdiri disamping ranjang. Dia penasaran siapa orang itu.
"Siapa dia Om?" tanya Haura.
"Dia anak buahku" ucap Barra.
"Anak buahnya? aku tak sudi jadi anak buah Om cabul ini" batin Deena.
"Hai namaku Haura. Jangan panggil Hau atau Ura ya. Panggil Haura" ucap Haura memperkenalkan diri.
"Hai juga namaku Raynor" ucap Deena.
Deena terpaksa berbohong pada Haura. Dia tak mungkin bicara jujur pada Haura tentang siapa dirinya. Identitasnya sebagai Raynor harus disembunyikan begitupun didepan keluarganya. Dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
"Kalau begitu aku tunggu dibawah ya Om, Raynor" ucap Haura.
"Iya" ucap Deena dan Barra bersamaan.
Haura keluar dari kamar itu. Sedangkan Deena memanfaatkan situasi untuk kabur dari tangan Barra. Deena baru melangkah, lengannya langsung dicengkram Barra.
"Mau kemana sayang?" tanya Barra.
"Om cabul bisakah kau tidak menambah kecabulanmu. Aku mau pulang" ucap Deena.
"Kau tidak boleh pulang, temani aku makan" ucap Barra.
"Tidak, aku tidak mau makan denganmu" ucap Deena.
"Haura akan curiga jika kau tiba-tiba pergi. Dan kau tidak mau pergi ke perusahaanku. Disana aku mendesain kostum baru yang lebih kuat dari kostummu ini" ucap Barra.
"Benar juga, jika aku pergi sekarang Haura akan curiga. Lagi pula aku harus memastikan Haura aman disini. Selain itu aku harus mencari tahu siapa Om cabul ini" batin Deena berusaha berpikir.
"Oke aku akan ikut bersamamu" ucap Deena.
"Aku mau mandi, kau mau menemaniku sayang?" tanya Barra.
__ADS_1
Deena langsung mengepal tangan hendak mengarahkan pada Barra. Kepalan tangan itu berhenti satu centimeter dari muka Barra.
"Kalau kau macam-macam. Aku bisa memukulmu dengan keras" ucap Deena.
Deena mengancam Barra. Lelaki tampan itu sulit dihentikan keinginannya. Jadi Deena memilih memberi ancaman pada Barra.
"Oke, aku mandi dulu sayang" ucap Barra.
Barra memasuki toilet, dia mandi lalu berganti pakaian. Kemudian dia mengajak Deena turun ke bawah untuk makan bersama diruang makan. Hanya ada Dhafi dan Haura yang menunggumu mereka berdua untuk makan bersama. Deena dan Barra mulai duduk. Deena melihat makanan yang aneh di meja makannya. Dia tahu saudaranya tidak bisa memasak.
"Ayo makan Om, enak nih. Mantaap" ucap Dhafi.
"Kau makan apa?" tanya Barra.
"Ini makan steak daging buatan Haura" ucap Dhafi.
"Wah enak tuh"ucap Barra.
Barra ikut gabung makan dengan Dhafi. Dia makan steak juga. Dia begitu lahap memakan steak itu. Sekarang giliran Deena makan steak miliknya. Baru satu suapan Deena langsung menahan potongan steak itu dimulutnya.
"Aku sudah tebak, rasanya pasti aneh" batin Deena.
"Tapi kenapa mereka berdua lahap. Dagingnya bahkan keras dan bau amis, bumbunya asin" batin Deena.
"Mungkin lidah mereka gila, jadi wajar kalau ini enak" batin Deena.
"Haura kau betah tinggal disini?" tanya Deena.
"Betah sih enggak, kangen orangtuaku. Tapi aku telah melakukan kesalahan, ingin pulang takut mereka marah padaku" ucap Haura.
"Haura padahal Papa dan Mama merindukanmu, terutama Mama, tiap hari nanyain Haura" batin Deena.
"Haura orangtua tidak pernah membenci anaknya bila mereka melakukan kesalahan. Mereka selalu memaafkan kita dan menyayangi kita dengan tulus. Pulanglah dan minta maaflah dengan sungguh-sungguh, aku yakin mereka akan senang dengan kedatanganmu" ucap Deena.
"Iya ya kau benar. Aku juga rindu Papa, Mama dan Deena" ucap Haura.
"Aku juga rindu padamu Haura" batin Deena.
"Haura apa Tuan Barra dan lelaki muda itu baik padamu?" tanya Deena.
Deena harus memastikan saudaranya aman tinggal dirumah besar itu. Dia tidak mau Haura kenapa-kenapa.
"Baik. Justru karena tinggal disini aku menyadari betapa beruntungnya aku dulu. Aku saja yang menyia-nyiakannya" ucap Haura.
Setan Red mengatakan "Haura apa enaknya tinggal disini tanpa keusilan. Jangan sok alim. Lihat orang bertopeng ini, kau tak penasaran mengerjainya".
__ADS_1
Setan Bul mengatakan "Haura terlalu baik itu membosankan. Banyak aturan padahal kitakan pengen bahagia. Kesenangan kita terbatasi. Gak banget, udah usil lagi mumpung masih muda".
"Aku harus istiqamah" batin Haura.
Setan Red dan Setan Bul mengatakan "Haura insyaf kita yang dipecat he he he".
"Baguslah kalau begitu" ucap Deena.
Deena senang melihat Haura banyak berubah dari pada yang dulu. Kini dia juga terlihat menyadari kesalahannya dan mau berubah lebih baik.
Setelah membantu Haura beres-beres di dapur, Deena pergi ke Markas Orion dengan Barra. Dia naik mobil Barra duduk dibelakang bersamanya.
Sepanjang jalan tadi Deena hanya diam.
"Sayang kenapa kau bengong?" tanya Barra.
"Berhentilah memanggilku sayang" ucap Deena.
"Suka-sukaku, kau berada dizonaku jadi hanya bisa menurut" ucap Barra.
"Menurutmu Gengster Harimau bisa ditumpas?" tanya Deena.
Barra terdiam sesaat, ada yang sedang dipikirkannya. Melihat itu Deena bertanya padanya.
"Apa kau punya masalah dengan Gengster Harimau?" tanya Deena.
"Kejadian itu sudah sangat lama, dulu usiaku sekitar 14 tahun. Aku dan keluargaku sangat bahagia. Tapi tiba-tiba semuanya berubah menjadi menakutkan. Keluargaku dibantai dan dibunuh lalu dibakar. Hingga tak ada yang tersisa. Ibu, Ayah, kedua adik perempuanku mungkin meninggal dalam kebakaran itu" ucap Barra.
"Lalu bagaimana kau bisa selamat?" tanya Deena.
"Aku membawa adik lelakiku berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran itu. Kami bisa keluar tapi sayangnya aku dan adik laki-lakiku terpisah. Aku pingsan karena luka disekujur tubuhku. Aku ditolong keluarga Mahendra. Sedangkan adikku entah dimana" ucap Barra.
"Tragis sekali, berarti Gengster Harimau sangat kejam. Tapi kenapa mereka menargetkan keluargamu?" tanya Deena.
"Ayahku dulu member dari Gengster Harimau. Tapi setelah ayahku bertemu ibuku, dia memilih keluar" ucap Barra.
"Setelah keluar apa yang terjadi?" tanya Deena.
"Ketika kita memutuskan masuk jadi anggota, ada peraturan yang wajib kita patuhi. Kita tidak bisa keluar kecuali cacat, tua ataupun mati. Selama masih muda dan sehat kita tidak diperbolehkan keluar. Jika kita bersikeras keluar kita dianggap pengkhianat. Dan pengkhianat harus diadili. Begitulah hukum mereka" ucap Barra.
"Benar-benar menakutkan jika kita bergabung, sulit keluar. Dan jika memaksa keluar kita akan diadili dengan cara mereka yang kejam" ucap Deena.
"Itulah sebabnya aku melarangmu berurusan dengan mereka" ucap Barra.
Apa yang dikatakan Barra ada benarnya tapi Deena tidak bisa hanya berdiam diri saja. Dia harus bisa menumpas Gengster Harimau yang meresahkan.
__ADS_1
"Apa kau sudah mencari adik laki-lakimu?" tanya Deena.