ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 99


__ADS_3

Kaisar diikat dibawah pohon besar. Bau menyengat bangkai yang berserakan membuatnya terbangun. Kedua netranya mulai melihat ke sekiling. Bukan sebuah rumah tapi hutan berantara sejauh mata memandang. Dia mulai mengingat semua kejadian yang berlalu.


Kesadarannya mulai penuh, jasad yang berada disisinya membuat Kaisar ketakutan.


"Astagfirullah, ini jasad kenapa nempel sama aku. Woi... geseran dikit, aku tahu selama hidup kamu jomblois tapi jangan memaksa aku yang hidup sebagai pasanganmu," ucap Kaisar.


Belatung-belatung bergerak maju mundur diantara jasad yang sudah tak bergerak. Seakan manusia tak berharga setelah mati. Hanya sebuah daging busuk dan tulang belulang yang dimakan belatung dan cacing. Mana harta dan tahta tak dibawa mati hanya tubuh yang fana ini akhirnya menjadi bangkai yang tak berguna. Semua sifat manusia yang dulu kau banggakan sekarang membisu tinggal raga yang tak bernyawa.


Kaisar geli melihat belatung yang mulai turing ditubuhnya. Jangan salah ini belatung jenis yang berbeda, lebih besar dan montok. Kaisar bingung harus gimana tangan diikat. Para belatung mulai jalan-jalan diantara tubuhnya.


"Sorry belatung aku ini masih hidup, kalau sudah mati saja ya. Jahat loh mengganggu manusia kita best friend deh," ucap Kaisar.


Dikira belatung bisa diajak kompromi atau rapat meja bundar jadi boleh mengatakan pendapat pribadi. Kaisar terus berjoget kegeliaan. Mau teriak buka mulut bau busuk memenuhi mulutnya bikin eneg. Diam aja kok gelinya minta ampun.


"Gak ada tarzan apa, minta garukin dulu. Belatungnya agresif dan posesif. Gak mau dimadu kali ya," ucap Kaisar.


"Ya Allah gini amet nasib Kaisar, orang masih idup diiket sama orang yang mati," ucap Kaisar.


Kaisar pasrah, mengeluh tak berguna berteriak tak ada yang menjawab hanya bunyi burung bersiul dan suara dedaunan terkena angin yang terdengar dan membalas teriakan minta tolongnya.


Tak lama muncul sekawanan kera berukuran hampir sama dengan manusia. Mereka berkelompok. Kera-kera itu melihat Kaisar yang diikat dibawah pohon.


"Tolong... tolong kera... aku butuh bantuan bukan kurang belaian." Kaisar coba minta tolong pada para kera.


Kera masih acuh sibuk ngobrol dan nyari kutu bersama teman-temannya.


"Ho ho ho bo bo bo ha ha ha, bener gak sih itu bahasa kera atau lagu buat nidurin bayi?" Kaisar berharap para kera membantunya.


Kera masih memperhatikan Kaisar. Belum ada pergerakan.


"Semut-semut dipohon, main ke bawah datang seekor gajah, aw keinjek kaki gajah." Kaisar bernyanyi kali aja kera lebih suka dengan nyanyian.


Kera masih belum berkutik. Diam saja ditempat tanpa melakukan apapun. Sedangkan Kaisar masih memikirkan caranya bisa terlepas dari ikatan kali aja kera bisa menolong.


"Masa iya gue kedipin atau gue godain? siapa tahu kera betina yang jomblois?" Kaisar berpikir seaneh mungkin. Cara normal tak digubris, dia mencoba cara abnormal.


"Suit.. suit... cewek godain abang dong, jomblo nih." Selain menggoda, mata berkedip kaya kelilipan biar kera termakan rayuan gombalnya.


Benar.


Kera pada menghampiri Kaisar. Mereka sibuk mengelilinginya.


"Wah kera betina nampaknya, playboy sih sifat asliku tapi masa iya playboy sama kera. Banyak gini mana yang akan jadi pacarku." Kaisar bingung juga jikalau para kera minta dia jadi pacarnya.


"Cantik bukain talinya dong, abang gak bisa gerak nih," ucap Kaisar.


Kera-kera itu mulai meraba Kaisar, mengelus dan sebagian menciumnya ada juga yang mengendus.


"Astaga belum nikah kenapa udah bersentuhan, sorry yang belum mahrom. Jaga jarak!" ucap Kaisar.


Kera-kera itu mengoleskan lumpur dari bangkai yang sudah berubah jadi tanah ke wajah dan tubuh Kaisar.


"Nasib-nasib, bau banget ini tanah. Apa ini acara pernikahan ala kera. Sebenernya gue belum siap tapi mau gimana lagi gak ada pilihan," ucap Kaisar.


Kera mulai membuka ikatan Kaisar. Mereka lompat-lompat didepan Kaisar.


"Ho ho ho, ha ha ha, bo bo bo," Kaisar mencoba komunikasi ala-ala pada kera.


Mereka menarik lengan Kaisar mengajaknya pergi dari situ. Dia berada ditengah hutan. Semua kera menghormatinya sebagai raja kera yang baru.


"Oh gue ngerti, mereka butuh pemimpin, kayanya semua betina. Tapi kera cowoknya kemana ya?" ucap Kaisar penuh tanya.

__ADS_1


Ditempat lain Bara dan yang lainnya berada dikandang singa. Mereka berbaring diantara singa yang diikat. Kesadaran mereka mulai pulih.


"Kita berada?" ucap Barra.


"Sepertinya kandang singa," ucap Alvan.


"Ini pasti perintah ketua suku," ucap Farel.


"Kita harus keluar dari sini," ucap Deena.


"Iya," ucap Alina dan Haura.


Mereka berusaha keluar dari kandang singa tapi dikunci. Tiba-tiba salah seorang anggota suku datang, dia mengeluarkan Alina dari kandang.


"Alina," panggil Farel.


"Kak Rafa," sahut Alina.


"Ayo ikut kami."


Alina mengikuti anggota suku. Ternyata dia dibawa ke sebuah kamar. Disana sudah ada ketua suku yang duduk diranjang.


"Keluar!"


"Baik ketua."


Anggota suku keluar, tinggal Alina dan ketua suku.


"Kau sangat cantik, aku akan membantumu bebas asal kau mau jadi istriku."


"Tidak, aku sudah punya suami," ucap Alina.


"Suamimu akan jadi makanan singa, lebih baik kau menikah denganku dan hidup enak dipulau ini."


"Baiklah aku mau tapi jangan menyentuhku sebelum kita menikah," ucap Alina.


"Iya sayang, setelah menikah aku akan menyentuhmu sampai pagi."


"Dasar lelaki tua cabul," batin Alina.


"Kau mau apa? biar semua pembantuku melayaniku."


"Bolehkah teman-temanku dibebaskan?" tanya Alina.


"Boleh tapi menunggu malam pertama kita selesai, baru aku akan membebaskan teman-temanmu."


"Sepertinya aku harus cari cara agar memperlambat waktu," batin Alina.


"Aku ingin menikahnya besok, pas bulan purnama. Pasti indah melihat bulan membulat terang," ucap Alina.


"Baik sayang."


Ketua suku keluar setelah bicara dengan Alina. Saatnya Alina mencari cara untuk membebaskan suami dan saudaranya. Alina keluar dari kamar untuk mencari kunci kandang singa. Tak sengaja dia mendengar obrolan ketua suku dan anggota suku.


"Ketua semua orang sudah mengikuti aturanmu."


"Mereka semua bodoh, padahal akulah yang menyebar wabah penyakit itu, dengan begitu pohon yang aku puja mendapatkan persembahan manusia."


"Iya ketua, kita tak mungkin terang-terangan mempersembahkan manusia, dengan siasat ini mereka mau tak mau kita persembahkan di pohon-pohon besar itu."


"Kita butuh satu manusia setiap bulan. Pastikan ada yang sakit dan kalau tak ada, buat mereka sakit."

__ADS_1


Alina miris mendengan perbincangan ketua suku dan anggotanya.


"Jahat banget, mereka sengaja mempersembahkan manusia untuk pohon besar. Musyrik dan tidak manusiawi," batin Alina.


"Aku harus memberitahu semuanya tentang ini," batin Alina.


Alina berjalan mencari kunci diantara lemari-lemari yang ada dirumah ketua suku. Baru beberapa menit mencari, ketua suku menghampirinya.


"Cantik kau sedang apa?"


Alina terkejut dan membalikkan badannya.


"Aku sedang mencari minuman dan makanan, haus, lapar," ucap Alina beralasan.


"Ikut aku sayang, kita ke ruang makan."


Untuk sementara Alina mengikuti ketua suku.


Setelah malam, Alina keluar dari kamarnya menuju kandang singa membawa minuman dan makanan. Dia menemui suami dan saudaranya. Alina menceritakan semua yang didengarnya pada suami dan saudaranya.


"Dasar pemuja setan, dia sengaja mengorbankan penduduk hanya untuk kepentingannya," ucap Alvan.


"Kita harus meluruskan semua ini, jangan sampai ada korban lagi," ucap Farel.


"Kebohongan ini harus diungkap. Biar kehidupan disini aman dan nyaman lagi," ucap Barra.


"Betul," ucap semuanya.


Selain itu Alina juga memberitahukan tentang rencana ketua suku yang mau menikahinya.


"Dasar cabul, aku akan mematahkan tulang-tulangnya kalau berani menyentuh istriku," ucap Farel.


"Sabar Farel, kita harus mengatur strategi bukannya emosi," ucap Barra.


"Iya Farel, tak ada gunanya marah tanpa usaha," ucap Alvan.


"Iya, kita harus pikirkan caranya keluar dari sini," ucap Deena.


"Iya," ucap yang lainnya.


Pagi harinya, Farel tak tenang. Dia takut Alina dinikahi ketua suku. Dia mondar-mandir didalam kandang. Barra dan Alvan sedang mengotak-ngatik kunci kandang.


"Om udah belum?" tanya Deena.


"Bentar lagi sayang," ucap Barra.


"Ini sulit, tapi kita akan berusaha," ucap Alvan.


Setelah beberapa saat, kunci bisa diakali.


"Bisa nih," ucap Barra.


Farel langsung berlari ke pintu. Dia membuka pintu, keluar terlebih dahulu lalu yang lainnya menyusul keluar dari kandang singa. Mereka semua menuju tempat pernikahan.


Acara pernikahan ketua suku digelar besar-besaran. Semua penduduk pulau menghadiri acara pernikahan itu. Alina duduk dipelaminan. Acara pernikahan adat akan dilakukan. Alina dibawa ketengah-tengah kerumunan penduduk. Dia berdiri ditengah bersama Alina.


"Wargaku, hari ini aku akan menikah, mengakhiri masa lajangku, terimakasih atas kedatangannya."


Ketua suku memberi sepatah dua kata sambutan.


"Ketua, acara bisa dimulai."

__ADS_1


"Iya, secepatnya dimulai."


"Tunggu," ucap Farel berjalan diantara kerumunan orang.


__ADS_2