ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 21


__ADS_3

"Bos tidak bisa menjawab? itu artinya anda tidak rela istri kecil anda bersama orang lain," sahut Nico.


"Oke kau benar, lalu apa yang harus ku lakukan?"


"Berikan dia perhatian sederhana sesuai usianya, untuk saat ini anda tidak bisa menuntutnya melakukan di luar batas usianya karena dia masih remaja. Bos harus bisa bersikap seolah anda teman seusia, itu lebih nyaman untuknya.


Albern mulai memikirkan nasehat dari Nico. Ada benarnya jika mengikuti sarannya. Dia sadar betul aku masih kecil jika dibandingkan usianya.


"Gimana caranya biar aku bisa dekat dengannya, tapi dia merasa nyaman."


"Sekarang apa yang dia butuhkan Bos?"


"Dia butuh seseorang yang bisa mengajarkannya pelajaran di sekolah."


"Kalau begitu Bos harus bisa jadi orang yang dibutuhkannya."


"Maksudmu? aku jadi guru lesnya?"


Nico hanya mengangguk.


"Kalau aku jadi guru lesnya pasti dia akan menolak, lagi pula akulah yang mengancamnya akan dikeluarkan dari sekolah."


"Aku punya ide Bos."


Albern langsung tersenyum dengan ucapan Nico.


Dia tahu Nico pasti punya solusi yang terbaik.


***


Sore itu aku ditemani Ami dan Dodo jualan dalaman. Berbagai CD dan BH kami tawarkan sambil membawa dagangan kami di plastik besar. Begitupun denganku. Bukan hanya dalaman, aku membawa seplastik keripik sambil menggendong Bobo di belakang.


"Aara gimana kalau kita berpencar?" tanya Ami.


"Iya biar bisa menjangkau pembeli lebih banyak," sahut Dodo.


"Oke, terimakasih ya teman-teman, kalian mau membantuku," ucapku.


"Kitakan sahabat, sudah sepatutnya saling membantu," ujar Ami.


"Yoi," tambah Dodo.


Ami pergi ke arah barat. Dodo ke arah timur dan aku berada di tengah. Ami mulai menawarkan dagangannya. Dia menghampiri seorang ibu.


"Bu beli lah CD dan BH lagi miring dijamin bikin tambah seksi," ucap Ami.

__ADS_1


"Kalau BH-nya miring gak balance dong, saya mau BH yang waras, biar jelas isinya."


"Tenang Bu, ini BH waras, gak perlu dibawa ke rumah sakit jiwa," terang Ami.


"Saya mau BH yang bisa terlihat jumbo, gak perlu pengembang roti, takut disemutin soalnya."


"Tenang Bu, BH yang satu ini, sudah mengandung sterepom jadi gak perlu oplas, udah pasti ngembang, asal jangan ketubruk, saya gak jamin bentuknya utuh," ungkap Ami.


"Terus saya mau motif bunga-bunga, kalau bisa bunga yang fenomenal, biar hit pas saya upload nantinya."


"Oh pasti, ini bermotif bunga tai ayam, bungai bangkai dan bunga kematian, tinggal pilih, pasti ibu akan dikenang," jawab Ami.


"Soal ukuran, saya mau yang lebar dan besar, takut gak muat apa perlu saya buka di sini?"


"Gila aja nih ibu, mau BH atau obral dada gratis?" batin Ami.


"Jangan Bu, terlalu banyak orang saya khawatir ibu malu," ucap Ami.


Ibu itu kekeh, akhirnya dia buka baju juga. Ami ketar ketir malu ternyata dia salah pengertian.


"Loh kok BH dipakai di luar, kaya superman CD dipakai di luar." Ami heran melihat BH ada di luar baju kaosnya.


"Iya, soalnya dada asli saya rata, jadi terpaksa paksi BH yang diisi roti, sekalian laper sekalian buat ganjelan."


Ami tersenyum heran dengan pembeli satu ini. Di tempat lain Dodo sedang menawarkan dagangannya juga.


"Jeroan sapi ada, saya mau dong sate usus seporsi sama lontong sayur dua mangkuk."


"Pedes gak Pak? cabe lagi mahal nih," kata Dodo.


"Gak pedes, sambel sepuluh sendok cukup, ditambah saus sama lada ya."


"Orang jualan BH, CD, kok jadi jualan lontong sayur gini," batin Dodo.


Dodo masih diam. Dia merasa dia gila atau pembeli yang gila.


"Dek mana lontong sayurnya?"


"Pak saya jualan jeroan pisang, bukan jeroan sapi," sahut Dodo.


"Bilang dong, saya memang lagi nyari pisang raja, ada berapa sisir? saya mau."


"Tunggu, saya mau ngitung sisir dulu, biar otak saya waras," kata Dodo.


Dodo mengecek tingkat panas kepalanya. Ternyata berjualan membuat banyak sendok bengkong semua. Dodo harus memastikan dia beli jangan baper apalagi halu terus.

__ADS_1


"Begini Pak saya jualan penutup ayam jago, biar gak matuk sembarangan," ujar Dodo.


"Bilang dong, saya memang hobi pelihara ayam buat iseng di rumah, ada ayam cemani?"


"Ada, ayam panggang atau goreng juga ada," ucap Dodo meradang.


Lelaki tua itu melihat plastik yang dibawa Dodo.


"Itu segitiga pengaman sang singa, berapa duit?"


Dodo senang akhirnya pembeli mulai paham.


Banyak yang membeli padanya gara-gara iklan jeroan. Aku juga berhasil menjual banyak CD dan BH berkat Bobo. Mereka merasa kasihan padaku. Malah sebagian orang salut dan memberiku sedekah. Aku duduk di kursi bersama kedua temanku.


"Wah lumayan tuh Aara," ujar Ami.


"Iya, laris manis, habis semua daganganku," jawabku.


"Alhamdulillah," sahut Ami dan Dodo.


"Makasih ya Ami, Dodo, kalian sudah membantuku," ucapku.


"Itulah gunanya teman, harus saling membantu," ungkap Ami.


"Susah senang kita sama-sama," tambah Dodo.


Aku senang memiliki dua sahabat yang selalu baik dan membantuku menyelesaikan berbagai masalahku. Mereka memang sahabat terbaikku.


Aku pulang ke rumah. Ku lihat Axel sudah ada di depan rumahku. Dia duduk di teras dengan muka masam. Entah apa yang terjadi padanya. Aku segera menghampiri Axel.


"Axel kau ada di sini?"


"Lemot kau dari mana saja? aku menunggumu di sini dari pulang sekolah tadi."


"Oh maaf, aku sampai lupa, tadi aku pergi dengan Ami dan Dodo."


"Aku sudah baik ya sama kamu, seharusnya kau kasih tahu dulu kalau mau pergi."


"Maaf aku salah."


"Kau sudah makan?"


Aku menggeleng. Tiba-tiba Axel berdiri di depanku.


"Ayo makan sate kambing sepertinya enak."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk. Axel mengajakku pergi menuju tempat jualan sate kambing di pinggir jalan. Aku dan Axel jalan di tepi jalan. Axel menggendong Bobo, dia terlihat happy saat menggendong Bobo. Ternyata tak jauh dari tempat kami berada Albern yang baru pulang bekerja melihatku bersama Axel.


"Sial, siapa lelaki itu. Apa dia ayah bayi itu?" Albern kesal.


__ADS_2