ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 71


__ADS_3

Siang itu Tante Alina dan Om Farel pergi ke rumah sakit membawa rambutku ke rumah sakit. Mereka begitu bersemangat. Menyerahkan sampel rambutku untuk test DNA. Mereka duduk di kursi tunggu sambil berharap hasilnya akan segera selesai dalam waktu dekat.


"Pa, semoga hasilnya cepat ya," ujar Alina.


"Paling cepat tiga hari Ma, lebih baik kita berdoa saja semoga hasilnya baik," ucap Farel.


"Iya Pa," sahut Alina.


Mereka berdiri. Berjalan ke luar dari rumah sakit. Tak sengaja bertemu dengan Deena dan Barra.


"Alina," sapa Deena.


"Deena," sahut Alina.


Deena dan Alina langsung memeluk satu sama lain. Sedangkan Farel dan Barra hanya bersalaman dan mengucapkan apa kabar. Mereka terlihat bahagia bisa bertemu ditempat itu.


"Kau sedang apa ke rumah sakit?" tanya Deena.


"Ada urusan penting, nanti aku akan mengundang kalian kalau sudah jelas," jawab Alina.


"Wah sepertinya bukan acara biasa," sahut Deena.


"Iya," sahut Alina.


"Sekarang mau ke mana?" tanya Deena.


"Makam kakek dan nenek," ujar Alina.


"Aku juga mau ke makam kakek dan nenek, tadi aku jemput Papa dan Mama, mereka nungguin kita di kafe," ucap Deena.


"Kalau begitu ayo kita berangkat bersama biar rame," ujar Barra.


"Ide bagus," sahut Farel.


Alina dan Deena hanya mengangguk. Mereka berjalan menuju kafe di lantai satu rumah sakit itu. Menjemput Rehan dan Cinta kemudian pergi ke Pemakaman Bougenville menggunakan mobil pribadi.


Sampai di Pamakaman Bougenville, mereka bertemu dengan Raka-Azkia, Haura-Alvan, Farhan dan Aksa. Mereka semua bertegur sapa bertemu anggota keluarga mereka. Kemudian duduk memutari makan Leo dan Zara. Mereka berdoa dan membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk keduanya.


"Amin," ucap semuanya.


"Sudah lama kakek pergi," ucap Haura.


"Iya, tapi masih terasa ada di sekeliling kita," jawab Deena.


"Kakek dan Nenek akan selalu ada di hati kita," ucap Alina.


"Iya," sahut semuanya.


Mereka teringat kisah saat mereka masih ada. Mereka selalu teringat perjuangan Leo-Zara dari nol hingga membangun keluarga yang bahagia. Bahkan di saat kematian mereka begitu banyak yang mengantar ke makam. Sampai pemakaman dipadati masyarakat. Mereka antusias untuk mendoakan dan mengantarkan Leo-Zara ke peristirahatan terakhir mereka. Semua orang berdatangan, dari mana pun. Mereka menceritakan kebaikan Leo-Zara sampai mereka menangis saat tahu mereka berdua sudah pergi selamanya.


"Kakek dan Nenek sehidup semati, terus bersama meskipun banyak ujian yang datang, cinta mereka yang tak tergoyahkan," ujar Alina.

__ADS_1


"Semoga kita dapat mencontoh cinta dan kasih sayang mereka," ucap Farel.


"Amin," sahut semuanya.


"Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, diringkan siksa kuburnya dan ditempatkan ditempat yang terbaik disisiNya," ujar Rehan.


"Amin," sahut semuanya.


Lama sekali ketika dua garis biru itu bertemu di sebuah kamar hotel secara tak disengaja. Menjadi awal terukirnya takdir cinta dan hidup mereka. Menjalani tangga demi tangga. Baik air mata, keringat, dan tawa yang menghiasi hidup mereka.


Di hari mereka meninggal begitu banyak karangan bunga memenuhi jalanan di kota A bahkan sampai luar kota. Semua orang yang masuk ke dalam kota tercengang melihat karangan bunga yang begitu banyak. Bahkan pelayat yang sampai bermacet-macetan untuk ke pemakaman Leo-Zara.


"Pak banyak sekali karangan bunga, apa ada pejabat yang meninggal?"


Suami istri mengendarai mobil pribadi mereka di jalanan kota A. Mereka kebetulan dari luar pulau. Ingin berkunjung ke kota A untuk berwisata.


"Iya Bu, sepanjang jalan, kalau bukan pejabat mana mungkin ada karangan bunga sebanyak ini."


Sang istri penasaran. Dia searching di google dan terkejut saat mendapati ternyata itu karangan bunga untuk Leo-Zara yang meninggal. Beritanya viral karena mendapatkan karangan bunga terbanyak dan pelayat yang membanjiri.


"Pak lihat," ujar sang istri ingin memperlihatkan berita viral pada suaminya.


"Sebentar Bu, bapak parkir dulu," sahut sang suami.


Mereka berdua parkir di tepi jalan. Melihat berita viral itu.


"Ini bukannya Leo Ariendra pendiri seribu masjid di Negara A, Beliau Raja bisnis yang terkenal," ungkap sang suami.


"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," sahut sang suami.


"Pak padahal mereka bukan pejabat, emang sih orang kaya, tapi gak sebanyak ini juga pelayat dan karangan bunganya."


"Orang kalau baik, harum namanya ketika tiada, lihat saja, begitu banyak pelayat dan karangan bunga, Masya Allah," ujar sang suami. Dia kagum pada Leo-Zara yang memang terkenal dermawan dan baik budi pekertinya.


"Masya Allah, semoga kita seperti mereka Pak."


"Amin."


Sepasang suami istri itu berharap bisa mencontoh kebaikan Leo-Zara. Harta yang dimilikinya tak sia-sia dan jadi pajangan di dunia. Mereka selalu berusaha agar bisa menolong orang lain baik saat mereka susah dulu hingga jadi konglomerat seperti sekarang.


***


Siang itu Aku disuruh pergi ke sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Keluarga Ariendra untuk mengantarkan kado ulang tahun pemimpin perusahaan tersebut. Perusahaan itu bernama Perusahaan Kaizen. Perusahaan yang cukup maju.


Aku membawa sebuah kado dan seikat bunga dari perusahaannya. Masuk ke dalam perusahaan itu. Aku menghampiri receptionis. Memberi tahunya kalau aku perwakilan dari Perusahaan Sun Leo Group ingin memberi kado ulang tahun pemimpin perusahaan.


"Tunggu sebentar, saya telpon sekretaris Yeni dulu."


"Iya," sahutku sambil tersenyum.


Sambil menunggu aku duduk di kursi depan reseptionis. Aku melihat-lihat ruangan lobi itu. Sambil mengusir kebosananku karena menunggu. Selang beberapa menit, receptionis memanggilku. Dia memberi tahuku kalau aku boleh naik ke lantai 20. Di sana aku disuruh menemui Sekretaris Yeni.

__ADS_1


"Baik, terimakasih," ucap ku paham apa yang disampaikan.


Receptionis mengangguk.


Segera aku menuju lift. Aku naik lift ke lantai 20. Menemui Sekretaris Yeni di ruangannya. Kami berbincang sebentar kemudian mengantarku menuju ruangan Bosnya. Pintu dibuka. Aku memasang wajah dengan senyuman manis sambil membawa bunga dan kado. Namun seketika bunga dan kado itu terjatuh.


Praaak ...


Aku mematung. Waktu seakan terhenti. Mataku tertuju seseorang di depanku. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Tubuhku lemas. Air mata menetes di pipiku. Seseorang di depanku begitu berharga bagiku. Mengulang semua memori yang terekam di pikiranku. Seakan semua terlihat di mataku, kenangan-kenangan saat bersama. Tak pernah terlupakan meski sedikitpun. Rasa rindu memanggil jiwaku. Jauh direlung hatiku aku ingin semua ini bukan mimpi atau mataku yang salah melihat.


"Ada apa Yeni? Siapa dia?"


"Begini Bos, Nona Aara ini membawa kado dan bunga dari Perusahaan Sun Leo Group untuk ulang tahun anda," ucap Yeni.


"Lalu kenapa dijatuhkan?" Lelaki itu menatap ke depan dengan tatapan dingin.


"Maaf Bos," ucap Yeni.


Yeni segera menepuk lenganku. Membangunkanku dari lamunan panjangku. Mengembalikanku ke dunia yang nyata. Di mana wajah itu benar-benar mirip.


"Nona-Nona," panggil Yeni.


"I-iya," sahut Aara.


"Kado dan bunganya terjatuh," ujar Yeni.


Aku langsung melihat ke bawah. Dia mengambil kado dan bunga itu. Kemudian kembali berdiri. Mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan perusahaanku.


"Lain kali jangan suruh perusahaanmu mengirimmu untuk ke sini," ujarnya.


Aku hanya diam. Aku tidak tahu kenapa lelaki itu mirip Albern namun sikapnya dingin. Bahkan tak ada senyuman di bibirnya. Sangat berbeda dengan Albern saat pertama bertemu denganku. Dia lebih gombal dan mesum. Namun lelaki ini seperti patung tanpa ekspresi.


"Taruh di sana Nona, kado dan bunganya," ucap Yeni memberi tahu agar meletakkan kado dan bunga di atas laci.


Aku mengangguk. Berjalan menuju laci namun lelaki itu langsung menyuruhku berhenti.


"Kado yang sudah rusak tak pantas diberikan," ujarnya.


Aku berbalik menatap lelaki itu. Kenapa kata-katanya begitu menusuk.


"Maaf, semua ini salah saya," sahutku. Biarbagaimanapun aku membawa nama baik perusahaan di mana tempatku bekerja.


"Buang kadonya!" pinta lelaki itu. Dia tak terima menerima kado yang sudah terjatuh.


Aku berusaha bangun dari bayang-bayang masa laluku. Lelaki itu pasti bukan Albert. Mungkin aku saja yang masih berharap. Jelas-jelas dia berbeda dengan Albern. Jika dia Albern seharusnya dia mengenalku, menyapaku, dan memelukku.


"Ku mohon jangan dibuang kadonya Bos, semua salahku, bukan salah perusahaan," ujarku.


"Kenapa perusahaan memperkerjakan karyawan amatiran sepertimu."


Bukan. Dia bukan Albern Aara, bangunlah. Hadapi kenyataan. Jangan terus terperangkap rasa rindu. Aku pasti bisa. Albern sudah bahagia di sana. Dia berkorban untukku. Aku harus bisa tersenyum. Jangan sia-siakan pengorbanannya

__ADS_1


__ADS_2