ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 61


__ADS_3

Sore itu usai pulang dari perayaan kelulusan. Aku dan Albern pulang ke rumah. Baru turun dari mobil, Albern membopongku. Dia bilang aku tak boleh lelah. Aku tahu maksudnya. Dia ingin sesuatu dariku. Dasar buaya selalu ingat habitatnya.


"Suamiku aku bisa jalan sendiri," ujarku.


"Gak boleh sayang, khusus hari ini tenagamu hanya untuk nanti malam," sahut Albern.


"Suamiku bisa tidak diundur?" tanyaku.


"Tidak, enak saja, aku sudah menunggu lama," jawab Albern.


Ampun. Dia dominan sekali. Aku tak bisa mengajukan cuti atau mengulur waktu. Buaya sudah berpuasa lama tak sanggup lagi berpuasa.


"Kalau gitu aku harus bersenam biar tubuh sehat dan bugar," ujarku.


"Kalau begitu kau latihan militer dulu, biar kuat semalaman," ujar Albern.


"Ha ha ha, gak sanggup, latihan militer kan berat," ucapku.


"Makanya, terima takdirmu nanti malam sayang," ujar Albern.


"Suamiku kau ini, aku malu," sahutku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.


Albern membopongku naik ke lantai atas. Sampai di kamar di membaringkanku di ranjang. Albern tersenyum memandang wajahku.


"Sayang aku sangat mencintaimu," ujar Albern.


"Aku juga mencintaimu," sahutku.


Baru Albern mau menciumku, suara tangis Bobo terdengar kencang. Dia menangis tapi suaranya berbeda dengan tangisan yang biasanya. Aku segera bangun menghampirinya. Begitupun dengan Albern. Aku meraih tubuh Bobo. Rasanya panas di tanganku.


"Bobo demam suamiku," ujarku.


Albern memegang dahi Bobo untuk memastikan ucapanku benar.


"Panas, iya demam," sahut Albern.


"Kita harus membawa Bobo ke rumah sakit," ujarku.


"Iya sayang," sahut Albern.


Aku dan Albern memutuskan secepatnya membawa Bobo ke rumah sakit. Ku siapkan semua perlengkapan. Aku berganti pakaian. Kemudian kami berangkat ke rumah sakit.


Di perjalanan, Albern menyuruh supir menaikkan kecepatan mobil. Namun tak disangka justru hampir menabrak truk. Supir banting stir, mobil melaju ke samping kiri hingga menanbrak pembatas jalan. Aku yang duduk di kiri dengan Bobo terbentur pintu mobil. Kaca mobil pecah mengenai kepala Bobo. Dia menangis kencang. Aku panik begitupun dengan Albern.


"Pak Yusep, anda baik-baik saja?" tanya Albern.

__ADS_1


"Baik Den," sahut Pak Yusep.


"Saya harus segera ke rumah sakit, gak papa bapak saya tinggal?" tanya Albern.


"Tidak Tuan, silahkan," sahut Pak Yusep.


Segera Albern dan aku ke luar dari mobil. Mencari tumpangan. Untung saja ada mobil berhenti dan membantu mengantar kami ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Bobo ditangani Dokter dan perawat di ruang UGD. Aku dan Albern duduk di luar berharap cemas. Aku menangis, biar bagaimanapun aku sudah lama bersama Bobo walaupun dia bukan anakku. Tapi aku sudah menganggapnya seperti anak kandungku, darah dagingku.


"Sayang kau baik-baik saja?" tanya Albern mendekat, memegang tanganku dan mengusap air mata yang menetes di pipiku.


"Suamiku, Bobo ... Bobo ...," ucapku terbata-bata, tak mampu bicara banyak. Perasaan sedih bercampur aduk dengan cemas..Darah yang mengalir dari kepalanya begitu banyak. Bajuku bahkan penuh darah Bobo.


"Bobo akan baik-baik saja sayang," ujar Albern.


Aku mengangguk. Benar kata Albern, Bobo akan baik-baik saja. Aku harus positif thinking.


Albern merangkulku, menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Lebih baik kita berdoa, semoga Bobo baik-baik saja," ucap Albern.


"Iya," sahutku sambil menangis.


Tak lama Dokter UGD ke luar. Dia berbicara dengan Albern. Aku hanya diam di tempat duduk menunggu Albern selesai bicara dengan Dokter.


"Lakukan segera Dok, yang terbaik untuk anak saya," ucap Albern.


"Hanya masalahnya di sini, golongan darahnya langka. Bobo harus mendapatkan donor darah yang sama dengannya," ungkap Dokter.


"Memangnya golongan darah Bobo apa?" tanya Albern.


"Rh-null," jawab Dokter.


"Rh-null?" Albern tercengang dengan pernyataan Dokter. Golongan darah itu sangat langka. Hanya ada beberapa orang yang memiliki golongan darah tersebut.


"Biasanya disebut Golden Blood," ujar Dokter.


"Golongan darah saya Rh-null," ucap Albern.


"Anda ayah kandungnya?" tanya Dokter.


Albern terdiam. Dia baru sadar benar juga kata Dokter. Golongan darahnya sama dengan Bobo. Dan golongan darah itu langka. Mungkin saja Bobo memang anaknya.


"Iya," ucap Albern singkat demi mempercepat waktu.


"Kalau begitu mari ke ruang laboratorium untuk pemeriksaan dan pengambilan darah," ujar Dokter.

__ADS_1


"Baik," sahut Albern.


Aku mengikuti Albern ke ruang laboratorium. Sambil berjalan Albern menjelaskan padaku kenapa harus mengambil darahnya. Setelah itu Albern masuk ke dalam, sedangkan aku menunggu di luar. Beberapa saat semuanya selesai. Albern menghampirimu. Dia menceritakan golongan darah langka. Dan hubungannya dengan Bobo.


"Apa mungkin Bobo anakmu suamiku?" ujarku.


"Bisa jadi, itu sebabnya aku mengajukan tes DNA antara aku dan Bobo. Mumpung sekalian pengambilan sample darah untuk pemeriksaan di antara kami. Semoga hasilnya bisa cepat," ungkap Albern.


"Amin, semoga benar Bobo anakmu suamiku," ujarku.


"Iya sayang," sahut Albern.


Setelah proses itu selesai, Bobo dibawa ke ruang operasi. Aku dan Albern ikut mengantarnya sampai masuk ke dalam. Kemudian kami duduk di luar menunggu proses operasi. Sambil duduk Albern menelpon Axel dan Raina. Agar mereka datang. Mereka akan datang segera.


Aku terus berdoa memohon pada Allah SWT agar Bobo baik-baik saja, sembuh dan sehat kembali.


Albern terus menguatkanku. Dia tahu aku sangat menyayangi Bobo. Dia duduk di sampingku. Kembali meletakkan kepalaku di bahunya dan merangkulku.


"Aku yakin Allah akan menjaga Bobo, dia akan baik-baik saja," ujar Albern.


"Aku takut suamiku," ucapku.


"Kenapa harus takut? Ada Allah," ujar Albern.


"Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk," sahutku.


"Tidak, kau harus berpikir positif," ujar Albern.


"Kau benar," sahutku.


Tak lama Axel dan Raina datang. Aku langsung berdiri memeluk Raina. Begitupun Raina membalas pelukanku. Aku menangis bersama Raina. Dia juga sedih dengan kejadian yang menimpa Bobo. Raina begitu menyayangi Bobo sama denganku.


"Bobo akan baik-baik saja Aara," ujar Raina.


"Iya, Bobo akan baik-baik saja," sahutku.


Lemas rasanya. Ketika anak kita dalam bahaya. Mempertaruhkan nyawanya di meja operasi. Apalagi saat ku ingat pecahan kaca yang menancap di ubun-ubunya. Rasanya aku merasa tak bisa melindunginya sebagai ibu. Seharusnya aku bisa menjaganya dari bahaya. Maafkan aku Bobo.


"Aara Allah akan menyembuhkan Bobo," ucap Raina.


"Iya, Bobo anak yang baik, dia tak pernah menangis saat ku ajak jualan keripik," sahutku penuh air mata.


Axel dan Albern menghampiri kami. Memeluk kami. Kita semua sama-sama merasa sedih dengan apa yang terjadi pada Bobo.


Dua jam kemudian operasi selesai. Perawat memanggil Albern untuk bicara dengan Dokter. Segera Albern masuk ke dalam. Aku dan yang lainnya menunggu di luar berharap cemas. Semoga Bobo baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2