
Leo berangkat ke perusahaan miliknya. Dia turun dari mobil masuk ke perusahaan. Semua karyawan menyapa Leo disepanjang jalan menuju ke ruangan kerjanya. Leo duduk dikursi kerjanya, tak lama Sekretaris Beti masuk ke ruangan kerja Leo.
"Selamat pagi Bos"ucap Sekretaris Beti.
"Pagi"ucap Leo.
"Bos ini daftar beberapa klien yang membatalkan untuk bekerja sama dengan perusahaan kita dan yang satunya daftar customer yang tidak jadi menggunakan jasa perusahaan kita"ucap Sekretaris Beti meletakkan daftar itu dimeja Leo.
Leo langsung mengecek daftar itu dengan seksama.
"Banyak sekali klien dan customer yang membatalkan"ucap Leo.
"Itu dia Bos, mereka seperti serempak membatalkan semuanya"ucap Sekretaris Beti.
"Kemarin beberapa proyek pembangunan yang perusahaan kita tangani juga mengalami kecelakaan dan kesalahan prosedur"ucap Leo.
"Apa ini sabotase yang dilakukan seseorang Bos?"tanya Sekretaris Beti.
"Kita tidak boleh suudzon dulu, mungkin ini kebetulan, nanti biar tim kita kelapangan untuk mengeceknya ulang"ucap Leo.
"Anda benar Bos"ucap Sekretaris Beti.
Tiga Bulan Kemudian
Perusahaan Leo mengalami masalah yang cukup besar. Selama tiga bulan tak ada satupun klien ataupun custumer yang mau bekerja sama dan memakai jasa perusahaannya. Bahkan beberapa proyek sempat mengalami masalah. Leo duduk di kursi kerjanya sambil memikirkan masalah perusahaannya.
"Apakah perusahaan ini akan merugi? apa aku harus mengikhlaskannya?"ucap Leo.
"Ya Allah jika ini sudah takdir dariMu hamba ikhlas"ucap Leo.
************
Rehan berada dikursi kerjanya sambil melihat pemandangan kota dari jendela kaca diruangannya. Suara langkah kaki berjalan menghampirinya. Sekretaris Yuda langsung bicara pada Rehan.
"Presdir, perusahaan milik Leo Ariendra sudah mulai goyah, apa Anda akan membiarkan seperti itu?"tanya Sektetaris Yuda.
"Aku tidak mungkin berdiam diri, apalagi itu perusahaan milik mertuaku"ucap Rehan.
"Lalu apa yang kita harus lakukan?"tanya Sekretaris Yuda.
"Aku akan duduk disinggasanaku yang sebenarnya"ucap Rehan.
"Baiklah Presdir"ucap Sekretaris Yuda.
Tiba-tiba Pak Theo masuk ke ruangan kerja Rehan. Sekretaris Yuda langsung mempersilahkannya duduk disofa ruangan kerja Rehan. Pak Theo duduk kemudian Rehan duduk didepannya.
"Rehan kerja bagus, perusahaan milik Leo Ariendra kini mulai goyah, aku bangga padamu, tinggal sedikit lagi Leo Ariendra akan hancur"ucap Pak Theo.
"Apa kau senang?"tanya Rehan.
"Ya aku senang, penderitaan Leo itu yang ku inginkan"ucap Pak Theo.
"Aku sudah mengikuti semua keinginanmu"ucap Rehan.
"Ada satu lagi"ucap Pak Theo.
"Apa?"tanya Rehan.
"Bertunanganlah dengan Azkia malam ini, aku juga akan mengundang Leo Ariendra dan Cinta biar mereka melihat seberapa hancurnya mereka" ucap Pak Theo.
"Bos besar benar-benar licik"ucap Rehan.
"Ikuti perintahku jika kau ingin Cinta masih hidup" ucap Pak Theo.
"Baik, kau lihat saja nanti Bos Besar"ucap Rehan.
"Ada perusahaan baru yang sangat maju, namanya Galaxy Lion Group, tapi perusahaan itu masih misterius"ucap Pak Theo.
"Misterius seperti apa?"tanya Rehan.
"Pemimpinnya selalu mengenakan topeng, belum ada yang tahu siapa pemimpin perusahaan itu"ucap Pak Theo.
"Lalu Bos Besar mau aku melakukan apa?"tanya Rehan.
"Cari tahu siapa pemimpin Galaxy Lion Group, aku tidak mau nantinya dia bekerjasama dengan Leo dan perusahaan Leo bangkit lagi"ucap Pak Theo.
"Baik sesuai keinginanmu, segera Bos besar akan mengetahuinya"ucap Rehan.
Setelah berbicara dengan Rehan, Pak Theo keluar dari perusahaan itu. Rehan hanya tersenyum melihat kepergian ayahnya itu.
**************
Azkia berlatih pedang dihalaman Markas Api. Berpedang adalah hobinya sejak kecil. Hampir setiap hari Azkia berlatih pedang bahkan dia mahir dalam menggunakan pedang. Pak Theo menghampiri Azkia yang sedang berlatih pedang.
"Azkia kemampuan berpedangmu semakin terasah"ucap Pak Theo.
Azkia langsung menghentikan latihannya. Dia memberi hormat pada Pak Theo dengan menundukkan kepalanya. Lalu dia menyapa Pak Theo.
"Selamat siang Om"ucap Azkia.
"Siang, Azkia ada yang ingin ku bicarakan"ucap Pak Theo.
"Apa Om?"tanya Azkia.
"Malam ini kau harus bertunangan dengan Rehan" ucap Pak Theo.
"Tapi Om, aku dan Rehan hanya teman, kami tidak memiliki perasaan cinta satu sama lain" ucap Azkia.
__ADS_1
"Kau tidak bisa membantah, ikuti perintahku. Ingat kau tak mungkin bisa berdiri disini tanpa bantuanku"ucap Pak Theo.
".............."Azkia terdiam.
"Malam ini acara tunanganmu akan diadakan di Gedung Rose Golden"ucap Pak Theo.
"Baik Om"ucap Azkia.
Pak Theo meninggalkan Azkia setelah bicara padanya. Azkia langsung melempar pedangnya. Dia keluar dari Markas Api mengendarai motornya. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, Azkia menangis dalam perjalanannya.
"Aku tidak bisa menolak, siapa aku?"ucap Azkia.
Azkia terus mengendari motornya hingga motornya pembatas jalan, motornya terpental, Azkia terjatuh dijalan.
Bruuuuuug..............
"Aw............."Azkia terjatuh ditepi jalan raya.
"Aku tidak punya rasa sakit lagi, karena hatiku lebih sakit"ucap Azkia sambil berbaring ditepi jalan kemudian dia pingsan.
"Kura-kura kau bodoh, ingin mati bukan begini caranya"ucap Raka.
Azkia melihat ada Raka didepannya, dia melihat sekelilingnya ternyata dia berada dibawah pohon dekat tepi jalan tadi.
"Ayam jago kenapa kau ada disini?"tanya Azkia.
"Aku melihat kura-kura bodoh pingsan ditepi jalan"ucap Raka.
"Aku tadi pingsan?"ucap Azkia.
"Aku tahu kau hilang ingatan sebagian, bagus aku bisa memerintahmu wahai kura-kura"ucap Raka.
"Enak saja, aku ingat kau ini ayam jago yang cerewet dan menyebalkan"ucap Azkia.
"Kenapa kau bisa terjatuh dari motormu?"tanya Raka.
"Aku........"ucap Azkia.
Azkia langsung memeluk Raka didepannya. Raka canggung saat Azkia memeluknya, dia hanya terdiam.
"Kura-kura bisakah kau melepas pelukanmu?" tanya Raka.
Azkia baru sadar kalau dia spontan memeluk Raka.
"Maaf aku.....aku....."ucap Azkia melepas pelukannya dari Raka.
"Kura-kura kau pasti punya masalahkan?"tanya Raka.
"............"Azkia hanya diam.
"Eh.....mau kemana?"tanya Azkia.
"Diamlah"ucap Raka.
Raka menarik lengan Azkia, mereka naik bus.
Didalam bus Raka berdiri bersama Raka. Tak sengaja Azkia melihat seseorang mengambil dompet orang didepannya. Azkia langsung mengambil lengan orang itu dan memelintir tangannya hingga dia kesakitan.
"Aw..............."ucap Pencopet itu kesakitan.
"Aaaaaaa.........."ucap Orang-orang yang kaget melihat Azkia memelintir tangan pencopet itu.
"Pencopet kau berani sekali mencopet disaat seperti ini"ucap Azkia mengambil dompet dari tangan pencopet itu.
"Itu dompetku"ucap Wanita yang berdiri didepan Azkia.
"Ambil dompetmu"ucap Azkia sambil memberikan dompet pada wanita itu.
"Terimakasih Nona"ucap Wanita itu.
"Sama-sama"ucap Azkia.
Pencopet itu coba melawan Azkia dan hendak memukul Azkia tapi ditahan Raka. Seketika Raka menghajar pencopet itu. Babu hantam terjadi didalam bus itu. Hingga pencopet itu babak belur lalu keluar dari bus.
"Huh............"ucap Orang-orang dibus itu pada pencopet yang keluar dari bus itu.
Azkia menghampiri Raka dan mengecek muka Raka dengan tangannya.
"Ayam jago kau baik-baik saja?"tanya Azkia.
Raka dan Azkia tak sengaja saling menatap. Azkia langsung memalingkan wajahnya, Rakapun begitu.
"Kura-kura ayo turun"ucap Raka.
"Oke"ucap Azkia.
Mereka turun dari bus itu lalu Raka mengajak Azkia ke suatu tempat disebuah padang ilalang.
"Tempat apa ini?"tanya Azkia.
"Kau punya masalahkan? berteriaklah sepuasmu disini tak akan ada yang mendengarmu berteriak dan tak ada yang akan memarahimu karena suara cemprengmu itu"ucap Raka.
"Kau pintar juga"ucap Azkia.
"Seperti ini aaaaaaaaa............."ucap Raka berteriak kencang sambil meluruskan kedua tangannya kesamping.
"Cobalah"ucap Raka.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaa..............."ucap Azkia berteriak sambil meluruskan tangannya.
"Gimana? apa kau lega?"tanya Raka.
"Penat didada terasa plong"ucap Azkia.
"Kalau begitu ikut aku, ini akan membuatmu lebih lega lagi"ucap Raka.
Raka mengajak Azkia melalui padang ilalang itu hingga tiba disebuah pohon. Disana ada ayunan, Azkia duduk diayunan itu lalu Raka mendorongnya kencang-kencang.
"Aaaaaa........Raka......."ucap Azkia.
"Kau takut?"tanya Raka.
"Tidak tapi aaaaaa........."ucap Azkia.
"Kura-kura kau takut, ternyata nyalimu ciut juga" ucap Raka.
"Hei ayam jago, coba kau gantian"ucap Azkia.
"Oke siapa takut"ucap Raka.
Raka bergantian diayunan itu dengan Azkia, Azkia membalas Raka dengan mendorongnya kencang.
"Eeeey..........."ucap Raka.
"Gimana? enak?"tanya Azkia.
"Kura-kura kau sengaja membalasku"ucap Raka.
"Iya, rasain"ucap Azkia.
"Eeeeey.....ini lebih kencang dariku tadi"ucap Raka.
"Ayam jago penakut, nyalimu ciut"ucap Azkia.
"Eeeeey.......eeeey......"ucap Raka.
"Ha.....ha......ha...."Azkia tertawa.
Setelah itu mereka berbaring dibawah pohon besar itu.
"Kau punya masalah apa kura-kura?"tanya Raka.
"Aku akan bertunangan dengan orang yang tidak ku cintai"ucap Azkia.
"Apa? kau akan bertunangan? ha.....ha....."ucap Raka malah tertawa.
Azkia terdiam saat Raka mentertawakannya.
"Ada yang mau bertunangan dengan kura-kura sepertimu gitu"ucap Raka.
Azkia membelakangi Raka, dia cemberut.
"Kura-kura kau marah?"tanya Raka.
"Kau tidak peka, orang sedih kau malah tertawa" ucap Azkia.
"Baiklah aku minta maaf"ucap Raka.
Azkia hanya diam tak menghiraukan ucapan Raka.
Raka membalikkan tubuh Azkia hingga berbaring menghadapnya.
"Maafkan aku ya"ucap Raka.
"........."Azkia hanya diam.
"Kenapa kau tak menolak ya kalau kau tak cinta?" tanya Raka.
"Karena aku harus balas budi"ucap Azkia.
"Balas budi?"ucap Raka.
"Dulu aku dan keluargaku berada dalamĀ kebakaran, ayah, ibu, dan saudaraku terbakar, seseorang menolongku hingga aku selamat dan orang itu mengadopsiku hingga aku dibesarkan dan disekolahkannya"ucap Azkia.
"Itu sebabnya kau tidak bisa menolak"ucap Raka.
Azkia hanya mengangguk dengan ucapan Raka.
"Mungkin calonmu itu orang yang baik yang dipilihkan orang itu, jadi kau akan bahagia bersamanya"ucap Raka.
"Aku menyukai orang lain"ucap Azkia.
"Kura-kura siapa orang yang kau sukai, dia spesies kura-kura juga sepertimu?"tanya Raka.
Azkia langsung berdiri.
"Dia spesies yang tidak peka, bahkan aku kecewa padanya. Aku pikir mungkin aku yang berharap"ucap Azkia pergi meninggalkan Raka.
"Hei kura-kura tunggu......"ucap Raka.
Azkia berlari meninggalkan Raka, dia langsung naik taksi yang lewat depan jalan padang ilalang itu.
"Kura-kura.........."teriak Raka.
Azkia hanya menangis didalam mobil.
__ADS_1