ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 91


__ADS_3

"Kiara, aku juga mencintaimu. Tapi Farhan gimana?" tanya Aksa. Dia tak ingin Farhan terluka karena hubungannya dengan Kiara. Biarbagaimanapun mereka berdua bersaudara.


"Hik ... hik ... hik ... Aksa aku mencintaimu, tapi cinta kita terhalang dengan keberadaan Farhan. Sepertinya seumur hidupku akan tetap bersamanya." Kiara menangis didepan Aksa. Dia berharap dapat simpatinya. Kiara tahu Aksa sangat mencintainya, pasti akan berbuat sesuatu untuknya.


Aksa menyeka air mata dipipi Kiara. Dia tidak bisa melihat orang yang dicintainya terluka. Aksa menatap mata Kiara yang sembab karena menangis.


"Kiara aku akan memperjuangkan hubungan kita, hanya untuk saat ini Farhan tidak boleh tahu hubungan kita sampai saat yang tepat aku akan mencari cara untuk kita bersama." Aksa menyakinkan Kiara. Dia yakin bisa bersama tanpa harus melukai Farhan.


Kiara langsung memeluk Aksa. Dia senang Aksa sudah masuk ke dalam permainannya. Aksa mengelus rambut panjang Kiara yang tergerai dibelakang punggungnya. Dia begitu mencintai Kiara. Setelah sekian lama menutup diri akhirnya Aksa bisa membuka hatinya untuk Kiara.


"Kiara kembalilah ke dalam, aku tidak ingin Farhan marah padamu," ucap Aksa.


"Sebenarnya aku mau bersamamu Aksa. Farhan selalu memaksaku mengikuti kemauannya. Aku tidak suka bola tapi terpaksa harus nonton bola dengannya," ucap Kiara mencari alasan agar tetap bersama Aksa. Dia harus bisa mendapatkan Aksa secepatnya agar bisa menjalankan rencana lainnya.


"Yasudah, kita jalan-jalan saja ya," ajak Aksa.


"Makasih sayang, aku seneng banget," kata Kiara sambil tersenyum manja. Dia senang sekali Aksa sudah masuk ke dalam rencananya. Tinggal membuatnya luluh dan jadi miliknya.


"Sayang?" Aksa terkejut saat Kiara memanggilnya sayang. Seolah panggilan itu menjadi bentuk kedekatan diantara mereka. Secara tidak langsung Kiara mengakuinya sebagai kekasihnya.


"Iya, bolehkan aku panggil sayang?" tanya Kiara.


Dia yakin Aksa akan bilang iya. Lelaki didepannya itu terlalu polos dan dimabuk cinta. Mana mungkin menolak panggilan sayang darinya.


"Boleh," ucap Aksa dengan senang hati mendapat panggilan sayang dari Kiara.


Aksa mengajak Kiara pergi dari stadion sepak bola. Mereka pergi ke apartemen milik Aksa. Di dalam apartemen, Kiara memasak untuk Aksa di dapur apartemen. Sedangkan Aksa berdiri dibelakang Kiara memperhatikannya memasak.


"Kau pandai memasak Kiara?" tanya Aksa.


"Untuk jadi istrimu tentunya harus pandai memasak," ucap Kiara terus menggoda Aksa biar semakin luluh dan jatuh kepelukannya.


"Aku beruntung jika kau jadi istriku," ucap Aksa.


Kiara tersenyum mendengar ucapan Aksa. Ternyata mudah untuknya membuat Aksa jatuh kepelukannya.


"Sayang bantuin naruh makanan ini ke meja," tutur Kiara.


"Oke," sahut Aksa dengan semangat.


Aksa mengambil makanan yang sudah dimasak Kiara dan meletakkannya dimeja makan. Begitupun dengan Kiara yang menyajikan masakan terakhirnya dimeja makan.

__ADS_1


"Udah selesai sayang, ayo makan," ujar Kiara.


"Baunya harum pasti enak," ucap Aksa.


"Iya dong, akukan masak pakai cinta," kata Kiara.


Cup


Kiara mencium pipi Aksa. Seketika Aksa memegang pipinya. Dia termakan rayuan Kiara.


"Kok bengong, makan sayang," ujar Kiara.


Aksa mengangguk. Mereka berdua makan bersama sambil saling menyuapi satu sama lain. Selesai makan Kiara menarik lengan Aksa untuk duduk disofa. Kiara duduk dipangkuan Aksa berhadapan dengannya.


"Kiara turunlah, ini..." Mulut Aksa langsung ditutup dengan ciuman bibir Kiara. Aksa menikmati suasana itu hingga dia terbuai membiarkan Kiara membuka kancing kemejanya. Kiara meraba dada bidangnya. Perlahan-lahan Kiara melepas benang ditubuhnya hingga terbuka setengah bagian. Aksa terkejut melihatnya dan menelan ludah.


"Sayang jadikan aku milikmu," ucap Kiara.


Kiara hendak melepas benang yang menjaga daerah terlarang milik Aksa tapi ditahan tangan Aksa.


"Kiara jangan, belum saatnya," ujar Aksa.


"Tidak, zina itu dosa besar. Aku tidak mau," ucap Aksa.


"Lalu tadi kita sudah berciuman, apa itu bukan dosa?" tanya Kiara.


Aksa langsung terdiam. Dia memikirkan ucapan Kiara. Tapi saat Aksa terdiam, Kiara menarik tangan Aksa agar memegang sesuatu miliknya hanya saja Aksa justru beranjak dari sofa dengan mengangkat tubuh Kiara yang tadi duduk dipangkuannya. Dia mengancingkan kembali kemejanya.


"Sayang kenapa? apa aku tak layak untukmu?" tanya Kiara.


"Kiara aku pikir kau berbeda, tapi kau tak ada bedanya dengan wanita yang biasa ditepi jalan," ucap Aksa.


"Sayang aku hanya ingin jadi milikmu," ujar Kiara.


"Tidak dengan cara seperti ini, aku harap kau tidak sembarangan memberikan kesucianmu pada lelaki manapun. Karena kesucian seorang wanita hanya untuk suaminya," ujar Aksa.


Aksa berjalan keluar dari apartemennya. Kiara terus memanggil Aksa tapi tak digubris. Aksa terus berjalan diantara lorong apartemen. Dia naik lift turun ke lantai bawah. Kakinya melangkah menuju basemant naik ke mobilnya. Aksa mengendarai mobilnya melaju dijalanan. Sambil mengendarai mobilnya dia melihat ke tepi jalan, gadis yang dibilang gila duduk ditepi jalan membawa rantang makanan dipangkuannya padahal hujan lebat. Aksa memarkirkan mobilnya ke tepi. Dia turun dari mobil membawa payung menghampiri gadis itu.


"Kau tau hujan tidak?" tanya Aksa.


"Aku menunggu seseorang, pergilah jangan campuri urusanku," ucap Gadis itu.

__ADS_1


"Hujannya deras kau bisa sakit bodoh," ujar Aksa.


"Dia janji akan datang, aku harus menunggunya," ucap Gadis itu.


Aksa berdiri dibelakang gadis itu memayunginya hingga larut malam. Tak seorangpun datang bahkan gadis itu sudah tertidur dikursi sambil memegang rantang ditangannya. Aksa meletakkan payung dibawah. Dia mendekati gadis itu.


"Dia benar-benar menunggu seseorang sampai seperti ini," ucap Aksa.


Aksa mengambil rantang ditangan gadis itu. Dia membuka setiap rantang. Berbagai makanan ada disetiap rantang.


"Dia membuat semua ini untuk kekasihnya atau siapa?" ucap Aksa menebak.


Tiba-tiba muncul seorang ibu. Dia menghampiri gadis itu.


"Ya ampun kamu kesini lagi," ucap Ibu itu.


"Ibu kenal dia?" tanya Aksa yang heran melihat ibu itu.


"Dia anakku, tentu kenal," ucap Ibu itu.


"Anak ibu?" Aksa terkejut dengan penuturan ibu tua itu.


Ibu itu menggendong putrinya dipunggungnya. Dia berjalan meninggalkan tempat itu. Aksa segera mengejarnya.


"Bu apa tidak berat? biar saya bantu," ucap Aksa.


"Ibu sudah biasa menggendong Naira," ucap Ibu itu.


"Tapi dia sudah besar pasti berat," ucap Aksa.


"Kalau begitu gendonglah anakku sampai rumah, kau sanggup?" tanya Ibu itu.


"Oke siap," kata Aksa.


Aksa menggendong Naira dipunggungnya. Dia bersama ibu itu pergi ke rumahnya. Setengah jam penuh Aksa menggendong Naira, akhirnya sampai juga. Sebuah rumah sederhana. Rumah itu berurukan kecil. Didepan rumah dipenuhi bunga-bunga. Aksa masuk ke dalam rumah bersama ibu itu. Naira ditidurkan diranjang kamarnya. Setelah itu Aksa mengobrol dengan ibunya Naira.


"Bu apa terjadi pada Naira?" tanya Aksa penasaran.


"Ceritanya panjang," ucap ibu itu.


"Ceritakan padaku kumohon"ucap Aksa.

__ADS_1


__ADS_2