ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM


__ADS_3

Lari sana sini bawa Bobo, ketangkep juga sama sekuriti. Sudah tak bisa kabur apalagi mengelak, pasrah saja dari pada dibawa ke kantor polisi.


"Maafin saya Om kekar, saya kan cuma ngamen. Gak ada maksud lainnya."


"Kamu tahu tidak boleh ngamen di sini!"


"Tahu, makanya saya maksa masuk, tapi lumayan banyak loh yang nimpukkin saya pakai duit."


"Kalian minggir" Sekretaris lelaki tampan itu menghampiri kami.


"Baik Tuan."


Untung kedua sekuriti itu pergi. Tapi apa maksud dan tujuan lelaki ini. Apa aku mau dilaporkan ke rumah sakit jiwa. Aku merasa masih waras sih cuma bodoh aja.


"Kamu!"


"Iya saya."


"Siapa namamu?"


"Aara Camelia"


"Masih sekolah?"


Tunggu aku terdiam sebentar. Kenapa rasa-rasanya seperti diintrogerasi ya. Mungkinkah aku akan didaftarkan naik haji bukanlah, mungkin daftar jadi penyanyi di sebuah ajang berbakat. Tapi suaraku cempreng bahkan kambing pun kabur saat mendengarnya.


"Masih Om, tapi nunggak dua kelas seharusnya sih udah lulus. Yah beginilah nasib saya, nilai setiap hari nol, kalau pelajaran olahraga jualan keripik, pelajaran kesenian alat apa saja yang saya pakai rusak, murid yang tak dirindukan Om."


"Saya tidak tanya itu."


"Oh gitu, padahal saya udah panjang lebar ya bicara kirain Om mau mendengar cerita lainnya, saya sudah merangkumnya biar gak terlalu baper."

__ADS_1


Aku memang humoris dan tidak pernah menganggap apapun serius. Susah membuatku sakit hati. Kalau kata orang, jembar atine.


"Ambil uang ini, pulanglah!" Sekretaris itu memberiku amplop.


"Alhamdulillah, tapi ini halal gak ya Om? Saya gak mau dituduh menggelapkan dana, orang ini uangnya warna merah kok gak gelap."


Sekretaris itu hanya geleng-geleng dengan perkataanku. Pikirnya masih ada makhluk aneh sepertiku dijaman modern.


"Itu halal, jadi ambilah!"


"Makasih Om, semoga Allah membalas kebaikan Om, dimurahkan rejekinya, panjang umurnya, senantiasa sehat selalu. Apalagi ya lupa teks yang dibiasa diucapkan para pengemis. Aku ingat-ingat dulu Om, takut ada yang keliwat tar gak afdol."


"Sudah-sudah tidak perlu."


"Oya jangan nambah istri, karena kasus perceraian semakin marak, pelakor jadi penyebab utama perceraian. Anak jadi korban, pekerjaan berantakan, mantan istri jadi janda herang, Om nyesel deh selingkuh."


"Ha ha ha, kamu ini lucu, limited sekali."


"Permisi Om, uangnya takut expired, saya undur diri, assalamu'alaikum."


Aku bergegas meninggalkan Om itu. Khawatir berubah pikiran karena mulutku susah kompromi kalau udah bicara panjang lebar. Maklum aku ini polos atau losdol.


"Bos harus mengenal gadis kecil itu, harinya pasti menarik."


***


Aku membeli susu formula, popok dan botol bayi. Aku harus punya stok yang cukup biar gak ngamen gak jelas seperti tadi. Untung cuma ditimpukin uang, coba kalau ditimpukin telorkan sayang, mending buat bikin telor dadar dan telor mata sapi.


Aku hendak membayar barang-barang yang ku beli, ada dua anak kecil tidur di emperan mini market. Terkadang aku merasa hidupku susah tapi melihat mereka, aku sadar hidupku jauh lebih baik.


Aku berjalan kembali di lorong-lorong rak makanan. Tanganku mengambil dua roti dan dua air mineral. Kemudian aku membayar semuanya.

__ADS_1


Setelah selesai, aku berjalan keluar mini market dan membangunkan mereka.


"Dek ... dek ... dek bangun!"


Mereka bangun. Salah satu dari mereka anak lelaki yang ku perkirakan usianya 10 tahun dan satu lagi anak kecil mungkin usianya sekitar 8 tahun.


"Ambil ini!" Aku memberikan roti dan air mineral untuk mereka berdua.


"Makasih kak."


"Orangtua kalian kemana?"


"Kami diusir ibu tiri setelah ayah meninggal."


Hatiku teriris sakit. Aku ditinggalkan ibu saat aku sudah lulus SMP, masih beruntung dari mereka berdua.


"Apa kalian punya tempat tinggal?"


"Tidak."


"Mari ku antar ke yayasan dekat sini, kalian bisa tinggal di sana."


"Makasih kak."


Aku mengantar kedua anak itu ke yayasan tempatku dulu pernah tinggal. Setelah jualan keripik aku keluar dari yayasan dan memilih ngekos agar aku mandiri. Walaupun tak mudah tapi aku sudah menjalaninya selama tiga tahun ini. Sekarang aku bisa membayar kos dan biaya sekolahku, ya kadang-kadang nunggak, kena omel staff TU sudah biasa, apalagi kalau mau ujian auto ngumpet di bawah kolong meja biar gak dicari sama staff TU gara-gara SPP nunggak, ya ujung-ujungnya diberi kemudahan dengan dicicil semampunya. Seandainya otakku top cer kaya lampu, mungkin aku jadi juara kelas dapet bea siswa masuk ke perguruaan tinggi lalu mendirikan pabrik keripik, lah ujung-ujungnya keripik lagi.


Pulang ke kosan aku membuatkan susu untuk Bobo. Untung Bobo dari tadi tidur terus, di memang bayi yang anteng. Tahu saja kalau Momy-nya sibuk mencari uang untuk beli susunya.


"Bobo, Momy udah bisa beli susu nih. Alhamdulillah ada orang baik yang memberi kita uang. Memang ya, rejeki anak ada aja."


Baru aku memberi susu Bobo terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


Tuk ... tuk ... tuk ...


"Siapa tengah malam gini mengetuk pintu? masa pocong mau minta bukain tali? atau tukang pos tanya alamat palsu? aku rasa bukan, mungkinkah polisi gara-gara aku dilaporin ngamen di klub malam?"


__ADS_2