
Barra berangkat ke Markas Orion. Dia mendirikan markas itu bukan hanya sekedar markas tapi lebih tepatnya sebuah perusahaan senjata api. Perusahaan menjual berbagai senjata api. Barra sangat terkenal di kerajaan bawah. Dia dikenal dengan julukan Raja Senjata.
Pagi itu dia sedang berada diruangannya. Sekretarisnya masuk ke ruangan kerja Barra.
"Selamat pagi Bos" ucap Luci menghampiri Barra yang duduk di kursi kerjanya. Dia berdiri di depan meja kerja Barra.
"Pagi" ucap Barra.
"Bos ada yang ingin bertemu dengan Anda" ucap Luci.
"Siapa?" tanya Barra.
"Perwakilan dari Geng Kelabang Merah" ucap Luci.
"Suruh masuk" ucap Barra.
"Baik Bos" ucap Luci.
Luci keluar ruangan kerja Barra memanggil perwakilan dari Geng Kelabang Merah. Salah satu dari mereka masuk ke ruangan Barra.
"Pagi Bos" ucap Colis yang baru masuk ke ruangan kerja Barra.
"Pagi" ucap Barra.
"Duduk!" perintah Barra.
"Oke Bos" ucap Colis.
Colis duduk di kursi depan meja kerja Barra.
"Apa tujuanmu datang padaku?" tanya Barra. Dia tahu kelompok begal ini pasti ada maunya hingga dia menemuinya. Barra sudah biasa bertemu para penjahat hanya untuk urusan senjata. Mereka sering membeli berbagai senjata pada Barra.
"Apa lagi kalau bukan soal senjata" ucap Colis.
"To do poin saja, aku paling malas basa-basi" ucap Barra.
"Raynor sudah melampau, dia sejalu menggagalkan usaha kami. Pistol biasa tidak bisa melukainya Bos" ucap Colis.
"Raynor? aku jadi tertarik untuk mengenalnya. Namanya begitu terkenal di kerajaan bawah" ucap Barra.
"Dia selalu muncul di malam hari seperti polisi berpatroli. Kami sulit untuk beroperasi. Entah siapa dia, tapi setiap ada kejahatan di malam hari dia selalu muncul untuk menumpasnya" ucap Colis.
"Oke, serahkan dia padaku. Dan untuk urusan senjata itu. Aku akan merancangnya dulu sampai aku sendiri yang berhadapan dengannya" ucap Barra.
"Tapi Bos Jaxson ingin kami membeli senjata pada Anda" ucap Colis.
"Bagaimana aku bisa memberimu senjata jika aku tidak tahu seperti apa musuhku" ucap Barra.
"Baik Bos" ucap Colis.
Selesai berbincang dengan Barra, Colis meninggalkan ruangan itu. Barra hanya tersenyum dengan kabar yang diterimanya.
Dia duduk di kursi kerjanya sambil memikirkan sesuatu.
"Akan seru kalau aku bisa menangkap Raynor, sepertinya aku punya mainan baru" ucap Barra.
Tak lama seseorang memasuki ruangan kerja Barra. Dia anak buah Barra yang diutus untuk melakukan penyelidikan. Dia duduk di kursi depan meja kerja Barra.
"Bos tugas apa yang akan diberikan padaku?"
tanya Genta.
"Cari tahu siapa keluarga gadis ini" ucap Barra menunjukkan foto Haura pada Genta.
"Baik Bos" ucap Genta.
__ADS_1
"Aku ingin tahu secepatnya" ucap Barra.
"Oke Bos" ucap Genta
Genta meninggalkan ruangan kerja Barra.
"Haura? sepertinya gadis itu bukan anak orang sembarangan" ucap Barra.
Barra tersenyum licik memandangi foto Haura di tangannya.
**********
Haura dan Dhafi berangkat ke sekolah baru mereka. Kebetulan Haura sudah diperbolehkan sekolah. Barra membiayai biaya sekolah Haura. Dia setuju untuk menampung Haura di rumahnya.
Siang itu Haura dan Dhafi tiba di SMA Langit Biru.
Mereka berjalan memasuki kelas 3 IPA 1. Guru memperkenalkan Haura dan Dhafi pada siswa di kelas itu.
"Anak-anak, kelas ini memiliki siswa baru. Haura Darien dan Dhafi Mahendra akan jadi teman baru kalian semua, silahkan Haura dan Dhafi memperkenalkan diri" ucap Pak Iwan.
"Hai teman-teman, namaku Haura Darien. Aku paling suka usil. Jika berkenan biarkan aku mengembangkan bakatku di kelas ini. Dijamin kalian semua akan menyukainya" ucap Haura.
"Huh..." ucap teman sekelasnya bersorak.
Dhafi maju ke depan memperkenalkan diri setelah Haura.
"Hai teman-teman, namaku Dhafi Mahendra. Aku paling suka dengan sesuatu yang cantik dan indah. Jadi beruntunglah jika kalian dalam kategori cantik dan indah, dijamin aku takkan mengecewakan" ucap Dhafi.
"Huh...." ucap teman sekelasnya bersorak.
Setelah berkenalan Haura dan Dhafi duduk ke bangku mereka. Haura duduk bersama Alina karena kebetulan Alina duduk sendirian. Haura langsung duduk.
"Hai aku Alina" ucap Alina memperkenalkan diri pada Haura.
"Iya, senang berkenalan denganmu. Semoga kedepan kita bisa jadi sahabat" ucap Alina.
"Oke" ucap Haura.
Tak lama pelajaranpun dimulai. Haura mulai jenuh dengan keadaan yang biasa-biasa saja.
Setan Red mengatakan "Haura bosankan, buat sesuatu yang menyenangkan. Lihat ke kanan dan ke kirimu begitu banyak korban yang bisa kau jahili."
Setan Bul mengatakan "udah Haura usil membuatmu bahagia. No usil no happy. Sedikit usil berarti sedikit dosa. Tidak masalah toh bisa berbuat kebaikan sebagai gantinya."
"Astagfirullah, aku mau istiqomah" ucap Haura.
Haura sudah memantapkan diri untuk berubah. Tapi tetap saja ada yang tak biasa baginya. Haura berusaha mengontrol tangannya.
"Eh...tanganku kok mampir di tas orang" ucap Haura. Tangan Haura meraba sesuatu di dalam ransel milik lelaki di depannya. Kebetulan ransel itu dikaitkan ke kursi yang diduduki lelaki itu.
"Apa aja yang dia bawa?" Haura penasaran. Dia mengambil sesuatu di ransel milik lelaki itu.
"Wah ini majalah dewasa" ucap Haura membuka majalah itu di tutupi bukunya sendiri biar yang lainnya tidak melihat.
"Aku tahu" ucap Haura.
"Pak guru" Haura memanggil gurunya.
Pak Iwan menghampiri Haura yang duduk dibangkunya.
"Ada apa Haura?" tanya Pak Iwan.
"Kok ada tikus ya Pak di kelas ini" ucap Haura.
"Tikus? mana tikusnya?" tanya Pak Iwan.
__ADS_1
"Tadi jalan dibawah lantai Pak" ucap Haura.
Pak Iwan pun melihat ke bawah lantai. Dia melihat majalah dewasa tepat dibawah kursi lelaki di depan Haura. Pak Iwan mengambil majalah dewasa itu.
"Eh bapak, itu buku..."ucap Tio lelaki di depan Haura. Dia takut ketahuan guru membawa majalah dewasa.
"Ini punyamu?" tanya Pak Iwan.
"Bukan Pak" ucap Tio.
"Sinikan ranselmu" ucap Pak Iwan menyuruh Tio untuk menyerahkan ransel miliknya.
Tio memberikan ranselnya pada Pak Iwan. Satu persatu barang di keluarkan dari ransel milik Tio.
"Loh kok ada bra, lipstik, gigi palsu, tagihan listrik,
tiket masuk waterboom, DVD murojaah, obat penurun panas, pisang goreng, pistol air, dan bawang merah segala" ucap Pak Iwan.
"Maaf Pak saya jualan segala ada, orang bilang palu gada" ucap Tio.
"Oh gitu" ucap Pak Iwan.
"Kalau bapak butuh masker wajah tanpa merkuri juga ada atau pamper ukuran big size juga ada" ucap Tio.
"Bapak sih lagi butuh stager otomatis" ucap Pak Iwan.
"Oh...ada Pak, mau genteng dan batu bata juga ada" ucap Tio.
"Emang kamu bawa ini semua di jual ke siapa?" tanya Pak Iwan.
"Teman, guru, kepala sekolah, satpam, penjaga kantin, warga sekitar sekolah, Pak RT, Pak Kades, Pak Bupati, Dokter, Polisi, Direktur sampai ke astronot juga" ucap Tio.
"Wah jaringan pasarmu luas ya" ucap Pak Iwan.
"Iya Pak" ucap Tio.
Teman-teman Tio di kelas itu malah berasa di dongengin. Mereka asyik mendengarkan Pak Iwan dan Tio yang sedang berbincang.
"Sabun colek yang gandu ada gak?" tanya Pak Iwan.
"Sabun colek gandu adalah pak, berbagai merk dan kegunaannya sudah bermacam-macam. Bahkan bisa buat maskeran kalau kulit mau putih instant" ucap Tio bercanda.
"Kamu jualan gini buat apa?" tanya Pak Iwan.
"Untuk menghidupi ke tujuh adik saya Pak, kedua orangtua, tiga nenek, empat kakek, dan dua puluh ponakan" ucap Tio.
"Banyak amat, itu keluargamu semua?" tanya Pak Iwan.
"Bukan Pak, keluarga lima pacar saya" ucap Tio.
"Huh...." teman-teman di kelasnya bersorak.
Pak Iwan sampai geleng-geleng dengan kelakuan Tio. Dia tak menyangka siswanya ada yang kaya Tio.
"Biasa yang paling laris apa?" tanya Pak Iwan.
"Ya majalah dewasa versi terbaru Pak" ucap Tio.
"Tioooo....lari kamu di lapangan 20 kali" ucap Pak Iwan marah besar.
"Ha...ha...ha.." teman-teman di kelasnya mentertawakan Tio.
"Padahal udah jujur. Ternyata tak selamanya jujur itu indah" ucap Tio.
Tio akhirnya keluar kelas untuk lari di lapangan sebanyak 20 kali. Sementara Pak Iwan menyita barang dagangan Tio.
__ADS_1