
"Siapa yang mencariku?" tanyaku padanya.
"Itu Pak Didin."
Pak Didin adalah salah satu staf TU di SMA Kejora. Pasti ini ada hubungannya dengan bayaran sekolahku.
"Iya aku segera ke TU," jawabku.
Temanku pun pergi setelah menyampaikan pesan dari Pak Didin.
"Aara kau belum bayar SPP ya?" tebak Ami.
"Iya, apalagi," jawabku.
"Kalau gitu tar malam kamu jaga lilin biar aku yang muter," ujar Dodo.
"Iya muterin rumah soalnya kalau malam kau ngigau sambil jalankan?" sahutku.
"Kok tahu?" tanya Dodo.
"Tahulah dari dulukan kau disangka hantu gara-gara ngigau sambil jalan, untung dikira hantu kalau dikira maling, malang niang nasimu Dodo," jawabku.
"Ha ha ha." Kami tertawa bersama.
Aku segera menuju ke ruang TU. Biasanya jam istirahat aku ke ruang TU, tapi karena sudah beberapa kali aku nungguk apalagi mau UTS, staf TU meradang. Ku langkahkan kaki dengan resah. Aku harus menyiapkan jawaban yang paling benar. Maklum aku belum punya uang untuk bayar sekarang. Semenjak ada Bobo, susu dan popoknya prioritasku. Hasil jualan keripikku tak seberapa. Aku harus memutar otakku sekarang biar punya penghasilan lain.
Di ruang TU, aku berdiri di depan loket pembayaran. Wajah tanpa dosaku sudah ku pajang sebaper mungkin.
"Aara SPP-mu nunggak 3 bulan, kapan mau bayar?"
"Maaf Pak, tapi Aara belum punya uang. Bisa kasih keringanan waktu?" tanyaku.
"Senin depan UTS. Kalau kamu belum bayar SPP, bisa terancam tidak mendapatkan kartu peserta ujian."
Benar juga, hari Senin depan UTS. Dari mana aku bisa mengumpulkan uang 1,5 juta dalam beberapa hari. Dagang keripik 24 jam saja belum tentu mencukupinya.
"Insya Allah secepatnya saya bayar Pak," sahutku.
"Carilah part time yang lebih menguntungkan, jualan keripik tak bisa kau andalkan sepenuhnya."
"Iya Pak, terimakasih sarannnya," jawabku.
Aku berjalan menuju kelas. Kembali duduk bersama Ami dan Dodo. Lemes rasanya. Aku hanya bersandar di bahu Ami.
"Sobat kenapa? apa kau habis ditalak 3?" tanya Ami.
"Lebih urgent dari ditalak 3," jawabku.
"Kalau begitu kasih es batu kepala kau biar dingin, ku hutangkan ya es batu yang seribuan?" tanya Dodo.
__ADS_1
"Saranmu kurang membangun Do, bisa tidak kau jual gigi kuningmu satu buat bayar SPP-ku?" ucapku bercanda.
"Boleh, kalau bisa dijual aku jual semua biar bisa melamar Neli lulus SMA nanti," sahut Dodo.
"Gigi bolong semua, gigis lagi, mana laku dijual. Keunggulannya cuma kuning gara-gara gak gosok gigi," sahut Ami.
Kami tertawa. Paling tidak hatiku sudah baikkan.
"Bagaimana kau cari sugar daddy, kaya di film Sugar Daddy Juragan Tuyul, sepertinya instant dapat uang," ujar Ami bercanda.
"Kalau tidak, kau bertapa di air terjun Nenek Lampir, kali saja dia mau kasih simpenan emasnya semasa hidup," tambah Dodo.
"Ujiannya besok Senin, bertapa paling tidak satu minggu, solusi yang bodoh, kapan ikut ujiannya kalau begitu?" tanya Ami.
"Kalau begitu jualan BH dan CD di lapangan bola, laris manis di sana," saran Dodo.
Otakku langsung menyambung dengan kabel otak Dodo. Solusi instant ini paling cepat dan tepat.
"Oke setuju."
Akhirnya ada solusi juga buat bayar SPP. Semoga aja beneran dapet duit buat bayar SPP. Hatiku senang meskipun solusi ini termasuk ekstrim.
Di kafe sekolah Axel dan teman-temannya lagi nongkrong seperti biasa. Mereka punya tempat sendiri di kafe itu. Ibarat kata mereka magnet buat meramaikan kafe. Tiap mereka nongrong pasti banyak siswi nongkrong sampai ngantri cuma buat melihat geng fakboy nongkrong. Secara mereka geng cowok-cowok tampan.
"Axel, gue denger lo makin deket sama si lemot?" tanya Grey.
"Iya Bro, hati-hati kena sawan, dia itukan makhluk dari dunia lain," tambah Blue.
"Bu Heni nyuruh gue belajar bersama si lemot," sahut Axel.
"Salah apa lo di masa lalu sampai harus ngajarin si lemot,"ujar Blue.
"Berarti pakai baju hasmat lo kalau deket-deket sama si lemot," kata Grey.
"Pakai disinfektan dulu, biar si lemot gak nularin virus lemotnya," ucap Bruno.
"Ha ha ha." Blue, Grey dan Bruno tertawa. Hanya Axel yang diam. Dia berdiri lalu meninggalkan mereka bertiga. Ketiga temannya heran melihat sikap Axel yang seperti itu.
"Bro Axel kenapa?" tanya Grey.
"Gak tahu," jawab Blue.
"Apa dia lagi ketularan virus cinta," sahut Bruno.
"Sama si lemot maksud lo?" tanya Grey. Mereka bertiga kompak menggeleng. Mereka merasa Axel agak berbeda. Tak biasanya dia meninggalkan mereka saat asyik mengobrol. Apalagi yang diobrolkan mereka mengenaiku.
***
Perusahaan Star Brand. Perusahaan milik Albern. Perusahaan yang menghasilkan berbagai tas, baju, sepatu, kosmetik dengan brand ternama. Albern sudah memasarkan hasil perusahaannya ke berbagai negara. Bahkan di negaranya, brand miliknya sangat laris dipasaran. Albern terdiam duduk di kursi kerjanya. Seorang sekretaris masuk ke ruangannya. Sekretarisnya bernama Nico Pramuda.
__ADS_1
"Pagi Bos."
"Pagi."
"Bos artis Selia Margareta menolak untuk bekerja sama dengan kita. Dia tidak ingin menjadi ambassador prodak kita."
"Bukankah keuntungan yang kita tawarkan besar?"
"Iya, tapi dia tidak tertarik."
"Atur pertemuanku dengannya."
"Oke Bos."
Albern terlihat tak bersemangat seperti biasanya. Membuat sekretarisnya heran dan ingin tahu kenapa.
"Bos ada masalah?"
"Nico kalau cewek marah memang suka ninggalin rumah?"
"Biasanya gitu Bos, bisa berhari-hari. Mereka tidak akan membalas chat atau mengangkat telpon kita."
"Terus caranya supaya dia balik ke rumah gimana?"
"Loh Bos kok tanya saya caranya, Bos sudah biasa bersama mereka seharusnya lebih tahu dari saya."
"Masalahnya dia bukan wanita-wanita yang biasa ku kencani, dia bukan wanita gila harta, dia hanya gadis kecil yang sederhana. Hidupnya tidak neko-neko. Hanya seputar keripik, sekolah, dan bayi."
"Tunggu, saya gak paham Bos."
Albern diam sesaat. Dia berpikir untuk menceritakan pada Nico apa yang terjadi sebenarnya.
"Nico, belum lama ini aku menikahi anak SMA karena proses yang tidak disengaja. Dia seorang gadis sederhana, lucu dan unik. Dia selalu bawa bayi dan jualan keripik kemanapun."
"Gadis membawa bayi? apa dia gadis yang sama saat kita di klub malam?"
"Ya, betul. Dia memang gadis itu."
"Oh, kalau begitu selamat Bos."
"Ya terimakasih, tapi apa yang harus ku lakukan?"
Nico berpikir sejenak untuk mencari cara untuk memecahkan masalah Bosnya.
"Bos cinta sama dia tidak?"
"Cinta? aku belum tahu. Yang jelas aku suka dia ada di rumahku, dia itu menyenangkan. Hidupku jadi tidak membosankan. Dia juga imut dan cantik. Meskipun dia sangat bodoh."
"Intinya Bos belum tahu perasaan sendiri, jadi sekarang saya tanya, kalau seandainya dia bersama orang lain, apa Bos rela?"
__ADS_1
Albern terdiam. Memikirkan pertanyaan Nico. Dia membayangkan seandainya aku bersama lelaki lain.