ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 19


__ADS_3

Teruntuk Putriku Alina Clemira


Assalamu'alaikum


Surat ini sudah lama ditulis oleh Abi dan Umi.


Kami membuat surat ini pada seorang pengacara jika seandainya Abi dan Umi meninggal, akan ada yang memberitahu siapa dirimu. Abi dan Umi menemukan seorang bayi yang hanyut di laut. Kami pikir kau sudah meninggal saat kami mengangkatmu dari perairan. Tapi ternyata Allah Maha Besar, kau masih bisa diselamatkan. Kami langsung membawamu ke rumah sakit. Alhamdulillah nyawamu tertolong nak. Kami mengangkatmu sebagai anak kami dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Maafkan kami apabila belum sempat memberitahumu tentang kebenaran ini. Semoga dengan surat ini kami bisa menyampaikannya padamu. Abi dan Umi selalu menyayangimu nak.


Abi dan Umi


Alina menangis membaca surat itu. Dia baru tahu kalau dia bukan anak kandung dari kedua orangtuanya. Rafael memeluk Alina, dia tahu kesedihan yang Alina rasakan.


"Adik kecil jangan bersedih, ada kakak yang akan selalu menjagamu dan berada disisimu." Ucap Rafael sambil memeluk erat Alina.


Kehangatan Rafael membuat Alina nyaman. Kakaknya itu selalu mampu membuatnya bahagia meskipun sedang bersedih.


"Ayo kita jalan-jalan malam ini, kakak punya tiket nonton film." Ucap Rafael.


"Beneran kak?." Tanya Alina.


"Iya, nanti kau boleh beli pop corn sepuasnya." Ucap Rafael.


"Asyik." Alina begitu gembira.


Sudah lama dia tak pernah nonton film. Semenjak orangtua angkatnya meninggal, Alina dan Rafael cukup lama berduka. Mereka hanya menghabiskan hari-hari mereka di rumah.


Setelah sholat Isya Rafael dan Alina pergi ke bioskop. Mereka berjalan kaki ditepi jalan menunggu bus lewat. Alina terus senyum sumringah sambil memegang tangan kakaknya.


Tiba-tiba hujan turun dengan intensitas sedang.


Rafael langsung melepas jaketnya untuk menutupi Alina biar tidak kehujanan.


"Adik kecil kita cari tempat berteduh ya." Ucap Rafael.


Alina mengangguk. Mereka berteduh di halte bus yang kebetulan tidak jauh dari situ. Alina dan Rafael duduk dikursi halte bus. Alina terlihat kedinginan karena bajunya sempat terkena air hujan. Rafael berinisiatip memeluknya biar tubuh adiknya tidak kedinginan. Dia memeluk Alina dari belakang tubuhnya.


"Adik kecil apa masih dingin?." Tanya Rafael.


"Tidak, hangat." Ucap Alina.


Saat memeluk Alina, Rafael tak sengaja membayangkan sesuatu. Dia dan Alina hidup bersama, menikah dan memiliki anak. Rafael tersenyum tanpa sadar, mungkin seperti itulah jika mereka menjadi suami istri. Tak lama lamunannya terpecah saat Alina memanggilnya.


"Kak Rafa hujan reda."


"Oh ya, ayo kita berangkat. Tuh busnya sudah ada." Ucap Rafael.


Sebuah bus dari ujung jalan melaju dan berhenti di halte bus itu. Rafael dan Alina naik. Bus mulai melaju ke tempat tujuan. Sampai di sebuah Mall, Rafael dan Alina turun dari bus, mereka masuk ke Mall tersebut. Mata Alina terus melihat ke kanan dan ke kiri. Semua hal di Mall itu membuatnya tertarik untuk melihatnya. Rafael menarik lengan Alina. Dia membawa Alina ke sebuah toko perhiasan.


"Kak untuk apa kita kesini.?" Tanya Alina.


"Kakak ingin membeli sesuatu untukmu." Ucap Rafael.


Alina belum tahu maksud ucapan Rafael. Dia hanya melihat Rafael memilih sebuah kalung dengan liontin love. Dia membeli kalung itu dan memakaikannya pada Alina.


"Kak ini pasti mahal." Ucap Alina.


"Tidak masalah, kalung ini akan mengingatkanmu pada kakak saat kakak tak berada disisimu." Ucap Rafael.


Alina memegang liontin love dan membukanya.


Ada fotonya dan Rafael diliontin itu. Alina langsung mencium liontin itu. Benda itu begitu berharga untuknya karena pemberian kakaknya.


"Ayo kita nonton, sebentar lagi filmnya diputar." Ucap Rafael.

__ADS_1


Alina mengangguk. Rafael dan Alina masuk ke bioskop. Mereka berdua duduk dikursi paling depan. Judul film yang mereka akan tonton berjudul "Mencintai Adikku". Film itu mulai diputar. Ketika mulai di puncak cerita Rafael meneteskan air matanya. Dalam film itu menceritakan seorang kakak angkat yang mencintai adiknya, tapi adik mencintai orang lain membuat sang kakak merelakan adiknya bersama orang lain dan dia pergi jauh meninggalkan adiknya. Dia teringat pada dirinya sendiri, mungkin bisa saja itu terjadi padanya dan Alina. Rafael takut akan terpisah dari Alina. Selama ini dia selalu bersama Alina, tidak ada hari tanpa Alina dihidupnya. Bahkan dipikiran dan hatinya Alina dan Alina. Apa dia sanggup jika nanti harus meninggalkan Alina dan merelakannya bersama orang lain.


"Apa takdir akan memisahkanku dengan Alina?


Apa aku dan Alina akan selalu bersama? Apa dia akan mencintai orang lain dan meninggalkanku? Apa aku yang akan meninggalkannya?." Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dipikiran Rafael.


Alina menyeka air mata di pipi Rafael.


"Kak Rafa kok sedih, filmnya bikin kakak sedih ya?." Tanya Alina.


Rafael langsung memeluk Alina tanpa menjawab pertanyaannya. Dia tak peduli itu sedang dibioskop yang banyak orangnya atau tidak. Baginya hari ini dan esok akan menjadi waktu istimewa untuknya bersama Alina, karena bisa saja suatu hari nanti perpisahan itu akan datang.


Alina mengelus punggung kakaknya itu. Dia juga ikut bersedih saat melihat Rafael sedih.


"Kita kesinikan untuk nonton bukan untuk menangis, maafkan aku adik kecil." Ucap Rafael melepas pelukannya.


"Tidak apa, filmnya memang bagus jadi membuat penontonnya hanyut dalam cerita." Ucap Alina.


Rafael mengangguk. Mereka berdua kembali menyaksikan film itu hingga selesai.


************


Haura duduk di meja makan. Di meja makan itu tersedia berbagai makanan seperti jus, roti, snack, kue, buah dan permen. Dia bingung mau makan yang mana dulu. Kedua lelaki tampan itu benar-benar menyediakan semuanya untuknya.


Setan Red mengatakan "Widih rejeki nomplok. Ayo Haura cepat makan dan habiskan. Aku juga mau, lapar nih he he he."


Setan Bul "Buruan Haura makan semuanya jangan nunggu makan dulu. Nanti makan lagi aja setelah menghabiskan semua makanan ini. Serakah itu pangkal bahagia. Ingat pepatatah perut kenyang hatipun senang he he he."


"Bismillahirrahmanirrahim." Haura membaca basmalah sebelum makan kemudian membaca doa makan.


Bluuug.........


Setan Red dan Bul bagai tersambar petir, pupus sudah harapannya makan enak bersama Haura.


Setan Bul mengatakan "Udan laper dari tadi cuma liat doang, inilah kalau klien kita mulai tobat. Kita kurus kering kerotan."


Sementara Barra dan Dhafi di dapur memasak di dapur. Mereka memasak dikompor masing-masing. Mereka bersaing untuk mendapatkan pujian dari Haura. Barra masak mie goreng dan Dhafi masak mie rebus. Dhafi sakit perut meninggalkan kuah mie yang sudah dibuatnya duluan.


"Tidak ada peraturan curang itu tidak diperbolehkan, jadi iseng sedikit tak apalah. Toh Si Dhafi gak tahu." Batin Barra.


Barra menuangkan lada bubuk dikuah itu.


"Lah sawinya kok gak seger, ambil dulu deh ke kebun." Ucap Barra.


Barra keluar dari dapur. Dhafi yang keluar dari toilet melihat bumbu ulek punya Barra.


"Sedikit iseng untuk memenangkan pertandingan ini tak apalah. Toh Om gak ada. Lagian udah tua juga pakai saingan sama yang muda." Batin Dhafi.


Dhafi menaruh cabe bubuk bumbu ulek itu. Tak lama Barra masuk ke dapur. Mereka berdua mulai memasak kembali.


"Bau masakanku harum, udah jelas aku yang menang." Ucap Dhafi.


"Warna mie gorengku merah kecoklatan, sempurna untuk warna mie goreng yang enak." Ucap Barra.


Mereka berdua menyombongkan masakan mereka masing-masing. Mereka mulai menyajikan diwadah. Dhafi meletakkan mie rebus dimangkuk dan Barra meletakkan mie goreng dipiring.


Kriing......kriiiing .......kriiiiing........


Handphone Barra berbunyi. Dia keluar dari dapur untuk mengangkat telpon dari kliennya.


"Mumpung Om pergi, sesuatu yang eksotik boleh nih." Ucap Dhafi.


Dhafi meletakkan sesuatu di tengah bagian dalam mie itu.

__ADS_1


"Beres, ku jamin aku yang menang, kasihan deh Om." Ucap Dhafi.


"Tapi mie rebus punya ku harus ku foto dulu untuk diabadikan, handphoneku ketinggalan di toilet." Ucap Dhafi.


Dhafi masuk ke toilet. Sedangkan Barra kembali ke dapur. Dia melihat mie rebus buatan Dhafi dengan tatapan licik.


"Menambahkan toping unik boleh nih." Ucap Barra.


Barra memasukkan sesuatu ke dalam mie rebus punya Dhafi. Barra menahan tawanya, Dhafi keluar dari toilet melihat Omnya menutup mulutnya.


"Kenapa Om? jangan meremehkan mie rebus buatanku." Ucap Dhafi.


"Gaklah." Ucap Barra.


Mereka berdua tidak tahu sama-sama curang dan merusak masakan mereka masing-masing. Setelah disajikan di wadah mereka berdua membawa masakan itu ke meja di ruang makan. Haura sudah teler di meja karena kekenyangan menghabiskan aneka jus dan camilan yang ada dimeja.


"Haura inilah mie rebus andalanku." Ucap Dhafi menunjukkan mie rebus buatannya.


"Oh ya." Ucap Haura pelan.


"Haura inilah mie goreng favoritku." Ucap Barra.


"Iya Om." Ucap Haura pelan.


"Ayo dimakan." Ucap Dhafi dan Barra.


"Punya siapa dulu?". Tanya Haura.


Haura memperhatikan dua mie dimeja makan. Dua-duanya terlihat enak dimata Haura. Tapi dua makanan itu mengeluarkan suara khas masing-masing.


Cit........cit.........cit..........


Proooog.......prooog......prooog.....


"Kok mienya bernyanyi ya?." Tanya Haura.


"Itu tandanya mienya enak." Ucap Dhafi.


"Tingkat kematangan yang sempurna." Ucap Barra.


"Perasaan kalau Mama masak, makanannya gak bernyanyi gini." Ucap Haura.


Haura merasa aneh dengan kedua masakan itu. Perasaannya ragu untuk memakan kedua masakan itu.


"Ini masakan istimewa pasti beda." Ucap Dhafi.


"Masakan ekslusif tentu punya ciri khusus." Ucap Barra.


"Tapi aku takut memakannya. Gimana kalau aku tiba-tiba linglung setelah memakan makanan itu atau jadi penyanyi di panggung internasional padahalkan aku mau jadi Dokter." Ucap Haura.


"Yasudah aku akan memakannya duluan untuk memastikan ini aman." Ucap Dhafi.


"Aku juga akan memastikan masakanku layak dimakan." Ucap Barra.


"Oke, silahkan." Ucap Haura. Padahal Haura juga tak ingin memakan masakan koki dadakan itu. Dia sudah membayangkan dirinya saat jadi koki dadakan apa saja dimasukkan.


Saat Dhafi memakan mie rebusnya tak sengaja dia dia menyendok katak sedangkan Barra dia melihat tikus kecil bobo cantik ditengah piring.


Ugh......ugh......ugh.........


Hoooeeek....... hoooeeek........ hoooeeek........


Dhafi dan Bara terbatuk dan langsung muntah di tempat. Perut mereka juga tiba-tiba sakit membayangkan tadi makan makanan yang sudah ditempati makhluk asing itu. Mereka langsung berlari ke toilet.

__ADS_1


"Untung aku gak jadi makan, secara aku lebih iseng dari mereka." Ucap Haura.


__ADS_2