
Alvan menunggu Alina di jalan gang dekat kontrakkan Alina. Dia bolak balik melirik ke ujung jalan berharap Alina segera muncul. Dia terlihat kesal menunggu Alina. Tangannya mengetuk-ngetuk body motor bagian depan. Dia benar-benar sudah tak sabar menunggu Alina. Alvan mau menyalakan motornya, tiba-tiba ada yang menduduki jok belakang motornya.
"Selamat pagi" sapa Alina dengan senyuman yang manis.
"Kau tahu tidak, aku sudah 1 jam menunggumu" Alvan marah-marah pada Alina. Seperti biasa matanya melotot, bersuara keras dan kasar, tapi Alina hanya tersenyum, Alvan memang selalu seperti itu padanya.
"Sudah marahnya? atau kita mau terlambat?" Tanya Alina.
"Peganganlah! aku akan membuat perhitungan denganmu" Alvan ingin memberi hukuman pada Alina.
Alina berpegangan pada ransel yang ada di punggung Alvan. Motor mulai dinyalakan. Alvan mengendarai motornya sangat pelan tidak ngebut seperti biasanya.
"Alvan, kalau begini kita kesiangan" ucap Alina memperingatkan Alvan.
Alvan tidak menjawab ucapan Alina. Dia hanya tersenyum membiarkan Alina cemas karena takut kesiangan. Bahkan Alvan sengaja mengambil rute yang jauh biar semakin lama.
"Alvan kau marah? kita akan dihukum nantinya kalau kesiangan" Alina memperingatkan Alvan.
Benar saja Alvan dan Alina kesiangan sampai sekolah. Alina dan Alvan dihukum berlari keliling lapangan sebanyak 10 kali.
"Huh...huh...huh....capek" Alina kelelahan padahal baru berlari 5 kali. Nafasnya tersengal-sengal.
Alvan menarik lengan Alina mengajaknya berlari padahal Alina sudah kelelahan.
"Alvan lepas aku lelah, biarkan aku lari pelan-pelan huh...huh...huh...." ucap Alina memohon pada Alvan agar tangannya dilepaskan.
Alvan melepas tangan Alina. Dia mendekati Alina dan memberinya sapu tangan.
"Ambil sapu tangan ini! cepat!" Alvan menyodorkan sapu tangan pada Alina.
Tanpa banyak tanya Alina memilih mengambil sapu tangan itu dari tangan Alvan. Dia menyeka keringatnya dengan sapu tangan itu.
"Kau haus?" tanya Alvan.
"Kau marah tidak kalau aku bilang haus" ucap Alina.
"Kalau kau bilang gak haus aku akan menyuruhmu berlari lagi 10 putaran" ucap Alvan.
Alina langsung cemberut. Dia kesal pada Alvan.
"Mukamu tak pantas ditekuk" ucap Alvan.
Alvan menarik lengan Alina berjalan menuju kantin sekolah. Alina sebenarnya tidak mau karena hukumannya belum selesai tapi Alvan terus menarik lengannya.
"Mpok Mimin beli air mineral dua" ucap Alvan.
"Beres Den ganteng" ucap Mpok Mimin.
Alvan mengambil dua botol air mineral dari lemari pendingin minuman. Dia memberikan satu botol air mineral pada Alina.
"Minumlah!" ucap Alvan pada Alina.
Alina meminum air mineral itu sampai habis.
"Alhamdulillah" ucap Alina.
__ADS_1
"Ayo kembali ke kelas" ucap Alvan.
"Gak mau, aku mau nerusin sisa hukumannya" ucap Alina menolak ajakan Alvan.
Alvan tidak peduli dengan penolakan Alina padanya. Dia menarik lengan Alina berjalan menuju kelas Alina.
"Alvan aku mau ke toilet dulu" ucap Alina.
Alvan menarik lengan Alina membawanya ke toilet perempuan.
"Jangan lama-lama, 10 menit harus beres" ucap Alvan.
"Iya" ucap Alina singkat.
Alina masuk ke dalam toilet itu. Saat Alina membuka pintu toilet, Alina terkejut melihat seorang siswa seangkatan dengannya duduk di lantai dengan kaki yang dipenuhi darah.
"Alvaaaan" Alina berteriak memanggil nama Alvan.
Mendengar suara teriakan Alina, Alvan langsung memasuki toilet perempuan itu. Dia menghampiri Alina.
"Ada apa Alina?" Tanya Alvan.
"Itu..." Alina menunjuk ke arah siswa yang duduk di lantai toilet itu.
Alvan melihat siswa yang duduk di lantai dengan kaki yang berlumur darah.
"Alvan hik hik hik, dia kenapa?" Tanya Alina. Melihat itu merasa sama seperti melihat Beby. Alina takut kejadian yang terjadi pada Beby terulang lagi.
"Kita harus lapor guru, bisa jadi dia sudah tiada" ucap Alvan.
Alina duduk di teras kelasnya, air matanya mengalir. Sudah dua siswa yang menggugurkan kandungannya dan berakhir tragis. Alina menjadi saksi kematian kedua temannya. Ketika Alina sedang bersedih memikirkan Beby dan Nisa, beberapa teman menggosipkan Beby dan Nisa.
"Kalian tahu gak, Beby dan Nisa itukan korbannya Jordi" ucap Tino.
"Iya, gue tahu. Jordi itukan playboy brengsek. Cuma pengen manisnya doang" ucap Dika.
"Ah lo sok suci, lo juga biasakan begituan" ucap Yudi.
"Iya tapi gue gak pernah sampai ngamilin anak orang" ucap Tino.
"Yoi" ucap Dika dan Yudi.
Alina langsung berdiri dan memarahi teman-temannya.
"Seharusnya apa yang terjadi pada Beby dan Nisa jadi pelajaran berharga untuk kalian. Hormatilah wanita, jangan melakukan hal yang tidak baik yang akan merugikan dirimu dan orang lain. Berzina itu perbuatan yang dilarang Allah. Bahkan melanggar peraturan sekolah dan negara. Sebagai pelajar sudah seharuskan kita belajar dengan benar bukannya melakukan hal yang merusak masa depan kita" ucap Alina di depan teman lelakinya.
"Huh dasar Alina sok jadi ustadzah" ucap Tino.
"Udah yuk ngapain diladenin, diakan biasa ceramah" ucap Dika.
"Yoi" ucap Dika.
Mereka bertiga meninggalkan Alina setelah menghina Alina.
"Astagfirullah, betapa sulit mengajak pada kebaikan" batin Alina.
__ADS_1
Alina teringat ucapan teman-temannya itu. Dia mencari keberadaan Jordi.
"Jordi ada dimana ya?"
Alina berjalan menuju ke gudang sekolah. Dia masuk ke dalam gudang sekolah itu. Ternyata benar Jordi ada di dalam gudang sekolah itu.
"Jordi, apa yang sudah kau lakukan pada Beby dan Nisa?" tanya Alina.
Jordi menghampiri Alina yang berdiri di depannya.
"Alina kau cantik, bagaimana kalau kau jadi pacarku. Aku akan memenuhi semua yang kau butuhkan" ucap Jordi.
"Jordi apa yang sudah kau lakukan pada Beby dan Nisa, apa kau memaksa mereka mengugurkan kandungannya?" tanya Alina.
"Kalau iya emang kenapa? mereka itu ngeyel, aku sudah bilang jangan hamil tapi mereka ingin hamil anakku. Mereka pikir aku mau menikahi mereka. Justru aku jijik pada mereka. Aku masih ingin suka-suka, lagian aku masih muda" ucap Jordi.
"Jadi benar kau yang menyuruh mereka mengugurkan kandungannya" ucap Alina.
"Iya, kalau mereka masih mau jadi pacarku ya harus mau mengugurkan kandungannya. Kalau tidak aku tidak akan peduli lagi pada mereka" ucap Jordi.
"Kau jahat Jordi, kau tidak menghargai wanita. Kau merendahkan mereka, kau tahu dari seorang wanitalah kau dilahirkan dan dibesarkan" ucap Alina.
"Alina...Alina....itu semua atas dasar suka sama suka, apa aku salah? mereka juga menginginkannya" ucap Jordi.
"Mungkin mereka salah tapi tidak seharusnya kau memanfaatkan mereka" ucap Alina.
"Ha...ha...aku hanya melakukan yang aku inginkan dari mereka. Setelah puas aku mulai bosan, aku butuh yang baru untuk menggantikan mereka" ucap Jordi.
"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Aku harus melaporkan kau ke polisi" ucap Alina.
"Silahkan, apa kau punya bukti?" tanya Jordi.
"Ada" ucap Alvan.
Alvan menghampiri Alina dan Jordi. Dari tadi dia ada di gudang sekolah untuk tidur. Dia tak sengaja mendengar percakapan Alina dan Jordi.
"Bukti apa?" tanya Jordi.
Alvan menunjukkan sebuah video percakapan Alina dan Jordi di handphone miliknya.
"Dengan ini aku akan melaporkanmu ke pihak sekolah"ucap Alvan.
"Pihak sekolah paling memintaku untuk berdamai dengan keluarga korban, lagi pula dengan kasus ini akan mencoreng nama baik sekolah, tentunya penyelesaian secara kekeluargaan akan dipilih pihak sekolah" ucap Jordi dengan percaya diri.
"Kalau pihak sekolah memang tak mau menindakmu, aku sendiri yang akan melaporkanmu ke polisi" ucap Alvan.
"Apa?" Jordi terkejut dengan ancaman Alvan.
"Ayo Alina" ucap Alvan.
Alvan menarik lengan Alina keluar dari gudang sekolah itu. Mereka berjalan di lorong sekolah.
"Apa kita akan melaporkan Jordi ke polisi?" tanya Alina.
"Iya, perbuatannya sudah melampau" ucap Alvan.
__ADS_1
Alvan dan Alina menuju ke ruangan guru lagi, mereka memberikan bukti itu pada kepala sekolah. Akhirnya Jordi langsung dilaporkan ke polisi. Dia dibawa polisi ke kantor polisi. Alina dan Alvan menyaksikan penangkapan Jordi. Memang Beby dan Nisa tidak mungkin kembali tapi paling tidak tak akan ada Beby dan Nisa lainnya lagi yang jadi korban Jordi.