
Albern dan Hindun menghadap Pak Abdul keruangannya. Mereka duduk di sofa bersama Pak Abdul. Hindun yang memenangkan dress minim menutupi pahanya. Dia duduk tak nyaman. Bolak-balik membenarkan derasnya untuk menutupi pahanya.
"Kenapa kamu Hindun?" tanya Albern pelan.
"Sayang paha mulusku takut terekspose," jawab Hindu.
"Mau kamu promoin besar-besaran juga, orang gak akan mau, paha panuan gitu," ujar Albern pelan.
"Biar panuan juga, bulu kakinya bikin gatel-gatel gimana gitcu," sahut Hindun.
Albern dan Hindun terus berbisik.
"Nak Albern Alison, Muhammad Rifai Algufron, nama panjang kaliankan?" tanya Pak Abdul.
Albern tertawa mendengar nama asli Hindun.
"Kenapa Abang tertawa?" bisik Hindun.
"Nama bagus-bagus Muhammad Rifai Algufron kenapa jadi Hindun?" bisik Albern.
"Itu nama asli Muhammad Rifai Algufron, nama pengkolan ya Hindun," sahut Hindun.
Albern menggeleng. Kenapa bisa ada si Hindun di dunia yang indah nan permai.
"Benar itu nama kalian?" tanya Pak Abdul.
"Benar Pak," jawab Albern dan Hindun.
"Baik, bapak panggil Albern dan Rifai ya?" tanya Pak Abdul.
Albern kembali tersenyum. Tak menyangka Rifai nama Hindun.
"Iya Pak," jawab Albern dan Hindun.
"Yaudah tugas kalian, membantu semua pekerjaan yang ada di sini dari bangun sampai mau tidur," ujar Pak Abdul.
"Iya Pak," jawab Albern dan Hindun.
Setelah menghadap Pak Abdul, Albern dan Hindun berjalan di lorong panti sosial. Mereka berbincang mengenai tugas yang diberikan Pak Abdul.
"Rifai tugas siang gini ngapain?" tanya Albern.
"Hindun Abang, bukan Rifai, sekarang lagi di padang pasir nih," ujar Hindun.
"Bagusan juga Rifai," sanggah Albern.
"Tapi eke lebih suka dipanggil Hindun, seksi gitu lebih gigit," sahut Hindun.
"Yaudah, Hindun kita mau ke mana?" tanya Albern.
"Cuci piringlah Abang," jawab Hindun.
"Cuci piring?" tanya Albern lagi.
"Iya, piring bekas sarapan tadi pagi harus dicuci buat makan siang," sahut Hindun.
"Oke," kata Albern.
Mereka berdua berjalan menuju dapur umum. Suasana di dalam sudah ramai. Banyak yang sedang menyiangi sayuran, daging, ayam dan bumbu. Albern dan Hindun menghampiri pembina yang sedang mengarahkan pekerjaan pada wanita-wanita malam yang bekerja di dapur.
"Kak maaf, mana piring yang harus kami cuci?" tanya Albern.
"Ada di belakang, setelah cuci piring kupas bawang ya."
__ADS_1
"Baik kak," jawab Albern.
Kemudian Albern dan Hindu berjalan ke belakang. Sepanjang jalan godaan-godaan manja itu tertuju pada Albern.
"Hei jangan genit, Abang udah ada yang punya, tuh mata dan mulut kondisikan ya," ujar Hindun pada wanita-wanita malam yang menggodanya.
"Huh." Sorak wanita-wanita malam itu.
Albern dan Hindun tetap berjalan ke belakang. Mereka terkejut saat tumpukan piring ada di dekat pencucian piring.
"Abang, baru aja eke mani pedi cure, gimana ini kok segendang cucian piringnya," ucap Hindun.
"Udah kerjain aja, ikhlas biar dapat pahala," sahut Albern.
"Begindang kalau masuk panti sosial, eke selalu bernasib jadi pembokat," ujar Hindun.
Albern tak menggubris ucapan Hindun. Dia duduk di lantai, mulai mencuci piring sedangkan Hindun bergumam karena keluh kesahnya.
"Abang kok mau sih cuci piring, banyak Bang," keluh Hindun.
"Apapun pekerjaannya kalau diliatin doang terasa berat, tapi kalau dah dikerjain pasti ringan," ujar Albern yang terus mencuci piring.
Hindun merasa tak enak. Akhirnya dia duduk membantu Albern cuci piring.
"Aduh Bang, panuku kena sabun perih nih," ucap Hindun.
"Kok kamu bisa panuan? Keturunan?" tanya Albern.
"Gak juga, jarang mandi, biasa dua minggu sekali Bang," sahut Hindun.
Albern langsung muntah-muntah. Pantas dari tadi bau terasi dan bau ketek. Ternyata si Hindun gak pernah mandi.
"Bang kenapa?" tanya Hindun.
"Karena kemarin ke tangkep, ya sekitar tiga minggu lah Bang," jawab Hindu.
"Astagfirullah, Hindu mulai sekarang mandi, panumu itu karena kau jorok," ujar Albern.
"Asal Abang mandiin," ujar Hindun.
"Iya, tar Abang mandiin dicomberan," sahut Albern.
"Ya ampun Abang," kata Hindun.
Saat mereka asyik mengobrol sambil cuci piring. Terlihat seorang wanita duduk di ayunan yang berada di bawah pohon. Dia terlihat diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Rambutnya acak-acakan.
"Bang kuntikanak kok ada di siang hari," ujar Hindun.
"Mana?" tanya Albern.
"Tuh, di bawah pohon, apa aku ini indigo ya Bang?" ujar Hindu menunjuk ke arah wanita itu.
"Aku juga melihatnya," sahut Albern.
"Kenapa ya dia?" tanya Hindun.
"Gak tahu, kelihatan kaya orang depresi," ujar Albern.
"Iya ya, gila kali dia Bang, kalau eke cuma belum jelas alam tapi otak masih konek lah," ujar Hindun.
"Kita samperin, biar tahu kenapa dia?" ajak Albern.
"Tar ngamuk, Eke takut dicakar," ujar Hindun.
__ADS_1
"Kalau dia nyakar, ku korbankan kau duluan Hindun, semoga Allah membalas kebaikanmu," ujar Albern.
"Teganya Abang, sama Eke," ucap Hindun.
"Udah ayo," ajak Albern.
Akhirnya mereka mendekati wanita yang dudum di ayunan. Dia hanya diam.
"Bang dia kayanya mantan peceka juga, kemarin baru datang bareng aku," ujar Hindun.
"Tapi kenapa dia jadi kaya gini?" tanya Albern.
"Gak tahu, dari pertama dibawa ke sini dah begini, ada temennya juga gini, kaya orang gila," ujar Hindun.
Albern terdiam. Memperhatikan wanita yang terdiam. Matanya kosong. Tak seperti mantan peceka lainnya.
"Apa kita tanya Pak Abdul?" tanya Albern.
"Hayu cus Bang, tapi kita mesti selesaiin tuh cucian dulu," ujar Hindun.
Albern mengangguk.
Mau tak mau mereka harus mencuci piring du sampai selesai. Albern dan Hindun bahu membahu mencuci piring berdua. Untung ada Hindun setidaknya ada teman mengobrol dan berbagi pekerjaan. Meskipun di hati Albern berharap kelak Hindu kembali jadi Rifai yang maco.
Setelah selesai cuci piring, Albern dan Hindun berjalan di lorong panti sosial. Menuju ruangan Pak Abdul. Di perjalanan mereka melihat wanita yang duduk di teras. Ekspresi wajahnya sama persis dengan wanita di ayunan tadi.
"Nah Bang, ini temannya juga," ucap Hindun menunjukkan.
"Iya, matanya kosong juga," sahut Albern.
"Serem, kaya hantu," ucap Hindun.
"Ayo kita ke ruangan Pak Abdul biar tahu kenapa mereka begitu," ujar Albern.
"Iya," sahut Hindun.
Mereka berdua masuk ke ruangan Pak Abdul. Duduk di sofa bersama Pak Abdul. Mereka membicarakan apa yang tadi dilihatnya.
"Itu Sela dan Tina, peceka yang dijual ke luar negeri, mereka dipaksa melayani lelaki hudung belang selama seharian penuh, hanya diberi istirahat 3 jam untuk tidur, tidak bisa ke mana-mana, hanya ada di rumah bordil. Bahkan tidak boleh ke luar dari kamar, hidup seperti binatang yang dikurung," ujar Pak Abdul.
"Astagfirullah," ucap Albern. Dia miris mendengar nasib Sela dan Tina. Mereka harus jadi korban perdagangan manusia.
"Itu sebabnya tempat ini sebagai wadah untuk mengembalikan kepercayaan dirinya dan semangat hidupnya," ucap Pak Abdul.
"Izinkan saya membantu Pak," ujar Albern.
"Baik, terimakasih," jawab Pak Abdul.
Albern merasa ingin membantu Sela dan Tina agar kembali semangat lagi dan hidup bahagia seperti yang lainnya.
Albern dan Hindun ke luar dari ruang Pak Abdul. Mereka kembali berjalan di lorong.
"Hindun kita bagi tugas, kau dekati Sela, aku dekati Tina," ujar Albern.
"Eke dekati cewek, ah ..., Eke KW bisa gak ngimbangin?" ujar Hindun.
"Kau tak kasihan pada mereka?" tanya Albern.
"Eke kasihan, tapi serem bok, tar nyakar gak?" ujar Hindun.
"Paling baret dikit, panumu biar sembuh," ujar Albern.
"Abang, tega banget sama Eke," ujar Hindun.
__ADS_1
Mereka terus berjalan di lorong. Sepakat membantu dua peceka itu supaya bisa normal kembali.