
Masjid AL Mukmin
Alina sampai juga di masjid tempat Deena dan Barra akan menikah. Dia turun dari taksi lalu berjalan memasuki masjid. Didalam masjid semuanya sudah siap. Semua anggota keluarga sudah menunggu Alina. Seketika Alina berkumpul bersama mereka semua. Deena terlihat cemas karena Barra belum kunjung datang ke acara pernikahan itu. Alina menghampiri Deena.
"Deena kau cemas ya" ucap Alina.
"Iya Alina, Om cabul kemana? sampai jam segini belum kunjung datang" ucap Deena.
"Sabar ya Deena, mungkin Om lagi bersiap" ucap Alina.
Deena terus melihat ke pintu masjid yang terbuka lebar. Pandangannya selalu ke arah jalan. Dia berharap Barra segera datang.
Disisi lain Rehan terlihat marah. Dia bolak balik diteras masjid. Leo menghampirinya untuk menenangkan Rehan yang terlihat marah.
"Rehan duduklah" ucap Leo.
"Gimana aku bisa duduk Pa, lelaki sialan itu sudah mengerjai anakku, jam segini belum juga datang" ucap Rehan.
"Sabar Rehan, mungkin Barra sedang menuju kesini, lebih baik kita sholat dhuha dulu" ucap Leo.
"Oke Pa" ucap Rehan.
Leo dan Rehan pergi ke tempat wudhu untuk berwudhu. Mereka sholat dhuha bersama diteras masjid. Setelah sholat Rehan merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Didalam masjid Deena semakin cemas. Dia mulai tak sabar menunggu Barra. Deena menyalakan layar handponenya kemudian menelponnya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi" ucap Layanan telpon itu.
Deena langsung mematikan handphonenya. Wajahnya telihat sangat murung. Deena kecewa Barra belum kunjung datang padahal sudah mulai siang. Mata Deena sampai berkaca-kaca. Cinta yang melihat itu, langsung menghampiri Deena dan memeluknya.
"Sabar ya nak, kalau Barra jodohmu pasti Allah akan mengantarkan dia padamu bagaimanapun caranya" ucap Cinta.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya Ma" ucap Deena.
Cinta mengusap punggung Deena, dia tahu anaknya mencemaskan calon suaminya yang tak tahu sekarang ada dimana.
Tak lama Haura menunjukkan sesuatu pada Deena. Sebuah tayangan video dimedia sosial yang sedang live.
"Deena ini Om, dia masuk ke dalam Bank yang sedang dirampok oleh perampok profesional. Dan diluar Bank sudah dikepung polisi tapi perampok itu menawan orang-orang yang berada di dalam Bank" ucap Haura menunjukkan video itu pada Deena.
"Om cabul" ucap Deena.
Deena langsung berlari keluar masjid. Dia melepas satu persatu baju pengantin yang dikenakannya sambil berlari. Lalu dia masuk ke dalam rumah besarnya. Deena berganti kostum tempur miliknya kemudian dia pergi ke Bank itu.
************
Barra ada didalam Bank. Dia sedang bernegoisasi dengan para perampok bersenjata. Dia ingat betul senjata yang dipakai perampok itu adalah senjata buatannya. Barra merasa bersalah telah menjual senjata api secara ilegal hingga menyebabkan kerugian pada orang lain. Barra ingin menebus kesalahannya.
"Hentikan perampokan ini, aku akan membayar kalian asalkan kalian menyerahkan diri pada polisi" ucap Barra.
"Tidak, kami tidak akan semudah itu menyerah pada polisi. Menyerah adalah penghinaan untuk kami, lebih baik mati dari pada menyerah" ucap Deril salah satu perampok itu.
"Tapi perbuatan kalian ini salah, lihatlah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka jadi korban keserakahan kalian" ucap Barra.
"Ha ha ha, didunia ini apa yang lebih penting dari uang, orang sampai jadi babu hanya untuk uang" ucap Deril.
"Tapi uang tidak bisa membeli kedamaian dan kasih sayang yang tulus" ucap Barra.
"Kedamaian hanya bisa dirasakan segelincir orang kaya, sedangkan kita yang miskin hanya merasakan hidup penuh tekanan" ucap Deril.
"Lalu apa dengan melakukan ini kau mendapatkan kedamaian, kau lihat orang-orang yang kau tawan, sebagian dari mereka adalah orang miskin yang ingin hidup penuh kedamaian sepertimu" ucap Barra.
"Banyak bacot lo" ucap Deril.
__ADS_1
Deril mengacungkan pistol itu ke arah Barra. Tangannya bersiap untuk menembak Barra.
"Ayo tembak, kenapa? kau takut?" tanya Barra.
"Aku akan membunuh lelaki banci sepertimu" ucap Deril.
"Deril, urus orang-orang itu, ambil semua alat komunikasinya" ucap Mike, pemimpin perampok.
"Baik Bos" ucap Deril.
Deril tak jadi menembak Barra, dia meminta semua alat komunikasi orang-orang yang ditawannya. Ada seorang ibu yang tidak mau handphonenya diambil.
"Jangan Mas, handphone ini penting. Anak saya menunggu dirumah, dia masih kecil. Saya harus segera menghubunginya kalau tidak, dia akan mengira saya pergi" ucap Ibu Neni.
"Gak usah protes, berikan padaku hanphonenya" ucap Deril.
"Tidak" ucap Ibu Neni.
Deril emosi dan menembak ibu dengan pistolnya.
Dor...
"Aw..." ucap Barra kesakitan.
Peluru itu justru mengenai Barra, punggungnya menjadi tameng ibu itu. Dia tak bisa melihat seorang ibu mati didepannya.
"Kau pahlawan kesiangan bodoh, hanya ingin mati sia-sia" ucap Deril.
Peluru itu bersarang dipunggung Barra. Darahnya mulai mengalir ke bawah hingga berjatuhan dilantai. Dia menahan rasa sakitnya. Lalu mulai melawan, perampok itu sudah tidak bisa diajak negoisasi untuk damai. Barra mulai maju menyerang Deril. Dia babu hantam dengan para perampok didalam Bank.
"Keras kepala, kau harus mati" ucap Deril.
Barra terus babu hantam dengan para perampok yang jumlahnya cukup banyak. Ilmu bela diri mereka cukup tinggi dengan berbagai jurus kuno.
Barra terus melawan mereka bahkan mereka menembakinya.
Dor...dor...dor...
Barra terus menghindar hingga dia melompat dan menendang pisol-pistol yang dipegang lawannya.
Praaang...
Pistol-pistol terjatuh. Barra memanfaatkan situasi untuk menyerang mereka balik, tapi dari belakang ada yang mengacungkan pistol ke pelipisnya. Dia Mike pemimpin perampok itu.
"Diam atau mati" ucap Mike.
"Kau salah jika membunuhku, aku hanya tidak suka cara kalian memperlakukan orang yang tidak bersalah, mengambil uang dengan cara seperti ini hanya akan membuatmu menyesal dikemudian hari" ucap Barra.
"Persetan dengan kata baik apapun, semua orang
hanya mementingkan kepentingannya sendiri mana peduli kita yang miskin" ucap Mike.
"Tapi tidak semua orang seperti itu" ucap Barra.
Mike tidak mau mendengar ucapan Barra, dia malah hendak menembak Barra. Untung dari belakang Mike ada Deena, dia menendang Mike hingga terjatuh.
Bluuuuug....
"Aw....."ucap Mike kesakitan.
"Sayang" ucap Barra.
"Ternyata calon suamiku ada disini, pantas dari tadi belum kunjung datang" ucap Deena.
__ADS_1
Barra langsung menghampiri Deena.
"Sayang maafkan aku, tidak bermaksud meninggalkan pernikahan kita" ucap Barra.
"Itu kita urus nanti, sekarang kita urus ini" ucap Deena.
Barra mengangguk. Mereka bertarung dengan semua anggota perampok itu. Mereka semua babu hantam. Memukul, menendang hingga melempar apapun. Sampai akhirnya mereka semua tumbang. Tinggal Mike, mereka berdua tak mengenali jurus Mike. Mereka melawan bersamaaan, tetapi mereka tumbang bersamaan.
Bluuug...
"Jurus kuno" ucap Deena.
"Kita harus bisa memecah konsentrasinya" ucap Barra.
"Oke" ucap Deena.
Barra menyerang, Dena hanya meledek Mike agar konsentrasinya buyar.
"Lihat kolormu merosot,....tuh ada uang jatuh" ucap Deena meledek.
Mike melihat kebawah, dia mulai tidak konsentrasi.
"Jagoan kok bau ketek ya" ucap Deena.
"Aku gak bau ketek" ucap Mike.
Barra terus menyerang, konsentrasi Mike mulai kacau. Dia tidak bisa menggunakan jurus kuno dengan sempurna. Barulah Deena ikut menyerang. Sekarang Barra dan Deena menyerang bersamaaan.
Bluuug....
Mike tumbang dilantai. Barra dan Deena mengikat semua perampok itu, polisi mulai masuk ke dalam. Barra dan Deena segera keluar sebelum polisi masuk.
Deena dan Barra naik motor berdua. Dia melihat punggung Barra berdarah.
"Om cabul punggungmu" ucap Deena.
"Biarin, yang penting kita akad dulu, nanti habis akad kau bantu mengeluarkan pelurunya habis itu kita..." ucap Barra.
Plaaak...
Deena menampar tepat dibagian yang kena peluru.
"Aw....sakit sayang" ucap Barra.
"Habis udah kaya gini masih sempet-sempetnya cabul" ucap Deena.
"Tapi kau sukakan" ucap Barra.
"Iya, aku suka semuanya" ucap Deena.
"Kita ganti baju pengantin, di butik aja ya" ucap Barra.
"Iya Om cabul" ucap Deena.
Barra dan Deena pergi ke butik. Mereka dirias dan ganti baju pengantin yang baru. Lalu mereka naik naik hellikopter ke masjid tempat akad. Helikopter itu tetap mengudara, tepat berada diatas masjid, mereka turun dengan tangga darurat. Semua orang yang ada didalam masjid melihat ke arah mereka turun dari helikopter dengan tangga darurat.
Bluuuug....
Barra dan Deena turun dari tangga. Mereka berdua masuk ke dalam masjid. Semua orang yang tadi mencemaskan mereka dan berusaha mencari mereka jadi lega melihat mereka sudah hadir dalam kondisi sehat wal'afiat. Akad pun dimulai diawali dengan Basmalah dan diakhiri dengan kata syah. Barra dan Deena resmi sebagai sepasang suami istri. Barra langsung mencium bibir Deena dengan rakusnya.
"Ehm...Ehm...bisa tidak nanti saja, lihat semua orang baper" ucap Rehan.
Barra terkejut, dia melepas ciumannya dari Deena.
__ADS_1
Mereka tersenyum malu melihat semua orang baper gara-gara mereka ciuman.