
Rafael duduk di kursi belakang. Dia melihat ke arah kaca bus. Mengingat Alina, rasa rindunya begitu besar padahal baru hitungan jam. Mungkin saja malam nanti dia tidak akan tidur melihat Alina tidur di sebelahnya. Lamunannya terpecah saat kenet bus menyuruh semua penumpang turun. Rafael beranjak dari kursi bus yang dudukinya. Dia berjalan hendak keluar bus baru beberapa langkah seorang ibu menangis. Rafael coba bertanya pada ibu itu.
"Bu ada apa? kenapa ibu menangis?" tanya Rafael berdiri di samping ibu itu.
"Tas saya kecopetan nak, padahal saya mau mengunjungi anak saya di kota" ucap Ibu itu.
"Apa ibu punya uang selain yang di dalam tas ibu?" tanya Rafael.
"Tidak, semua uang ibu ada didalam tas hik...hik...hik...." ucap Ibu itu.
Rafael kasihan pada ibu itu. Dia mengambil uang disakunya dan memberikan pada ibu itu.
"Terimakasih nak" ucap Ibu itu menerima uang pemberian Rafael.
"Sama-sama Bu" ucap Rafael.
"Semoga Allah...." ucap Ibu itu hendak mendoakan tapi tangan Rafael menyetopnya.
"Tolong doakan adik saya saja Bu" ucap Rafael memberitahu ibu itu.
"Siapa nama adikmu?" tanya Ibu Itu.
"Alina" ucap Rafael.
"Semoga Allah selalu memberi Alina kesehatan dan keselamatan, amin" ucap Ibu itu.
"Kalau begitu saya pamit, ibu hati-hati ya dijalan" ucap Rafael.
"Iya nak" ucap Ibu itu.
Rafael berjalan keluar dari bus. Dia berjalan kaki menggendong ransel dipunggungnya dan membawa proposal ditangannya. Dia memasuki satu per satu perusahaan yang ditemuinya. Tapi belum ada yang mau menjadi donatur.
"Uangku hanya cukup untuk ongkos pulang. Lebih baik aku jalan kaki saja lebih sehat" ucap Rafael.
Rafael berjalan di tepi jalan. Sudah setengah hari dia bolak balik masuk perusahaan tapi belum ada hasil. Rafael membeli sepotong roti untuk mengganjal perutnya. Saat dia ingin memakannya, Rafael tak tega melihat seorang anak penjual koran yang melihat ke arahnya. Rafael memotong roti itu menjadi dua bagian. Dia memberikan roti itu pada anak kecil itu.
"Makasih kak" ucap anak itu.
"Sama-sama, ayo makan" ucap Rafael.
Anak kecil itu mengangguk. Mereka makan roti itu bersama. Setelah beristirahat untuk makan, Rafael berjalan kembali. Dia masuk ke sebuah perusahaan. Setelah menunggu dua jam Rafael diperbolehkan memasuki ruangan CEO dari perusahaan itu.
"Selamat siang" ucap Rafael memberi salam saat masuk ruangan itu.
__ADS_1
"Siang" ucap Nurdin, CEO dari perusahan tersebut.
"Duduk" ucap Nurdin.
Rafael duduk di kursi depan meja Nurdin. Dia mulai memberitahu maksud kedatangannya ke perusahaan itu. Rafael memberikan proposal dana pembangunan masjid ke Nurdin. Sekilas Nurdin membacanya.
"Basi! zaman sekarang sudah banyak model beginian, paling ujung-ujungnya dikantongin. Ngapain kamu minta-minta, bawa-bawa nama masjid lagi" ucap Nurdin.
"Maaf Bos, saya tidak minta-minta. Ini memang benar untuk penggalangan dana pembangunan masjid" ucap Rafael.
"Kau pikir aku akan percaya, bawa lagi nih" ucap Nurdin melempar proposal itu ke hadapan Rafael.
Rafael mengambil kembali proposal yang jatuh dipangkuannya.
"Apabila Bos tidak berkenan saya tidak akan memaksa. Karena membantu itu harus ikhlas" ucap Rafael.
"Kamu tuh muslim tapi bikin malu umat muslim dengan meminta-minta seperti ini. Seakan umat muslim miskin sampai tak mampu membangun masjid" ucap Nurdin.
"Mohon maaf bila saya memalukan umat muslim. Tapi saya bukan seorang muslim. Saya seorang nasrani, saya tidak tega melihat masjid rumah Allah hendak roboh, terimakasih atas waktunya" ucap Rafael.
Tanpa basa basi lagi Rafael keluar dari ruangan itu. Nurdin langsung merasa tertampar dengan ucapan Rafael.
"Dia seorang nasrani tapi peduli rumah Allah. Kenapa aku tidak memberinya kesempatan. Tidak semua orang meminta-minta itu penipu" ucap Nurdin.
Terangkanlah......terangkanlah.......
"Bos udah belum nangisnya lagunya udah mau abis, apa mau diputar lagi?" tanya Sekretaris Tono yang jongkok didekat lemari memutar lagu religi di DVD.
"Putar lagi nanggung bapernya" ucap Nurdin.
"Yaudah Bos, mau sekalian kipas angin gak biar penghayatannya maksimal?" tanya Sekretaris Tono.
"Ya boleh" ucap Nurdin.
************
Rafael berjalan ditepi jalan sambil membawa proposal. Dia tidak patah semangat. Walaupun sudah banyak perusahaan yang menolak proposalnya, Rafael yakin akan ada seseorang yang terketuk hatinya untuk menyumbang untuk dana pembangunan masjid. Rafael terus berjalan hingga hari berganti malam. Dia sudah lelah, ingin mencari penginapan tapi tak punya uang selain uang untuk ongkos pulang. Akhirnya dia beristirahat di sebuah masjid besar.
"Mungkin aku tidur disini saja, tempatnya penuh ketenangan dan kedamaian. Rumah Allah ini milik semua orang" ucap Rafael.
Rafael berbaring di teras masjid, dia sudah sangat lelah hingga dia tertidur.
"Nak bangun.....bangun nak....." ucap Leo memanggil Rafael yang sedang tidur di teras masjid.
__ADS_1
Rafael terbangun dan melihat seorang kakek di depannya. Dia langsung duduk.
"Iya kek, maaf saya ikut beristirahat diteras masjid ini" ucap Rafael.
"Bukan itu, kenapa kamu tidur diteras masjid? apa kau seorang musafir?" tanya Leo.
"Saya berasal dari kota B, kebetulan baru satu hari ini saya berkunjung di kota A. Karena saya tidak memiliki uang yang cukup untuk menyewa penginapan, saya memutuskan beristirahat di teras masjid ini" ucap Rafael.
"Kalau begitu ikutlah ke rumah saya nak" ucap Leo.
"Apa tidak merepotkan kek?" tanya Rafael.
"Tidak, mari" ucap Leo.
Rafael mengangguk. Dia ikut Leo masuk ke dalam mobilnya. Didalam mobil Rafael memperhatikan mobil milik Leo. Dia yakin kakek itu bukan orang sembarangan. Mobilnya begitu mewah.
Sampai di rumah besar milik Leo. Rafael terkesima melihat rumah yang begitu besar dan megah. Dia seperti melihat sebuah istana. Leo mengajak Rafael masuk ke dalam rumahnya.
Dia mengajak Rafael ke ruang makan. Di meja makan itu tersedia berbagai makanan. Seolah kedatangan Rafael sengaja dijamu sang empunya rumah. Rafael duduk bersama Leo di ruang makan itu.
"Ayo nak, mari kita makan" ucap Leo mengajak Rafael makan bersamanya.
"Baik kek" ucap Rafael.
Rafael mulai makan bersama Leo. Sebenarnya malam itu sudah pukul 11 malam. Bahkan Zara sudah tidur. Tapi Leo meminta Mba Ida menghangatkan masakan yang tadi untuk makan malam. Meskipun Leo sudah makan tapi dia ingin memuliakan tamunya dengan makan bersamanya. Rafael sungguh merasa beruntung bertemu orang baik seperti Leo. Bahkan dia belum tahu namanya tapi Leo sudah membawanya ke rumahnya bahkan memberinya makan. Tak banyak orang seperti Leo batin Rafael. Wajahnya penuh kedamaian dan membuat sejuk yang memandangnya. Tutur katanya sopan dan ramah.
Setelah makan Leo mengantar Rafael ke kamar tamu.
"Nah nak, malam ini menginaplah disini" ucap Leo.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kek" ucap Rafael.
"Sama-sama" ucap Leo.
Rafael memasuki kamarnya. Dia membersihkan tubuhnya ke toilet untuk mandi. Sudah seharian dia tidak mandi bahkan bajunya basah terkena keringat. Maklum Rafael berjalan kaki seharian.
Selesai mandi Rafael berbaring di ranjang. Dia merasa begitu nyaman berbaring diranjang yang empuk itu. Dia jadi teringat adiknya Alina.
"Seandainya Alina juga bisa tidur diranjang yang empuk ini pasti dia akan senang, semoga kedepan aku bisa membeli ranjang yang empuk untuk Alina" ucap Rafael.
"Siapa kakek itu?" Rafael belum mengetahui siapa nama Leo. Dipikirannya dipenuhi tanya.
Hingga akhirnya dia tertidur karena lelah.
__ADS_1