ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 25


__ADS_3

Rafael bekerja di sebuah pembangunan apatemen. Dia bekerja sebagai kuli bangunan pengganti jika ada yang kurang atau sedang ada yang sakit. Tidak setiap hari Rafael bekerja sebagai kuli bangunan. Hanya saat kuliahnya libur. Sementara sehari-hari dia bekerja sebagai supir taksi online. Pekerjaan apa saja digelutinya untuk mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan Alina. Sore itu Rafael sedang mengantri untuk mengambil upah kerja sebagai kuli bangunan harian.


"Rafael boleh duluan?" tanya teman dibelakangnya.


"Silahkan" ucap Rafael.


Rafael mundur kebelakang. Setengah jam Rafael mengantri akhirnya dia mendapatkan upahnya. Sudah beberapa kali dalam satu bulan ini dia bekerja sebagai kuli bangunan di tempat itu. Dia berjalan keluar area pembangunan apartemen itu. Rafael berjalan di tepi jalan, dia membeli donat kesukaan Alina. Tapi saat di jalan Rafael melihat seorang Ibu menggendong kedua anaknya, ibu itu mengamen. Anak dari ibu itu menangis minta donat. Tapi sang ibu tidak memiliki uang. Rafael iba dia memberikan donat itu pada ibu itu. Dia hanya menyisakan satu donat untuk Alina.


"Terimakasih nak" ucap Ibu pengamen itu sambil menerima donat yang diberikan Rafael.


"Sama-sama Bu" ucap Rafael.


Rafael kembali berjalan menelusuri perumahan kumuh ditepi sungai besar. Rafael melewati jalan itu biar lebih cepat dari pada naik kendaraan umum cukup jauh dan lumayan mengeluarkan ongkosnya. Rafael melewati sebuah masjid yang terlihat kumuh sama dengan beberapa bangunan rumah warga yang kumur disekitarnya. Rafael menyempatkan mengunjungi masjid itu. Bangunan masjid itu sudah lapuk, bahkan atapnya sudah bocor semua. Tiang-tiang penyangganya sudah retak dan belah. Ubin lantainya sudah pecah dan sebagian tak berubin. Tempat wudhunyapun tidak layak lagi. Temboknya hampir semua bolong dan keropos.


Rafael miris melihat bangunan masjid itu. Dia berbincang dengan seorang imam masjid itu.


"Bukan tidak ingin membangun masjid ini kembali tapi nak Rafael lihat sendiri rumah warga disini tak jauh berbeda dengan bangunan masjid ini. Semua yang tinggal di daerah ini di garis bawah kemiskinan" ucap Ustad Abdul.


"Pak Ustad benar, saya perhatikan semua rumah warga disini cukup memperhatinkan sama halnya dengan masjid ini" ucap Rafael.


"Sebenarnya saya sedih nak, rumah Allah hampir roboh. Seandainya saya mampu tentu saya akan segera memperbaikinya" ucap Ustad Abdul.


"Apa boleh saya ikut menyumbang walaupun hanya sedikit?" tanya Rafael.


"Boleh nak" ucap Ustad Abdul.


Rafael memberikan upah hasil bekerja jadi kuli bangunan selama satu bulan pada Ustad Abdul untuk pembangunan masjid.


"Terimakasih banyak nak" ucap Ustad Abdul.


"Bolehkah saya memfoto bangunan masjid ini, saya ingin mencari donatur yang mau menyumbang untuk biaya pembangunan masjid ini Pak Ustad" ucap Rafael.


"Silahkan, justru saya berterimakasih nak Rafael mau peduli dengan bangunan masjid ini" ucap Ustad Abdul.


Rafael memfoto bangunan masjid itu. Dia memfoto semua kerusakannya juga. Rafael ingin membuat proposal untuk sumbangan dana pembangunan masjid. Setelah selesai memfoto masjid itu, Rafael menjemput Alina di rumah Alvan.


"Adik kecil" ucap Rafael berdiri di luar pagar rumah Alvan memanggil Alina.


Alina sedang duduk bersama Alvan di teras rumah Alvan. Dia melambai melihat Rafael memanggilnya.


"Kak Rafa" ucap Alina.


"Itu kakakmu?" tanya Alvan.

__ADS_1


"Iya, itu kakakku" ucap Alina.


Rafael masuk ke halaman rumah Alvan. Dia menghampiri Alina.


"Kak ini Alvan, teman satu sekolah denganku" ucap Alina mengenalkan Alvan pada Rafael.


"Rafael, kakak Alina" ucap Rafael.


"Alvan, teman Alina" ucap Alvan.


Rafael memberi senyuman tipis pada Alvan begitupun dengan Alvan.


"Alina ayo pulang" ucap Rafael.


"Iya kak" ucap Alina.


"Alvan aku pulang dulu ya" ucap Alina.


"Iya Alina hati-hati dijalan" ucap Alvan.


"Assalamu'alaikum" ucap Alina mengucapkan salam saat mau pergi.


"Wa'alaikumsallam" ucap Alvan.


Alina dan Rafael meninggalkan rumah Alvan. Mereka pergi ke warnet untuk membuat proposal terlebih dahulu setelah itu mereka pulang ke kontrakkan mereka.


"Ini proposal dana pembangunan masjid" ucap Rafael.


"Untuk apa kak?" tanya Alina masih belum paham dengan apa yang diucapkan kakaknya.


"Ada sebuah masjid yang hampir roboh bahkan sudah tidak layak untuk beribadah tapi belum ada dana untuk merenovasinya. Warga disekeliling masjid itu hidup dibawah garis kemiskinan jadi bagaimana mereka bisa mengumpulkan uang untuk merenovasi masjid itu jika untuk makan saja mereka masih kekurangan" ucap Rafael.


"Jadi kakak membuat proposal ini untuk diajukan pada orang-orang kaya atau para donatur ya" ucap Alina.


"Iya, kakak berencana pergi ke kota A disana banyak perusahaan-perusahaan besar. Mungkin salah satu dari pemilik perusahaan itu ada yang mau jadi donatur untuk pendanaan renovasi masjid itu" ucap Rafael menjelaskan semuanya.


"Oh, berarti kakak akan pergi keluar kota?" tanya Alina.


"Iya, kemungkinan besok pagi sekali kakak berangkat keluar kota" ucap Rafael.


Alina langsung memeluk Rafael dengan erat.


Rafael terkejut saat Alina memeluknya, dia membalas pelukan Alina.

__ADS_1


"Alina bangga banget punya kakak Rafa, kakak terbaik deh, Alina sayang kakak" ucap Alina.


Alina meneteskan air matanya. Dia terharu melihat semua kebaikan kakaknya. Selama ini dimata Alina, Rafael orang yang selalu peduli pada orang lain dan selalu berusaha menolong siapa yang kesusahan tanpa pandang bulu.


"Adik kecil kakak juga sangat menyayangimu" ucap Rafael.


"Aku bahkan berharap kita akan selamanya bersama" batin Rafael.


"Itu apa kak?" tanya Alina melihat sebuah plastik didekatnya.


Rafael baru ingat sesuatu yang dibelinya untuk Alina tadi. Mereka melepas pelukannya. Rafael mengambil plastik itu.


"Ini donat untukmu Alina" ucap Rafael memberikan plastik itu pada Alina.


"Donat? makasih kak" ucap Alina kegirangan menerima donat yang dibeli Rafael.


Alina membuka plastik itu, ada satu buah donat berukuran sedang cukup untuk mengenyangkan perutnya.


"Karena donat cuma satu aku bagi dua ya, setengah untuk Kak Rafa, setengah untukku" ucap Alina mengusulkan.


"Tidak usah, donat itu untukmu adik kecil" ucap Rafael.


"Baiklah kalau Kak Rafa gak mau" ucap Alina.


Alina mengigit setengah donat itu lalu tiba-tiba Rafael mengigit setengah bagiannya. Mereka saling menatap. Pertama kalinya Alina melihat tatapan Rafael. Tatapan tidak biasa, membuat Alina segera melepas mulutnya dari donat itu. Dia merasa ada sesuatu ditatapan mata Rafael yang membuatnya merasa Rafael tak menatapnya sebagai adiknya.


"Alina kau tidak mau donatnya?" tanya Rafael.


"Mau" ucap Alina kembali melihat ke arah kakaknya.


Rafael memotong donat itu lalu menyuapi Alina. Mulut Alina segera memakan donat yang disuapi Rafael padanya.


"Enak kak" ucap Alina.


Alina bergantian menyuapi Rafael. Mereka memakan donat itu bersama sambil tersenyum dan bersenda gurau.


***********


Rafael naik bus diantar Alina ke dalam bus itu. Alina ingin melihat kakaknya sebelum dia berangkat ke kota A. Rasanya berat berpisah dari Rafael walaupun hanya satu dua hari. Selama ini mereka berdua selalu bersama tak pernah terpisahkan. Rafael mengantar Alina turun dari bus. Rafael berdiri dipintu belakang bus saat bus itu berjalan. Alina melambaikan tangannya melihat Rafael.


"Kakak akan segera kembali" ucap Rafael berteriak.


"Aku akan menunggu" ucap Alina berteriak.

__ADS_1


Air mata jatuh dipipi tanpa sadar. Seolah tubuhnya juga merasakan kepergian Rafael.


Alina berharap Rafael baik-baik saja dan segera kembali.


__ADS_2